
Kali ini apa lagi alasanmu Li Jihyun? Kamu pikir bisa lolos semudah itu dariku, batin Long Jian tersenyum licik.
"Yang mulia kaisar yang agung apakah ada bukti saya yang meracuni anda? Kita berdua memang bermusuhan tapi untuk meracuni anda bagaimana mungkin saya sanggup melakukannya?" kata Li Jihyun membuat Long Jian menggeram marah.
"Kamu pikir aku tidak tau. Setelah aku pulang dari kamarmu tubuhku mendadak sakit dan tabib bilang ada racun ditubuhku," sergah Long Jian tak mau kalah. "Kamu tidak bisa mengelak semudah itu Li Jihyun. Ingat posisi yang kamu dapatkan bisa aku turunkan karena berusaha meracuni kaisar," ancam Long Jian.
Li Jihyun menghela napas. Dia berusaha memojokkanku rupanya. Cih! Takkan kubiarkan, batin Li Jihyun.
Long Jian menyilangkan tangan diatas dada. Tersenyum mengejek Li Jihyun. Sekarang kita lihat alasan apa lagi yang akan kamu sampaikan, batin Long Jian tertawa dalam hati. Apalagi melihat raut kebingungan diwajah Li Jihyun.
Ekor mata Li Jihyun melirik Long Jian. Masalah ini takkan selesai dengan mudah. Dia harus memikirkan cara membalas ucapan Long Jian. Li Jihyun menarik napas. "Saya rasa masalah itu bisa kita bahas nanti," ucap Li Jihyun menatapnya lurus.
"Kamu pikir urusan nyawa kaisar itu tidak penting? Memangnya apa yang kamu ketahui tentang kekaisaran? Tsk! Rumor kamu jenius itu ternyata cuma omong kosong belaka," ucap pria itu meremehkannya. "Mereka terlalu melebihkan sesuatu yang konyol sepertimu," tambahnya membuat tangan Li Jihyun mengepal erat.
Gadis itu berusaha amarah yang hendak meledak. Dia menarik napas lagi. "Sejujurnya saya pun tidak mau terlahir seperti itu yang mulia," ucap Li Jihyun membuat dahi Long Jian mengernyit keheranan. Baru pertama kali dia melihat raut wajahnya yang sulit diartikan. Antara marah dan kebencian yang menyatu dalam sorot matanya. Kegelapan dalam matanya seolah tak berujung.
Tiba tiba telinga Long Jian berdengung. Kepalanya terasa nyeri. Potongan ingatan bermunculan. Gadis berusia 9 tahun itu kembali muncul tepat didepan matanya. Mata gadis kecil itu mirip dengan Li Jihyun. Dia membuang napas kasar.
__ADS_1
Gadis yang muncul dalam mimpinya sudah lama meninggal dan tak memiliki hubungan apapun dengan Li Jihyun. Padahal ada sesuatu yang penting harus diurusnya. Membuka sosok dibalik topeng yang dikenakan Li Jihyun.
"Orang orang itu yang menganggap saya jenius. Saya tidak pernah mengatakannya sedikit pun. Saya hanya ingin keluarga saya utuh. Bukan peperangan yang membuat saya berpisah dari keluarga. Tapi yang mulia tidak akan mengerti itu," tambah Li Jihyun tersenyum getir.
Obrolan kedua orang mulai menjalar kemana mana. Tidak sesuai dengan topik yang dibicarakan. Long Jian tergelak membuat suaranya terdengar membahana. Semua orang menatapnya takut. "Bagaimana bisa kamu mengatakan itu padahal kamu sendiri membunuh orang lain?" sarkas Long Jian membuat Li Jihyun diam. Ingatan dia dikehidupan sebelumnya dan sekarang tumpang tindih.
Kematian Xu Die dan dayangnya juga binasanya keluarga Xu. Juga orang lain yang tidak dia ingat lagi. Mungkin nanti Hai Rong akan menyusul. Dia mengembuskan napas kasar. Perkataan Long Jian barusan berhasil sedikit menggoyahkan hatinya. Tapi tidak berlangsung lama. Otaknya kembali berpikir rasional. Tujuan dia diistana adalah menghabisi mereka untuk membalaskan dendam atas kematian orang yang disayangi. Tak peduli orang menganggap mesin pembunuh seperti dikehidupan sebelumnya.
