
"ARGH! Sial!" teriak Li Jihyun melemparkan gelas dimeja. Pecahan beling dan tumpahan teh berceceran di lantai. Jing dan Lien yang tengah berjaga didepan pintu langsung masuk.
Mata mereka terbeliak kaget menatap Li Jihyun yang marah dan gusar. Dia bahkan membalik meja melampiaskan amarah dihati. Ruang tamu itu dalam sekejap berantakan. "Dasar pria tua brengsek! Heh! Jadi dia berniat mengkhianatiku?" maki Li Jihyun dengan napas menderu cepat. "ARGH!" pekiknya lagi meremas rambutnya membuat rambut itu tergerai berantakan. Semua rencananya sudah kacau balau. Balas dendam yang sudah dia susun semuanya hancur dalam sekejap.
"Dia bilang aku bukan jenius lagi? Sialan! Aku juga tidak mau begini? Kenapa aku lemah begini? Kenapa? Sial! Sial! Ini semua gara gara Zhi Shen. Dia sudah membuat semua hidupku menderita selama ini. Kali ini takkan kubiarkan dia hidup lagi," racau Li Jihyun membuat kedua dayang dibelakangnya takut.
Kepalanya tertoleh ke belakang menatap tajam Lien dan Jing. Sontak saja kedua dayang itu menundukkan pandangan. Mereka saling lirik dalam diam. "Kalian berdua ..." jeda Li Jihyun yang diangguki mereka dengan gemetar.
Tidak salah lagi yang mulia selir agung berubah gila, batin Jing bergidik ngeri.
"... panggil pembasmi roh kemari," lanjutnya membuat kedua orang itu terperangah.
Sepertinya yang mulia selir agung kerasukan hantu. Pantas saja dia berubah jadi gila, batin Jing tak habis pikir.
"Baik yang mulia," jawab Lien mengejutkan Jing yang kemudian diikutinya. "Kami permisi dulu yang mulia selir agung," pamit Lien yang diikuti Jing. Kedua orang itu meninggalkan ruang tamu. Menyisakan Li Jihyun dalam pikiran kalut.
Tanpa pendukung aku tidak bisa menduduki takhta kaisar, batin Li Jihyun gelisah. Dia menggigiti ibu jari sembari berpikir. Seringaian tersungging dibibir. Dia terkekeh pelan. Masih ada satu cara yang bisa kulakukan, batinnya mengusap bibirnya.
...
__ADS_1
Zhang Liu mengembuskan napas kasar. Disandarkannya punggung ke bantalan kursi. Pria itu melepaskan kacamata yang senantiasa dipakainya. Dia memijat pelipis yang nyeri. Pekerjaannya sebagai perdana menteri semakin banyak dan menumpuk. Apalagi setelah Long Jian sadar dan menginginkan berperang.
Rencana perang yang sempat terhenti itu kembali dilanjutkan. Long Jian sibuk mempersiapkan pasukan kuat untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Mengabaikan gosip tentang Li Jihyun yang menantangnya merebut takhta kaisar. Gosip itu cukup menghebohkan diseluruh penjuru istana.
Tok! Tok! Tok!
Atensi Zhang Liu beralih menatap ke arah pintu. Dia mengembuskan napas kasar lagi. Beranjak bangkit dari kursi dengan malas. Tak lupa diambilnya kacamata di atas meja dan memakainya. Siapa yang datang disaat santai begini? rutuk Zhang Liu dalam hati. Wajah yang dihiasi kantung mata menghitam itu menunjukkan rasa lelahnya.
Dia membuka pintu tapi tidak terlihat apapun. Kepalanya celingak celinguk mencari sesuatu. "Sial! Aku dikerjai," umpat Zhang Liu berdecak. Baru saja pria itu berbalik, matanya menangkap secarik kertas di lantai. Tepatnya dibawah kakinya. Alis mata Zhang Liu menyatu tajam. Pandangannya diedarkan ke sekitar sebelum mengambil kertas yang tergeletak dilantai.
Kertas berlipat warna putih buram itu dibawanya masuk. Tak lupa pintu dikunci rapat. Siapa yang mengirimnya kemari? pikir Zhang Liu mengamatinya. Dia membolak balik kertas tapi tidak tertulis nama yang mengirim.
