Selir Tawanan Kaisar

Selir Tawanan Kaisar
Episode 96


__ADS_3

Wajah Ceng terkesiap. Bibirnya mendadak kelu. Barusan ketua meremehkan kami, gerutu Ceng dalam hati. Gadis itu menarik napas sebelum berdiri tegak. Dia membungkukkan badan. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi yang mulia selir agung lebih kuat dari perkiraan kami," ujar Ceng yang disahut decakan pemuda itu. Tangan Ceng terkepal erat.


"Aku tidak butuh alasan kalian," ujar pemuda itu datar. Matanya menatap lurus Ceng membuat dayang itu gelisah. "Fakta kalian gagal tidak bisa dimaklumi. Sudah banyak rekanmu yang tewas," imbuhnya membuat perasaan Ceng tak karuan. Pandangannya tertunduk dalam. Sedikit pun tak berani mengangkat wajahnya. Perasaan bersalah menyelimuti hati.


Pemuda itu berbalik. "Awasi yang mulia selir agung dan laporkan padaku," ujarnya sebelum pergi meninggalkan Ceng. Pemuda itu terus berjalan lurus.


Ceng mengembuskan napas kasar. Dia menyibak rambut hitamnya. "Bangsat! Bagaimana bisa aku terus melaporkan semua kegiatan yang mulia selir agung? Sedangkan gadis itu saja semakin sulit didekati. Salah bergerak sedikit nyawaku lebih dulu melayang," gerutu Ceng menarik napas dalam dan diembuskan pelan. Dia menatap gundukan tanah itu sekilas. "Aku pasti akan membalaskan dendam kalian," gumamnya berjalan meninggalkan halaman menuju paviliun selir.


Tanpa sepengatahuan Ceng dan pemuda itu ada seseorang yang mengawasi didahan pohon. Dia tersenyum tipis lalu pergi melesat cepat. Aku harus segera melaporkannya, batinnya sumringah.


...


Sinar matahari menyapa Li Jihyun yang baru saja keluar dari kamar. Hari ini dia berencana menemui Zhang Liu. Setelah kemarin mereka belum bertemu. Entah dimana Zhang Liu kemarin sampai tidak bisa ditemuinya diruang kerjanya. Li Jihyun berjalan diiringi Lian. Sejak pagi sikapnya berubah jadi pendiam.


Li Jihyun yang mengetahui sejak awal hanya memperhatikan gelagatnya. Tak ada yang mencurigakan dari Lian. Dia pikir dayang itu pasti akan membunuhnya. Mengingat Li Jihyun membunuh saudara kembarnya, Lien.


Langkah Li Jihyun berhenti didepan pintu ruang kerja Zhang Liu. Pintu itu terbuka sedikit sehingga membuat Li Jihyun melihat bayangan pria berkacamata itu tenggelam dalam tumpukan dokumen. Dia pasti lelah mengurus semuanya, batinnya menghela napas pelan. "Kamu tunggulah diluar. Aku akan berbicara dengan Zhang Liu," ujar Li Jihyun melangkah menuju pintu.


"Baik yang mulia selir agung," jawab Lian lesu. Kepala dayang itu menunduk. Li Jihyun mendorong pintu hingga terbuka lebar. Gadis itu tanpa keraguan memasuki ruang kerja Zhang Liu. Tak lupa sebelumnya dia menutup pintu rapat. Agar tidak ada seorang pun yang bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu sangat sibuk Zhang Liu sampai tak menyadari keberadaanku," tegur Li Jihyun berdiri didepan meja. Pandangan Zhang Liu beralih ke arah wajah Li Jihyun. Matanya mengerjap melihat wajah Li Jihyun.


"Yang mulia selir agung?" serunya kaget. Dia segera bangkit dari duduk dan membungkuk hormat. Li Jihyun menyilangkan tangan diatas dada. Matanya lurus menatap Zhang Liu.


"Bagaimana kabarmu Zhang Liu?" tanya Li Jihyun duduk di kursi dekat meja kerja Zhang Liu.

__ADS_1


"Kabar saya baik yang mulia," jawab Zhang Liu.


"Angkat kepalamu Zhang Liu dan duduklah disebelahku." Kepala Zhang Liu seketik terangkat. Mata mereka bertemu namun Zhang Liu buru buru menundukkan pandangan. Dia berjalan mendekati kursi Li Jihyun.


"Ada yang perlu saya sampaikan yang mulia," ujar Zhang Liu duduk tepat disebelah Li Jihyun. Jantungnya berdegup kencang.


