
Pedang ditangan Li Jihyun diayunkan membelah perut orang yang hendak melarikan diri. Membuat temannya sesaat terpaku. Darah bercipratan bersamaan tubuhnya yang terbelah dua itu ambruk.
Matanya nanar menatap temannya tewas ditempat. Menyisakan dia sendirian yang terduduk lesu. Sekujur tubuh gemetar ketakutan membuat sendinya tidak bisa bergerak lagi. Li Jihyun mengusap wajahnya yang terkena cipratan darah. Matanya mendelik tajam ke arah orang berjubah hitam yang terduduk sendirian.
Dia berjalan ke arahnya sambil menyeret pedang. Suara gesekan dilantai terdengar ngilu. Orang itu menelan ludah saat melihat gadis itu mendekat. Bibirnya bergerak gerak. Li Jihyun mengangkat pedang lantas mengayunkannya dengan cepat.
Splash!
Kepala orang itu jatuh berguling ke lantai. Li Jihyun tersenyum puas. Melihat mayat yang berserakan di kamarnya. Bau amis darah tercium pekat. Sangat pekat sampai membuat perut siapapun mual. Tapi tidak bagi gadis itu. Dia malah tertawa kegirangan. Selanjutnya aku membunuhmu Long Jian, tekad Li Jihyun dalam hati. Dia bersenandung riang meletakkan pedangnya ke sembarang arah.
Lantas melepas hanfu yang dipakainya dan melenggang menuju kamar mandi. Bak yang berisi air hangat itu sudah mendingin. Namun Li Jihyun tak peduli dan merendam tubuhnya yang dipenuhi sayatan pedang. Air yang semula berwarna putih berubah jadi kemerahan.
...
Long Jian tiba tiba merasa merinding. Diusapnya lengan sembari melihat peta yang dibentangkan diatas meja. Peta yang menampilkan banyak pulau itu menarik perhatian Long Jian. Matanya terus fokus mematapnya sampai tak berkedip.
"Xie Yun berapa lama lagi kita akan kembali ke istana?" tanya Long Jian setelah puas mengamati peta. Atensinya beralih pada seorang pemuda yang memakai zirah.
Kepalanya tertunduk. "Kita masih butuh waktu beberapa bulan lagi yang mulia. Menundukkan kerajaan ini tidak semudah itu. Mereka masih tetap bersikukuh melawan kita yang mulia," jawab Xie Yun yang disahut decakan Long Jian.
"Bangsat! Cari pemimpinnya! Kita penggal kepalanya dan gantung di benteng mereka," perintah Long Jian yang diangguki Xie Yun. "Ingat! Jangan sampai gagal kalau kepalamu yang berharga itu tidak mau kugantung di alun alun," ancam Long Jian mendelik tajam.
"Baik yang mulia. Perintah anda akan saya laksanakan," ujar Xie Yun.
"Bagus. Sekarang keluarlah!" usirnya mengibaskan tangan diudara. Xie Yun membungkukkan badannya. Tak lupa dia pamit sebelum pergi meninggalkan Long Jian.
__ADS_1
"Yang mulia bolehkah saya masuk ke dalam?" tanya seseorang dibalik tenda Long Jian. Seringaian tersungging dibibir ranumnya.
"Masuklah," titahnya. Tak lama pintu tenda disibakkan. Tampak seorang pemuda dengan wajah penuh luka melangkah masuk. Ada banyak bekas sabetan di pipi dan mata kirinya. Dia membungkukkan badan dengan pandangan tertunduk. "Laporkan padaku apa yang terjadi diistana?" tanyanya menatap lekat pemuda itu.
Pemuda itu menarik napas. "Yang mulia rekan saya dibunuh oleh yang mulia selir agung." Seketika Long Jian menggeram marah. Peta diatas meja pun dilemparkan ke sembarang arah. Dia menatap gusar pemuda didepannya.
"Kurang ajar! Gadis sialan itu masih belum mati?" gerutu Long Jian mengacak rambutnya hingga berantakan. "Lalu bagaimana kabar dayang yang menjadi mata matanya?"
"Mereka sudah mati. Yang saya ketahui hanya tersisa tiga orang yang mulia."
Buk!
Long Jian memukul meja melampiaskan kemarahan dihati. "Sial! SIAL!" pekiknya menggeram marah. "Apa mereka semua dibunuh gadis itu?" tanyanya lagi yang diangguki pemuda itu.
