
"Lien, kalian semua seret wanita itu kemari." Titah Li Jihyun mengalihkan atensi mereka. Dayang yang tengah memegangi tangan Hai Rong saling tatap. Lien menganggukkan kepala. Menyeret Hai Rong memasuki kamar Li Jihyun.
Hai Rong mengangkat kepalanya sambil menyunggingkan senyuman. Li Jihyun berdecik lalu memalingkan wajah. "Lepaskan aku! Biarkan aku bicara dengan wanita ****** itu!" hardik Hai Rong tapi diabaikan Lien dan dayang lain. Mereka masih memegangi tangan Hai Rong yang berusaha berontak.
"Tutup semua pintu. Lalu kalian ..." jeda Li Jihyun mengalihkan atensinya tepat bertatapan dengan Hai Rong. Sebelah sudut bibirnya terangkat. Dia berjalan mendekati Hai Rong lalu berhenti tepat dihadapannya. Tangannya yang mungil meraih wajahnya. Gadis itu meraba wajah putih nan semulus giok putih. Hai Rong menatap keheranan.
"Jauhkan tangan kotormu dariku," ujarnya berang. Gerakan Li Jihyun mengelusnya terhenti. Dia menatap Hai Rong datar lalu menjauhkan tangannya dari wajah itu. Sesaat Hai Rong bergidik ngeri melihat ekspresi Li Jihyun. Tapi karena amarah sudah menguasai membuat rasa takutnya sirna.
"... pegang dia erat erat," lanjut Li Jihyun yang diangguki dayang. Mereka menutup pintu dan jendela rapat lalu menguncinya. Tangan mereka masih memegangi Hai Rong yang terus berontak. Firasatnya tiba tiba buruk.
Sebelum Hai Rong menerka rencana Li Jihyun. Tangan Li Jihyun bergerak cepat mengincar tengkuk Hai Rong. Tiba tiba semua menjadi gelap. Rasa sakit pada tengkuknya membuat tubuhnya seketika ambruk. Pandangannya buram menatap Li Jihyun didepan mata. Gadis itu masih berdiri tegak. "Selamat tidur Hai Rong. Kita sebentar lagi akan bertemu," samar terdengar suara Li Jihyun. Bahkan suara tawa gadis itu juga terdengar ditengah kegelapan.
Kaki Li Jihyun menendang kepala Hai Rong memastikan wanita itu sudah pingsan. Sementara kedua dayang yang tengah dikamar menatap jeri. Apa dia akan membunuh wanita ini? Tapi bukankah dia sudah berubah? batin Lien mengamati tubuh Hai Rong yang tergeletak dilantai kayu yang dingin.
Tak ada gerakan dari Hai Rong membuat Li Jihyun tersenyum puas. "Kamu pergilah ke tempat tabib. Katakan padanya aku butuh obat tidur," perintah Li Jihyun yang diangguki dayang yang ditunjuknya.
"Baik yang mulia," jawabnya sebelum berbalik pergi. Dia segera keluar dari kamar Li Jihyun.
"Lien ikat wanita ini agar tidak lepas," ujar Li Jihyun yang diangguki Lien.
"Baik yang mulia," gadis itu juga melangkah keluar. Menyisakan Li Jihyun dan Hai Rong. Dia berjongkok mengamati Hai Rong sambil tersenyum lebar.
"Hai Rong kali ini kamu akan merasakan sakit yang kuderita," gumamnya berdiri tegak saat mendengar suara derap sepatu. Tak lama Lien datang membawakan tali. Mengikat tubuh Hai Rong dengan kuat agar tidak bisa melarikan diri. "Buat dia duduk tegak!" titah Li Jihyun yang diangguki Lien patuh.
__ADS_1
Lien mengangkat tubuh Hai Rong dengan posisi duduk. Wanita itu masih keadaan pingsan. Matanya terpejam rapat. Namun deru napasnya masih terdengar tanda wanita itu masih hidup. "Lien bawakan aku air seember penuh," ujar Li Jihyun lagi.
"Baik yang mulia," jawab Lien sebelum pergi meninggalkan kamar. Didepan pintu tanpa sengaja berpapasan dengan Fen. Raut wajah gadis itu tampak khawatir. Lien terus berjalan mengabaikan Fen yang berdiri tak jauh darinya.
