
Begitu melangkah masuk tampak Li Jihyun dan Long Jian duduk berhadapan. Fen yang tadi duduk bersama Li Jihyun sudah berdiri cukup jauh. Pandangan dayang itu terus tertunduk. Mereka diam sejenak saat mendengar langkah kaki Lien dan Jing. Kepala Li Jihyun tertoleh ke arah kedua dayang yang datang. Kepala mereka serempak menunduk. Langkah Lien mendekati meja Li Jihyun. Dengan telaten dia meletakkan cangkir berisi teh.
"Maafkan saya yang mulia kaisar. Sayang sekali teh yang saya sediakan hanya untuk Fen," ujar Li Jihyun. Long Jian menatap teh yang terletak di meja. Lalu matanya beralih melirik Lien yang masih berdiri didekat mereka. Tapi dayang itu hanya menundukkan pandangannya. Sedikit pun enggan bertataan dengannya. "Apa yang mulia mau mengganti dengan teh yang baru?" tanya Li Jihyun.
Long Jian diam sejenak. Li Jihyun, wanita sialan. Kamu sengaja mau mempermalukanku? Hmph! Kita lihat saja, batinnya menatap Li Jihyun. Long Jian mengembuskan napas kasar. Dia meletakkan jemarinya diatas meja lalu mulai mengetuknya. Suasana diruangan itu langsung berubah mencekam. Apalagi sorot mata Long Jian yang tajam. Li Jihyun yang merasakan tatapan Long Jian buru buru menundukkan pandangan. Sandiwaranya harus terlihat sempurna atau posisinya akan terancam.
Dia menggigit bibir bawah memasang raut wajah ketakutan. "Ma-Maafkan saya yang mulia kaisar jika saya tadi menyinggung anda. Sa-Saya sudah melakukan kesalahan," ucapnya dengan pandangan tertunduk. Tubuhnya dibuat seolah bergetar. Sayang sekali aku tidak bisa melihat raut wajah kebingungan Long Jian. Itu pasti sangat menyenangkan, batinnya tertawa dalam hati.
Alis mata Long Jian terangkat sebelah. Dia melirik Lien yang masih berdiri didekat Li Jihyun. Raut wajah dayang itu terlihat cemas. Seolah takut Li Jihyun akan dijatuhi hukuman. Hati Long Jian bimbang. Tindakan Lien seharusnya menjadi kode untuknya menghadapi Li Jihyun. Apalagi Li Jihyun mendadak berubah sangat cepat. Cukup membingungkan bagi Long Jian. Sejak dia bangun dari sakitnya semua langsung berubah. Laporan kegiatan Li Jihyun mendadak terhenti. Belum lagi tindakan Li Jihyun yang berubah drastis sampai mencegangkan semua orang. Dia memiringkan wajah mengamati perilaku Li Jihyun. Dan ada satu lagi yang mengusiknya. Sesuatu yang bergejolak dalam hatinya setiap melihat Li Jihyun. Perasaan senang yang aneh saat berada didekatnya. Long Jian merasa aneh dengan dirinya sendiri. Seperti sekarang yang dialaminya saat berhadapan dengan Li Jihyun.
Aku harus segera memeriksakan ke tabib. Pasti ada yang salah dengan tubuhku, batin Long Jian. Pikirannya menerawang jauh. Tidak fokus lagi pada teh yang sudah mendingin di meja. Melihat tak ada respon dari Long Jian, matanya melirik ke atas. Pria itu malah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dasar pria menyebalkan! Mau sampai kapan aku terus menunduk. Sebaiknya kamu cepat mengatakan sesuatu. Urusanku juga masih banyak yang harus kuselesaikan, batin Li Jihyun gelisah. Dia teringat Hai Rong yang masih terkurung di gudang bawah tanah. Juga Fen yang harus dibujuknya. Ekor matanya melirik Fen yang sejak tadi tertunduk ke lantai.
Li Jihyun memutar otak memikirkan agar keluar dari situasi aneh ini. Otaknya berpikir cepat sambil matanya bergerak liar memperhatikan situasi. Matanya menangkap cangkir yang berisi penuh teh. Teh yang sudah mendingin. Sebuah ide terlintas di kepalanya.
__ADS_1
Kakinya menyenggol kaki meja pelan sampai menjatuhkan cangkir teh yang berada di tepi meja.
Prang!