"Bicaralah," ujar Li Jihyun. Zhang Liu menelan ludah. Kepalanya masih tertunduk. Enggan mengangkat wajahnya sedikit pun.


"Saya dengar ketua bayangan kaisar menyuruh dayang anda untuk mengawasi anda," ujar Zhang Liu membuat Li Jihyun terkekeh. Bahkan air matanya sampai keluar. Dahi Zhang Liu berkenyit. Dia menatap gadis disebelahnya dengan tatapan kebingungan.


Kenapa yang mulia selir agung tertawa? Bukankah tidak ada hal yang lucu? batin Zhang Liu memiringkan wajah.


Li Jihyun mengusap ujung matanya yang berair. "Aku sudah tau itu. Sudah sangat lama," ujar Li Jihyun membuat Zhang Liu mengusap tengkuknya.


Sepertinya mereka terlalu meremehkan yang mulia selir agung. Pantas saja mereka semua dibunuh yang mulia, batin Zhang Liu.


"Untuk masalah itu saya sudah menyiapkan jadwal baru. Tapi perlu anda ketahui sebelum dapat suara dari bangsawan anda juga harus terlihat baik didepan rakyat," usul Zhang Liu membuat Li Jihyun mengusap dagunya.


"Bukan hal buruk. Itu hal yang paling mudah," ujar Li Jihyun membuat Zhang Liu terperangah menatapnya.


"Apa yang akan anda lakukan?" tanya Zhang Liu penasaran. Sebelah sudut bibir Li Jihyun terangkat. Gadis itu bersendar pada bantalan kursi.


"Apa aku harus menjelaskan semuanya?" tanya Li Jihyun balik yang digelengkan Zhang Liu.


"Maaf saya sudah lancang menanyakan hal itu pada yang mulia," ujar Zhang Liu dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak masalah. Tapi aku akan melakukan berbagai cara agar rakyat tertarik padaku," ujar Li Jihyun. "Salah satunya membagikan bahan makanan pada mereka yang membutuhkan atau membuka kegiatan amal," cetus Li Jihyun yang diangguki setuju Zhang Liu.


Pria berkacamata itu sampai bertepuk tangan. "Ide bagus yang mulia. Saya sampai tidak memikirkan ke situ," ujar Zhang Liu membuat Li Jihyun tersenyum puas.


"Jadi kapan yang mulia akan melakukan itu?"


"Secepatnya. Maka itu aku membutuhkan bantuanmu."


"Saya pasti akan membantu anda yang mulia. Apapun itu," ujarnya menyunggingkan senyuman.


Ini bisa jadi kesempatanku keluar mencari ahli racun, batin Li Jihyun terpikir suatu ide. Belakangan ini dia sudah lama tidak mengonsumsi racun. Hal itu dikarenakan takut menimbulkan kecurigaan pada dayang dan penghuni istana. Itu sangat membahayakan reputasinya.


"Yang mulia," panggil Zhang Liu membuyarkan lamunan Li Jihyun. "Ada satu hal yang mencurigakan yang mulia," ujar Zhang Liu menatapnya serius. "Ketua bayangan kaisar itu sepertinya tengah merencanakan sesuatu," ujarnya membuat dahi Li Jihyun berkenyit.


"Apakah kamu berpikir kalau ketua itu akan membunuhku?" Zhang Liu menganggukkan kepala membuat Li Jihyun tertawa terbahak bahak. Zhang Liu memiringkan wajah kebingungan. Menatap Li Jihyun penuh tanda tanya.


Memang apa yang lucu? batin Zhang Liu.


Tawa Li Jihyun terhenti. Gadis itu menarik napas dalam. "Dia takkan bisa membunuhku" ujarnya penuh keyakinan.


"Tapi yang mulia dia lebih kuat dari yang anda kira. Bahkan yang mulia kaisar sendiri tak sebanding dengannya," ujar Zhang Liu membuat Li Jihyun terdiam.


Mata gadis itu langsung menatap ke arahnya. "Kamu bercanda? Heh? Bagaimana bisa dia yang lebih kuat dari yang mulia kaisar dijadikan pesuruh? Apa dia sakit jiwa?" tanyai Jihyun menggelengkan kepala. Tak habis pikir mengenai ketua itu.


Zhang Liu menghela napas. "Yang mulia kaisar menjadikan adiknya sebagai tawanan."

__ADS_1


Alis mata Li Jihyun menyatu tajam. Cerita Zhang Liu baginya terdengar tidak masuk akal. Kenapa ketua itu tidak melepaskan adiknya tapi malah tunduk pada Long Jian? Benar benar tidak masuk akal, begitulah pikir Li Jihyun.


__ADS_2