Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 71


__ADS_3

Sesuai perkataan Li Jihyun, Fen mendatangi kamarnya di pagi hari. Dia sudah tak sabar mendengar kabar majikannya. Rasa takut yang semalam menyelimuti hatinya langsung sirna digantikan kekhawatiran. Sepanjang perjalanan dia tak berhenti berdoa.


Tak terasa langkahnya sudah tiba di depan pintu kamar Li Jihyun. Dia menarik napas lalu mengetuk pintu pelan.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan terdengar menggema di lorong yang dilewati satu atau dua orang dayang. Tak ada penjaga yang berjaga didepan pintu kamar itu. "Siapa?" tanya suara dibalik pintu.


Fen menelan ludah. "Ini saya Fen yang mulia selir agung."


Li Jihyun yang tengah meneguk teh langsung meletakkan cangkirnya. Matanya menatap Lien yang berdiri tak jauh darinya. "Bukakan pintunya," ujar Li Jihyun yang langsung diangguki Lien.


Dayang itu melangkah menghampiri pintu. Dia membuka pintu lebar dan tampak Fen berdiri. Fen menundukkan pandangannya saat mata mereka bertemu. "Masuklah. Yang mulia selir agung memintamu untuk datang," ujar Lien datar dan sedikit ketus. Lien membalikkan badannya dengan angkuh lalu berjalan terlebih dulu. Fen mengikuti dari belakang. Tanpa berani sedikit pun bicara.


"Yang mulia selir agung dayang Fen sudah datang," Ucap Lien.


"Saya Fen menyapa yang mulia selir agung," sapa Fen membungkuk hormat.


"Silakan duduk Fen," ucap Li Jihyun tersenyum manis. Fen sedikit terkejut sampai tubuhnya membeku. Gadis itu masih tak beranjak dari tempatnya berdiri.


"Yang mulia selir agung menyuruhmu duduk," ucap Lien setelah cukup lama dayang itu tak kunjung duduk. Fen tersentak kaget. Dia tampak gelagapan. Matanya tak sengaja bertatapan dengan Lien. Sorot mata Lien yang tajam menakuti Fen.

__ADS_1


"Maafkan saya yang mulia." Fen terburu buru langsung duduk diseberang Li Jihyun. Kepalanya masih tertunduk sambil memilin jemari gelisah.


Li Jihyun tersenyum. "Angkat kepalamu Fen," ucap Li Jihyun yang spontan mengejutkan Lien dan Fen. Kedua dayang itu serempak terperangah melihatnya. Fen mengangkat kepalanya patuh tapi pandangannya tetap tertunduk. "Kenapa kamu tidak melihatku Fen? Apa wajahku seram?" tanya Li Jihyun tertawa pelan yang terdengar bercanda.


Fen dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak yang mulia. Anda sangat cantik," ucap Fen bersungguh sungguh. Li Jihyun tertawa lagi.


Lien yang menyaksikan sikap Li Jihyun terdiam. Baru saja kemarin gadis itu menyiksa majikan Fen sampai babak belur. Bahkan dikurung di ruang bawah tanah yang cuma diketahui Lien dan Jing. Keadaan wanita itu sangat mengenaskan. Kedinginan dan menahan lapar diruangan gelap itu pasti membuat wanita itu tersiksa. Membayangkan itu Lien langsung bergidik ngeri.


Tapi benaknya masih bertanya tanya sikap baik yang ditunjukkan Li Jihyun. Gadis itu didepan orang lain sangat baik sampai reputasinya melecit. Bahkan dia sangat patuh pada kaisar yang sebelumnya sering ditentangnya. Lien sampai menggelengkan kepala. Entah bagaimana dia akan melaporkan kejadian ini pada kaisar. Sampai membuat Jing protes atas tindakannya melindungi rahasia Li Jihyun. Tapi setelah dipikirnya lebih baik dia berpihak pada orang yang menguntungkan mereka. Apalagi setelah menyaksikan kematian kedua temannya yang dihukum kaisar atas permintaan Li Jihyun.


Seolah mereka hanya bidak catur bagi Long Jian. Perlahan kesetiaan yang mereka bangun mulai goyah. Li Jihyun yang mereka layani tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Kecuali Fahrani dan Bai yang memulai lebih dulu mencari masalah. Kedua orang itu pikir mereka akan selamat dari hukuman tapi justru mendapatkan kematian yang tragis. Hukuman cambuk itu merenggut nyawa kedua wanita itu. Setelah dipikir tidak buruk menjadi pengikut Li Jihyun.


