
Suara derap langkah kaki memasuki ruang tamu. Gong Jihon dan cucunya segera bangkit dari kursi. Tampak seorang pria renta seumuran Gong Jihon muncul. "Ikut saya tabib Yu," ajaknya berjalan tergesa diikuti tabib Yu. Kedua orang itu menuju kamar Li Jihyun dirawat. "Kalian semua keluar!" titah Gong Jihon tegas yang diangguki patuh pelayan lain. Semua pelayan yang berada disana pergi dengan cepat menyisakan Gong Jihon dan tabib Yu.
Tabib Yu segera bergerak mendekati ranjang Li Jihyun. Dia memegang tangan Li Jihyun dan mulai memeriksa denyut nadinya. Gadis itu sudah berganti pakaian dan tubuhnya pun sudah dibersihkan dari lumuran darah. Tabib Yu mangut mangut selama memeriksa Li Jihyun. Sesekali pria itu mengusap jenggotnya yang panjang.
"Bagaimana keadaannya tabib Yu?" tanya Gong Jihon cemas. Atensi pria renta itu beralih menatap Gong Jihon. Hela napas terdengar. Membuat Gong Jihon dilanda kecemasan. "Ap-Apa dia baik baik saja?" tanya Gong Jihon sekali lagi memastikan. Tabib Yu meletakkan tangan Li Jihyun dengan hati hati. Matanya yang sayu menatap Gong Jihon.
"Tidak ada masalah. Hanya saja luka ditubuhnya ini yang membuat dia pingsan," ucap tabib Yu mengusap jenggotnya. Pandangannya beralih menatap Li Jihyun yang terbaring dengan deru napas teratur. "Sebaiknya dia beristirahat dulu sampai luka ditubuhnya pulih total," lanjut tabib Yu yang diangguki Gong Jihon. Dia juga bernapas lega gadis itu dalam keadaan baik.
"Terimakasih tabib Yu. Saya akan membayar anda dua kali lipat dari biasanya," ucap Gong Jihon penuh syukur. Bahkan menyalami tangan tabib Yu.
"Itu terlalu banyak. Bayar seperti biasanya saja. Aku akan meramukan obat agar dia cepat sembuh," kata tabib Yu berbalik dan meninggalkan kamar. Gong Jihon menatap Li Jihyun dengan rasa bersalah. Bahkan tanpa disadarinya air mata jatuh bergulir.
"Maafkan aku Li Jihyun. Seharusnya aku bisa melindungimu. Bukan sebaliknya," gumam Gong Jihon mengusap air mata yang jatuh. Kemudian pergi meninggalkan Li Jihyun beristirahat didalam kamar.
"Tuan! Tuan!" seru pelayan pria dengan langkah tergopoh. Keringat bercucuran membasahi dahi. Pria itu mendekati Gong Jihon yang baru saja menutup pintu kamar Li Jihyun. Alis matanya langsung mengernyit melihat tingkah pelayannya yang tidak sopan. Pasalnya, pelayan itu sempat berteriak saat berada didepan kamar Li Jihyun. Apalagi Li Jihyun sedang terbaring sakit.
"Jangan berisik! Ada apa kamu datang kemari?" tanya Gong Jihon ketus. Pria itu segera menelan ludah. Dia membungkuk hormat.
"Ma-Maafkan saya sudah bertindak kurang ajar. Ta-Tapi ada berita penting yang harus disampaikan," jawab pelayan itu terbata. Alis Gong Jihon semakin mengerut.
"Katakan padaku! Ada berita apa sampai kamu seheboh ini?" tanya Gong Jihon. Kepala pelayan itu semakin tertunduk dalam.
__ADS_1
"Ya-Yang mulia kaisar sedang menuju kemari," jawab pelayan itu membuat tubuh Gong Jihon membeku.
"Ap-Apa kamu tidak berbohong?" tanya Gong Jihon memastikan. Suaranya bergetar saking terkejut.
"Tuan saya tidak berbohong. Yang mulia kaisar sedang menuju kemari. Mungkin sebentar lagi akan sampai." Gong Jihon mengusap wajah kasar. Long Jian pasti tertarik melihat kemampuan Li Jihyun saat pertandingan berlangsung. Kalau tidak mana mungkin dia mau datang ke kediamannya. Gong Jihon menghela napas berat. Matanya menatap pelayan yang masih berdiri dalam posisi membungkuk.
"Apa kamu bisa mencari keberadaan dayang pribadi selir agung?"
Dayang pribadi selir agung?, batin pelayan itu keheranan.
