
Li Jihyun menghirup udara sore. Sudah lama dia tidak merasakan udara yang asri dan sejuk. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan. Li Jihyun bisa bereinkarnasi ke zaman kerajaan. Zaman yang masih jauh dari kata teknologi canggih seperti di kehidupan sebelumnya. Walau dia sempat menikmati ketenangan sebelum tinggal di istana tapi dia cukup bersyukur. Hanya saja untuk bertahan hidup di istana. Dia harus menjadi kuat dan pintar.
Menyingkirkan musuh yang mengusik hidupnya merupakan awal mula balas dendamnya. Dia harus membuat orang orang rendahan seperti dayang tunduk dibawah perintahnya. Cukup dengan menggunakan ingatan dikehidupan sebelumnya. Dia pasti bisa duduk di singasana kekaisaran. Li Jihyun terus berjalan mengitari taman yang masih belum berubah meski berganti kaisar.
Long Jian tampaknya tidak tertarik mengurus taman. Sehingga semuanya masih terlihat sama seperti saat dulu dia datang kemari. Sedang asyiknya Li Jihyun menikmati keindahan taman.
Tiba tiba terdengar suara langkah mendekatinya. Li Jihyun berbalik dan melihat sosok yang mendatanginya. Long Jian terperangah kaget melihat Li Jihyun menyadari kedatangannya. Perempuan ini benar benar menarik. Sepertinya aku tidak salah memungutnya, batin Long Jian tersenyum tipis.
Li Jihyun menatap tajam Long Jian. Tapi dia tetap menyapanya meski kebencian berkobar dihati. “Selamat sore yang mulia kaisar.”
“Suatu kebetulan kita bisa bertemu disini. Ada yang mau kutanyakan,” ujar Long Jian menurunkan pandangannya ke arah tangan Li Jihyun. Tangan gadis itu sudah dibalut perban.
“Katakan saja yang mulia. Jika itu pertanyaan mudah saya pasti akan menjawabnya.”
“Bagaimana kamu bisa yakin dengan idemu itu?” Li Jihyun menghela napas pelan. Gadis itu tersenyum tipis.
“Apa sekarang anda meragukan ide saya? Ternyata anda penguasa yang plin plan,” ejek Li Jihyun.
Long Jian menaikkan alis matanya sebelah. Apalagi ketika melihat tatapan Li Jihyun yang terkesan santai dan mengejeknya. Seolah dia tidak tau apapun saat berada dihadapan Li Jihyun.
“Li Jihyun selagi aku bertanya baik baik sebaiknya jawab dengan baik. Atau pedangku ini akan memutus kepalamu,” ancam Long Jian dingin. Tapi Li Jihyun tak peduli justru menutupi bibirnya dengan ujung lengan hanfu. Sudut sebelah bibirnya terangkat.
“Astaga! Saya jadi takut mendengarnya. Tapi ide yang saya katakan itu pasti akan berhasil. Itu pun jika anda percaya pada selir tawanan seperti saya,” ujar Li Jihyun memiringkan wajah.
__ADS_1
“Heh? Perempuan sombong. Aku pasti akan memenggal lehermu jika rencana ini gagal. Lihat saja,” ancam Long Jian berbalik dan melangkah pergi.
“Suatu kehormatan akan saya tunggu yang mulia kaisar,” ujar Li Jihyun menatap punggungnya. Long Jian terus berjalan. Dia benar benar dibuat bingung oleh Li Jihyun. Gadis yang tidak punya rasa takut padanya. Padahal bisa saja tadi pedang yang tersampir dipinggangnya melayang ke lehernya. Tapi, gadis itu bahkan menanggapinya dengan santai. Bahkan sempat mengejeknya.
Kita lihat saja nanti Li Jihyun. Aku pasti akan membunuhmu. Tunggu saja, batin Long Jian terus berjalan memasuki istana. Dia benar benar kesal sekarang.
***
“Yang mulia bagaimana bisa rencana ini menghentikan kekeringan?” protes salah satu anggota faksi timur. Long Jian menatap tajam membuat anggota itu segera terdiam.
