
"Bagaimana Yona?" tanya Li Jihyun sebelum keluar berangkat ke istana. Yona menatap Li Jihyun tak berkedip. Gadis yang kini menyamar menjadi pria itu tampak sangat tampan. Apalagi pakaian yang dipakainya terlihat cocok. Dia sampai tidak bisa berkata apapun saking terkejut. Selain berwajah cantik ternyata dia juga bisa terlihat tampan.
Li Jihyun yang sedang menunggu jawaban Yona sedikit kesal. Dia menjentikkan jari didepan Yona membuat lamunannya buyar. "Maafkan saya yang mulia selir agung," kata Yona membungkuk. Li Jihyun berdecak dan menyilangkan tangan diatas dadanya yang sudah rata. Itu semua berkat ikatan kain di dadanya.
"Berapa kali sudah kubilang Yona. Jangan panggil aku sebutan selir agung. Panggil aku Jin," kata Li Jihyun tegas yang diangguki patuh Yona.
"Baik ya-tuan Jin," ralat Yona cepat. Li Jihyun tersenyum senang. Kepalanya menoleh ke arah luar jendela.
"Sudah saatnya kita bertemu lagi Long Jian," gumam Li Jihyun mengibarkan kipas ditangan. Begitulah Li Jihyun alias Jin pergi menemui kaisar. Dengan menggunakan nama keluarga Gong. Gadis itu bisa melesat masuk dengan mudah.
"Siapa kamu? Beraninya datang ke sini," sergah pengawal yang berdiri didepan ruang kerja kaisar. Alis mata Li Jihyun terangkat sebelah.
"Saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Jin dari sponsor keluarga Gong," ucap Li Jihyun memperkenalkan diri. Mereka berdua saling tatap lalu kembali menatap Li Jihyun yang berdiri didepan.
"Kamu tuan Jin? Tuan Jin putra angkat tuan Gong Jihon?" tanya salah satu pengawal memastikan yang diangguki Li Jihyun.
"Tepat sekali. Saya adalah Jin, putra angkat dari tuan Gong Jihon." sekali lagi Li Jihyun memperkenalkan diri. Mereka berdua mangut mangut.
"Lalu apakah anda ingin bertemu dengan yang mulia kaisar?" tanya pengawal itu lagi yang diangguki cepat Li Jihyun. "Baiklah. Silakan masuk," ucap pengawal itu lagi bergeser dari daun pintu. Pintu pun terbuka dan Li Jihyun dengan mudah memasuki ruangan itu tanpa menimbulkan kecurigaan pada siapapun.
__ADS_1
Jin, adalah nama samaran yang digunakan Li Jihyun saat masih kecil. Gadis itu kerap menyamar jadi laki laki agar bisa pergi menghirup udara bebas tanpa diawasi ayah maupun keenam kakaknya. Dan Gong Jihon suka rela membantu gadis itu dengan menggunakan nama Jin. Nama yang dibuat Gong Jihon untuk mengelabui orang lain dan menutupi samaran Li Jihyun. Jadi gadis itu bisa pergi kemanapun dengan menggunakan nama Jin. Orang lain cuma tau itu adalah nama dari putra angkatnya yang merupakan anak berbakat. Sama seperti Li Jihyun yang ahli strategi. Sementara Jin sangat ahli dalam berpedang bahkan bisa mengalahkan prajurit istana.
Dizaman ini perempuan memegang pedang dianggap tabu. Berbeda dengan laki laki yang diharuskan tau cara bertarung dan mengenyam pendidikan. Sedangkan bagi Li Jihyun yang berasal dari era modern tidak menyukai hal tersebut. Jadi dia sering menyamar sebagai laki laki dan pergi kemanapun dia suka. Bahkan melakukan kebiasaan yang disukai laki laki termasuk bertarung.
"Salam yang mulia kaisar," sapa Li Jihyun dengan membungkukkan badan. Long Jian yang sedang membaca secarik kertas pun meletakkannya dimeja. Alis matanya bertaut tajam. Matanya yang setajam elang menatap Li Jihyun dingin. Aura dalam ruangan berubah mencekam.
"Siapa kamu?" tanya Long Jian datar. Dasar pengawal bodoh! Bagaimana bisa mereka membiarkan orang asing masuk ke ruang kerjaku. Lihat saja akan kupenggal leher mereka agar menjadi pelajaran buat semuanya, batin Long Jian mengepalkan tangan.
