Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 64


__ADS_3

Li Jihyun segera memasang mimik sedih. Dia menundukkan kepala sambil menggigit bibir bawah. Alis mata Long Jian naik sebelah menyaksikan perilaku Li Jihyun yang aneh. Biasanya gadis itu akan memasang ekspresi dingin dan datar. Tapi hari ini dia sangat berbeda sampai membuat benak Long Jian dipenuhi berbagai pertanyaan. Apalagi sejak tadi gadis itu menutupi pipinya dengan rambut. Seolah menyembunyikan sesuatu disana.


Rasa penasaran menyelimuti hati Long Jian. Tangannya terulur menepis rambut yang menutupi Li Jihyun. Gadis itu berjengkit kaget melihat tangan Long Jian menyibak rambutnya. Dahi Long Jian berkerut. Bekas tamparan merah tercetak jelas di pipi mulus Li Jihyun.


Kemarahan Long Jian sedikit meredup. Dia menatap lamat lamat gadis didepannya. Tapi Li Jihyun kembali berusaha menurunkan rambutnya untuk menutupi pipi.


Kedua orang itu saling diam. Tenggelam dalam pikiran masing masing. Mata Li Jihyun bergerak liar memperhatikan sekitar. Didekat pintunya ada kasim Bo yang tergeletak dilantai. Kondisinya tampak mengenaskan dengan bekas darah yang mengering. Juga dayang dan pengawal yang ketakutan. Ditambah pedang ditangan Long Jian yang masih berlumuran darah. Berarti mayat didepannya pasti ulah Long Jian juga. Rumor itu tak salah. Dia memang gila seperti yang dikabarkan, batin Li Jihyun.


Matanya melirik ke wajah Long Jian. Ekspresi pria itu sulit dimengerti oleh Li Jihyun. Datar tapi sorot matanya seolah tengah memikirkan sesuatu. "Dimana dayang dan pengawal paviliun selir?" tanya Long Jian masih dengan nada tinggi sekaligus jengkel. Gadis itu menundukkan pandangan. Seolah takut berhadapan dengan Long Jian.


"Saya menyuruh mereka pergi yang mulia. Saya hanya ingin sendirian," ucapnya dengan suara sedih. Membuat dayang dan pengawal yang mengikuti Long Jian melirik ke arahnya. Tatapan tak percaya terpancar dari sorot matanya.


Tapi pandangan mereka tertunduk kembali. "Tsk! Apa sekarang otakmu sudah rusak? Sampai membiarkan pipimu merah begitu?" tanya Long Jian yang digelengkan Li Jihyun.


"Saya tidak tau yang mulia. Saya hanya ingin bertobat atas tindakan yang diperbuat dulu," ucapnya yang langsung ditertawakan Long Jian. Tawa sinisnya membuat amarah Li Jihyun tersulut. Tapi gadis itu menekannya demi tujuan yang akan dia capai. Sudah terlalu banyak rencana yang gagal. Sekarang rencana kali ini harus berhasil. Dia harus buat pria berhati dingin ini luluh lalu menikamnya. Membayangkannya saja sudah membuat Li Jihyun kegirangan.


"Apa yang kamu lakukan tanpa sepengetahuanku?" tanya Long Jian membuat Li Jihyun tersenyum licik. Gadis itu mengangkat kepalanya. Matanya berkaca kaca menatap Long Jian.


"Saya disuruh selir Hai pergi menemui keluarga Xu untuk menebus kesalahan yang diperbuat. Tapi begitu sampai ke kediaman Xu saya malah ditampar dan diikat ke ruang bawah tanah," ujarnya menitikkan air mata. Dia mengusap ujung matanya dengan punggung tangan.

__ADS_1


Long Jian terus memperhatikan Li Jihyun. Kenapa dia tak melawan? Tidak seperti biasanya. Tapi apa keluarga Xu memang melakukannya? pikir Long Jian. Berita kebakaran keluarga Xu masih belum sampai ketelinganya. Mungkin besok kabar itu baru tersebar. Ditambah informasi rakyat lumayan sulit memasuki istana setelah kondisi kaisar sakit.


"Lalu keluarga Xu mengurung saya. Saya tidak tau apa yang terjadi. Tapi mendadak api besar muncul dan membakar semuanya. Beruntung saya bisa melarikan diri dan bertemu rakyat disana." Alis mata Long Jian mengerut tajam.


"Apa katamu? Kebakaran?" ulang Long Jian tak percaya yang diangguki Li Jihyun.


