
Kedua orang itu saling diam. Hanya suara ketukan sepatu yang terdengar bergema di lorong istana. Li Jihyun masih terus memikirkan rencana berikutnya dan misteri keberadaan Zhi Shen. Selain itu dia harus bertemu keluarga Xu. Tapi setelah kaisar terbaring sakit rencana peperangan itu ditunda. Apalagi kondisi kaisar sangat parah sampai tidak bisa diobati.
Satu satunya cara agar kaisar sembuh adalah darah Li Jihyun sendiri yang harus diminum. Tapi jika racun itu terlambat diobati Long Jian akan mati. Membayangkan kekaisaran ditangannya sudah membuatnya senang. Dia sudah tak sabar duduk dikursi singasana dan membuat semua orang tunduk padanya.
Mata Zhang Liu melirik ke arah Li Jihyun. Pria itu menatapnya sambil tersenyum sendiri. Tapi bertemu Li Jihyun dengan penampilannya seperti ini membuatnya merasa konyol. Kacamata yang retak tadi tidak sempat diperbaikinya setelah mendengar kabar buruk dari kaisar. Tapi apa mungkin dia secepat itu mati? pikir Zhang Liu sambil terus berjalan. Tapi lupakan masalah kaisar. Sekarang ada hal penting lain, yaitu berjalan berdua dengan Li Jihyun. Detak jantung Zhang Liu terdengar kencang membuatnya gelisah. Sesekali matanya melirik ke arah Li Jihyun yang berjalan disebelahnya. Rasanya seperti mimpi bisa bersamanya.
Langkah Li Jihyun terhenti membuat Zhang Liu ikut berhenti. "Terimakasih sudah mengantar saya tuan perdana menteri," ucap Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu. Pria itu segera membungkukkan badan.
"Suatu kehormatan bagi saya yang mulia selir agung. Semoga tidur anda nyenyak," ucap Zhang Liu sopan. Li Jihyun menggeser pintu dan melangkah masuk ke kamar. Zhang Liu berdiri sejenak didepan pintu sebelum pergi. Pria itu tampak sumringah sambil bersenandung pelan. Dia melangkah menuju kamar Long Jian.
Sama seperti pemandangan yang dilihat Li Jihyun sebelumnya. Masih ada selir dan dayang yang menunggu didepan pintu. Melihat itu membuat Zhang Liu menghela napas berat. Wanita berparas cantik itu duduk didekat pintu. Sebagian lagi ada yang tertidur dan yang lain berjaga. Zhang Liu berjalan melewati mereka hingga tiba didepan pintu. "Apa kasim Bo ada didalam?" tanya Zhang Liu yang diangguki kedua prajurit itu serempak. "Aku akan masuk. Jadi bukakan pintunya," titah Zhang Liu.
"Baik tuan Zhang Liu," sahut mereka patuh. Kedua prajurit itu membukakan pintu lebar yang boleh dimasuki oleh Zhang Liu. Melihat itu para selir yang masih terjaga berbondong hendak mendekat. Tapi dicegat oleh dua prajurit yang berjaga.
"Maaf selir Hai anda tidak diperbolehkan masuk!" ucap salah satu prajurit itu mendorong tubuh Hai Rong. Wanita cantik itu berseru sebal. Padahal dia juga ingin bertemu dengan Long Jian dan melihat keadaannya.
"Tunggu sebentar!" kata Zhang Liu menghentikan aksi dorong mendorong antara Hai Rong dan kedua prajurit itu. Beberapa selir ikut begitu juga dayang. Zhang Liu berbalik dan menatap Hai Rong membuatnya sedikit gugup. Wanita itu selangkah mundur.
"Tuan, kasim Bo sudah memerintahkan agar selir di paviliun selir tidak diizinkan masuk," ucap salah satu prajurit itu yang diabaikan Zhang Liu.
__ADS_1
"Aku akan membawanya. Aku mengenalnya."
"Ta-Tapi ..."
"Tidak usah cemas. Aku dan dia saling mengenal. Jadi tidak akan terjadi masalah," ucap Zhang Liu memotong kalimat prajurit itu. Prajurit itu mangut mangut.
"Baiklah. Kalau begitu anda diizinkan masuk. Silakan ikut tuan Zhang Liu," ucap prajurit itu yang diangguki cepat Hai Rong. Wanita berjalan mendekati Zhang Liu.
"Terimakasih sudah membantu saya," ucap Hai Rong tersenyum lebar. Tapi Zhang Liu tak peduli dan membalikkan badan.
