
Tubuh Hai Rong bersimbah darah. Wanita itu sudah pingsan dalam keadaan mengenaskan. Kehilangan lidah dan tangan secara bersamaan meninggalkan trauma padanya. Matanya sudah terpejam rapat. Tenggelam dalam kegelapan tak berujung.
Lian yang menyaksikan itu terdiam. Dia sedikit takut. Padahal dia sudah terbiasa membunuh dan menyaksikan Long Jian menyiksa orang tapi tetap saja menyisakan rasa ngeri di benaknya. Mereka memang pasangan serasi. Sama sama gila, batin Lian menyeka darah yang sempat muncrat di wajahnya.
"Lian suruh dayang lain membereskan Hai Rong. Jangan sampai orang istana tau," perintah Li Jihyun yang diangguki Lian. Dayang itu mengangkat tubuh Hai Rong dari kubangan darah dan membawanya pergi. Suasana paviliun yang sedang sepi dimanfatkan Lian menyeret Hai Rong pergi. Menuju tempat yang tak diketahui banyak orang.
Tak lama Ceng, Jiangli dan Jing datang. Ketiga dayang itu membawa kain dan ember berisi air. Sebelumnya tak lupa mereka memberi salam Li Jihyun dengan sopan. Dengan gerakan gesit ketiga orang itu membersihkan genangan darah. Bau amis yang tadinya menyeruak kini digantikan aroma wangi bunga. Juga lantai yang bersih mengkilap. Bahkan mereka membawa lengan yang tergeletak dilantai. "Kalian bawa ini," ujar Li Jihyun melemparkan lidah Hai Rong pada mereka. Sediki terperanjat melihat potongan lidah itu dilantai. Tapi raut wajah mereka dalam sekejap berubah.
Tatapan ketiga dayang itu berubah datar dan tenang. Tak ada keraguan sedikit pun di hati Ceng mengambil potongan lidah itu dan memasukkannya ke dalam kain lap. Bahkan potongan lengan Hai Rong pun dibungkus dalam kain yang lebih besar oleh Jing. Mereka mengerjakannya dengan telaten.
"Kami permisi dulu yang mulia. Jika anda membutuhkan sesuatu silakan panggil kami," ucap Ceng mewakili kedua temannya yang membungkuk.
"Setelah ini kalian bantu aku berganti pakaian. Lalu buang pisau ini dan jangan sampai ketahuan," ucap Li Jihyun menyerahkan pisau ditangannya.
Ceng mengambilnya dan membungkuk lagi. "Saya akan melaksanakan perintah anda. Kami permisi dulu," pamit Ceng yang diangguki Li Jihyun. Ketiga orang itu membalikkan badan dan pergi dengan langkah tergesa. Jangan sampai orang lain melihat ember yang berisi darah.
Mata Li Jihyun menatap cermin. Cipratan darah dari tubuh Hai Rong membuat hanfunya kotor dan tercium bau amis. Tapi dia tak peduli dan menyunggingkan senyuman dibibir. Menatap pantulan dirinya yang dianggap cantik. "Sebentar lagi semua akan menjadi milikku. Tak ada lagi batu penghalang yang akan mengangguku," ujar Li Jihyun mengulurkan tangan ke arah cermin.
Tok! Tok! Tok!
Atensi Li Jihyun beralih ke arah pintu. "Saya dayang Ceng izin memasuki ruangan," ucap dayang Ceng yang masih berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Masuklah," sahutnya menjauh dari pintu. Gadis itu duduk dengan santai dikursi dekat jendela. Kursi yang dia duduki tadi sebelumnya.
Kriet!
Pintu terbuka menampilkan Ceng dan Jing yang melangkah masuk. "Saya dayang Ceng menyapa yang mulia selir agung," sapa dayang Ceng membungkukkan badan.
"Saya dayang Jing menyapa yang mulia selir agung," sapa dayang Jing membungkukkan badan persis seperti dayang Ceng. Li Jihyun bangkit menghampiri mereka berdua.
"Sekarang bantu aku berganti pakaian. Aku harus tampil cantik hari ini," ujar Li Jihyun.
"Baik yang mulia," sahut mereka serempak. Kedua dayang itu pun bergegas membantu menganti hanfu yang dipakai Li Jihyun. Ceng melepaskan lapisan hanfu satu persatu sementara Jing menimba air mandi dalam bak. Air yang sebelumnya dihangatkan terlebih dulu agar tidak dingin. Kepulan asap terlihat dari air bak yang terbuat kayu itu. Aroma bunga pun tercium.
