
"Tutup mulutmu Li Jihyun!" bentak Hai Rong menunjuk ke arah Li Jihyun. Kedua orang itu menatap Hai Rong terperangah. Bahkan Fen sampai membeku ditempat dan lidahnya seketika kelu.
Nekat sekali wanita itu membentak yang mulia selir agung, batin Lian menatap prihatin Hai Rong. Bahu wanita itu naik turun dengan deru napas cepat.
Menghina selir agung sama saja dengan penghinaan kekaisaran. Posisi selir agung masih tinggi dibanding selir lain. Apalagi kaisar belum memilih permaisuri. Jadi peran itu diisi oleh selir agung sampai terpilih permaisuri.
Ya ampun selir Hai. Kenapa dia nekat membentak yang mulia selir agung? Bagaimana jika yang mulia marah nanti? batin Fen cemas. Berbeda dengan reaksi Lian yang menunggu respon Li Jihyun dalam menangani Hai Rong. Matanya melirik Li Jihyun yang tampak tenang.
Hela napas terdengar. Sebelah alis matanya terangkat. Dia selangkah mendekati Hai Rong. Tapi, wanita itu tak menunjukkan takut. Dia justru membusungkan dada seolah menantang Li Jihyun. Fen yang dibelakang Hai Rong menarik lengan wanita itu. Tapi ditepis dengan kasar. Bahkan mata Hai Rong sampai melotot membuat Fen menunduk ketakutan.
Langkah Li Jihyun berhenti tepat dihadapan Hai Rong. Mata mereka saling bertatapan. "Semakin dibiarkan tindakanmu semakin kurang ajar selir Hai," kata Li Jihyun tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Hai Rong.
Hai Rong berdecih pelan. Sedikit pun tak mau kalah dari Li Jihyun. "Lalu? Apakah saya harus memberi hormat pada bekas selir tawanan yang dalam semalam naik menjadi selir agung?" ledek Hai Rong tersenyum mengejek. Sebelah sudut Li Jihyun terangkat. Gadis itu dengan santai mengedikkan bahu.
"Aku memang masih punya banyak kekurangan. Tapi, apa gunanya menjilat seperti anjing tapi posisi kalian tetap rendah," balas Li Jihyun tak mau kalah. Wajah wanita itu semakin merah. Amarahnya memuncak di ubun ubun.
__ADS_1
Dia mengangkat tangannya dan mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Li Jihyun. "Kamu pikir aku tidak tau apa yang kamu lakukan dengan yang mulia? Heh?! Dasar pelacur!" maki Hai Rong membuat kesabaran Li Jihyun habis. Tapi wanita itu seketika teringat sesuatu. Senyumannya terlihat mengerikan membuat Hai Rong bergidik. Tapi karena melihat wajah Li Jihyun kusut membuatnya sumringah. Dia berhasil menampar Li Jihyun dengan kata katanya.
"Bukankah bagus jika aku melayani yang mulia? Bagaimana pun aku adalah istrinya. Bukan sepertimu yang cuma istri pajangan," balas Li Jihyun membuat Hai Rong tersentak. Dia menelan ludah susah payah.
"I-Itu siapa bilang aku istri pajangan. Aku juga sama sepertimu. Aku juga istrinya," sergah Hai Rong membuat Li Jihyun tertawa terbahak bahak. Sampai sudut matanya berair. "Apa yang kamu tertawakan?" tanya Hai Rong dengan kesal.
Li Jihyun menghentikan tawanya. Ditariknya napas lalu mengembuskan pelan. Kepalan tangannya menopang dagu dan menatap Hai Rong remeh. "Kamu pikir yang mulia selera pada wanita sepertimu?" tanya Li Jihyun menaik turunkan alis mata.
"Tentu saja. Memangnya pria mana yang bisa menolak seorang gadis dari keluarga Hai?" celetuknya dengan sombong yang sekali lagi sukses membuat Li Jihyun terkikik geli. Membuat wajah Hai Rong semakin berang.
"Kurang ajar! Apa maksudmu mengatakan itu?" geram Hai Rong mengepalkan tangan erat.
