
Setelah pemakaman selesai Li Jihyun memutuskan pulang. Dia menaiki kereta kuda yang ditemani Ceng. Sepanjang perjalanan pulang tak ada satu pun yang bicara. Tenggelam dalam pikirannya masing masing. Li Jihyun menopang dagu mengamati pemandangan di luar jendela kereta.
"Apa sudah ada kabar dari yang mulia kaisar?" tanya Li Jihyun memecah keheningan.
"Tidak ada yang mulia selir agung." Li Jihyun membuang napas. Entah kenapa perasaannya kalut seolah diburu sesuatu.
Aku harus bergerak cepat. Satu per satu rencanaku sudah berjalan, batin Li Jihyun.
Kereta terus melaju. Suasana kembali lenggang. Hanya ketukan langkah kuda yang terdengar.
....
Matahari perlahan tenggelam. Langit pun perlahan menggelap. Li Jihyun dan Ceng baru saja tiba di istana. "Ceng siapkan air mandiku," titah Li Jihyun yang diangguki Ceng.
"Baik yang mulia," jawab Ceng segera pergi meninggalkan Li Jihyun. Melihat langkah Ceng yang menjauh. Li Jihyun berjalan ke arah istana utama. Ke arah kanan dari paviliun selir. Gadis itu berjalan melewati lorong istana yang panjang. Di dinding istana tergantung banyak lukisan. Pilarnya yang dicat keemasan pun menjulang tinggi.
Pertama aku harus selidiki siapa pembunuh Hai Rong. Sebelum masuk ke rencana yang lain, batin Li Jihyun terus berjalan menuju ruang kerja Zhang Liu. Dayang dan pengawal yang bertemu dengannya membungkuk hormat.
"Bukankah itu yang mulia selir agung?" bisik salah satu dayang yang terdengar samar. Namun Li Jihyun masih mendengarnya dan tak dihiraukan. Gadis itu terus melanjutkan perjalanannya.
"Iya apa yang dia lakukan disini? Yang mulia kaisar sedang tidak ada diistana utama," sahut temannya. Semakin lama suara bisikan itu sudah tak terdengar. Li Jihyun berbelok di persimpangan dua. Gadis itu belok kanan dan kembali berjalan lurus lagi.
__ADS_1
Tak lama Li Jihyun tiba didepan pintu. Tangannya terulur mengetuk pintu yang tertutup rapat. Namun tak kunjung ada sahutan. Sekali lagi Li Jihyun mengetuk pintu. Apa dia tak diruangannya? batin Li Jihyun mengetuk pintu kerja Zhang Liu tanpa pantang menyerah. Tapi hasilnya nihil. Tak ada sahutan. Gadis itu mencebik kesal. Dia berbalik hendak meninggalkan ruang kerja Zhang Liu. Mungkin dia pergi ke tempat lain, pikir Li Jihyun meninggalkan ruang kerja Zhang Liu.
Wajah Li Jihyun tampak masam menuju kamarnya. Tapi sepanjang jalan ada seseorang yang mengintainya. Bukan seorang tapi lebih. Sejak tadi Li Jihyun menyadarinya. Tapi diabaikannya dan terus berjalan. Ekor matanya melirik ke arah tempat persembunyian mereka. Mereka bersembunyi diatas atap maupun dibalik semak. Bahkan beberapa ada bersembunyi diatas pohon. Li Jihyun menutupi mulutnya dengan ujung hanfu. Sebelah bibirnya terangkat.
Jadi Long Jian masih terus memantauku, batin Li Jihyun. Dia pikir aku bodoh tak menyadari keberadaan mereka, batinnya lagi terus melanjutkan langkahnya.
Sampai tiba di kamar tampak Ceng yang sudah berdiri depan pintu. "Yang mulia air mandi anda sudah siap," Li Jihyun mengangguk dan berjalan masuk diikuti Ceng.
"Ceng keluarlah. Aku ingin mandi sendiri," usir Li Jihyun mengibaskan tangannya. Ceng tanpa banyak tanya menganggukkan kepala dan melangkah mundur.
"Saya permisi dulu yang mulia," pamit Ceng sebelum meninggalkan Li Jihyun sendirian. Dia menutup pintu rapat dan pergi. Sementara tujuh bayangan kaisar yang sedang mengawasi langsung keluar. Pakaian serba hitam mereka terlihat mencolok ditengah sinar matahari. Tapi dengan keahlian mereka. Mereka bersembunyi dibalik bayangan pepohonan. Sehingga tersamar.