"Astaga!" seru Li Jihyun pura pura terkejut. Matanya melirik Long Jian yang terperanjat kaget. Dia menatap pecahan beling yang berserakan. Lien yang berada didekatnya langsung memungut beling yang berjatuhan. "Astaga! Bagaimana bisa cangkirnya jatuh?" lanjut Li Jihyun menatap Lien.
Dayang itu mulai merasakan firasat buruk. Dia menelan ludah susah payah. Tangannya yang masih memungut beling gemetaran. Jing yang berada disana langsung membeku begitu juga Fen. Long Jian berdehem. Matanya setajam elang menatap Lien.
"Siapa yang mengajarimu menaruh cangkir teh dipinggir meja?" tanya Long Jian dingin. Aura dikamar itu berubah mencekam. Lien yang sudah selesai memunguti pecahan cangkir berdiri. Kepalanya tertunduk.
"Aku sepertinya perlu memberimu hukuman agar kejadian ini tidak terulang lagi. Bagaimana bisa dayang yang melayani selir agung seceroboh ini?" sarkasnya tersenyum sinis. Lien menggigit bibir bawah. Mulai ketakutan mendengar ancaman Long Jian.
Jing hendak membantu tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Membantah Long Jian sama saja menemui dewa kematian. Hanya berdoa dalam hati yang dilakukan Jing. Wanita itu meremas jemarinya sambil memejamkan mata. Berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan Lien.
"Pengawal," panggil Long Jian yang tak lama kemudian dua pria bertubuh tegap memasuki kamar. Mereka membungkuk hormat begitu tiba didepan Li Jihyun dan Long Jian.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu yang mulia?" tanya salah satu pengawal itu sopan. Li Jihyun melirik Lien yang gemetaran ketakutan.
Ini kesempatan bagus mendapatkan simpati dayang ini, pikir Li Jihyun.
"Seret dayang itu keluar dan masukkan dia ke penjara," titahnya yang diangguki kedua dayang itu. Jing yang berada tak jauh dari sana berseru tertahan. Lien hendak berontak tapi urung saat kedua pengawal itu sudah memegang kedua lengannya.
Mereka menarik tubuhnya paksa keluar dari kamar. Lagi Jing hendak mencegah tapi urung melihat gelengan Lien. Risikonya sangat besar jika berani melawan perintah kaisar. Dia tak mau Jing terkena masalah setelah menyelamatkannya. Jing menggigit bibir bawah menahan kesal yang membuncah di dada. Bahunya naik turun menatap kepergian Lien yang dibawa pergi keluar.
"Tunggu sebentar," tahan Li Jihyun menghentikan gerakan kedua pengawal itu. Langkah mereka terhenti diambang pintu. Alis mata Long Jian naik. "Yang mulia bolehkah saya minta anda melepaskan Lien," pinta Li Jihyun dengan suara memelas. Jing, Lien dan Fen terperangah tak percaya. Termasuk Long Jian menatap keheranan Li Jihyun.
"Ada angin apa kamu sampai mengatakan hal tidak masuk akal itu?" tanya Long Jian menyilangkan tangan didada. Li Jihyun menatap ke ambang pintu tepat bertatapan dengan Lien.
"Memenjarakannya saya rasa itu hukuman berat. Saya rasa kesalahannya barusan bisa dimaafkan. Apalagi tangannya sampai tergores tadi saat memungut pecahan cangkir," ucap Li Jihyun yang spontan pandangan Lien menunduk. Menatap kulit tangannya yang tergores akibat memegang erat beling karena takut. Dia menelan ludah. Bahkan gadis yang dimusuhi justru membantunya. Kepala Lien tertunduk dalam. Jing termenung mendengarnya.
"Heh? Kamu pikir aku tak tau itu hanya akal akalanmu saja. Belakangan ini kamu bersikap baik karena takut posisimu terancam. Jangan lupa Li Jihyun gara gara siapa aku terbaring sakit selama berhari hari. Hampir saja aku mati saat itu," ucap Long Jian mengejutkan semua orang diruangan itu. Bukan rahasia umum jika Li Jihyun nekat meracuni Long Jian.
__ADS_1
Bagaimanapun keduanya bermusuhan. Sial! Dia sudah tau rupanya. Tapi tidak masalah itu bukan masalah besar untukku. Selagi Zhi Shen tak ikut campur semuanya bisa kuatasi dengan tenang, batin Li Jihyun percaya diri.