Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 38


__ADS_3

"Saya tidak tau yang mulia. Saya hanya melaksanakan perintah dari yang mulia kaisar," jawab Zhang Liu. Matanya melirik Li Jihyun yang duduk di depan meja rias. Gadis itu tampak memikirkan sesuatu.


Heh! Apa dia mau memberiku hukuman? batin Li Jihyun menatap pantulan dirinya dicermin. Wajahnya yang mulus dan putih tampak pucat. Juga matanya sembab sehabis menangis semalaman. Dia menghela napas berat. "Tunggu sebentar. Aku bersiap dulu," ujar Li Jihyun yang diangguki patuh Zhang Liu.


"Baik. Saya tunggu anda didepan pintu." Zhang Liu pun segera keluar dari kamar. Dia berdiri didepan pintu.


Li Jihyun menatap lekat wajahnya. Tampak kuyu dan lesu. "Fahrani! Jiangli!" panggil Li Jihyun dengan suara keras membuat dua wanita cantik itu memasuki kamar. Keduanya membungkuk hormat.


"Ada apa yang mulia selir agung memanggil kami?" tanya Jiangli dengan sopan.


"Bantu aku berias. Aku akan pergi menemui yang mulia kaisar," ujar Li Jihyun yang diangguki keduanya serempak. Meski sekilas mereka tadi saling lirik.


"Baik yang mulia selir agung," jawab keduanya serempak. Lalu berjalan mendekati Li Jihyun yang duduk didepan meja rias. Tangan mereka dengan cekatan menata rambut Li Jihyun dan merias wajahnya. Li Jihyun langsung teringat dengan Yona. Dayang itu kerap mempermasalahkan dandanan Li Jihyun setiap kali bertemu Long Jian. Selain itu, dia juga menentukan hanfu yang harus dipakai Li Jihyun. Walau Li Jihyun sering menolak tapi Yona tetap bersikukuh. Cuma wanita itu yang menerima Li Jihyun sebagai tawanan perang. Membayangkan itu membuat Li Jihyun kembali dirudung kesedihan. Dia membuang napas kasar.


Long Jian kali ini aku mengikuti permainanmu dengan serius. Kita lihat saja siapa yang akan bertahan diakhir, batin Li Jihyun menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Membuat bibirnya terluka. Kedua dayang itu saling lirik lagi. Apalagi melihat ekspresi wajah Li Jihyun yang menakutkan dari pantulan. Matanya berkilat penuh amarah seolah siap menerkam siapapun. Kedua dayang itu menelan ludah dan menyelesaikan riasan secepatnya.

__ADS_1


Begitu selesai Li Jihyun bangkit dari kursi dan berjalan keluar. Zhang Liu terkesima melihat wajah Li Jihyun. Setelah didandani wajah gadis itu sangat cantik. Dia tampak berbeda dari sebelumnya. Ada aura karisma yang keluar. Dia menatap keheranan Zhang Liu yang membeku. "Apa kita berangkat sekarang?" tanya Li Jihyun membuat Zhang Liu kelabakan.


"I-Iya. Mari ikuti saya," ucapnya berjalan terlebih dulu diikuti Li Jihyun. Sudah tugasnya sementara memandu jalan menuju ruangan Long Jian. Apalagi Li Jihyun tak punya dayang sekarang. Di bawah sorotan mata dayang terdengar bisikan. Rumor tentang kematian Yona dan penyamaran Li Jihyun sudah menyebar cepat. Bahkan sampai dikaitkan dengan Li Jihyun yang ingin merebut takhta kaisar.


Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat saat mendengar rumor tentangnya. Cih! Kalian semua akan mati ditanganku, batinnya menatap satu persatu dayang yang tadi menggosipinya. Ditatap Li Jihyun para dayang itu langsung bubar dan kembali bekerja. Meski takut tapi mulut mereka tak semudah itu berhenti menggosip. Apalagi ini berita yang menggemparkan penghuni istana. Selir tawanan merebut takhta kaisar? Sesuatu mustahil yang takkan pernah terjadi. Itulah anggapan rata rata penghuni istana. Bahkan Long Jian yang mendengarnya membiarkan gosip itu beredar. Lagipula gosip cuma bertahan sebulan lalu menghilang. Makanya Long Jian menganggapnya sebagai masalah sepele.