Long Jian mencebikkan bibirnya. "Gadis itu ternyata bukan wanita biasa," ujar Long Jian menghela napas. Pria itu duduk dikursi sambil memikirkan rencana berikutnya. "Pantau gadis itu. Jangan sampai lengah," perintah Long Jian yang diangguki patuh pemuda itu.
"Baik yang mulia," jawabnya. Tiba tiba wajah kesal Long Jian berubah. Senyuman tersungging di bibir saat dia teringat sesuatu.
"Bunuh ketua sipir itu lalu gantung kepalanya di paviliun selir," perintah Long Jian yang diangguki pemuda itu.
"Baik yang mulia," jawabnya.
"Sekarang pergilah," usirnya mengibaskan tangan diudara.
"Saya permisi dulu yang mulia," pamitnya lalu membalikkan badan meninggalkan Long Jian.
__ADS_1
"Sayang sekali aku tidak bisa melihat kehancuran Li Jihyun," gumam Long Jian tersenyum lebar.
...
Setelah menyuruh Ceng membersihkan kamarnya. Tak ada lagi bau darah ataupun mayat. Meski dayang itu tampak berat membawa tubuh Jing yang dipenuhi tusukan pedang. Namun dayang itu tetap melakukannya. Sebenarnya kesalahan apa yang Jing buat sampai dibunuh? batin Ceng sedih. Dia duduk di dekat gundukan tanah yang baru saja digali. Halaman luas itu berada disebelah paviliun selir.
Mata Ceng berembun. Sesekali diusapnya air mata yang jatuh. Dia menangis dalam diam. Tangannya mengusap lembut gundukan tanah. Apa yang harus kukatakan pada Lian? Saudara kembarmu? Sebenarnya apa yang terjadi sampai kalian dibunuh satu per satu? Gadis itu sangat kejam sampai membunuh orang seenaknya. Dia pikir nyawa manusia tidak ada harganya, batinnya berkecamuk. Dia membuang napas kasar.
Mengusap lagi gundukan tanah dengan lembut. Tetesan air mata masih berjatuhan membasahi pipinya dan menetes ke tanah. Jing, Lien maafkan aku tidak bisa melindungi kalian, batinnya menundukkan pandangan.
"Ceng," panggil seseorang mengejutkannya. Buru buru mengusap air mata dipipi hingga membuat wajahnya kotor terkena tanah. Kepalanya tertoleh dan bertatapan dengan seseorang.
Dahi Ceng mengerut melihat wajah orang itu yang tak jelas. Mungkin karena pencahayaan lentera malam itu bergoyang diembus angin. "Siapa?" tanyanya dengan suara serak. Dia bangkit dari duduk.
Orang itu berjalan mendekat. Namun wajahnya masih belum terlihat jelas. Membuat Ceng melangkah mundur. Dia sedikit takut sosok didepannya. Bisa saja sekarang yang muncul hantu mengingat tempatnya sekarang adalah kuburan manusia yang matinya tidak tenang. Apakah dia arwah gentayangan? pikir Ceng mulai ketakutan.
Kaki Ceng gemetaran membayangkan sosok didepannya hantu. Apalagi sosok itu masih terus melangkah maju. Membuat Ceng mau tidak mau harus mundur.
"Ja-Janga mendekat!" perintah Ceng. Namun sosok itu tak berhenti sampai kaki Ceng tak sengaja tersandung tumpukan tanah. Dayang itu terjatuh terjerembab. Dia meringis kesakitan saat tangannya membentur bebatuan kecil.
Sosok itu berhenti menatap lurus Ceng. Peluh dingin menetes saat sosok itu tepat berada didepannya. Kakinya pun mendadak lemas sehingga membuatnya tak bisa berjalan. Persis saat awan yang menutupi cahaya bulan diatas mereka tersingkir ditiup angin. Wajah sosok itu terlihat jelas. Ceng menjerit kaget saat melihat wajah seorang pemuda yang dipenuhi bekas luka. "Astaga! Ketua mengagetkan saya," ujar Ceng dengan napas memburu. Dia mengusap peluh dingin yang menetes.
Pemuda itu diam menatapnya dingin. Ceng hendak bangkit tapi karena kakinya masih terasa lemas membuatnya tidak bisa bergerak. Ceng menatap pemuda itu dengan mata sayu. Namun pemuda itu tak berniat membantunya sedikit pun.
"Pantas saja kalian cepat mati ditangan gadis itu," pemuda itu akhirnya bersuara setelah diam cukup lama mengejutkan Ceng.
__ADS_1