"Cepat temukan dia dan suruh kemari," perintah Gong Jihon dengan tegas.
"Ba-Baik tuan," jawabnya tergagap. "Saya permisi dulu tuan," pamitnya yang diangguki cepat Gong Jihon. Setelah itu pelayan itu bergegas pergi meninggalkan Gong Jihon sendirian. Pria itu memijat pelipis yang berdenyut.
"Kakek sudah dengar berita dari pelayan?" tanya Gong Heng menghampiri Gong Jihon yang masih berada didepan pintu kamar Li Jihyun.
"Iya. Yang mulia kaisar sedang menuju kemari."
"Tapi kek kenapa yang mulia kaisar datang kemari? Apa ada hubungannya dengan Li Jihyun disini?" tanya Gong Heng penasaran. Hela napas terdengar lagi. Matanya sekali lagi menatap pintu kamar Li Jihyun.
"Sepertinya iya. Kakek juga tidak tau," kata Gong Jihon mengalihkan atensinya ke arah Gong Heng. Gong Heng terdiam. Matanya menatap pintu kamar yang ditutup rapat. Dia menghela napas pelan. "Untuk sementara ini rahasiakan dari yang mulia kaisar," ujar Gong Jihon menepuk pundak Gong Heng. Dia berjalan lebih dulu dan melewatinya.
__ADS_1
"Baik kakek. Kakek tenang saja. Aku pasti tidak akan memberitahu yang mulia kaisar tentang ini." Gong Jihon mangut mangut mendengarnya.
"Baguslah. Kakek percaya padamu," ujar pria renta itu berjalan menuju ruang tamu. Dia harus mengumpulkan pelayan untuk menyambut kedatangan Long Jian. Sebenci apapun Gong Jihon pada Long Jian. Dia tetaplah kaisar yang harus dihormati. Apalagi Gong Jihon masih bekerja diistana. Jadi dia harus memperlakukan Long Jian layaknya tamu.
...
"Kasim Bo kita harus hentikan yang mulia kaisar kesana," protes Zhang Liu yang disahut embusan napas dari kasim Bo. Pria itu sejak diangkat jadi kasim Long Jian merasakan umurnya semakin pendek. Long Jian kaisar yang dijuluki tiran haus darah itu bukan semata omong kosong.
Sejak menduduki singasana ada banyak darah mengalir dalam istana. Jika ada seseorang yang menentang pendapatnya maka orang itu berakhir dengan kematian. Lebih parah lagi dia akan membantai semua orang yang dianggap memiliki hubungan keluarga maupun kerabat. Dia juga tak pandang bulu dalam menghabisi orang. Entah itu bangsawan maupun rakyat jelata. Asal orang itu tidak cocok dihatinya maka nyawa pun melayang. Itu sebabnya tak ada yang berani mengajukan protes atau apapun itu.
"Aku tidak bisa," tolak kasim Bo. Zhang Liu menghela napas kecewa.
"Tapi jika kita kesana. Bagaimana tanggapan faksi timur?" tanya Zhang Liu tak mau kalah. Kasim Bo menghela napas lagi. Dia menatap Zhang Liu lekat. Mata Zhang Liu sampai berkedip saat bertatapan dengan kasim Bo. Pria paruh baya itu menatapnya serius.
"Dengarkan aku baik baik tuan perdana menteri," ucap kasim Bo yang diangguki Zhang Liu. "Yang mulia kaisar barusan membunuh orang lagi," lanjut kasim Bo mengejutkan Zhang Liu. Meski Long Jian sering membunuh orang tanpa alasan yang jelas. Tapi tetap saja mengejutkan bagi Zhang Liu mendengar pembunuhan yang dilakukan Long Jian.
"Tapi bukankah itu sering terjadi?" tanya Zhang Liu keheranan. Kasim Bo berdecak.
"Maksudku percuma protes dengan yang mulia kaisar. Tidak ada gunanya. Yang mulia takkan peduli pendapat orang. Dia akan membunuh mereka tanpa pandang bulu," celetuk kasim Bo membuat Zhang Liu terdiam.
"Jadi apa kita harus ikut kesana menemani yang mulia?" tanya Zhang Liu yang diangguki kasim Bo.
__ADS_1
"Sudah tugas kita melayani yang mulia kaisar," jawab kasim Bo membuat Zhang Liu terdiam lagi. Dia menghela napas berat sambil menyibak rambutnya ke atas.
Cih! Dasar kaisar merepotkan, umpat Zhang Liu dalam hati.