
Mereka terus menuruni tangga dengan cahaya obor yang menerangi. Semakin ke ujung udara terasa menipis dan pengap. Tangga batu yang diinjak pun semakin banyak. Jing menatap punggung Li Jihyun. Gadis itu tak terdengar mengeluh sedikit pun. Bahkan deru napasnya terkesan normal.
Cukup mengherankan bagi Jing. Bagaimana bisa yang mulia selir agung terlihat tenang? Padahal ini sudah cukup banyak melewati anak tangga. Apa yang mulia selir agung tidak merasa capek? batin Jing yang masih menenteng air.
Bagi Jing menuruni anak tangga sebanyak ini bukanlah masalah berat. Dia sudah terlatih selama bertahun tahun selama menjadi bayangan kaisar. Jadi baginya ini adalah hal biasa.
Dia mengembuskan napas pelan. Teringat lagi dengan tugas yang diberikan Long Jian mengawasi Li Jihyun. Tapi setelah melihat tindakan Li Jihyun membela Lien dari hukuman dan bujukan Lien agar mengikuti Li Jihyun membuatnya dilema. Pikirannya sekarang kusut. Apalagi mereka belum menyampaikan laporan apapun.
Entah sudah berapa tangga yang mereka turuni sampai tiba di ujung tangga. Li Jihyun mengangkat tinggi obor ditangan. Cahaya obor menyapu ruangan kecil didepan mereka. Tampak disudut ruangan seorang wanita terikat tali dalam posisi duduk di kursi. Rambutnya tergerai berantakan menutupi wajah ditambah posisi kepalanya yang tertunduk. Hanfu yang dikenakan pun sobek dimanapun. Memperlihatkan bekas luka di tubuh serta bercak darah yang mengering.
Li Jihyun berjalan mendekati Hai Rong yang masih pingsan. Dia menyibak rambut hitam yang gersang itu hingga tampak wajahnya. Wajah yang dipenuhi bekas luka cambuk semalam. Dia tersenyum tipis.
"Siram dia!" perintah Li Jihyun yang sudah menjauh dari Hai Rong. Jing mengangguk patuh dan menyiramkan air yang ada diember.
Byur!
Hai Rong langsung terbangun dengan napas tersengal. Napasnya sesak. Dinginnya air membuat tubuhnya menggigil. Apalagi pakaiannya robek. Dia membuka matanya dan bertatapan dengan Li Jihyun. "A-Ampuni saya yang mulia. Sa-Saya sudah salah. Tolong ampuni saya," pintanya mulai menangis. Tapi Li Jihyun tak peduli.
Mata Hai Rong berkaca kaca. "Saya sudah salah. Seharusnya saya tidak melakukan itu. Saya sudah salah yang mulia selir agung," tambahnya dengan suara memelas.
"Cih! Tak ada gunanya minta maaf padaku," ucap Li Jihyun dingin. "Aku tak butuh maaf darimu." Mata Li Jihyun menatap tajam Hai Rong membuatnya menelan ludah susah payah. Tatapan mata Li Jihyun membuat nyalinya sedikit ciut.
__ADS_1
"Yang mulia selir agung saya akan melakukan apapun asal anda memaafkan saya," ujar Hai Rong dengan mata berkaca kaca. Berharap hati Li Jihyun luluh. Air matanya sampai bergulir jatuh.
Li Jihyun memalingkan wajah ke arah lain. Dia berjalan mengambil sesuatu yang terletak diatas meja. Cambuk yang panjang dan tebal itu diambilnya.
Hai Rong yang melihat membulatkan mata. Bibirnya bergetar saking ketakutan. "Ya-Yang mulia ampuni saya. Ampun yang mulia," pintanya mulai menangis melihat langkah Li Jihyun semakin dekat. Dia berusaha berontak sekua tenaga. "TOLONG! TOLONG!" pekiknya membuat Li Jihyun tersenyum.
Gadis itu berhenti tepat didepan Hai Rong. Cambuk ditangannya mulai dilayangkan tepat mengenai Hai Rong. Teriakan pun terdengar pilu. Kulit Hai Rong terkoyak. Bekas lukanya kembali terbuka.
Li Jihyun terus mengayunkan cambuknya tanpa henti. Wanita itu terus berteriak sampai suaranya serak. Cambuk itu berhenti melayang melihat tubuh Hai Rong tak bergerak. Darah menetes jatuh ke lantai. Bau anyir tercium.