"Tunggu sebentar," pinta Fen dengan suara memelas. Langkah Lien terhenti sejenak. Dia membuang napas kasar. Fen berjalan mendekati punggung Lien. Wanita itu sedikit pun tak berniat membalikkan badannya. "Maafkan saya menganggu perjalanan anda. Ada yang mau saya tanyakan. Bagaimana keadaan nona Hai Rong?" tanya Fen dengan gugup. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuh.
Lien berbalik menatap Fen tajam. Fen langsung menundukkan kepala saking takut. Sedikit pun tak berani bertatapan dengan Lien. "Yang mulia selir agung sedang membicarakan sesuatu yang penting pada nona Hai Rong," jawab Lien ketus. Dia membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya. Terdengar gerutuan dari Lien.
Fen menoleh ke pintu kamar Li Jihyun. Dia hendak masuk tapi ragu. Dia tak mau membuat masalah semakin runyam. Diputuskannya menunggu sampai Hai Rong keluar.
"Kamu ... dayang yang bersama nona Hai Rong?" tanya seseorang mengejutkan Fen. Gadis itu membalikkan badan dan bertatapan dengan dayang yang bekerja dibawah naungan Li Jihyun. Dayang itu tampak membawa bungkusan kertas. Dahi Fen berkerut.
Itu tidak terlihat seperti teh. Tapi itu apa? Apakah obat? pikir Fen menatap bungkusan kertas ditangan dayang itu. Kepalanya sampai miring memperhatikannya.
"Maaf saya sudah lancang tadi," ucap Fen sedikit membungkukkan badannya.
"Apa kamu menunggu nona Hai Rong?" tanya dayang itu yang langsung diangguki Fen. Dayanh itu menghela napas. "Kembalilah dulu. Yang mulia selir agung sedang membicarakan sesuatu dengan nona Hai Rong. Mungkin butuh waktu lama," bual dayang itu membuat wajah Fen khawatir. Dia menatap ke arah pintu. "Sebaiknya kamu cepat kembali sebelum yang mulia selir agung melihatmu. Yang mulia bisa marah besar nanti," lanjutnya.
"Baiklah. Saya permisi dulu," pamit Fen membalikkan badan. Dia melangkah pergi jauh meninggalkan dayang itu. Dayang itu menatap punggung Fen yang perlahan jauh dan menghilang. Dia menghela napas berat. Raut wajahnya berubah iba saat kepalanya tertoleh ke pintu. Wanita yang malang, batin dayang itu menggelengkan kepala.
Dia melanjutkan perjalanannya menuju kamar Li Jihyun. Tak lupa mengetuk pintu yang tertutup rapat.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Masuklah," ucap suara yang terdengar dari balik pintu. Dayang itu menggeser pintu. Tampak ruangan remang yang diterangi cahaya matahari melalui kisi kisi jendela. Dia berjalan tanpa ragu mendekati Li Jihyun.
"Yang mulia ini obat yang anda minta," ucap dayang itu menyodorkan bungkusan obat tidur. Mata Li Jihyun menatap obat itu.
"Seduh sekarang Jing," perintah Li Jihyun.
"Baik yang mulia selir agung," jawabnya patuh. Sebelumnya dia melirik Hai Rong yang tersandar di tembok dalam keadaan pingsan. Dia bergegas pergi menyeduh obat ke dapur.
Tak lama Lien memasuki ruangan membawa seember air penuh. "Yang mulia ini seember air yang anda minta," ujar Lien mengalihkan atensi Li Jihyun.
"Lien bawakan aku cambuk," perintah Li Jihyun mengulurkan tangan diudara. Lien mengangguk cepat dan segera bergegas pergi.
"Yang mulia ini cambuk yang anda pinta," ujar Lien yang muncul dibelakang Li Jihyun. Dayang itu sangat cepat menemukan cambuk yang diminta Li Jihyun. Gadis itu kini tersenyum mengambil cambuk ditangan Lien. Dia mengelus pintalan benang itu.
"Dimana Jing?" tanya Li Jihyun menatap ke arah pintu.
"Sebentar lagi Jing akan segera tiba," jawab Lien yang disahut deheman Li Jihyun.
"Ikat dia ke kursi."
"Baik yang mulia selir agung," sahut Lien. Dayang itu berusaha mengangkat tubuh Hai Rong yang masih belum sadarkan diri. Dia meletakannya ke kursi dengan hati hati. Dengan cekatan mengikat erat tubuh Hai Rong ke kursi. Senyuman Li Jihyun semakin melebar. Lien yang berdiri tak jauh dari Hai Rong segera menepi. Cambuk ditangan Li Jihyun terangkat diudara.
Ctas!
__ADS_1