"Silakan ikut saya," ucap pria itu berjalan terlebih dulu membuatnya gelagapan. Buru buru Hai Rong berjalan cepat mengikuti Zhang Liu. Selir lain yang menyaksikan cuma bisa menelan ludah melihat Hai Rong melenggang masuk. Bahkan gadis itu tersenyum mengejek pada mereka. Membuat gerombolan selir itu menahan amarah.
Begitu memasuki kamar Long Jian, Hai Rong dibuat terkejut. Aroma obat yang tajam menganggu penciumannya. Dan melihat tubuh Long Jian yang tergeletak tak berdaya. Tubuh pria itu sedikit membiru. Bahkan deru napasnya pun terdengar lambat. Membuat kasim Bo dan dayang yang berada disana menundukkan kepala sedih.
Kasim Bo yang menyadari kehadiran Hai Rong hendak mengusir keluar. Bagaimana pun keadaan kaisar saat ini tak boleh sampai diketahui semua penghuni istana. Walau sebenarnya berita itu sudah bocor sejak awal. Zhang Liu segera menghadang kasim Bo. Kepala kasim Bo langsung tertoleh menatapnya. Tatapan matanya yang tajam membuat Zhang Liu tidak takut. Justru pria itu tampak tenang. "Biarkan saja. Aku jamin tidak ada masalah," kata Zhang Liu lirih.
Hela napas terdengar. "Anda mengenalnya?" kepala Zhang Liu mengangguk. Hela napas terdengar lagi. "Jangan sampai terjadi hal buruk lagi pada yang mulia," ucapnya setengah berbisik ditelinga Zhang Liu. Matanya masih memperhatikan Hai Rong menangis.
"Apa anda khawatir karena mereka berasal dari faksi barat?" tanya Zhang Liu membuat Kasim Bo diam.
__ADS_1
"Ada hal penting yang harus kuberitahu padamu," ucap pria paruh baya itu mengalihkan topik pembicaraan. Alis mata Zhang Liu terangkat. Kasim Bo sedikit mendekat dan berbisik lirih ditelinga Zhang Liu. Sesekali kasim Bo melirik Hai Rong agar tak mendengar pembicaraan mereka.
Matanya langsung terbelalak lebar mendengar perkataan kasim Bo. Dia menatap tak percaya. "Apa itu sungguhan?" tanya Zhang Liu memastikan yang diangguki kasim Bo.
"Aku minta tolong padamu agar menemukan secepatnya. Dengan begitu masalah ini bisa diselesaikan." Zhang Liu mengusap dagu sambil berpikir.
Bukankah ini kesempatan yang bagus. Jika Long Jian mati aku tak perlu repot disuruh olehnya. Tapi ... bukankah kematiannya terlalu cepat, pikir Zhang Liu menatap wajah Long Jian yang memucat.
"Yang mulia selir agung mempercayakan masalah kekaisaran padamu," ujar kasim Bo menepuk pundak Zhang Liu. Lamunannya pun seketika buyar.
"Iya tentu saja. Sudah tugasku merawat kekaisaran selagi yang mulia kaisar sedang sakit," ujar Zhang Liu percaya diri.
"Baiklah. Aku percayakan padamu." Zhang Liu menganggukkan kepala membalas perkataan kasim Bo. Matanya terus memperhatikan Long Jian.
Mungkin saja ini karma untukmu, batinnya.
"Yang mulia saya mohon anda bangun. Anda harus bangun demi kekaisaran ini," kata Hai Rong menggenggam erat tangan Long Jian. Tapi pria itu tak bergeming sama sekali. Layaknya seperti orang yang tertidur lelap. "Kasim Bo apa yang dikatakan tabib? Apakah kondisi yang mulia akan terus memburuk?" tanya Hai Rong mengusap sisa air mata yang membasahi pipi.
Kasim Bo menghela napas pendek. "Sejauh ini kondisi yang mulia dalam keadaan baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," bual kasim Bo membuat mata Hai Rong melotot. Wanita itu segera bangkit dari duduk dan melangkah cepat mendekati kasim Bo.
__ADS_1
Kasim Bo berjalan mundur tapi ditahan oleh Zhang Liu. Mata pria paruh baya itu mendelik tajam. "Anda pikir saya tidak tau kondisi yang mulia?" teriak Hai Rong mengejutkan semua orang diruangan itu.
"Selir Hai jaga sikap anda. Yang mulia sedang sakit sekarang," tegur Zhang Liu yang langsung mendapat tatapan tajam dari Hai Rong.