
Tubuh Jing terhuyung ke belakang. Darah merembes dari hanfu. Dia mencabut garpu yang menancap di perut sambil menahan rasa sakit. Menatap tajam Li Jihyun didepannya. Tangannya memegang erat garpu dan merangsek maju. "MATI KAMU LI JIHYUN!" teriak Jing mengarahkan ujung garpu ke arahnya.
Li Jihyun mengangkat sebelah alisnya. Menatap remeh Jing yang dipenuhi amarah. Jarak diantara Jing dan Li Jihyun semakin dekat. Namun gadis itu sedikit pun tak berniat menghindar. Justru menunggu Jing mendekat ke arahnya.
Garpu di tangan Jing terangkat setinggi kepala. Hendak menusuk mata Li Jihyun saat kepalanya mendongak. Tapi gadis menepis garpu ditangannya hingga terlepas. Jing terkejut dan hendak melompat mundur. Tapi tangan Li Jihyun bergerak meliuk ke arah tubuh Jing. Menotok titik vital Jing dengan cepat.
Tubuh Jing langsung terkulai ke lantai. Mata wanita itu bergerak tapi bibirnya terkatup rapat. Tak bisa mengeluarkan suara akibat totokan yang dilakukan Li Jihyun. Gadis itu tersenyum lebar dan berjongkok didepan Jing. Suara tertahan terdengar di telinga Li Jihyun tapi diabaikannya.
Tangannya menarik rambut wanita itu. Suara kesakitan terdengar tertahan. Kepala wanita itu mendongak. Matanya menatap tajam Jing. "Kalian bayangan kaisar tapi kenapa selemah ini? Lien saja sangat mudah kutumbangkan," ucap Li Jihyun meremehkan. "Tapi itu sangat membosankan. Dia cepat sekali mati. Beda dengan Hai Rong. Wanita itu panjang sekali umurnya. Padahal aku sudah menyiksanya selama berhari hari," lanjutnya menopang dagu. Tangannya yang satu masih memegang rambut Jing.
Dia menghela napas pelan. Menyentak rambut wanita itu kasar. Rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhnya. Namun dia tak bisa mengeluarkan suara. Bibirnya tak bisa terbuka sedikit pun meski dipaksa. Hanya suara erangan yang tertahan terdengar. "Nasib kalian benar benar malang. Kalian pikir mematai mataiku tidak akan ketahuan? Hmph! Kalian salah besar. Cepat atau lambat aku pasti akan mengetahuinya," ujar Li Jihyun membuat Jing tak mengerti.
Apa maksudnya? Bukankah kami sudah bersumpah setia pada yang mulia selir agung. Tapi kenapa dia mengatakan hal yang tak masuk akal? Mematai matai apa? Padahal kami saja tidak melaporkan yang direncanakan yang mulia selir agung. Justru kami memberikan laporan palsu, batin Jing sambil terus berpikir keras. Otaknya sibuk mencari letak kesalahannya tapi tak ada satu pun yang ditemukan. Bahkan diantara teman temannya pun tidak ada yang terlihat mencurigakan. Mereka melakukan sesuai perintah Li Jihyun.
__ADS_1
Matanya melirik Lien yang sudah terbujur kaku. Ingin rasanya Jing bertanya tapi wanita itu sudah di alam lain. Padahal semua jawaban itu bisa ada pada Lien. Jing mengalihkan atensinya ke arah Li Jihyun. Dia berusaha membuka mulutnya tapi gagal. Bibirnya terkatup rapat dan sangat kaku digerakkan. Efek totokan yang diberikan Li Jihyun membuatnya tak bisa bergerak.
Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat. Matanya menatap puas ketidakberdayaan Jing. Bahkan menyaksikan wanita itu tersiksa pun membuatnya sangat gembira. Li Jihyun menarik lagi rambut Jing membuat beberapa helai rambutnya gugur. Wanita itu ingin berteriak kesakitan tapi percuma. Suaranya tidak akan terdengar.
Sakit! Sampai kapan yang mulia menyiksaku? Tubuhku pun sejak tadi tak bisa kugerakkan, batin Jing berusaha menggerakkan jemarinya. Tapi yang ada malah rasa sakit yang tak bisa dijelaskan. Meski ditahan dan dipaksa sekalipun rasa sakitnya malah berubah nyeri. Dia meringis kesakitan.
