Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 83


__ADS_3

"Kumpulkan informasi bangsawan yang tersisa. Kita harus segera menemui mereka secepatnya," ujar Li Jihyun yang diangguki Zhang Liu.


Tok! Tok! Tok!


Atensi keduanya beralih ke arah pintu. "Siapa?" tanya Li Jihyun setengah berteriak.


"Ini saya yang mulia, dayang Lian." Jawab Lian dari balik pintu. Li Jihyun langsung teringat Hai Rong. Dia menatap Zhang Liu yang sedang meneguk teh. Zhang Liu yang merasakan tatapan Li Jihyun mengangkat kepalanya. Dia tersenyum kikuk lalu menundukkan pandangan.


"Saya permisi dulu yang mulia," pamit Zhang Liu meletakkan gelas di meja. Dia bangkit dengan terburu buru dan melangkah pergi. Begitu derap sepatu Zhang Liu terdengar menjauh. Li Jihyun menyuruh Lian masuk.


Pintu terbuka lebar. Tampak muncul Hai Rong dan Lian. Hanfu yang dikenakan Hai Rong lebih bagus ketimbang sebelumnya. Tubuhnya bersih dan wangi. Gadis itu tersenyum puas. Hai Rong menundukkan pandangan. "Saya Hai Rong memberi salam pada yang mulia selir agung," sapa Hai Rong dengan terpaksa. Tampak dari wajah wanita itu yang menahan geram.


Li Jihyun meneguk teh yang tersisa hingga tandas. Lalu menuangkan lagi teh baru memenuhi cangkirnya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Hai Rong.


"Lian bawakan aku pisau," perintah Li Jihyun yang diangguki Lian. Meski sedikit bingung namun dayang itu memutuskan tak bertanya. Dia segera berbalik dan pergi meninggalkan Hai Rong dan Li Jihyun.


Atmosfer dalam ruangan itu seketika langsung berubah. Suasana canggung menyelimuti kamar. Hai Rong memilin jemari gelisah. Hatinya bertanya rencana Long Jian menyuruhnya ke kamar. Gadis itu tak bicara lagi sedikit pun. Mata Hai Rong melirik Li Jihyun yang meneguk teh. Entah berapa kali dia menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Waktu terus berputar. Amarah yang tadinya meluap kini menguap jadi penasaran. Dia hendak membuka mulut tapi ragu.


"Hai Rong," seru Li Jihyun memecah kesunyian. Hai Rong terkesiap namun masih belum berani mengangkat kepalanya. Pandangannya kembali tertunduk.


"Iya yang mulia," jawab Hai Rong.

__ADS_1


"Menurutmu apa yang pantas membuktikan kesetiaan seseorang?" tanya Li Jihyun mendelik tajam. Hai Rong terdiam sejenak. Menelan ludahnya susah payah. Keringat dingin pun membasahi dahi. "Kenapa diam Hai Rong? Apa kamu tidak bisa menjawabnya?" tanya Li Jihyun meremehkan.


Hai Rong menggigit bibir bawah. Tangannya terkepal erat. Otaknya berpikir keras. Pertanyaan Li Jihyun semacam ujian buatnya. Jika dia gagal maka balas dendam yang direncanakannya pun gagal. Bahkan bukan hanya dirinya yang akan mati tapi seluruh keluarganya. Dia teringat kembali dengan kebakaran yang menimpa kediaman Xu. Seluruh keluarganya ditemukan mati gosong. Tak ada satupun manusia yang selamat. Kecuali satu orang dan dia adalah Li Jihyun yang sekarang berada didepannya.


Hai Rong menarik napas. "Satu satunya cara dengan melakukan apapun perintah dari orang yang akan dijadikannya tuan."


Li Jihyun tersenyum tipis. Meneguk lagi tehnya. "Baiklah. Kalau begitu kamu bisa buktikannya didepanku," ucap Li Jihyun menatap ke arah pintu.


Kriet!


Pintu terbuka lebar. Lian memasuki kamar sambil membawakan pisau seperti yang diperintahkan Li Jihyun. Dayang itu menyerahkan benda tipis dan tajam itu padanya. Li Jihyun menatap lekat pantulan bayangannya dari pisau itu. Dia mengelus lembut mata pisau.


Atensi Li Jihyun beralih ke arahnya. Tangannya masih memegang pisau. Dia bangkit dari kursi. Tangannya meraih dagu Hai Rong dan mengangkatnya paksa.