"Lien bawakan kemari teh lagi," ucap Li Jihyun menyadarkan Lien dari lamunan.


"Lien dayang itu datang lagi," celetuk Jing mengejutkan Lien. Gadis itu berdecak pelan. Jing tiba tiba muncul dari belakang.


"Tak bisakah kamu tidak mengejutkanku?" sungut Lien mengusap dada. Jing menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kedua dayang itu berjalan beriringan menuju dapur.


"Maaf. Aku tidak sengaja," ujar Jing dengan rasa bersalah. Lien menghela napas pelan.


"Dia mau bertemu dengan majikannya," ujar Lien membuka pintu dapur. Ada banyak dayang lain disana membuat Jing batal menyahut. Mereka bertugas membantu kepala dapur memasak.

__ADS_1


Salah satu dayang menghampiri mereka. "Ada perlu apa anda kemari?" tanyanya sopan. Wanita berusia paruh baya itu menundukkan badan.


"Yang mulia selir agung meminta dibuatkan teh lagi," ucap Lien sopan yang diangguki wanita itu.


"Akan saya siapkan," jawabnya membalikkan badan dan berjalan menghampiri kepala dapur. Sementara dayang lain kembali melanjutkan pekerjaan masing masing. Sesekali mata mereka melirik ke arah Lien dan Jing yang berdiri didekat pintu.


"Aku iri lihat mereka," bisik salah satu dayang yang sedang mengiris lobak. Ada tiga dayang berkumpul.


"Iya. Mereka bisa melayani keluarga kekaisaran lebih dekat. Gaji mereka pasti tinggi," sahutnya dengan suara berbisik. Kepala mereka menoleh ke arah Lien dan Jing.


Sementara kedua wanita itu hanya menghela napas pelan. "Seandainya mereka tau majikan seperti apa yang kita layani," bisik Jing yang langsung perutnya disikut Lien. Dayang itu mengaduh tertahan. Menatap kesal Lien. Sialan, umpatnya dalam hati.


Tak lama teh yang mereka nantikan telah datang. Wanita paruh baya itu membawakannya dengan hati hati. Lalu menyerahkan nampan berisi dua cangkir teh itu pada Lien. Lien mengangguk sekilas mengambil nampan itu.


Mereka membalikkan badan dan pergi meninggalkan dapur. Jing menoleh sekilas ke arah dapur. Suara riuh terdengar. Mereka bekerja dengan giat dan kompak. Dia tersenyum tipis. "Apa yang membuatmu tersenyum begitu?" tanya Lien penasaran. Jing mengedikkan bahu sekilas.


"Aku hanya berpikir sepertinya bukan hal buruk bekerja didapur," ujar Jing. Lien mengembuskan napas kasar.


"Aku rasa itu ide bagus," ucap Lien menyetujui perkataan Jing. Wanita itu tergelak. Langkah mereka semakin dekat ke pintu. Tapi baru 20 langkah dahi mereka mengerut keheranan. Dari kejauhan tampak dayang dan pengawal berdiri didepan pintu. Mereka saling lirik dan mengangguk. Hanya ada satu orang yang datang sampai beriringan seramai ini yaitu Long Jian, kaisar Qing Long.


Kedua orang itu mempercepat langkahnya hingga bertemu dengan kasim Bo. Kepala mereka tertunduk. "Kalian berdua dayang yang mulia selir agung?" tanya kasim Bo begitu bertemu mereka.

__ADS_1


Ada bekas lebam didahinya juga dibeberapa bagian wajahnya. Kasim Bo yang terkenal kompeten melayani kaisar pun tak elak terkena hukuman. Hanya karena masalah sepele. Beruntung pria paruh baya itu dihukum sebentar dipenjara. Jika tidak, nasibnya akan sama seperti yang lain. "Iya kasim Bo," jawab mereka serempak.


Kasim Bo mangut mangut. Dia berdehem sejenak. "Kedua dayang yang mulia selir agung memasuki ruangan," teriak kasim Bo sedikit mengagetkan mereka. "Kalian berdua silakan masuk," ucapnya menepi. Kedua pengawal yang berdiri segera membukakan pintu. Lien dan Jing saling tatap. Meski ragu tapi mereka harus melangkah masuk.


__ADS_2