Li Jihyun, bukan gadis biasa. Dia adalah reinkarnasi pembunuh bayaran dan sampaikan pada kaisar kalau gadis kecil yang didalam mimpinya adalah saudara tiri Li Jihyun. Jika kamu bertanya siapa aku? Aku adalah bayangan Li Jihyun yang akan terus menghancurkan hidupnya.
Zhang Liu meremas surat ditangan. Perasaannya dilema antara mempercayai surat yang cukup mengejutkannya atau mengabaikannya. Dia memperhatikan surat itu lagi. Orang yang mengirim surat itu sangat mengetahui rahasia Long Jian dan Li Jihyun. Ingatannya kembali melayang saat Long Jian yang sering bermimpi buruk. Pria itu akan termenung setelahnya seolah tengah memikirkan sesuatu. Dan itu terjadi bukan sekali atau dua kali setiap Long Jian bermimpi buruk. Tapi Zhang Liu tak pernah tau mimpi buruk seperti apa yang menghantui Long Jian.
Satu lagi yang akan mengejutkan kalian semua. Li Jihyun yang meracuni Long Jian sampai aku memberikannya obat tanpa kalian ketahui. Gadis itu juga berpura pura baik untuk memperbaiki citranya. Dia pembunuh bayaran bodoh! Persetan dengan kejeniusannya!
Zhang Liu menelan ludah membaca kalimat yang tertera dalam secarik kertas itu. Dia kembali membaca lanjutan dalam surat itu.
__ADS_1
Dia pikir bisa menyingkirkanku dengan memanggil pengusir roh? Iya. Aku memang akan pergi dari dunia ini. Tapi sumpah serapahku agar hidupnya dirudung penderitaan akan terus terwujud walau aku menghilang. Sebentar lagi aku akan menghilang. Kuharap surat yang kuberikan ditangan orang yang tepat.
"Pengusir roh? Apa ini ada kaitannya dengan percakapan yang mulia selir agung kemarin?" gumam Zhang Liu berpikir keras. "Aku harus mencari taunya sendiri." Surat itu dimasukkan dalam saku yang terdapat dalam lengan hanfunya. Dia berjalan tergopoh keluar meninggalkan ruang kerja. Langkahnya semakin dipercepat melihat matahari sebentar lagi tumbang ke barat.
...
Tak butuh waktu lama bagi Li Jihyun menunggu waktu malam. Itulah permintaan orang yang akan melakukan pengusiran roh. Dupa dinyalakan dalam kamarnya. Asapnya mengepul membuat Jing dan Lien terbatuk batuk. Bibir wanita tua itu menggumamkan sesuatu. Angin bertiup kencang membuat nyala lilin bergoyang. Matanya yang sejak tadi terpejam bergerak seolah melihat sesuatu.
Li Jihyun yang berada dibelakang wanita yang duduk bersila itu mengedarkan pandangan. "Kali ini aku akan menyingkirkanmu," gumam Li Jihyun menyeringai.
Tak lama asap hitam muncul dihadapan mereka. Jing dan Lien langsung merapat saat melihat seorang pria berpakaian serba hitam muncul. Pria itu menatap Li Jihyun sambil tersenyum lebar. "Tidak biasanya kamu memanggilku, Li Jihyun." Ujarnya tertawa pelan yang dibalas decihan Li Jihyun.
Kepala Zhi Shen tertoleh ke arah wanita tua itu. Begitu juga Li Jihyun. Mata wanita itu sudah terbuka dan balas menatap Zhi Shen.
"Jadi kamu roh yang selalu menganggu yang mulia selir agung?" tanya wanita tua itu dengan suara serak.
"Astaga! Kamu membuatku menjadi seorang penjahat Li Jihyun."
"Tutup mulutmu bajingan! Gara gara kamu semua rencanaku hancur!" teriak Li Jihyun menunjuk ke arahnya. Zhi Shen mengedikkan bahu.
__ADS_1
Wanita tua itu mengulurkan tangan tak membiarkan kesempatan Zhi Shen untuk melakukan sesuatu. Bahkan celah untuk kabur. Mulutnya komat kamit. Tapi Zhi Shen sedikit pun tak bergeming dari tempatnya berdiri. Meski perlahan tubuhnya berubah menjadi debu yang ditiup angin. "Ingat satu hal Li Jihyun tak ada manusia yang bisa menghindari takdir," ucapnya sebelum menghilang dari hadapan Li Jihyun.