
Diraihnya tali yang tidak terlalu panjang itu. Tali berwarna merah itu persis mirip pita di salah satu koleksi hanfunya. Senyuman masih tersungging di bibir ranumnya. Dia balik kanan dan menatap Jing yang masih meronta. Tubuhnya mulai bisa terlepas dari totokan Li Jihyun.
Mata Li Jihyun menatap kagum. "Apa tubuhmu tidak sakit?" tanya Li Jihyun berjalan mendekat. Tubuh Jing sudah mulai bisa bergerak meski sebatas gerakan kecil. Rasa sakit dan nyeri menusuk ke tulang. Dia harus menahannya sekuat tenaga.
Gadis itu berjongkok didepan Jing. Menatap lekat Jing posisi tubuhnya mulai berubah. "Tidak salah kalian menjadi bayangan kaisar. Manusia sekuat ini sangat disayangkan tidak digunakan," ujar Li Jihyun memegang dagu Jing. Jing memalingkan wajahnya. Bukannya kesal Li Jihyun justru bertepuk tangan.
"Efek totokannya sudah hampir lepas. Tapi pasti rasanya sakit, kan?" tanya Li Jihyun mengencangkan tali di tangannya. Mata Jing membulat sempurna. Pikiran buruk melintas di kepala.
Untuk apa yang mulia selir agung menggunakan tali? batin Jing penuh tanya sekaligus takut. Dia menatap ngeri tali itu yang semakin didekatkan kearahnya.
Tok! Tok! Tok!
Gerakan Li Jihyun terhenti. Dia menatap ke arah pintu. Terlihat raut kesal di wajahnya. "Ya-Yang mulia ada masalah darurat," ujar suara di balik pintu. Mata Li Jihyun menyipit. Gadis itu lantas bangkit dan melewati tubuh Jing yang masih kaku. Darah yang mengenangi lantai diinjak Li Jihyun. Menyisakan jejak kaki pada lantai yang dipijaknya. Dia berdiri tepat didepan pintu kamarnya.
"Ada masalah apa?" tanya Li Jihyun penasaran. Gadis itu masih belum membuka pintunya.
"Nona Hai Rong ditemukan tewas di kamarnya," ujar dayang dibalik pintu membuat dahinya berkerut.
"Tewas? Bagaimana bisa? Bukankah ada Fen di kamarnya?" tanya Li Jihyun penasaran.
"Saya tidak tau. Tapi Fen menemukannya tergeletak di kamar dalam keadaan sudah meninggal."
__ADS_1
Li Jihyun mendengus namun tak lama senyuman terukir di bibirnya. Ini berita bagus. Aku tidak perlu repot lagi membunuhnya. Tapi siapa yang ikut campur dalam masalahku? Apa mungkin ..., batin Li Jihyun terjeda. Ekor matanya melirik Jing yang terbaring di belakangnya.
"Yang mulia harus kesana. Sekarang semua orang sedang berkumpul."
"Baiklah. Aku akan kesana. Ada sesuatu yang harus kubereskan dulu," jawab Li Jihyun. "Kamu cepatlah pergi," usir Li Jihyun membuat bayangan dayang itu terlihat membalikkan badan. Dia hendak melangkah pergi.
"To ... long," lirih Jing menghentikan langkah dayang itu. Terlihat dayang itu menoleh ke arah pintu membuat Li Jihyun geram. "To ... long," pintanya lagi berharap dayang itu segera merespon.
Li Jihyun membalikkan badan dan menghampiri Jing. Dia memukul tengkuk Jing hingga pingsan.
"Yang mulia anda baik baik saja?" tanya dayang itu lagi mendekatkan tubuhnya didepan pintu.
"Iya. Aku baik baik saja. Sekarang cepat keluar dan jangan lupa panggilkan Ceng kemari," titah Li Jihyun yang diangguki dayang itu.
"Dasar merepotkan," gumamnya menyugar rambutnya. Beruntung dayang tadi adalah dayang penyampai pesan. Bisa berbahaya jika dia ketahuan menyiksa dayang maupun membunuhnya. Tapi apa ruginya? Mereka juga tak peduli dengan kebaikan yang selama ini dia tunjukkan. Yang mereka takutkan cuma sosok buas di kehidupan sebelumnya. Dia mengedikkan bahu. Percuma mengkhawatirkan sesuatu yang tidak ada gunanya.
