Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 78


__ADS_3

Li Jihyun tersenyum puas menyaksikan tubuh Zhi Shen menghilang. Dia menatap ke arah wanita tua itu. Pandangan wanita tua itu menunduk hormat. "Yang mulia selir agung arwah itu sekarang sudah lenyap dari dunia ini. Jadi anda tidak perlu khawatir," ujar wanita tua itu sopan.


Li Jihyun tertawa terbahak bahak sampai suaranya terdengar menggelegar. Jing dan Lien yang berada dikamarnya saling lirik dalam diam. Apa yang mulia selir agung jadi gila? batin Jing menelan ludah. Matanya masih melirik Lien.


Lien menggelengkan kepala pelan. Walaupun mereka bekerja sebagai bayangan kaisar tapi melihat tingkah Li Jihyun cukup menakuti mereka. Apalagi barusan mereka melihat roh Zhi Shen. Ketakutan mereka pun bertambah.


"Bagus. Jing siapkan emas yang banyak untuknya," titah Li Jihyun membuat kedua dayang itu gelagapan. Kedua orang itu segera menjaga jarak sebelum terlihat Li Jihyun.


"Iya yang mulia," jawab Jing dengan suara bergetar saking takut. Kepala Li Jihyun tertoleh ke belakang mengejutkan mereka. Serempak kedua orang itu menundukkan kepalanya.


Li Jihyun mendekati mereka. Suasana dikamar berubah suram. Mereka menelan ludah susah payah saat langkah Li Jihyun terhenti.


Tangan gadis itu menyentuh pundak kedua dayang itu. Tubuh kedua dayang itu langsung menegang. Lidah pun mendadak kelu. Sentuhan Li Jihyun terasa dingin menjalar tubuh. "Kenapa kalian takut begitu?" tanya Li Jihyun.


Wajah gadis itu dicondongkan ke dekat telinga mereka. "Kalian tidak perlu takut padaku. Rahasia besar kalian aman bersamaku asal kalian mendukungku sepenuhnya," bisiknya membuat wajah kedua dayang itu memucat.


Tidak mungkin yang mulia selir agung tau kami mata mata yang dikirim yang mulia kaisar, batin Lien gelisah. Keringat dingin mulai menetes membasahi dahi.


Ba-Bagaimana yang mulia tau kami mata mata? Padahal semuanya sudah direncanakan dengan baik. Apa salah satu dari kami ada yang berkhianat? Tidak! Itu tidak mungkin! Kami sudah memastikan semuanya aman dan terkendali, batin Jing menggigit bibir bawah.


"Kalian pikir aku membiarkan kalian disisiku karena tidak tau kalau kalian bukan mata-mata. Astaga! Sejak awal aku sudah tau kalian mata-mata yang dikirim yang mulia kaisar," bisik Li Jihyun lagi membuat tubuh kedua orang itu langsung membeku.


Melihat tak reaksi dari kedua dayang itu. Dia segera menjauhkan wajahnya. Tertawa yang terdengar seperti mengejek kedua orang itu.

__ADS_1


"Jing kenapa diam saja? Cepat pergilah ambil kantong berisi emas kemari," titah Li Jihyun yang diangguki kikuk Jing.


Dayang itu membalikkan badannya dengan kaku. Langkahnya terpatah patah meninggalkan kamar. Li Jihyun menatap Lien yang berdiri mematung. Dayang itu terdiam. "Buatlah pilihan yang bijak Lien atau semua orang yang berhubungan denganmu akan mati," ancam Li Jihyun pelan menepuk bahu Lien.


Kepala gadis itu mengangguk meski kaku. Pandangan Li Jihyun beralih menatap wanita tua yang masih duduk bersila. Dia sedang mematikan dupa dan menyimpan peralatannya dalam tas. Tak lama Jing tiba membawa kantong berisi emas. Diberikannya pada Li Jihyun dengan tangan gemetar.


Li Jihyun mengambilnya dan memberikan pada wanita tua itu. "Terimakasih yang mulia selir agung," ucap wanita tua itu yang diangguki Li Jihyun. Wanita tua itu pamit pada Li Jihyun sebelum meninggalkan kamar.


Li Jihyun membuang napas kasar. Dia menatap bergantian pada kedua dayang itu. Alis matanya naik sebelah. Dia menyilangkan tangan diatas dada. "Jadi apa keputusan kalian?"


