Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 11. Kunjungan Tengah Malam


__ADS_3

Arya terlihat berjalan melewati lorong apartemen, hampir sedikit lagi tiba di depan kamar Alexa. "Tuh cewek sulit ditebak," batinnya, dan terus berjalan sambil melirik kearah pintu kamar Alexa.


Lucas nampak tertidur selagi berada dalam gendongan Arya. Rasa lelah bayi tersebut dihabiskan dengan kehebohannya saat menaiki kereta mini.


"Lucas pasti ngompol. Ganti dulu popoknya deh, baru mandi," ucap Arya, sesaat setelah masuk kedalam kamar.


Arya perlahan membaringkan tubuh Lucas ke atas ranjang. Ia kemudian membuka celana pendek sang bayi, melepaskan diaper yang telah dipenuhi oleh kotoran feses bayi tersebut.


...[Host. Besok akan ada misi penting yang harus kau jalani. Segeralah beristirahat]...


"Iyaaa." Arya membalas perintah sistem, selagi meraih sebuah diaper baru dari dalam lemari. "Kira-kira misi apa yah?" tanyanya.


...[Rahasia. Tunggulah sampai esok pagi]...


Arya spontan mendengus. "Baiklah kalau begitu," ucapnya, lalu mengganti diaper Lucas secara perlahan.


...[Host, ada satu hal yang perlu kau ketahui]...


"Iyaa?" Arya lansung menoleh kearah depan, rasa penasaran kembali datang menyelimuti pikirannya.


...[Kau tidak boleh melakukan hubungan khusus dengan seorang wanita, sampai usia Lucas melewati lima tahun]...


Selepas menutupi tubuh Lucas dengan selimut ranjang, Arya lansung berjalan menuju kursi dekat jendela. "Maksudnya gimana nih?" tanyanya.


*Sistem mendengus*


...[Kau dilarang berpacaran, ataupun berencana untuk menikah sebelum bayimu menginjak usia enam tahun]...


Pandangan mata Arya seketika menatap serius kearah Lucas, yang nampak tertidur pulas. "Oh gitu. Kalau misalkan gua melanggar aturan itu, bagaimana?" tanyanya kembali.


...[Tidak apa-apa. Hanya ada sedikit hukuman yang akan kau terima nantinya. Aku menyarankan, jika kau mencoba menaruh perasaan terhadap seseorang, carilah yang benar-benar peduli serta menyayangi bayimu]...


Arya spontan mendengus. "Tentu saja! Mana mungkin gua jatuh hati sama seseorang yang gak mau peduli, juga gak mau sayang sama Lucas!" tegasnya.


...[Bagus! Itulah prinsip yang sangat kuharapkan darimu, host]...


Tiba-tiba, perut Arya mendadak berbunyi. Angin seketika berhembus kencang melewati celah jendela yang sedikit terbuka, membuat Arya lansung berdiri untuk menutup rapat-rapat jendela tersebut.


"Lagi-lagi ... gua lupa beli makanan," keluhnya dengan menunduk.


...[Host]...


Arya pun sontak menoleh kearah televisi. "Kayaknya ada pertandingan bola yang seru nih. Pesen makanan dulu ah," ucapnya, lalu meraih ponselnya dari dalam saku celana.


...[Host, jangan pedulikan soal makanan. Aku bisa menga—]...


"Nasi goreng, mie ayam, sate kambing ... pizza hat, QFC ...." Pandangan mata Arya menatap cermat pada layar ponsel, tanpa menyadari sama sekali perkataan sistem. "Beli apa yah yang enak ...." ucapnya.


...[Terserah kau sajalah, host]...


"Kenapa sistem? Tadi kamu ngomong apa?" tanya Arya, seraya berhenti mengusap layar ponsel yang digenggamnya.


...[Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja]...


"Oke."


Arya lansung berjalan meraih sebuah remot yang tergeletak diatas meja TV. Sedangkan meja bersama TV tersebut baru saja muncul setelah Arya berhasil menyelesaikan misi sebelumnya.


Selepas menyalakan TV, Arya seketika terduduk sila diatas lantai. "Dulu gua jarang banget nonton TV, karena saking sibuknya ngejalanin kegiatan syuting yang begitu padat," batinnya, menatap serius pada layar TV.


...[Ya, host. Kau dulunya adalah seorang superstar. Kini, lupakan semua kenangan tentang hidupmu dimasa lalu, kau harus lebih fokus untuk merawat bayimu]...


"Iyaa ... gua paham kok," balas Arya.