Ketujuh orang itu berdiri didepan pintu. Mereka saling tatap satu sama lain. Salah satu dari ketujuh orang itu menganggukkan kepala. Yang dibalas anggukan yang lain.
Tak lama keenam orang yang masih diluar menyusul masuk. Reaksi mereka juga sama sama terkejut.
Kepala Li Jihyun melonggok ke arah belakang ketujuh orang itu. Lantas tersenyum mengejek. "Cuma segini?" gumamnya meremehkan.
"Sialan! Dasar wanita tak tau diuntung. Lepaskan Jing sekarang atau kami akan membunuhmu," ancamnya. Tapi Li Jihyun mengorek sebelah telinga membuat orang yang berada dibarisan depan mengatupkan rahang.
Suara gigi bergemulutuk terdengar. Tapi Li Jihyun sedikit pun tak peduli. "Lakukan jika kamu bisa," tantang Li Jihyun dengan nada mengejek.
__ADS_1
Tangannya terkepal erat. Pedang yang terselip di pinggang segera ditarik keluar. "Kalian cepat bunuh wanita sialan itu! Beraninya darah rendahan sepertinya menginjak Jing," perintahnya yang diangguki keenam orang dibelakangnya. Mereka mengeluarkan pedang.
Mereka merangsek maju. Pedang ditangan teracung ke depan. Li Jihyun tetap duduk tenang membiarkan pedang itu terus mendekat ke arahnya. Sebelah bibirnya terangkat saat melihat pedang itu semakin dekat. Membuat ketujuh orang itu keheranan. "Wanita gila!" rutuk salah satunya yang jaraknya sudah dekat.
Begitu pedangnya semakin dekat. Li Jihyun mengangkat tubuh Jing. Membuat ketujuh orang itu yang hendak mundur tapi gagal. Ketujuh pedang itu telak menusuk tubuh Jing.
Pedang itu menembus tubuh Jing. Darah bercucuran keluar membanjiri lantai. Teriakan kesakitan menyayat hati. "JING!" teriak mereka serempak. Tubuh mereka membeku.
Mata Jing terbuka pelan. "Lihat Jing siapa yang sudah membunuhmu," bisik Li Jihyun ditelinga Jing. Gadis itu terkikik melihat mata ketujuh orang itu.
Pandangan yang kalut dan penuh rasa bersalah. Melihat ada celah Li Jihyun melepaskan tubuh Jing. Tubuh Jing langsung terjerembab di lantai. Li Jihyun segera melompat jauh dari mereka.
"Bunuh gadis itu," ujar salah satu dari ketujuh orang itu. Li Jihyun terus terkikik melihat keputusasaan ketujuh orang itu. Dia sangat menikmatinya. "Maafkan kami Jing," ujarnya mencabut pedang ditubuh Jing. Ringisan kesakitan terdengar. Perlahan mata Jing tertutup rapat. Tusukan pedang itu tepat mengenai alat vitalnya sehingga hidupnya tak bisa bertahan lama.
Dia menggigit bibir bawah melihat pedang yang berlumuran darah Jing. "Xei," panggil temannya lirih.
"Cabut saja pedangnya. Kita tak punya senjata lain selain pedang," ujar salah satu dari ketujuh orang itu yang dipanggil Xei.
Li Jihyun bertepuk tangan menatap Xei berbinar. "Pilihan yang luar biasa Xei," puji Li Jihyun membuat rahang Xei terkatup rapat.
"Gadis gila! Kami pasti akan membunuhmu," ancamnya mengacungkan pedang ke arah Li Jihyun. Tapi gadis itu mengedikkan bahu santai.
__ADS_1
"Coba saja. Kalau kalian ... bisa," kekehnya membuat Xei langsung merangsek maju. Sabetan pedang melayang ke arahnya, mengincar lehernya. Li Jihyun berkelit. Tangannya mengepal erat dan meninju ke arah perut Xei.
Xei terbatuk saat pukulan itu tepat mengenainya. Matanya terbelalak menahan rasa sakit. Xei melompat mundur. Tak lam keenam orang itu merangsek maju. Mereka mengacungkan pedang kearahnya serempak.