Lien menelan ludah. Otaknya berpikir keras. Dia harus menyelamatkan teman-temannya dari cengkraman Li Jihyun maupun Long Jian. "Lien berpikir terlalu lama itu tidak bagus. Kamu sudah lihat kan bagaimana nasib kedua temanmu dulu?" lanjut Li Jihyun menyeringai lebar. Bayangan kematian Fahrani dan Bai kembali berputar. Kedua dayang itu tewas selama menjalani hukuman. Bahkan Long Jian sendiri pun enggan menyelamatkan keduanya. Bahkan membiarkan keduanya menjalani hukuman sampai mati.


Kepala Lien menggeleng. Dia harus memikirkan solusinya. Atau mereka semua berakhir seperti Fahrani dan Bai. "Ka-Kami ..." jeda Lien menarik napas. Dia menelan ludah susah payah. Keringat dingin menetes membasahi dahi.


Apa Lien ikutan gila? Bagaimana bisa dia berpihak pada yang mulia selir agung? Astaga! Kalau yang mulia kaisar tau kami pasti akan mati, batin Jing gelisah.


"Bagus itulah jawaban yang kutunggu," ucap Li Jihyun menepuk pundak keduanya lagi. "Tapi kalian harus melakukan sesuatu untukku. Kalian harus tetap berhubungan dengan yang mulia kaisar," tambah Li Jihyun membuat kedua dayang itu terperangah.


"Ta-Tapi bagaimana jika yang mulia kaisar tau?" tanya Jing dengan takut. Li Jihyun terkekeh pelan.


"Kalian hanya perlu merahasiakan kesepakatan diantara kita. Mulai sekarang kalian akan menjadi mata mataku bukan lagi mata mata yang mulia kaisar. Tapi agar yang mulia kaisar tidak curiga pada kalian. Tetap kabari dia seperti biasanya."


Yang mulia selir agung sudah tau sejauh mana? Tapi bagaimana bisa? pikir Lien meremas jemarinya gelisah.

__ADS_1


"Sekarang kalian keluarlah. Laporkan masalah tadi seperti biasa. Tapi kalian harus tau laporan seperti apa yang disampaikan," ujar Li Jihyun menatap tajam kedua orang itu. Kedua dayang itu mengangguk takut.


"Bagus. Sekarang kalian keluar," usir Li Jihyun.


"Kami permisi dulu yang mulia," pamit Lien membungkuk hormat diikuti Jing. Kedua orang itu membalikkan badan meninggalkan kamar dengan cepat. Meski lutut mereka terasa lemas.


Di ambang pintu Jing dan Lien tak sengaja berpapasan dengan Zhang Liu. Pria berkacamata itu membeku di depan pintu. Kedua dayang itu memalingkan wajah dan terus berjalan.


"Masuklah. Jangan sungkan begitu," ucap Li Jihyun mengejutkan Zhang Liu. Kepala pria itu celingak celinguk tapi tidak ada siapapun disana. Padahal pintu tertutup rapat. Zhang Liu menelan ludah. Langkahnya mundur hendak melarikan diri. "Zhang Liu kemarilah," tambahnya menghentikan gerakan Zhang Liu.


Bagaimana yang mulia selir agung bisa tau? pikirnya.


Kriet!


Pintu terbuka mengejutkan Zhang Liu lagi. Pria itu sampai terjungkal dan jatuh ke lantai. Pupil matanya bergetar saat melihat Li Jihyun dihadapannya. Alis mata Li Jihyun naik sebelah. "Ada apa anda datang kemari tuan perdana menteri Zhang Liu?"


Zhang Liu menelan ludah. Keringat mengucur membasahi tubuh. "Sa-Saya ..." katanya tergagap. Lidahnya tiba tiba kelu.


"Aku takkan membunuhmu tuan perdana menteri. Tenang saja," ujar Li Jihyun tersenyum.


"Te-Terimakasih atas kebaikan anda yang mulia selir agung," ucap Zhang Liu gemetaran. Atensi Li Jihyun menatap lurus ke arahnya. Senyumannya semakin lebar.


"Asal kamu bersedia melakukan sesuatu untukku," ujar Li Jihyun.

__ADS_1


__ADS_2