Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 34


__ADS_3

"LONG JIAN!" seru seseorang mengalihkan atensinya. Anak laki laki berusia 7 tahun itu mengerjapkan mata saat seorang gadis seusianya datang menghampirinya. Gadis itu berhenti tepat didepannya. Napas gadis itu terengah engah.


"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika orangtuamu melihatmu berlarian?" protes Long Jian dengan kepala celingak celinguk. Tapi tidak ada satu pun orang disana kecuali mereka berdua. Gadis itu mengibaskan tangan diudara. Deru napasnya kembali teratur.


"Tidak masalah. Tidak akan ada yang melihat kita," ucap gadis itu mengerlingkan mata jenaka. Membuat wajah Long Jian merona kemerahan. Dia memalingkan wajah ke sembarang arah. Gadis yang melihat rona yang muncul di wajah Long Jian tertawa geli.


"Apa kamu malu?" goda gadis itu menyenggol lengannya. Suara decakan terdengar.


"Siapa bilang?" ketusnya berjalan lebih dulu. Gadis itu semakin tertawa lebar. Langkah Long Jian semakin cepat memasuki hutan. Meninggalkan gadis itu sendirian yang masih tertawa.


"Bilang saja. Kenapa harus malu?" celetuk gadis itu menyusul langkahnya. Kedua anak itu terus berjalan menyusuri hutan. Hutan yang diselimuti kabut itu membuat jarak pandang terhalang. Tapi tidak menganggu langkah kedua anak itu. Mereka berdua saling berpegangan agar tak terpisah. "Long Jian apa tempatnya masih jauh?" tanya gadis itu lagi. Tubuhnya menggigil saking kedinginan. Long Jian menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan terkejut melihat wajah gadis itu.


Wajah yang semula ceria itu berubah menjadi menyeramkan. Kepala gadis itu berlumuran darah dan wajahnya memucat. Ada banyak belatung bergeliat diwajahnya. Bahkan berjatuhan ke tanah. Long Jian langsung melepaskan pegangan tangannya dengan wajah memucat. "Kenapa? Kenapa kamu meninggalkanku?" tanya gadis itu. Suaranya terdengar berbeda. Tak ada suara yang penuh keceriaan. Justru terdengar serak dan bergema.


"A-Aku ..."


"JAWAB LONG JIAN! KENAPA KAMU MENINGGALKANKU? KENAPA? KENAPA KAMU PERGI? GARA GARA KAMU-"

__ADS_1


"Yang mulia kaisar?" mata Long Jian yang semula tertutup rapat kini terbelalak. Mengejutkan Zhang Liu yang barusan membangunkannya. Pandangan Long Jian mengedarkan sekitar dan hela napas terdengar. Jantungnya berdegup keras. "Apa anda baik baik saja?" tanya Zhang Liu dengan takut.


Pandangan Long Jian beralih menatap Zhang Liu. Dia berdecak sebal. "Ada apa kamu membangunkanku?" tanya Long Jian menopang dagu. Keringat dingin membasahi dahi. Tapi Long Jian tak peduli dan menatap dingin Zhang Liu.


Jakun Zhang Liu naik turun. Dia menelan ludah susah payah. "Ki-Kita sudah sampai yang mulia."


Long Jian menyibak tirai yang menutupi jendela kereta kuda. Didepan matanya ada sebuah bangunan yang terbilang mewah. Dengan pintu gerbang menjulang tinggi dan kokoh. Dia kembali menutup tirai begitu selesai mengenali bangunan didepan mata. Tak lupa peluh dingin yang menetes diusap dengan ujung hanfu.


Barulah pria berjubah kebesaran itu turun dari kereta kuda. Semua prajurit tampak berbaris rapi menyambut Long Jian. "Selamat datang yang mulia kaisar," sapa Gong Jihon yang berdiri didepan gerbang. Pria renta itu membungkuk hormat diikuti cucunya. Long Jian menatap datar dan melewati kedua orang itu.


"Antarkan aku ke tempat Jin berada," titah Long Jian mengejutkan kedua pria bermarga Gong itu. Mereka saling tatap dalam diam. Alis mata Long Jian naik sebelah. "Apa kamu tidak mendengar perintahku Gong Jihon?" tanya Long Jian dingin sambil mendelik tajam.


