
"Katakan apa yang kamu inginkan?" tanya Long Jian merendahkan suaranya. Tatapan matanya masih tak lepas dari Li Jihyun.
"Jika boleh saya meminta turunkan selir Hai menjadi dayang saya. Kebetulan saya kekurangan dayang," ucapnya membuat Long Jian terdiam sejenak. Dia tampak memikirkan sesuatu. Cepat katakan iya, batin Li Jihyun tak sabaran menunggu jawaban Long Jian.
Sepertinya bukan ide buruk. Akan kulihat apa yang dilakukannya nanti, batin Long Jian. "Baiklah. Mulai sekarang selir Hai diturunkan jabatannya menjadi dayang selir agung Li Jihyun. Aku akan menyuruh pejabat istana menyampaikan perintahku," ucap Long Jian membuat Li Jihyun kegirangan. Tapi gadis itu menyembunyikannya dalam hati.
Bisa gawat jika Long Jian mengetahui reaksinya. Gadis itu memasang ekspresi tenang dan tak lupa tersenyum manis. Long Jian yang melihatnya langsung bergidik ngeri. Namun diabaikan Li Jihyun, yang penting tujuannya tercapai. "Terimakasih yang mulia," ujar Li Jihyun membungkuk hormat yang dibalas decihan Long Jian.
"Melihatmu tenang sepertinya rumor itu tidak benar," ucap Long Jian menaikkan sebelah alis matanya. Matanya memperhatikan raut wajah Li Jihyun sambil tersenyum penuh kemenangan. Melihat amukan gadia itu pasti sangat menyenangkan. Tapi gadis itu lebih pintar darinya. Dia tidak menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Memasang raut wajah yang tenang sambil tersenyum lebar.
"Semua ini berkat perhatian yang mulia. Rasa takut saya berkurang. Terimakasih atas perhatian yang mulia," ucap Li Jihyun sopan membungkuk hormat.
Rahang Long Jian mengeras. Tangannya terkepal erat. Reaksi Li Jihyun berbeda dari perkiraannya. Dia pikir gadis itu akan memasang wajah datar atau memakinya tanpa rasa takut. Tapi Li Jihyun membalasnya dengan elegan dan tenang. Sangat tenang sampai tak menduga jika itu adalah Li Jihyun. Sedangkan Li Jihyun berteriak kegirangan dalam hatinya. Apalagi melihat reaksi Long Jian yang kesal padanya. Rasanya dia ingin tertawa terbahak bahak tapi urung agar Long Jian tak curiga.
Long Jian bangkit dari kursi. Dia menatap Li Jihyun sekilas lalu berbalik. Li Jihyun mengangkat kepalanya saat mendengar suara ketukan sepatu yang menjauh. Dia terkikik geli sambil menutupi mulutnya. Long Jian ini baru permulaan, batin Li Jihyun.
...
Long Jian berjalan cepat melewati lorong istana. Malam semakin larut dan suasana istana semakin sunyi. Hanya Long Jian dan rombongannya yang tersisa diluar. Rombongan dibelakang Long Jian tampak kesulitan mengikuti langkah kakinya.
__ADS_1
Apa yang direncanakannya? Apa dia memang sudah berubah? Atau ada sesuatu yang disembunyikan? pikir Long Jian terus berjalan. Benaknya menerka kemungkinan rencana yang dipersiapkan Li Jihyun. Namun sedikit pun dia tak kunjung menerima titik terang. Tidak mungkin gadis itu semudah itu berubah pikiran kecuali ada sesuatu yang diinginkan, batinnya lagi.
Tak terasa dia tiba di depan pintu kamarnya. Pengawal yang berjaga didepan pintu langsung siaga. Mereka membukakan pintu kemudian Long Jian memasuki kamar ditemani dua orang dayang. Kedua dayang itu bertugas membukakan hanfu, memandikan sampai mengganti hanfu baru. Barulah kedua dayang itu keluar jika kaisar tidak ada lagi yang dibutuhkan.
Pria itu berbaring memakai hanfu serba putih. Pikirannya menerawang jauh. Akan kupastikan dulu rencana Li Jihyun. Aku takkan membiarkan gadis itu hidup tenang, tekadnya dalam hati. Dia menyeringai lebar.
....