Melihat Jing yang hanya meringis kesakitan membuat gadis itu menguap. Gadis itu beralih menatap kepala mayat yang berada di genangan darah. Dia mengembuskan napas lalu beralih lagi ke arah tubuh Lien. Wajah wanita itu mirip dengan Lian. Secara mereka adalah saudara kembar. "Kalian pikir aku membiarkan pengkhianat berada dalam kediamanku. Tentu saja tidak. Kalian saja demi keuntungan berpihak padaku dan meninggalkan yang mulia kaisar. Bukankah itu sudah menjelaskan kalau dimasa depan kalian juga akan melakukan hal sama. Jadi sebelum itu terjadi lebih baik kalian kubunuh semua," ujar Li Jihyun menyeringai.
Fahrani dan Bai yang sudah lebih dulu tewas sudah membuat nyali mereka ciut. Gadis berparas imut ini begitu mudah membalikkan fakta sampai membuat kedua dayang itu mati di penjara. Karena tidak kuat menghadapi siksaan. Belum lagi kaisar yang tak peduli sama sekali. Membuat kesetiaan mereka goyah dan berpaling pada Li Jihyun. Tapi ternyata nasib mereka justru memburuk.
Jing sekali lagi menggerakkan jemarinya berharap efek totokan itu lepas. Tapi sekali lagi usahanya gagal. Tubuhnya tidak bisa digerakkan dan menyisakan rasa sakit yang merobek persendiannya. Dia meringis kesakitan lagi. Berapa lama efek totokan ini bertahan? Kenapa aku masih belum lepas juga, pikirnya kebingungan.
Melihat Jing berusaha keras melepaskan diri membuat Li Jihyun tertawa kecil. Tangannya melepaskan rambut Jing. Membuat kepala wanita itu seketika menunduk jatuh membentur lantai. Darah merembes di dagu Jing. Dagunya terluka dan menambah rasa sakit baru pada tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak semudah itu Jing bisa lepas dari totokanku. Butuh waktu lama agar kamu lepas. Tapi kalau pun lepas bukankah itu suatu keajaiban," ujarnya mengedikkan bahu santai. "Kira kira berapa lama kamu bisa terbebas?" gumam Li Jihyun mengelus lembut pipi Jing membuat wanita itu langsung bergidik ngeri. Tangan Li Jihyun turun ke leher Jing. Sentuhan hangat itu terasa mencekiknya.
"Aku sudah bosan. Apa kubunuh saja?" gumam Li Jihyun yang didengar Jing. Seketika matanya terbelalak kaget. Usahanya semakin besar melepaskan totokan itu meski darah di perutnya mengucur deras. Darah yang berasal dari luka yang didapatkan Jing.
Bulir keringat sebesar biji jagung berjatuhan. Tubuh Jing sudah tak kuat lagi. Dia sudah banyak kehilangan darah. Li Jihyun menguap santai. Matanya menatap ke arah jendela yang terbuka. Matahari sudah hampir tenggelam menandakan senja akan datang. "Sudah cukup membuang waktunya Jing," ucapnya bangkit dan membalikkan badanya.
Suara senandung terdengar. Gadis itu berjalan mencari sesuatu dikamarnya. Dia sibuk mengitari kamar sambil matanya bergerak liar. Sangat disayangkan aku tak punya pedang atau pisau, batinnya kesal.
Langkahnya terhenti didepan lemari. Sudah dua kali dia melewati lemari yang terukir bunga teratai. Dia juga tak menemukan barang yang cocok.
Dibukanya lagi lemari mencari sesuatu yang bisa digunakan menyiksa Jing. Dia mulai mengobrak abrik hanfu yang berjajar rapi. Melemparkannya ke sembarang arah. Tak pelak satu dua hanfu mengenai wajah Jing yang tak jauh darinya.
Mata Li Jihyun menangkap tali yang tergeletak di bawah tumpukan hanfunya. Senandungnya berhenti digantikan senyuman yang terlihat mengerikan. Otaknya dengan cepat memikirkan sebuah ide. Ini bisa jadi hiburan sebelum Long Jian pulang, gumamnya menepuk tangannya kegirangan.
__ADS_1