Li Jihyun yang sudah melepas hanfunya dan berbalut handuk segera menuju kamar mandi. Dia menyibak tirai yang menjadi pembatas antara kamar dan kamar mandi. Gadis itu menanggalkan handuk dan berendam ke dalam bak yang berisi air hangat. Li Jihyun menghela napas pelan. Menikmati hangatnya air yang menyentuh kulitnya. Ditambah aroma bunga yang menenangkan hati.
"Tidak perlu. Kamu bisa meninggalkanku," ujar Li Jihyun yang diangguki patuh Ceng.
"Baik yang mulia," jawabnya melangkah pergi diikuti Jing yang sejak tadi berdiri disudut kamar mandi. Mereka meninggalkan Li Jihyun yang asyik berendam. Matanya terpejam lalu perlahan terlelap tidur.
...
"Dimana yang mulia selir agung?" sebuah suara mengusik tidur Li Jihyun. Mata gadis itu terbuka. "Aku tanya sekali lagi dimana selir agung? Bukankah sudah tugasnya menyambut kaisar?" suara yang amat dikenali Li Jihyun langsung membuatnya kesal. Dia mencebik pelan lantas keluar dari bak mandi.
__ADS_1
Mau apa lagi kaisar sialan itu datang dan mengangguku? rutuk Li Jihyun dalam hati. Gadis itu tanpa sempat mengelap badannya. Dia menyambar handuk dan melilit ke tubuhnya. Tanpa ragu berjalan keluar.
"Yang mulia kaisar, yang mulia selir agung sedang mandi. Saya akan segera memanggilkannya," jawab Ceng tenang dan datar.
"Cepat panggil dia kemari," titah Long Jian dengan arogan. Li Jihyun yang berada diambang tirai kamar mandi hanya mendengus sebal melihatnya. Pria itu menyilangkan tangan diatas dada dan menatap remeh.
Cih! Dia pikir terlihat keren begitu, batin Li Jihyun menggelengkan kepala.
"Baik yang mulia kaisar. Saya akan segera memanggilkan yang mulia selir agung," ucap Jing balik kanan. Tapi alangkah terkejutnya dia melihat Li Jihyun yang hanya terbalut handuk. Ditambah dengan santainya bersandar di tepi tembok. Mata Ceng sampai terbelalak saking kaget. Lidahnya pun kelu. "Ya-Yang mulia," panggil Ceng tergagap.
Dahi Long Jian mengerut keheranan. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa masih disini? Tsk! Apa yang kamu lihat sampai ..." kalimat Long Jian langsung terputus begitu melihat Li Jihyun yang berdiri terbalut handuk sambil menyibak rambutnya yang basah. Jing yang penasaran ikut menoleh. Tapi dia langsung kaget melihat Li Jihyun.
"Ada apa yang mulia mencari saya?" tanya Li Jihyun menghampirinya. Bibir Ceng bergetar pelan. "Kenapa diam? Katanya anda mencari saya?" tanya Li Jihyun sedikit menantang.
Jakun Long Jian bergerak naik turun. Apalagi dari tubuh Li Jihyun tercium aroma bunga. Membangunkan hasratnya yang sudah lama terpendam. Matanya tak lepas dari lekuk tubuh Li Jihyun yang terpampang jelas. "Ya-Yang mulia selir agung," panggil Ceng dengan suara tertahan. Kali ini atensi Li Jihyun beralih ke arah Ceng yang wajahnya berubah pucat pasi.
"Ada apa?" ketus Li Jihyun kesal.
"Sa-Saya akan membantu anda berganti pakaian," ucap Ceng dengan pandangan tertunduk.
"Tunggu sebentar. Aku mau bicara dulu dengan yang mulia kaisar," ucap Li Jihyun santai. Atensinya kembali beralih ke arah Long Jian yang terlihat meneteskan ludah.
__ADS_1
Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat. Tangannya meraih pipi Long Jian. Lalu mencondongkan wajahnya. Membuat kulit gadis itu menyentuh hanfu Long Jian. "Yang mulia apa anda menginginkan tubuh saya?" tanya Li Jihyun berbisik pelan ditelinga Long Jian membuatnya terkejut. Matanya yang tajam melirik Li Jihyun.