"Atas titah yang mulia kaisar, selir Hai Rong diturunkan jabatannya menjadi dayang yang mulia selir agung." Seketika tubuh Hai Rong membeku. Pupil matanya bergetar. Fen yang berada didekatnya terperangah kaget. Dia menatap Hai Rong yang langsung terduduk lemas.
"I-Ini tak mungkin. Pasti ada kesalahan," racaunya memegangi rambutnya. Pejabat yang membawa gulungan kertas itu menghela napas. "Apa anda percaya? Yang mulia kaisar tidak mungkin melakukannya." Kepala pejabat itu menggelengkan. Dia menutup kembali gulungan yang dibawanya.
"Tidak! HENTIKAN!" teriak Fen yang diabaikan prajurit. Mereka melemparkan barangnya keluar dari kamar. "TIDAK! KUMOHON JANGAN LAKUKAN!" pinta Fen dengan suara lantang. Dia melirik ke arah Hai Rong yang masih terpaku. Sepertinya wanita itu masih terpukul.
"Jangan sisakan apapun. Buang semuanya," ucap pejabat itu tak kalah lantang. Pejabat itu menatap Hai Rong yang masih didalam kamar. "Anda silakan keluar dari sini," usir pejabat itu tapi Hai Rong tak bergeming. Dia masih duduk disana
"Tuan pasti ada kesalahan. Tidak mungkin yang mulia mengusir nona Hai Rong," ucap Fen yang sudah kelelahan melarang prajurit itu. Mereka bekerja dengan cekatan. Hingga semua barang pun terkumpul.
"Semua sudah dibuang tuan," lapor salah satu prajurit itu membuat Fen menelan ludah susah payah.
__ADS_1
"Nona sebaiknya kalian pergi dari sini!" tegasnya dengan intonasi tinggi. Fen itu menggelengkan kepala.
"Tidak. Kami takkan pergi dari sini." Pejabat itu menghela napas lagi. Dia melirik prajurit yang sudah berkumpul. "Seret mereka keluar!" ujarnya yang diangguki patuh keempat prajurit.
"LEPASKAN! LEPASKAN KAMI!" teriak Fen berusaha meronta. Tiap dua prajurit memegangi lengannya dan menyeret keluar dari ruangan itu. Mengabaikan teriakan Fen yang memekakkan telinga. Kedua wanita itu sudah berada diluar. Pejabat itu menutup pintu dan menguncinya. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Fen yang terus menggerutu.
Hai Rong meraung kencang. Dia menangis tersedu sedu. Tangisannya menimbulkan keributan di paviliun selir. Beberapa dayang melirik ke arah kamar Hai Rong. Sesekali pejabat yang baru saja melangkah pergi.
"Nona Hai tenanglah," bujuk Fen yang sudah mendekati Hai Rong. Namun Hai Rong melotot lebar ke arahnya. Wajah Fen langsung memucat. Gadis itu mundur selangkah. Pandangannya langsung menunduk.
Kepala Hai Rong tertoleh ke depan. Dayang yang tadi berkerumun seketika lari tergopoh. Bahkan salah satunya ada terjungkal saking terkejut sekaligus takut.
"Aku akan membalaskan perbuatanmu wanita ******!" teriak Hai Rong yang ditertawakan Li Jihyun. Gadis yang memakai hanfu kebiruan itu terkekeh pelan. Dia bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari kamar Hai Rong. Dia menyilangkan tangan diatas dada. Senyuman semakin mengembang dibibir.
Tidak buruk juga memanfaatkan kaisar bodoh itu, batin Li Jihyun membalikkan badan. Semilir angin berembus pelan. Dia yang hendak pergi jadi urung. Kepalanya mendongak ke atas pohon tadi tempat persembunyiannya. "Aku tau kamu ada disana Zhi Shen," ucapnya dingin.
Tak lama dedaunan yang ada dipohon itu bergoyang. Li Jihyun segera mundur. Tak lama seseorang berjubah kehitaman itu melompat turun berdiri tepat dihadapan Li Jihyun.
Dia tersenyum lebar. Sangat lebar sampai terasa mengerikan. Pria itu menepuk tangannya berulang kali. "Hebat! Bravo! Memang insting sekelas pembunuh bayaran tidak perlu diragukan lagi," pujinya yang dibalas tatapan datar Li Jihyun.
__ADS_1
"Aku tak butuh pujianmu. Katakan apa tujuanmu datang menemuiku?" tanya Li Jihyun dingin.