
Suara erangan kesakitan memecah keheningan malam. Pria bernama Long Jian itu tak berhenti menjerit sampai pita suaranya hampir pecah. "Sakit! Sakit!" lenguhnya memegangi tangan yang terasa perih. Peluh mengucur deras membasahi sekujur tubuh. Napasnya pun terengah engah. Kulit dipunggung tangan pria itu sekejap muncul bercak aneh. Seperti bekas luka bakar. Semua orang diistana dalam sekejap heboh.
"Cepat panggil tabib," seru kasim Bo panik. Dayang yang melayani Long Jian dengan cepat bergerak keluar. Tujuannya hanya satu menemui tabib istana. Langkahnya tergopoh melewati koridor istana. Jarak antara istana utama dan kediaman tabib tidak terlalu jauh. Hanya dibutuhkan waktu 3 menit untuk sampai.
Dayang itu tiba dengan napas tersengal. Lalu mengedor pintu rumah tabib itu sekuat tenaga. "Tabib! Tabib! Buka pintunya!" teriaknya mengetuk pintu rumah itu berulang kali.
Kriet!
Dayang itu mundur selangkah. Seorang pria renta muncul diambang pintu. Matanya masih menyipit karena baru bangun tidur. "Ada apa kamu memanggilku ditengah malam begini?" tanya tabib itu dengan suara serak.
"Ya-Yang mulia kaisar ..." kata dayang itu tergagap membuat dahi tabib itu mengerut.
"Ada apa dengan yang mulia kaisar?" tanya tabib itu keheranan. Dayang itu menelan ludah.
"... tiba tiba menjerit kesakitan. Anda harus segera kesana," lanjutnya mengejutkan tabib itu. Bergegas tabib itu masuk ke dalam dan mengambil peralatan yang dibutuhkan. Lalu kembali keluar dari rumah.
"Kita harus cepat!" ucap tabib itu yang diangguki setuju dayang itu. Kedua orang itu berjalan cepat menuju istana utama. Tak butuh waktu lama kedua orang itu tiba dikamar kaisar. Tabib itu dengan cekatan memeriksa nadi Long Jian. Semua orang dikamar itu menanti dengan cemas. Suara jeritan dari Long Jian terdengar parau membuat tabib itu prihatin. Matanya memperhatikan bekas luka bakar dipunggung tangan Long Jian. Dahinya mengerut keheranan.
"Bagaimana keadaan yang mulia tabib?" tanya kasim Bo khawatir. Tabib itu terdiam sejenak dan melepaskan sentuhan di nadi Long Jian. Hela napas terdengar.
"Apa sebelumnya yang mulia pernah terkena luka bakar?" tanya tabib itu yang digelengkan oleh kasim Bo.
"Tidak tuan tabib," jawab kasim Bo membuat tabib itu mengusap janggut putihnya yang menjuntai.
"Ini sangat aneh," gumamnya lirih masih memperhatikan bekas luka itu. Tabib pun segera mengeluarkan jarum perak. "Bawakan kemari lilin itu," tunjuk tabib itu ke arah lilin yang menyala. Kasim Bo mengambil lilin itu dan meletakkannya didekat tabib. Tabib itu membakar ujung jarum. Lalu menusuknya sebentar di ujung jemari pria itu. Setelah dicabut jarum perak itu berubah kehitaman. Mata tabib itu terbelalak kaget.
"Apa yang terjadi tuan tabib?"
__ADS_1
"Yang mulia kaisar terkena racun," jawab tabib itu mengejutkan semua orang.
"Ra-Racun?" ulang kasim Bo tergagap yang diangguki tabib.
"Racun ini racun yang langka. Racun yang hanya bisa disembuhkan oleh orang yang melakukannya," ucap tabib menghela napas berat. "Racun ini bukan berasal dari makanan tapi sentuhan fisik. Ini lebih mirip kutukan daripada racun," lanjut tabib itu.
Mendadak tubuh Long Jian kejang. Manik kehitaman pria itu mengambang keatas. Tabib segera bertindak. Dia mengambil jarum akunpuntur dan menusuk dititik yang menahan laju racun. Keringat dingin mengucur melihat kondisi Long Jian. Apalagi warna kulitnya yang membiru.