"Iya yang mulia. Saya disana saat kebakaran itu terjadi," ucapnya penuh keyakinan. Seketika dayang dan pengawal yang berada disana saling lirik dan tenggelam dalam pikiran masing masing. Long Jian berdecak sebal. Kepalanya tertoleh ke belakang.


"Cepat panggil Zhang Liu kesini SEKARANG!" perintahnya yang langsung diangguki pengawal didekatnya.


"Baik yang mulia," jawabnya cepat lalu membalikkan badan. Dia bergegas pergi menuju ruangan Zhang Liu berada.


Lalu berjalan memasuki kamar Li Jihyun yang gelap. Mayat didepan pintu itu segera dibereskan oleh pengawal yang disuruh Long Jian.


Kepala Long Jian celingak celinguk. Gelap tak ada cahaya sedikit pun yang menghentikan langkahnya. "Sebentar yang mulia," ucap Li Jihyun menyalakan lilin didekat meja yang tak jauh dari pintu. Dia menutup pintu terlebih dulu sebelum menyalakan lilin.


Lilin menyala terang membuat ruangan itu terlihat lebih jelas. Kepala Long Jian tertoleh ke belakang. Mata mereka saling bertatapan sejenak. "Silakan duduk yang mulia," ucap Li Jihyun yang langsung diduduki Long Jian. Hela napas terdengar.


"Apa selir Hai yang menyuruhmu?" tanya Long Jian yang diangguki Li Jihyun. Hela napas terdengar lagi. Dia ingat tawaran yang diberikan Hai Rong untuk membebaskan Li Jihyun. Tapi tak menyangka gadis ini membiarkan ditampar oleh keluarga Xu dan diperlakukan semena mena. Juga perasaan aneh sejak tadi bergumul di hatinya. Apalagi setelah melihat bekas tamparan di pipi itu. Seharusnya dia senang melihat Li Jihyun tersiksa. Ditambah gadis itu tak berdaya. Posisinya pun terancam karena dicurigai meracuni kaisar.

__ADS_1


Tapi perasaan aneh itu lebih menguasai hatinya. Membuatnya dilanda kebimbangan. Dia menatap lamat gadis diseberangnya. "Aku akan menjatuhi hukuman untuk selir Hai," ucapnya membuat Li Jihyun kegirangan dalam hati.


Bagus! Bukan hal buruk menggunakannya sebagai alatku, batinnya. "Terimakasih yang mulia. Tapi bolehkah saya meminta sesuatu," pintanya membuat Lont Jian keheranan.


Pertama kalinya gadis ini meminta sesuatu dengan suara lembut. Padahal sewaktu taruhan dulu dia bahkan berbicara tegas dan terus mengejekku. Apa dia sudah berubah? Atau ini hanya akal akalan. Tapi melihat bekas tamparan itu pasti benar, kan? batin Long Jian meragu.


"Saya tau ini lancang. Apalagi hancurnya hubungan keluarga Xu dan anda adalah kesalahan saya. Saya sudah membuat rencana penaklukan perang yang mulia tertunda," ucap Li Jihyun dengan rasa bersalah. Kamu pikir aku tidak tau? Rencana perang itu aku sendiri yang mengagalkannya. Aku tak membiarkanmu menghancurkan kedamaian lain, batin Li Jihyun.


Long Jian berdecak teringat lagi rencana yang sudah dibicarakan dengan pejabat istana. Dia menatap Li Jihyun. Informasi keluarga Xu masih belum jelas.


"Tuan Perdana Menteri Zhang Liu memasuki ruangan," teriak dayang dari balik pintu.


Kriet!


Pintu terbuka sedikit lebar. Diambang pintu muncul Zhang Liu. Napas pria berkacamata itu menderu kencang. Peluh membasahi dahi. "Cari tau informasi keluarga Xu," perintah Long Jian begitu melihat Zhang Liu. Pria itu menelan ludah. Dia mengatur deru napasnya.


"Baik yang mulia," jawabnya sambil melirik Li Jihyun yang berpenampilan berantakan.


"Sekarang keluarlah," usirnya mengibaskan tangan.

__ADS_1


"Baik yang mulia," jawabnya lagi lalu melangkah pergi. Begitu keluar kata umpatan keluar dari mulut Zhang Liu. Diabaikannya tatapan dayang dan pengawal sambil terus berjalan menuju ruangannya.


__ADS_2