Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 79


__ADS_3

Zhang Liu menelan ludah. Tubuhnya tidak bisa bangkit berdiri. "A-Apa yang bisa saya bantu yang mulia?" tanya Zhang Liu masih tergagap. Rasa suka yang sempat hinggap dihatinya langsung sirna. Jantungnya memang berdetak cepat tapi dalam artian lain. Justru pria berkacamata itu ketakutan melihat Li Jihyun yang tampak kacau. Gadis itu sangat berbeda dibandingkan saat mereka kemarin bertemu.


Jemari telunjuk Li Jihyun diletakkan dipipi sambil menyunggingkan senyum. "Apa kamu yakin akan membantuku meski nyawamu menjadi taruhan?" tanya balik Li Jihyun membuat Zhang Liu terdiam.


Apakah ini ada hubungannya dengan tantangan itu? pikir Zhang Liu teringat dengan gosip yang berseliweran di istana. Li Jihyun membungkukkan tubuh sedikit mencondongkan wajahnya lebih dekat. Zhang Liu terkejut dan langsung merangkak mundur. Keringat dingin terus menetes sejak tadi dan membasahi dahi.


Li Jihyun menjauhkan wajahnya. Dia memiringkan wajah menatap Zhang Liu. "Kenapa diam begitu tuan perdana menteri Zhang?" tanya Li Jihyun lagi membuat Zhang Liu tersentak. Otak pria itu berpikir cepat. Nyawanya berada di ujung tanduk.


Salah menjawab pasti Li Jihyun akan langsung membunuhnya. Dia harus memilih salah satu dari mereka. Dan yang terpenting salah satunya harus menang. Jika tidak nyawanya akan melayang. Terjebak diantara dua orang itu membuat Zhang Liu dilema. Dia menelan ludah sekali lagi.


"Sa-Saya ..." jeda Zhang Liu tergagap. Tampak dia kesulitan bicara. Lidahnya mendadak kelu.


Alis mata Li Jihyun terangkat sebelah menantikan jawaban Zhang Liu. Dia menatap lurus pria itu dengan tidak sabaran. Zhang Liu memejamkan matanya sejenak. Otaknya sudah buntu. Tak ada pilihan lain lagi. Bahkan untuk celah kabur pun tak ada. "... bersedia yang mulia selir agung," lanjut Zhang Liu yang disahut tawa kegirangan Li Jihyun.


Tangan gadis itu terulur memegang bahu Zhang Liu. "Baguslah. Ini jawaban yang paling kutunggu. Tuan Zhang anda memang manusia yang bijak. Tidak salah jika anda memegang posisi perdana menteri," puji Li Jihyun tersenyum lebar. Tapi justru membuat Zhang Liu bergidik ngeri. Tatapan Li Jihyun yang terus menatapnya membuat tak nyaman.


Dia berusaha menggerakkan kakinya. Namun lututnya masih terasa lemas. Dia kesulitan berdiri. Li Jihyun menyadari kegelisahan Zhang Liu. Sejak tadi dia memperhatikan gerak gerik Zhang Liu. "Tuan Zhang," panggil Li Jihyun membuat Zhang Liu terkesiap.


"Iya yang mulia," jawab Zhang Liu gugup.


"Apa ada sesuatu yang mau kamu sampaikan? Sejak tadi kamu tidak beranjak dari tempatmu," ujar Li Jihyun yang membuat Zhang Liu langsung berusaha menggerakkan kakinya supaya berdiri. Namun hasilnya nihil.

__ADS_1


Zhang Liu sedikit pun tidak bisa berdiri dari tempatnya duduk. Apalagi pergi dari hadapan Li Jihyun. "Ti-Tidak ada yang mulia," jawab Zhang Liu cepat. Alis mata gadis itu terangkat.


"Kamu yakin? Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" mendadak Zhang Liu terdiam. Teringat lipatan kertas yang tersimpan di saku hanfunya. Buru buru dia menggelengkan kepala. Bukan ide bagus menanyakan kebenaran dari surat asing itu.