Li Jihyun tersenyum tipis. "Yang mulia saya akan memperkenalkan diri lagi. Nama saya Jin putra angkat dari Gong Jihon. Anda pasti sudah pernah mendengar nama saya, bukan?" ucap Li Jihyun dengan percaya diri. Jika saat itu dia ikut dengan keluarganya berperang pasti ayah dan kakaknya masih hidup. Begitu juga dengan kaisar didepan matanya. Long Jian pasti takkan bisa duduk disingasana itu dengan nyaman setelah mengorbankan banyak nyawa. Mengingat itu kembali membuat Li Jihyun disembur amarah.
Tapi, untuk saat ini dia tak boleh menunjukkannya. Dia harus menahan diri agar tidak ketahuan oleh Long Jian. "Ada apa kamu datang kemari?" tanya Long Jian menyentuh dagunya. Matanya masih menatap lekat Jin.
"Saya ingin mengantikan posisi Gong Heng yang sakit. Saya dengan sukarela akan ikut berperang," kata Li Jihyun membuat Long Jian tersenyum tipis.
Jika bukan demi paman Gong mana sudi aku ikut berperang bersama kaisar gila ini. Lebih baik aku melanjutkan balas dendamku. Semua ini kulakukan demi keselamatan paman Gong dan keluarganya, batin Li Jihyun. "Jika anda tak percaya saya bisa buktikan sendiri," ujar Li Jihyun menaik turunkan alis mata.
Long Jian langsung terlihat tertarik. "Membuktikan? Apa kamu yakin bisa menang dari prajuritku? Tubuhmu yang kurus itu pasti langsung patah terkena angin dari ayunan pedang mereka," ejek Long Jian membuat asap dikepala Li Jihyun mengepul. Gadis itu menarik napas dan diembuskan pelan.
"Anda akan menyesal yang mulia," ancam Li Jihyun tak mau kalah. Long Jian mendengus dan menatapnya sinis.
__ADS_1
"Buktikan padaku. Jika kamu kalah maka seluruh orang yang berkaitan dengan keluarga Gong akan musnah," ancam Long Jian memiringkan wajahnya dan tersenyum.
"Baik. Tapi jika saya menang maka saya berhak ikut perang," ucap Li Jihyun dengan suara lantang.
"Siang ini datanglah ke lapangan istana. Aku akan mempersiapkan prajurit terbaikku untuk mengalahkanmu," ucap Long Jian dengan penuh kesombongan sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Li Jihyun. Gadis itu tersenyum.
"Dengan senang hati saya terima," ucapnya dengan senyuman sumringah.
Siang itu sesuai dengan perkataan Long Jian pertarungan antaran Li Jihyun melawan prajurit istana yang terbaik dimulai. Beberapa penonton menyaksikan dari tepi lapangan. Lapangan seluas lapangan bola itu ditumbuhi banyak pepohonan ditepinya. Sehingga membuat sinar matahari tidak terlalu terik. Long Jian juga ikut menonton dari atas balkon istana. Matanya terus memperhatikan lekat lapangan.
Ada dua prajurit yang dihadapi Li Jihyun seorang diri. Tapi meskipun jumlahnya sedikit, kekuatan mereka setara dua puluh prajurit. Dari segi fisik sampai kemampuan pedang yang dimiliki. Kedua orang itu berpangkat panglima dan wakil panglima.
Orang pertama yang dihadapi Li Jihyun adalah wakil panglima. Dia mengacungkan pedang dan berdiri tegap. Pertandingan itu langsung dimulai begitu aba aba dari wasit terdengar.
Kedua orang itu maju bersamaan. Pedang ditangan beradu menahan serangan dari masing masing pihak. Napas Li Jihyun memburu cepat. Kakinya yang menginjak tanah perlahan merosot kebawah. Lawan yang dihadapinya tidak bisa diremehkan semudah itu.
Wakil itu memutar pedangnya dan mendorong tubuh Li Jihyun dengan ujung pegangan pedangnya. Gadis itu terlempar kebelakang sebanyak dua langkah. Meski tidak menyakitinya tapi suara tawa dari penonton membuatnya geram. Tindakan wakil panglima barusan meremehkannya. Dia mengatupkan rahang rapat. Memegang pedangnya dengan erat dan merangsek maju. Kali ini dia takkan kalah.
__ADS_1
...Visual Jin...
...(Li Jihyun)...