"Apa anda tidak bisa memberikan obat?" tanya kasim Bo penuh harap.
"Tapi obat yang kuberikan tidak bisa menyembuhkannya. Cuma bisa menghentikan laju racunnya menyerang lebih cepat."
"Baiklah. Tidak masalah. Asal yang mulia tidak merasakan sakit lagi," ucap kasim Bo menatap prihatin Long Jian. Walau pria itu sering berbuat kasar tapi bagaimanapun dia adalah kaisar di negeri ini. Kekaisaran ada dibawah tangannya. Tabib mengeluarkan dua kantong obat dari tasnya dan diberikan pada kasim Bo.
"Berikan obat ini dan cepat cari tau pelakunya sebelum racun ditubuh yang mulia menjalar cepat," ucap tabib yang diangguki kasim Bo. Pria renta itu bangkit dari duduk dan pamit ke rumah. Kini suasana istana dirudung kesedihan. Walau ada seseorang yang senang atas penderitaan yang dialami Long Jian.
"Baik kasim Bo," sahut dayang itu menerima kantong obat dari tangan kasim Bo. Dayang itu pun pergi ke dapur.
Kasim Bo duduk dikursi yang tak jauh dari ranjang Long Jian. Pikirannya menerawang jauh. Mengingat semua kejadian yang mungkin bisa dijadikan petunjuk.
....
Dipaviliun selir, Li Jihyun tak berhenti tersenyum lebar. Gadis itu menatap bulan sabit yang tertutupi separuh awan kehitaman. Semilir angin berembus sepoi meniup rambut gadis itu. "Sudah lama aku tidak merasakan ketenangan," gumamnya menopang dagu di bingkai jendela.
Matanya memperhatikan pemandangan dibawah jendela. Para selir dan dayang yang tinggal di paviliun selir tampak berhamburan keluar. Langkah mereka tergopoh menuju ke suatu tempat yang dapat ditebak Li Jihyun.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Maaf menganggu yang mulia selir agung. Apakah anda sudah tidur?" tanya seseorang dibalik pintu. Kepala Li Jihyun tertoleh ke belakang. Dia buru buru mengubah ekspresinya. Kemudian berjalan ke arah pintu.
Kriet!
"Ada apa kamu mencariku?" tanya Li Jihyun begitu membuka pintu.
"Yang mulia selir agung ada sesuatu yang gawat," ucap Lien membuat dahi Li Jihyun mengerut.
"Ada apa? Katakan padaku!" Lien menelan ludah.
"Yang mulia kaisar sakit," jawab Lien membuat kerutan didahi Li Jihyun semakin menajam.
"Kamu tidak membohongiku? Bagaimana mungkin yang mulia kaisar sakit? Sedangkan yang mulia baru saja menemuiku," katanya kebingungan.
"Ma-Mana mungkin saya berani membohongi anda," ucap Lien tergagap. Li Jihyun menghela napas.
"Baiklah. Aku akan kesana. Jadi persiapkan pakaianku dengan baik," ucap Li Jihyun yang diangguki Lien.
"Baik yang mulia," jawab Lien memasuki kamar Li Jihyun. Setelah membasuh muka dan didandani dengan sederhana. Lien membantu Li Jihyun memilih hanfu. Kini gadis itu sudah berubah cantik. Dia pun bersiap pergi ditemani Lien menuju istana utama. Tempat kamar kaisar berada.
Begitu tiba dari kejauhan tampak selir yang mengerumuni pintu kamar Long Jian. Li Jihyun terus berjalan sambil mendongakkan kepalanya angkuh. Orang yang ada disana segera menepi dan membungkuk hormat begitu Li Jihyun lewat.
Andai kamu ada disini Yona. Apa kamu bangga melihatku dihormati semua orang, batin Li Jihyun.
"Selamat datang yang mulia selir agung," sapa mereka serempak dan masih membungkuk hormat. Li Jihyun berdehem pelan berjalan lebih dekat ke arah pintu kamar. Dua orang prajurit yang berjaga segera membungkuk hormat.
"Kami menyapa yang mulia selir agung," sapa kedua prajurit itu serentak dan terdengar sopan.
__ADS_1