"Sepertinya luka ditubuhmu sudah membaik," kata Long Jian mendekatinya. Li Jihyun membungkuk hormat saat berhadapan dengan Long Jian.


"Berkat belas kasih anda, luka yang saya derita cepat sembuh." Kedua pria bermarga Gong menatap Long Jian tak berkedip.


"Kakek bukankah dia terluka parah?" bisik Gong Heng lirih. Dia tak mau suaranya terdengar oleh Long Jian yang berada tak jauh dari mereka. Gong Jihon menelan ludah. Matanya lekat menatap Li Jihyun yang berdiri tegak. Seolah luka yang dideritanya tidaklah seberapa.

__ADS_1


"Kakek juga tidak tau," jawab Gong Jihon kebingungan. Pasalnya dia baru saja mengalami luka parah tapi sekarang berdiri dengan gagah. Apakah dia tak bisa merasakan sakit? batin Gong Jihon.


Long Jian mendengkus. Matanya menelisik tubuh Li Jihyun. Meski tubuhnya dibalut perban tapi dia tak menunjukkan keluhan sakit. Justru tampak santai. Semakin diperhatikan mereka semakin mirip. Atau itu cuma perasaanku saja, batin Long Jian menatapnya lekat.


"Yang mulia maaf memotong pembicaraan kalian. Tapi sebaiknya anda masuk ke dalam. Diluar sangat dingin," ucap Zhang Liu membuat mata Long Jian langsung beralih menatapnya. Ditatap begitu membuat Zhang Liu gemetar ketakutan. Pandangan pria itu langsung tertunduk dalam.


Li Jihyun tersenyum tipis. Dia memperhatikan Zhang Liu yang berada dibelakang Long Jian. Jadi dia orang yang selama ini berada disisi Long Jian. Kalau tidak salah dengar namanya Zhang Liu, batin Li Jihyun.


"Apa yang dikatakan orang disebelah anda benar. Sebaiknya kita masuk ke dalam. Ayah dan keponakan saya sampai menyiapkan jamuan hangat untuk menyambut kedatangan anda," ucap Li Jihyun mencairkan suasana. Atensi Long Jian kini beralih menatap Gong Jihon.


Mereka menyambutku dengan baik? Hm, apa lagi yang kalian rencanakan? batin Long Jian. Dia menatap balik Li Jihyun yang masih berdiri di ambang pintu. "Pandu jalannya," titah Long Jian yang diangguki Li Jihyun.


"Silakan ikuti saya yang mulia," jawab Li Jihyun membungkuk hormat. Dia berbalik dan melangkah terlebih dulu diikuti Long Jian. Dua orang prajurit yang mengawal Long Jian pun turut ikut. Wajah keduanya yang sangar membuat pelayan dikediaman itu bersembunyi saking takut. Pelayan itu cuma berani mengintip dari celah tembok.


Li Jihyun mengantarkan Long Jian menuju ruang makan. Tempat hidangan masakan lezat sudah terhidang. "Silakan duduk yang mulia," ucap Gong Jihon menarik kursi Long Jian. Dia menepi membiarkan Long Jian duduk dikursi itu. Kepulan asap tercium aroma masakan yang lezat. Tapi Long Jian menatapnya datar.


Barulah orang yang berada disana duduk dikursi masing masing. Zhang Liu menatap tak berkedip masakan yang berjajar. Ada banyak masakan yang terhidang. Aroma yang lezat pun tercium menguar memenuhi ruang makan.

__ADS_1


"Kasim Bo," pria yang berdiri di belakang Long Jian sejak tadi memberikan sendok perak dengan tergesa. Pria itu mengambil sendok dan mencelupkannya ke dalam gelas berisi teh. Kemudian mangkuk sup. Matanya memperhatikan lekat warna sendok peraknya. Tak ada perubahan warna yang menandakan makanan tersebut bebas racun.


"Tenang saja yang mulia. Tak ada racun dalam makanannya," celetuk Li Jihyun yang disambut sikutan dari Gong Heng. Tapi gadis itu tak bergeming maupun menunjukka rasa sakit. Barulah Gong Heng ingat kalau Li Jihyun tak bisa merasakan sakit pada tubuhnya.


__ADS_2