Mereka terus berjalan melewati lorong istana kemudian berbelok dipersimpangan empat. Keduanya berjalan dalam keheningan. Cuma suara ketukan sepatu yang terdengar. Mata Zhang Liu sesekali curi pandang ke arah Li Jihyun. Saat mata gadis itu tak sengaja bertatapan dengannya buru buru dia segera mengalihkan pandangan. Andai saja kita bertemu sejak awal. Aku pasti akan mempersuntingmu menjadi istriku, batin Zhang Liu tersenyum tipis.


Sejak bertemu pertama kali jantung Zhang Liu langsung berdetak cepat. Pertemuan di acara pengangkatan selir agung dan juga keberaniannya menantang Long Jian menambah kesan suka Zhang Liu pada Li Jihyun. Tak pernah ada orang yang berani menantang Long Jian. Bahkan dirinya hanya sekali atau dua kali berani menantang Long Jian. Tapi selepas pertemuan Long Jian dengan Li Jihyun dimalam itu sikapnya langsung berubah dratis. Dia semakin dingin dan menakutkan. Entah apa yang terjadi diantara mereka. Hanya terdengar rumor kalau Li Jihyun pingsan dalam keadaan mengenaskan. Sudah dipastikan itu ulah Long Jian. Tapi melihat Li Jihyun bertahan hidup tampaknya gadis ini lebih mengerikan dibanding Long Jian.


"Zhang Liu," jawabnya dengan sopan. Li Jihyun diam dan tersenyum.


"Nama yang bagus," pujinya berjalan mendahului langkah Zhang Liu. Pria berambut coklat itu seketika terkesiap. Wajahnya langsung tersipu malu. Melihat Li Jihyun berjalan sudah jauh bergegas dia mengejarnya. Mensejajari langkah Li Jihyun melewati lorong istana. Kesiur angin berembus mengoyangkan rambut Li Jihyun. Aroma mawar tercium membuat jantung Zhang Liu berdetak cepat. "Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak suka dipuji?" tanya Li Jihyun menatap Zhang Liu yang berjalan disebelahnya.


Zhang Liu memalingkan wajah ke arah lain. Jantungnya semakin berdetak cepat bahkan sampai rasanya terdengar. Dia menutupi separuh wajahnya dengan punggung tangan. "Ti-Tidak saya tidak bermaksud seperti itu," jawab Zhang Liu tergagap.

__ADS_1


Li Jihyun tertawa pelan sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. "Anda ternyata pria pemalu," ucap Li Jihyun kembali menatap lurus kedepan.


Zhang Liu menatap Li Jihyun. Senyuman tersungging dibibir. "Terimakasih atas pujian anda," ucapnya menghentikan langkah diikuti Li Jihyun. Didepannya ada sebuah pintu berukiran naga emas dan dua orang prajurit. Mereka menjaga ruangan kaisar dengan ketat. Bahkan kasim Bo juga terlihat disana. Zhang Liu menghela napas. "Kita sudah sampai yang mulia," ucapnya membungkukkan badan.


"Terimakasih sudah mengantarku sampai disini," ucapnya meneruskan langkah mendekati pintu.


Kasim Bo yang melihat Li Jihyun langsung berteriak lantang. "Yang mulia selir agung memasuki ruangan."


Kedua prajurit yang berjaga langsung membukakan pintu. Mereka membungkuk hormat saat Li Jihyun lewat. Gadis itu lenyap begitu pintu kembali tertutup. Zhang Liu cuma memperhatikan punggung gadis itu dari kejauhan.


"Jangan diperhatikan terus tuan Zhang," ucap kasim Bo yang berdiri tepat dihadapannya. Dia terperanjat kaget melihat kasim Bo. Suara decikan terdengar. Dia mengembuskan napas kasar. Tidak dipungkiri jika ada perasaan aneh menelusup hatinya ketika melihat Li Jihyun. Awalnya dia pikir terkena penyakit aneh. Tapi setelah mendengar cerita banyak orang. Ternyata itu dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Baginya yang sudah hidup melajang selama 29 tahun pertama kalinya merasakan yang disebut cinta. "Tuan Zhang juga diminta menghadap yang mulia kaisar," lanjut kasim Bo yang diangguki Zhang Liu.


"Baiklah. Aku akan masuk." Kasim Bo kembali berjalan mendekati pintu. Jarak antara Zhang Liu dan pintu ruangan tersebut sejauh 10 langkah. Itu sebabnya kasim Bo bolak balik.


"Perdana menteri Zhang Liu memasuki ruangan," teriaknya dengan suara lantang. Zhang Liu pun melangkah masuk dengan mantap. Tak ada keraguan sedikit pun pada wajahnya.

__ADS_1


"Kita akan segera bertemu lagi Li Jihyun," gumamnya.


__ADS_2