"Ka-Kaki saya lemas yang mulia. Maafkan saya yang lemah ini," ujarnya menundukkan pandangan. Bukan hanya kaki tapi sendi di sekujur tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Hela napas terdengar. Mata Li Jihyun menatap jauh lorong yang gelap tak berujung. Kemudian beralih menatap Zhang Liu. "Sayang sekali tidak ada orang disini," ujar Li Jihyun.


Dia mengulurkan tangan ke arah Zhang Liu. Lagi pria berkacamata itu tersentak kaget. "Apa kamu mau memegang tanganku?" tanya Li Jihyun. Ragu Zhang Liu meraih tangan Li Jihyun. Wajahnya memerah saat kulit mereka bersentuhan.


Sial! Kenapa aku selemah ini? rutuknya dalam hati. Li Jihyun menarik tangan Zhang Liu membuat tubuhnya bisa berdiri tegak. "Te-Terimakasih," ucapnya malu. Pandangannya terus tertunduk.


"Tidak masalah. Asal tuan Zhang menepati janjinya," tekan Li Jihyun yang diangguki lemas Zhang Liu.


Sekarang hidupnya sedang dilema. Pilih salah satu hanya mendekatkannya dengan kematian. Zhang Liu menyugar rambut hitamnya hingga berantakan. Dia terus berjalan menuju ruang kerjanya. Masih ada banyak pekerjaan yang bertumpuk disana. Membuat pria itu kembali menggerutu lebih lama.


...


"Kita akan berangkat perang," putus Long Jian yang langsung membuat Zhang Liu terperangah. Atensinya tertuju pada Long Jian.


"Yang mulia anda serius akan pergi berperang sekarang?" tanya Zhang Liu protes. Dia tak menduga Long Jian masih berkeinginan pergi perang setelah semua masalah yang terjadi.

__ADS_1


Long Jian mendelik tajam membuat nyali Zhang Liu ciut. "Apa hakmu mengaturku? Tugasmu hanya membereskan urusan internal negara," tukas Long Jian membuat Zhang Liu frustasi. Berdebat dengan Long Jian cuma membuang energi. Pria itu akan tetap bersikukuh akan keputusannya. Walau itu terkesan sesuka hati.


"Maafkan saya yang mulia," ujar Zhang Liu menundukkan kepala. Istri maupun suami kedua manusia itu sama sama gila, batin Zhang Liu.


"Tsk!" decak Long Jian. Pandangannya beralih menatap keluar jendela. Tepatnya ke arah pavilun selir yang tampak kejauhan dari istana utama. Walau ujung atap yang menjulang. "Apa ada kabar dari selir agung?" tanya Long Jian penasaran tanpa mengalihkan pandangannya. Berita kalau Li Jihyun akan merebut takhta dari Long Jian sudah menyebar cepat.


"Belum ada yang mulia," jawab Zhang Liu.


"Heh? Dasar gadis bodoh! Dia pikir bisa melawanku semudah itu," gumam Long Jian yang masih terdengar Zhang Liu. Zhang Liu meremas jemarinya gelisah.


Andai saja yang mulia tau kalau yang mulia selir agung itu reinkarnasi pembunuh bayaran, batin Zhang Liu.


"Tuan menteri pertahanan Gong Jihon memasuki ruangan." Suara teriakan dari pengawal diluar mengalihkan atensi keduanya. Hanya Zhang Liu yang menatapnya sekilas. Pria itu kembali menundukkan pandangan.


Gong Jihon membungkuk hormat. "Saya Gong Jihon memberi salam pada yang mulia kaisar," sapa Gong Jihon sopan.


Long Jian menopang dagu menatap remeh Gong Jihon. "Apa semuanya sudah siap menteri Gong?"


Gong Jihon menarik napas. "Semuanya sudah beres yang mulia," jawab Gong Jihon penuh keyakinan. Diam diam Zhang Liu melirik Gong Jihon. Pria tua yang dipanggil paman oleh Li Jihyun ternyata mendukung Long Jian. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran.


Zhang Liu sampai menggelengkan kepala. "Baguslah. Besok katakan pada pasukan militer untuk menyiapkan keperluan berperang," titah Long Jian yang diangguki Gong Jihon.

__ADS_1


"Baik yang mulia," jawabnya.


__ADS_2