Dia mulai mengikat tangan Jing dan menyumpal mulut dayang itu dengan gumpalan saputangan. Agar wanita itu tak mengeluarkan suara. Kakinya juga tak lupa diikat dengan sebuah kain panjang yang ditemukan berserakan di lantai.
Dia menatap darah yang mulai mengering. Warna kemerahan mewarnai lantai yang dipijaknya. "Yang mulia ini saya dayang Ceng," seru Ceng dari balik pintu.
"Masuklah," Ceng membuka pintu dan terkejut melihat pemandangan didepannya. Dua rekannya lemah terkulai dan sebuah kepala tergeletak di lantai. Bau amis darah tercium pekat memenuhi rongga hidung.
__ADS_1
Ceng susah payah bernapas. Dia terpukul dan terkejut melihat keduanya yang mungkin disiksa Li Jihyun. Bahkan Jing keadaannya pun memprihatinkan. Dibagian perut Jing terlihat darah merembes. Sedangkan Lien entah apa yang terjadi.
Tapi wanita itu tergeletak bersandar di tembok. Dia menelan ludah susah payah. Hatinya langsung terpicu amarah. "Yang mulia apa yang terjadi? Kenapa kedua teman saya seperti ini?" tanya Ceng marah. Bahunya naik turun saking emosi.
Alis mata Li Jihyun naik turun menatap kedua orang temannya yang tidak berdaya. Dia mengedikkan bahu santai. "Bukankah kamu harusnya bertanya pada mereka bukan padaku? Dimana letak sopan santunmu dayang Ceng?" tanya Li Jihyun penuh penekanan. "Kamu tidak lupa, kan? Bagaimana kedua temanmu terdahulu meninggal di tanganku?" tambah Li Jihyun menyeringai membuat Ceng terkesiap.
Terbayang bagaimana kedua temannya terdahulu tewas di dalam penjara. Padahal mereka mata mata kaisar. Tapi kaisar seolah tak peduli pada mereka dan membiarkan semuanya. Ceng mengatupkan rahang rapat hingga terdengar suara gigi bergemulutuk. "Walau yang mulia kaisar tak peduli padaku. Tapi yang mulia tidak pernah mempermasalahkan perbuatanku pada kalian," ujar Li Jihyun. Tangan Ceng terkepal erat.
"Ceng cepat kuburkan kedua mayat itu. Kepala wanita tua itu dan dayang Lien," titah Li Jihyun santai. Ceng menatapnya lekat. Matanya sampai tak berkedip. Hela napas terdengar. Gadis itu menopang dagunya. "Apa kamu tidak mendengarku, Ceng? Atau kamu mau bernasib sama seperti kedua temanmu?" ancam Li Jihyun membuat Ceng diliputi dilema. Dia menelan ludah. Memantapkan hati yang dipenuhi amarah dan keraguan.
"Baik yang mulia. Perintah anda segera saya kerjakan," jawab Ceng dengan suara bergetar.
Li Jihyun menepuk tangannya. "Bagus. Kerjakan sekarang. Aku harus pergi ke kamar Hai Rong. Huft! Wanita itu sampai akhir pun merepotkanku saja," keluhnya menyeret tubuh Jing ke kamar mandi. Dia berencana akan mengurungnya disana sampai kematian Hai Rong mereda.
Sementara Ceng dengan berat hati membawa mayat Lien dan kepala wanita itu keluar. Menguburnya seperti perintah Li Jihyun. Darah yang berceceran pun sudah dibersihkan.
"Yang mulia saya sudah membereskan semuanya," lapor Ceng yang diangguki Li Jihyun.
"Baguslah. Kamu ikut denganku," perintah Li Jihyun yang diangguki Ceng. Meski wanita itu sesekali melirik ke arah kamar mandi. Tempat Jing dikurung Li Jihyun.
Tunggulah Jing. Aku pasti akan menyelamatkanmu, batin Ceng sebelum menutup pintu rapat. Kedua orang berjalan menuju kamar Hai Rong yang bersebelah dengan kamar Li Jihyun. Hanya terpisah satu kamar.
__ADS_1
Dari luar tampak dayang dan beberapa selir berkumpul. Seruan heboh pun terdengar berisik. Namun begitu salah satu kerumunan itu melihat Li Jihyun sontak dia menepi. Diikuti kerumunan yang lainnya. Mereka membungkuk hormat. Tak ada lagi seruan terdengar saat gadis itu melewati mereka.