
"10 miliar," ucapnya membuat wanita itu membeku saking terkejut.
"Se-Sepuluh miliar?" ulangnya dengan tergagap. Jumlah yang terbilang sangat banyak untuk anak perempuan kotor dan dipenuhi banyak bekas luka. Wanita itu sekali lagi menatap gadis ringkih itu.
"Kenapa? Apakah terlalu murah?" tanya pria itu membuat wanita itu langsung mengalihkan atensinya. Dia tersenyum tipis.
"Murah atau tidak itu tergantung anda sendiri menilainya. Lagipula saya tidak peduli mau berapa pun anda membayarnya asal anda membawa gadis pembawa sial itu pergi. Saya sudah cukup senang."
"Baiklah. Akan saya tambahkan jadi 14 miliar. Saya rasa itu sudah cukup," ucap pria itu yang diangguki setuju oleh wanita itu. "Aku akan mengirimkannya lewat rekening," ujarnya lagi dan mendekati gadis yang masih terduduk di lantai. Pandangannya kosong menatap pria yang mendekatinya. Langkah pria itu terhenti tepat didepan mata. Pria paruh baya itu memegang dagu dan mengangkat wajahnya. Membuat kepala gadis itu mendongak. Dia menggerakkan ke kiri dan kanan sekadar memeriksa wajahnya. Tapi gadis itu sama sekali tidak melawan justru pasrah membiarkan perlakuan pria itu padanya.
Wajah yang kotor akibat debu yang menempel tidak menutupi kecantikannya. Pria itu tersenyum senang lalu melepaskan pegangannya. Dia mengangkat gadis itu dan pergi. Saat melewati pintu wanita itu memalingkan wajah tak peduli.
"Mama," gumamnya mengangkat tangannya diudara. Wanita itu justru menutup pintu denagn cepat. Mengabaikan tatapan iba gadis kecil yang dibawa pergi. Gadis itu menundukkan kepala. Sampai akhir pun wanita itu tak mau melihatnya.
"Sejak awal kamu harusnya tidak lahir," perkataan itu kembali tergiang dikepalanya. Wanita yang melahirkannya itu tidak pernah sekalipun menyayanginya. Bahkan kerap melakukan tindakan kekerasan hingga menimbulkan banyak bekas luka disekujur tubuhnya. Tapi anehnya gadis itu sedikit pun tak pernah menangis ataupun mengeluh. Dia hanya diam sampai wanita itu puas.
"LI JIHYUN! KAMU BUKAN PUTRIKU! DASAR ANAK PEMBAWA SIAL!" gadis itu dengan cepat menutup telinganya. Dia meringis saat suara itu memekakkan telinganya. "LI JIHYUN! ANAK IBLIS! TERKUTUK!" ucapan itu semakin berdengung ditelinga. Seberapa kuat dia menutupnya suara itu kembali terdengar.
"Hentikan," pintanya lemah. Napasnya menderu cepat.
"MATI KAMU LI JIHYUN!" suara wanita itu lagi dan lagi terdengar. Matanya kini terpejam rapat.
__ADS_1
"Kumohon berhenti," pintanya lagi dengan suara memelas.
"ANAK BRENGSEK! MATI KAMU!" gadis itu mengigit bibir bawah. Menahan ngilu ditelinga.
"Li Jihyun!" sebuah suara yang terdengar hangat membangunkannya. Buru buru dia membuka mata yang terpejam rapat. Napasnya masih terengah engah. Peluh bercucuran membasahi dahi. "Syukurlah anda sudah bangun," ucap Yona langsung mendekap tubuh Li Jihyun.
Mata gadis itu langsung menatap Yona. Suara isak tangis terdengar dari Yona. "Apa yang terjadi?" tanya Li Jihyun sambil mengatur napasnya. Yona melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Li Jihyun lembut. Air mata masih menetes di pipi Yona.
"A-Anda ..." Yona menggigit bibir bawah. Dia memalingkan wajah dengan cepat membuat Li Jihyun penasaran. Dia hendak bertanya lagi tapi sekujur tubuhnya mendadak sakit. Dia meringis pelan.