"Jing bawa kemari air lagi," ujar Li Jihyun.
"Baik yang mulia," jawabnya patuh membalikkan badan. Jing membawa ember kosong berjalan keluar dari ruangan itu.
Wanita itu tak bergerak lagi meski cambuk melayang berulang kali ke tubuhnya. Rambutnya yang kusut dan kusam tergerai berantakan. Disekujur tubuhnya terdapat bercak darah.
Suara derap langkah menghentikan cambuk Li Jihyun. Kepala gadis itu tertoleh ke belakang. Jing datang membawa ember berisi air penuh. Jing tidak kesulitan membawanya. Dia sudah terbiasa menjalani latihan berat.
"Siram dia lagi," ujar Li Jihyun yang diangguki Jing. Wanita itu menyiramkan air ke wajah Hai Rong. Sekali lagi wanita itu terbangun dengan napas tersengal. Rasa nyeri dan sakit bercampur satu. Dia meringis kesakitan.
Li Jihyun menarik rambutnya hingga kepala Hai Rong mendongak. Mata mereka saling bertatapan. Hai Rong menatapnya nanar. Rasa ketakutan menyelimuti hatinya. Dia mulai menangis tersedu sedu. "Yang mulia tolong lepaskan saya," pintanya disela isak tangis.
__ADS_1
Li Jihyun menarik rambutnya lebih keras membuat Hai Rong menjerit kesakitan. "Apakah nona bangsawan sepertimu hanya tau merengek?" tanya Li Jihyun menaikkan sebelah alis matanya. Bajunya yang rombeng membuat sekujur tubuh menggigil kedinginan.
Tangan Li Jihyun mencengkram rambutnya kuat sampai membuat Hai Rong menjerit lagi. Suaranya perlahan mulai menghilang. "Seharusnya tunjukkan ketulusanmu meminta maaf. Bukan merengek tak jelas," tambah Li Jihyun melepaskan cengkramannya kasar.
Dia berjalan ke arah meja mengambil kain kering yang terletak disana. Tak lupa sebelumnya diletakkannya kembali cambuk. Dilap tangannya sampai bersih lalu digulung sampai tebal. Dia berjalan mendekati Hai Rong dan menyumpal mulutnya dengan kain.
"Jangan beri dia makan dulu," ucap Li Jihyun yang diangguki patuh Jing.
"Baik yang mulia."
Hai Rong berusaha berontak disisa tenaganya. Li Jihyun membalikkan badan terlebih dulu diikuti Jing. Sekilas Jing melihat ke arahnya sebelum keberadaan Hai Rong ditelan kegelapan. Samar suara teriakan tertahan terdengar. Mereka terus menaiki tangga yang meliuk menuju ke atas meninggalkan Hai Rong sendirian di gudang bawah tanah.
"Apa menteri Gong Jihon belum sampai?" tanya Li Jihyun yang digelengkan Jing. Gadis itu membuang napas kasar. Sekarang mereka berada dilorong istana. Setelah tadi keluar dari gudang bawah tanah tak lupa mengunci pintunya rapat.
"Saya rasa tuan Gong akan segera tiba yang mulia," hibur Jing yang diangguki sekilas Li Jihyun. Pikirannya menerawang jauh.
Apa paman Gong akan membantuku? Seharusnya aku tidak terlalu terbawa emosi kemarin. Padahal aku masih membutuhkannya, batin Li Jihyun sepanjang melewati lorong.
Di jalan yang tampak tenang itu tanpa sengaja berpapasan dengan Long Jian. Li Jihyun yang tengah ada masalah memutar bola mata malas. Dia memasang ekpresi yang sulit diartikan. "Salam yang mulia kaisar," sapa Li Jihyun menghentikan langkahnya saat mereka berhadapan.
Long Jian berhenti menatap Li Jihyun. "Anda dari mana selir agung?" tanya Long Jian menatap ke arah datangnya Li Jihyun barusan.
__ADS_1
"Saya habis mencari udara segar tadi yang mulia," bual Li Jihyun. Mata Long Jian melirik ke arah Jing. Sudah lama mata mata yang dikirimkannya tak kunjung mengirim laporan.
Jing menganggukkan kepala membenarkan perkataan Li Jihyun. Mata pria itu kembali menatap Li Jihyun.