"Saya melakukannya juga punya alasan yang mulia. Selir Xu yang merupakan selir dibawah naungan saya telah bersikap kurang ajar. Dia sudah berani mengejek saya yang berasal dari tempat rendahan," ucap Li Jihyun tegas. "Lalu untuk kedua dayang yang anda kirim. Mereka juga sudah berani bersikap kurang ajar pada saya. Wajar saja saya menjatuhi hukuman yang setimpal," tambahnya lagi. Kali ini Long Jian terdiam. Dia menatap Li Jihyun cukup lama.
"Lalu untuk masalah dayang saya yang tak sengaja bertindak ceroboh. Sebaiknya tidak usah dijatuhi hukuman. Saya sendiri yang akan mengajarinya sopan santun untuk kedepannya," ucap Li Jihyun tenang. Dia menatap Long Jian lurus. Sadarlah Long Jian. Aku tidak semudah itu dikalahkan oleh manusia kuno sepertimu. Sudah cukup aku bertele tele membalaskan dendam kematian orangtuaku, batin Li Jihyun.
"Heh? Apa sekarang kamu menghindari masalah meracuni kaisar?" tanya Long Jian tak mau kalah menyudutkan Li Jihyun. Hela napas terdengar.
"Saya tidak akan menghindari itu yang mulia. Tapi ada urusan yang lain didepan mata yang harus diselesaikan," ujar Li Jihyun yang disahut decakan Long Jian.
Dia menatap Lien yang masih dipegang kedua pengawal. Mereka berdiri cukup lama diambang pintu menunggu perintah selanjutnya. "Lepaskan gadis itu!" perintahnya yang diangguki kedua pengawal itu. Mereka segera melepaskan cekalan tangannya.
__ADS_1
Jing yang sejak tadi menonton kini bernapas lega. Dia mengusap dada sambil tak berhenti mengucapkan syukur dalam hati. Lutut Lien bergetar. Tapi dayang itu memaksakan diri untuk berdiri. Dia membungkukkan badannya. "Terimakasih atas kemurahan hati anda yang mulia," ucap Lien setulus hati. Saya takkan melupakan jasa anda yang mulia selir agung, batin Lien.
Li Jihyun menghela napas lega. "Tidak usah berterimakasih begitu. Sudah sepatutnya seorang majikan membela bawahannya," ujar Li Jihyun menatap sinis Long Jian. Tapi pria itu hanya mendengus sebal. Sekali lagi gagal merusak reputasi Li Jihyun. Padahal selama ini dia selalu berhasil. Bahkan gadis itu sampai babak belur dibuatnya. Ingatan tentang kejadian kemarin terbayang jelas. Tapi gadis didepannya sudah berubah total. Ada saja cara dia berkelit dari masalah yang dibuat Long Jian.
Mata Lien berkaca kaca. Dia tak menduga Li Jihyun yang kejam itu memaafkannya. Padahal jika ada yang mencari masalah dengannya pasti sudah habis ditangannya. Terkadang Li Jihyun sulit dimengerti oleh mereka.
Yang mulia selir agung benar benar berhati lapang, batin Fen. Padahal yang mulia selir agung sebaik itu tapi kenapa selir Hai selalu mencari masalah? Aku benar benar tak mengerti, tambah Fen dalam hati. Matanya diam diam melirik Li Jihyun.
"Sekarang angkat kepalamu. Lalu ambilkan lagi teh baru," ucap Li Jihyun yang diangguki Lien.
"Baik yang mulia," jawab Lien patuh. Dayang itu berjalan cepat keluar dari kamar diikuti Jing. Mereka berdua meninggalkan kamar dengan cepat.
"Mau sampai kapan kamu terus memasang topeng?" tanya Long Jian mengejeknya. Kepala Li Jihyun tertoleh sambil tersenyum.
"Saya melakukannya karena kasihan melihat dayang itu. Ditambah dayang saya berkurang dua. Bukankah itu cukup merugikan untuk saya yang kekurangan pekerja untuk selir agung?" ujar Li Jihyun membuat Long Jian terdiam. "Ditambah pembicaraan kita tidak sesuai jalur. Anda pasti kemari karena ada pembicaraan yang penting," lanjutnya.
Sudah cukup lama pembicaraan mereka berbelit belit yang memusingkan Li Jihyun. Melihat tingkah pria itu seperti sengaja berlama lama dikamarnya.
__ADS_1