Kepala wanita itu mendongak. Mata mereka pun bertemu. "Kamu mengatakan padaku cara membuktikan kesetiaan seseorang adalah dia bersedia melakukan apapun untuk majikannya. Jadi bukankah cara melakukannya adalah dengan membuktikannya sendiri?" tanya Li Jihyun menaikkan sebelah alis matanya.


Pupil mata Hai Rong bergetar. Keringat dingin terus menerus menetes. "Ya-Yang mulia apa maksud anda? Bukankah saya sudah menunjukkannya pada anda dengan meminum botol berisi racun itu?"


"Heh? Bukannya kamu ragu saat itu, hm?" ujar Li Jihyun mendekatkan pisaunya. Hai Rong yang melihat ujung pisau itu mendekat membuat tubuhnya bergetar hebat. Bayangan buruk pun memenuhi isi kepalanya. Satu hal dikepalanya mati.


Hai Rong menggelengkan kepala. Matanya terpejam. Dia harus lepas dari cengkraman Li Jihyun. Namun sulit, tubuhnya tidak bisa digerakkan saking lemas ketakutan. Bahkan menelan ludah pun susah.

__ADS_1


Belum lagi cengkraman Li Jihyun sangat kuat membuatnya meringis kesakitan. "Aku sudah memperingatkanmu Hai Rong. Jangan pernah berpikir bisa mengkhianatiku dengan mudah. Dulu aku terlalu naif dan bodoh mengira semua akan berjalan lancar tapi tidak lagi." Kepala Hai Rong menggeleng lagi. Air mata pun menetes jatuh.


Apa yang harus kulakukan? Aku harus lepas dari sini atau kematian akan datang menjemputku, batin Hai Rong berpikir keras.


Ujung pisau itu semakin mendekat. Hai Rong membuka matanya dan terkejut. Tangannya memegang tangan Li Jihyun. Berusaha melepaskannya sampai nekat mencakar tangannya. Tapi jangankan lepas Li Jihyun mengeratkan cengkramannya.


Li Jihyun tergelak. "Kamu pikir bisa lepas Hai Rong? Lian pegangi wanita bodoh ini!" perintah Li Jihyun yang diangguki Lian.


Dayang itu dengan cepat memegangi kedua tangan Hai Rong. Wanita itu pun tak bisa berontak lagi. Air mata Hai Rong mengucur semakin deras. Dia ketakutan dibunuh oleh Li Jihyun.


Gadis itu membuka mulut Hai Rong paksa sampai terbuka. Hai Rong berusaha menutup mulutnya saat melihat pisau itu mengarah tepat ke arah mulutnya. Sekarang dia sudah tau rencana Li Jihyun sejak tadi menyuruh Lian mengambil pisau. Gadis itu akan memotong lidahnya agar tak bersuara lagi.


Melihat Hai Rong berusaha menutup mulutnya. Li Jihyun tak tinggal diam. Dia menarik lidah wanita itu dan langsung memotongnya. Suara jeritan terdengar tertahan. Darah terus mengalir keluar.


Wanita itu menangis keras tapi suaranya tak jelas. Terasa sakit dan perih. "Dengan begini rahasia kita aman," ucap Li Jihyun tertawa senang. Dia melemparkan lidah itu ke arah nakas. "Nah selanjutnya tangan kanan." Mendengar itu Hai Rong berontak keras. Dia tak mau lagi kehilangan anggota tubuhnya dipotong Li Jihyun. Dia berusaha melepaskan pegangan tangan dari Lian tapi gagal. Li Jihyun berputar ke punggungnya.


Lian yang mengerti langsung menarik tangan kanannya. Melihat ada peluang Hai Rong langsung menepis tangan Lian. Tapi belum sempat dia melepaskan diri. Tiba tiba tangan kanannya putus dengan cepat. Pandangan Hai Rong nanar. Jantungnya terasa tiba tiba berhenti berdetak.


Lengan wanita itu tergeletak ke lantai dalam kubangan darah. Darah mengenang dimana mana membanjiri lantai yang dipijak. Li Jihyun tertawa terbahak bahak. "Aku sudah bilang kan Hai Rong. Tak gunanya melawanku," ejek Li Jihyun menjilat sisa darah di pisaunya.


Tubuh Hai Rong limbung dan jatuh. Dia menatap lengannya dilantai.

__ADS_1


__ADS_2