__ADS_1


Sebuah tombol pada remot TV pun terus menerus ditekan Arya, mengganti saluran TV yang benar-benar ingin ia tonton.


Tiba-tiba.


"Loh? Kayak kenal mukanya." Pandangan mata Arya lansung menatap fokus pada wajah seseorang, yang nampak tersorot dalam program acara saluran TV. "Muka-nya gak asing, mirip Alexa! Apa jangan-jangan Alexa?!" duga Arya.


...[Benar. Alexa adalah artis pendatang baru. Dia terkenal lewat program sinetron yang sedang mengudara saat ini]...


"Haa?!" Arya pun sontak berdiri, berkacak pinggang dengan sebelah alis yang meninggi. "Kenapa gak bilang dari tadi?!" keluhnya.


...[Kau tidak bertanya, aku pun tak berkewajiban untuk memberitahukannya]...


(*tok tok tok*)


Arya spontan menoleh kearah pintu kamar, sesaat setelah mendengar seseorang mengetuk pintu tersebut. "Perasaan baru di pesen, udah nyampe aja," ucapnya, lalu berjalan menuju pintu kamar.


Setelah pintu kamar terbuka lebar-lebar, muncul kehadiran seorang gadis berwajah manis, lengkap dengan setelan rambut pendek serta tirai poni yang menutupi keningnya.


"Selamat malam, mas," sapa gadis tersebut.


Arya memicingkan mata, berusaha mengingat sosok dibalik wajah gadis yang tengah berdiri dihadapannya itu. "M—maaf. Siapa yah?" tanyanya.


Sang gadis, spontan menjulurkan jabatan tangan. "Aku Reina Pratiwi, petugas kasir yang tadi mas temuin. Mas udah lupa yah?" jawab sang gadis, sambil melemparkan pertanyaan.


"Hmm ... ah! Saya baru ingat! Aku kira siapa tadi, abis penampilannya beda," jawab Arya spontan.


Sang gadis hanya tersenyum, berharap Arya segera membalas jabatan tangannya.


Arya akhirnya menjabat tangan sang gadis. "Arya Pratama." Kelembutan telapak tangan sang gadis pun dirasakannya, lembut, halus dan terasa sejuk saat dipegang. "Kalau boleh tau, Reina ada urusan apa yah dateng kesini?" tanya Arya.


Reina Pratiwi, sang gadis yang bekerja sebagai kasir itu pun lansung menunjukan sesuatu yang ia sembunyikan dibalik punggung, kepada Arya.


"Ini apa?" tanya Arya, menatap pada sebungkus sesuatu yang disodorkan Reina, sesekali mencium aroma sedap dari bungkusan tersebut.


Arya sempat ragu, akan tetapi hatinya menolak untuk tidak menerima perbuatan baik yang ditunjukkan Reina. "Serius ini buat aku? Aku malah jadi gaenak udah ngerepotin kamu," ucapnya, lalu meraih bungkusan makanan yang diberikan Reina.


"Gapapa kok mas gapapa, hehehe." Reina menggeleng pelan, kedua tangannya melambai-lambai dihadapan Arya, tanpa pernah melepaskan senyuman.


Arya seketika mengamati dengan cermat, dari ujung kaki sampai ujung kepala Reina. "Kamu tau darimana kalau aku tinggal disini?" tanyanya, menatap penuh heran.


Reina lansung merapatkan kedua telapak tangan dibelakang. "Kan mas sendiri yang ngasih tau loh. Masa masnya udah lupa ...." jawab gadis berkaus putih, serta celana jeans berwarna biru yang nampak ketat tersebut.


...[Kau sendiri yang memberitahukannya, host]...


Arya lansung mendengus. "Kan situ yang nyuruh gua buat ngasih tau," balasnya dalam hati, merespon perkataan sistem.


"Mass?" himbau Reina.


Arya kembali mendengus, sambil menggeleng-geleng. "Yaudah. Makasih yah Reina. Kalo mau mampir dulu ke dalem," ucapnya, melanjutkan perbincangan dengan Reina.


Perkataan itu, sontak membuat rona di pipi Reina menjadi merah. Ia lansung menunduk malu, melirik-lirik cemas kearah bawah. "G—gausah mas. Aku juga niatnya cuman mau ngasih itu aja," balas Reina.


Seketika muncul kehadiran sang kurir yang turut bergabung di antara mereka. "Permisi ... saya mau anter makanan untuk pak Arya," ucap kurir tersebut.


"Oh iyaa! Berapa bang?" tanya Arya.


"55 ribu pak," jawab sang kurir.