“Kalian ada menteri yang kupercaya. Lakukan seperti yang kuperintahkan atau kalian tentu tau hukuman yang akan dihadapi bagi siapapun yang membangkang,” ancam Long Jian membuat nyali para menteri menciut. Kepala mereka tertunduk dengan tubuh gemetaran. “Bagus. Sekarang kalian bubar. Aku harus kembali mengerjakan hal lain,” usirnya mengibaskan tangan diudara.
Para menteri dengan raut wajah kecewa sekaligus ketakutan pun membubarkan diri. Terdengar bisikan dari kejauhan. Tapi Long Jian sama sekali tak peduli. Dia mengusap pegangan kursi singasana. Pikirannya menerawang jauh.
“Kasim Bo,” panggil Long Jian memecah keheningan. Kasim Bo yang terkejut pun seketika gemetar.
“Iya yang mulia. A-Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kasim Bo dengan sopan. Keringat dingin menetes membasahi dahi.
“Panggil gadis itu kemari,” titah Long Jian membuat Kasim Bo kebingungan. Dia hendak membuka mulut tapi takut. Apalagi saat melihat tatapan tajam dari Long Jian.
“Sa-Saya permisi dulu yang mulia,” pamit Kasim Bo tergagap. Dia membungkuk hormat lalu pergi. Long Jian menghela napas pendek. Pandangannya menyapu bersih ruang pertemuan. Terlihat luas dan sepi.
“Sangat membosankan,” rutuk Long Jian menopang dagu. Matanya tampak jenuh.
__ADS_1
***
Kasim Bo mondar mandir berjalan di koridor. Wajahnya yang pucat tampak cemas. Bahkan peluh yang sejak tadi membanjiri wajahnya tidak dipedulikan. “Kasim Bo apa yang sedang anda lakukan disini?” tanya Zhang Liu penasaran. Kasim Bo mengalihkan perhatian pada Zhang Liu.
Wajahnya pun berubah jadi segar. “Syukurlah kita bertemu disini perdana menteri Zhang Liu,” ujar Kasim Bo dengan mata berbinar.
“Ada apa Kasim Bo? Apa yang mulia menyuruh anda melakukan sesuatu yang aneh lagi?” Kasim Bo dengan ragu menganggukkan kepala. Zhang Liu menghela napas pelan dan menatap prihatin Kasim Bo.
Bukan sekali atau dua kali Long Jian menyuruh bawahannya melakukan aneh dan membuat mereka kesulitan. Zhang Liu sudah tau itu Cuma alasan Long Jian untuk menghabisi mereka. Kebiasaan buruk Long Jian menganggap kematian orang adalah hiburan semata. Meski Zhang Liu tau dia tak bisa mencegahnya. Hanya bisa membantu mereka semampunya.
“Yang mulia menyuruh saya mencari seorang gadis. Tapi saya tidak tau gadis itu,” keluh Kasim Bo. Zhang Liu menghela napas lagi. Bahkan untuk mencari orang saja Long Jian tidak menyebutkan ciri ciri lebih jelas.
Apa mungkin gadis yang dijadikan tawanan itu? Terka Zhang Liu dalam hati. “Pergilah ke paviliun selir. Temui gadis bernama Li Jihyun,” ujar Zhang Liu membuat mata Kasim Bo semakin berbinar.
“Sekali lagi terimakasih perdana menteri,” ucap Kasim Bo dengan penuh syukur.
“Sebaiknya anda cepat mencarinya sebelum terjadi hal buruk,” ujar Zhang Liu segera membuat Kasim Bo berlari tergesa ke paviliun selir. Zhang Liu yang melihat Kasim Bo hanya bisa menggelengkan kepala.
Kasim Bo akhirnya tiba di depan paviliun selir. Matanya mengerjap melihat banyak wanita cantik bersantai di teras. Dia menyipitkan mata mencari dayang. Seorang dayang melewati Kasim Bo.
“Tunggu sebentar,” ujar Kasim Bo menghentikan langkah dayang itu. Dayang itu segera berbalik dan memperhatikan Kasim Bo dari atas ke bawah. Dia mengernyitkan dahi. “Apakah anda tau dimana selir Li Jihyun?” tanya Kasim Bo membuat dahi dayang itu semakin terlipat.
“Apakah anda … Kasim Bo?” tanya dayang itu yang diangguki cepat Kasim Bo. “Astaga!” seru dayang itu terkejut sampai menutup mulutnya.
__ADS_1