"Hmph! Seharusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri bukan aku. Aku sudah bilang bukan? Jangan pernah lewati batas selir Hai," ucap Li Jihyun menyeringai lebar. Telunjuk yang teracung itu perlahan menurun. Wanita cantik itu menggigit bibir bawah sambil menatapnya tajam. "Sekali lagi kamu melakukan itu Hai Rong tiada maaf bagimu. Jangan lupa aku mengetahui segala tentangmu," lanjut Li Jihyun membalikkan badan. Dia melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju ke tempat Zhang Liu. Sekilas Lian melihat raut kekesalan diwajah Hai Rong.
Lalu kembali beralih menatap punggung Li Jihyun yang didepannya. "Dasar Li Jihyun sialan! Bagaimana bisa dia mengetahui tentang itu?" gumamnya menghentakkan kaki. Matanya menatap tajam punggung gadis itu dari kejauhan. "Tidak tau diuntung! Setelah ditolong dia malah menghinaku. Cih! Akan kubalas perbuatannya yang sombong itu," lanjutnya menggigit kuku dengan gelisah.
__ADS_1
Fen yang melihat sedikit takut dengan majikannya. Wanita yang selalu berpenampilan anggun itu dalam sekejap berubah sedikit gila. Hanya karena amarahnya dan kecemburuan pada Li Jihyun. Dia teringat lagi dengan penawaran untuk kebebasan Li Jihyun pada kaisar.
Agar keluarga Xu mau membantu dia menyerahkan Li Jihyun sebagai tawanan keluarga Xu. Artinya segala gerak gerik Li Jihyun diatur sepenuhnya oleh keluarga Xu. Bahkan juga tak lepas dari kekangan Hai Rong sendiri.
"Selir Hai mari kita masuk. Diluar panas," ucap Fen mengalihkan atensi Hai Rong. Mata wanita itu melotot membuat Fen ketakutan. Dia menundukkan pandangan.
"Ini semua salahmu! Seandainya saja kamu tidak dibantu Li Jihyun. Wanita itu pasti akan selamanya menjadi tawanan kaisar. Dia ... dia pasti takkan bisa merebut posisi selir agung," racaunya membuat Fen bergidik ngeri.
Tapi tanpa bantuan yang mulia selir agung. Aku pasti tinggal nama bahkan mungkin juga selir Hai juga terikut, batin Fen masih dengan kepala tertunduk. "Selir Hai mari kita masuk," ajak Fen dengan suara bergetar. Wanita itu menatap Fen lalu mendengus sebal. Dia bahkan mendorong tubuh Fen hingga terhuyung jatuh. Fen semakin ketakutan melihat raut wajah Hai Rong. Hatinya sudah diselimuti kecemburuan.
"Aku pasti akan menghancurkannya Fen. Jadi kamu harus membantuku," ucapnya menyeringai lebar membuat Fen terdiam. "Fen!" bentak Hai Rong mengejutkannya. Ragu dayang itu mengangguk. "Bagus. Kamu ada disisiku, kan Fen?" tanya Hai Rong berjongkok tepat dihadapan Fen. Jemari yang lentik menyentuh wajah ovalnya. Dayang itu menelan ludah lalu menganggukkan kepalanya lagi.
....
Apa aku terlalu bermurah hati sampai membiarkan Hai Rong bertindak sesukanya? Aku jadi membuat masalah bertele tele, batin Li Jihyun mengetuk meja. Pikirannya menerawang jauh.
__ADS_1
Zhang Liu yang sejak tadi menjelaskan rencana persiapan selama kaisar sakit pun terdiam. Matanya menatap lekat Li Jihyun yang tenggelam dalam lamunannya. Apa yang dipikirkan yang mulia sampai tidak menyimak penjelasanku? batin Zhang Liu penasaran. Matanya melirik dayang yang berdiri dibelakang Li Jihyun. Dayang itu juga sejak tadi memperhatikan Li Jihyun. Dia berdehem pelan membuat lamunan Li Jihyun seketika bubar. Gerakannya mengetuk meja pun terhenti. "Apa ada saran anda terkait dengan masalah kekaisaran?" tanya Zhang Liu memecah keheningan.