"Oke, bentar yah." Arya lansung merogoh saku celana, mengeluarkan uang berwarna merah untuk kemudian diserahkan pada sang kurir. "Kembaliannya, simpan aja bang," ucapnya.


"Wahh ... kebanyakan nih pak," tolak sang kurir.


"Udah gapapa bang, ambil aja." Arya berusaha meyakinkan sang kurir.

__ADS_1


"Yaudah. Terimakasih pak!" Sang kurir sedikit membungkuk berulang-ulang, lalu berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar Arya.


Arya terus tersenyum seraya menyaksikan sang kurir menjauh dari pandangannya.


Reina justru termenung, tak pernah sedikitpun berkedip saat menatap wajah Arya.


"Reina? Kenapa bengong?" tanya Arya, setelah meluruskan pandangannya kearah Reina.


Reina lansung berkedip-kedip. "Gapapa mas, gapapa!" balasnya.


Arya sempat menoleh pada sekantung makanan yang telah ia beli. "Karena Reina udah baik, makanan ini buat dia aja deh," batinnya.


...[Hmm ... niat yang sangat baik host! Pertahankan!]...


Sekantung makanan tersebut pun sontak disodorkan Arya kepada Reina. "Nih, ambil buat kamu Reina," katanya.


"K—kenapa dikasih ke aku mas? Itu kan buat makan malam kamu loh." Reina berusaha menolak apa yang diberikan Arya.


"Udaah ambil aja. Soalnya kamu udah ngasih makan malam buat aku," jelas Arya, sambil mendekatkan sekantung makanannya ke tangan Reina.


Mau tidak mau, Reina mencoba meraih makanan tersebut. Alangkah senangnya ia saat mendengar perkataan Arya barusan. "Yaudah, aku ambil yah mas. Makasih," ungkapnya, lalu kembali melebarkan senyuman manis.


"Sama-sama," balas Arya.


Keheningan sempat pun terjadi di antara mereka, yang sesekali saling membalas senyuman sebagai bentuk respon keduanya.


"Kamu pulang kemana Reina?" tanya Arya.


Reina spontan terbelalak. Pertanyaan itu justru membuatnya tergesa-gesa mengeluarkan sebuah ponsel, dari dalam tas kecil yang menggantung dilengannya. "Astaga. Aku lupa sekarang udah jam berapa." Reina lansung terkejut saat menatap indikator jam pada layar ponsel. "Gawat! Aku harus cepet-cepet pulang!" gumamnya.


"Sekarang udah jam berapa?" tanya Arya dalam hati.


...[Pukul setengah sebelas malam]...


"Kamu pulang kemana? Ini udah malem banget. Bahaya kalo kamu pulang send—"


Belum sempat Arya melanjutkan perkataan, Reina tiba-tiba bergegas meninggalkannya.


"Aku pulang dulu yah mas Aryaa! Terimakasih makannya!" sorak Reina dengan tersenyum, melambai-lambai sambil menolehkan wajahnya kearah Arya.


"Tunggu!" Arya mencoba mengejar kepergian Reina, merasa khawatir dengan gadis tersebut.


Akan tetapi, langkah kaki Arya mendadak terhenti secara misterius.


...[Biarkan saja host]...


"Kenapa kaki gua gak bisa jalan? Kasian Reina pulang sendirian," keluh Arya, mendapati kedua kakinya sulit untuk digerakkan.


...[Percuma kau mengejarnya, sebab gadis itu juga tinggal di apartemen ini. Tepatnya di mess khusus karyawati mall yang terletak di lantai satu]...


"Oohhh ... bilang lah kalau begitu." Arya memahami maksud sistem, dan mengurangkan Kembali niatnya untuk mengejar Reina.


Seketika terdengar suara tangisan Lucas dari dalam kamar. Bayi tersebut sepertinya terkejut saat tak mendapati kehadiran Arya.


...[Host, segera buatkan susu untuk Lucas]...


Tiba-tiba, tubuh Arya sedikit melayang. "Loh, kenapa nih?" Ia mendapati tubuhnya perlahan berbalik, menghadap kearah pintu kamar. "Jangan bikin kaget kenapa," keluhnya, menyadari bila perbuatan tersebut adalah ulah sistem.


...[Maaf, host. Ayo cepat. Lucas sudah menantimu]...


"Iya iyaaa ...." Arya akhirnya dapat menggerakkan kembali kedua kakinya, dan seketika berjalan tergesa-gesa masuk kedalam kamar. "Maaf yah Lucas ... papa tadi ada sedikit urusan," ungkapnya, sambil menutup pintu kamar.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2