Yona yang menyadarinya langsung panik. Wanita itu langsung berlari keluar sebelum Li Jihyun membuka mulut. "Cepat panggilkan tabib," teriaknya terdengar dari dalam kamar Li Jihyun. Gadis itu mengembuskan napas frustasi. Sekujur tubuhnya masih terasa nyeri dan sakit. Dia memijat pelipis sambil mengingat kejadian semalam. Selain dari mimpi buruk di masa lalunya yang kembali muncul. Dia mengusap wajah kasar.
Tak ada kasih sayang yang didapatkannya sejak kecil. Bahkan wanita itu dengan tega menjualnya pada anggota pembunuh bayaran yang merupakan klien ibunya. Disitulah Li Jihyun dididik menjadi pembunuh berdarah dingin. Tak pandang bulu dan ampun dalam menghabisi nyawa orang. Bahkan dia tak menolak tugas mencabut nyawa ibunya sendiri. Tak ada belas kasih dalam dirinya bahkan secuil pun.
Suara derap langkah terdengar membuyarkan lamunannya. Seorang pria tua dan Yona memasuki kamarnya dengan tergesa. Pria tua itu segera duduk di kursi dekat ranjangnya. Dengan cekatan pria tua itu memeriksa denyut nadi Li Jihyun. Pria tua itu tampak mangut mangut selama melakukan pemeriksaan. Kepalanya mendongak dan bertatapan dengan Yona yang cemas.
"Kondisi selir agung dalam keadaan baik. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan," ucap tabib itu menjauhkan tangannya. Hela napas lega terdengar.
"Syukurlah."
"Sebaiknya selir agung beristirahat dulu sampai lukanya pulih," ucap tabib beranjak bangkit.
__ADS_1
"Luka?" tanya Li Jihyun kebingungan. Dahinya mengernyit dan menatap tabib. Tabib itu langsung menoleh ke arah Yona yang gelisah. "Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Li Jihyun penuh selidik. Matanya tajam menatap bergantian mereka. Hela napas terdengar.
Tabib yang sempat berdiri kembali duduk dikursi. Tubuhnya yang renta membuatnya bergerak sedikit lambat. "Sebelumnya ada sesuatu yang perlu saya beritahukan pada anda," ucap tabib menarik napas. Yona menyentuh bahu tabib itu membuat kepala tabib tertoleh ke belakang. Yona menggelengkan kepala namun diabaikan oleh tabib. Pria berusia senja itu kembali menatap Li Jihyun yang tampak penasaran. "Tapi saya harap anda tidak terkejut," ucapnya lagi dengan tatapan serius.
"Katakan saja. Apa ini ada kaitannya dengan rasa sakit yang kualami?" tanya Li Jihyun memastikan yang diangguki tabib. Jenggotnya yang panjang dan beruban diusap pelan.
"Seminggu yang lalu kami menemukan anda pingsan dikamar dalam keadaan tubuh penuh luka. Selain itu anda juga kami temukan tanpa sehelai benang pun," ucap tabib menundukkan pandangan. Mata gadis itu terbelalak kaget.
"Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa ... Ugh!" dia memegangi kepala yang mendadak sakit. Tabib yang berada didekatnya menjadi panik. Begitu juga Yona. Tabib dengan cekatan memeriksa denyut nadi Li Jihyun. Wajahnya yang keriput pun memucat.
"Ba-Bagaimana keadaan yang mulia selir agung?" tanya Yona tergagap. Tabib itu berdehem pelan dan masih memegang pergelangan tangan Li Jihyun.
"Sejauh ini tidak ada masalah. Selir agung hanya terpukul," jawab tabib melepaskan pegangan tangannya. Sementara Li Jihyun menggertakkan gigi menahan amarah.
Kaisar bajingan! Biadab! maki Li Jihyun dalam hati sambil mengepalkan tangan erat. Ingatannya berputar kembali saat Long Jian mencambuk sekujur tubuhnya. Melihat wajah Long Jian menikmatinya membuat Li Jihyun jijik.
Tabib bangkit dari duduknya. Dia merogoh saku hanfunya dan memberikan dua kantong obat pada Yona. Wanita itu menganggukkan kepala.
"Bagaimana keadaan anda yang mulia selir agung?" tanya Yona duduk di tepi ranjang. Wanita itu menatap iba Li Jihyun yang membisu.
"Dimana kaisar?" tanya Li Jihyun menatapnya tajam membuat Yona terperanjat kaget.
__ADS_1