
"Daahh dede Lucaas! Nanti kita main lagi yaaah!" Reina berpamitan sambil melambai-lambai tersenyum, lalu bergegas pergi meninggalkan kamar Arya.
"Dadah Tante Reina. Makasih yah kuenya," ungkap Arya, melambai-lambaikan tangan mungil Lucas ke arah Reina.
Arya segera menutup pintu kamar, setelah sebelumnya merasa senang Reina mengunjunginya menemani Lucas bermain, juga membawakan sekotak kue tart kesukaan mereka.
...[Host, ada misi kali ini]...
"Misi apa?" tanya Arya yang telah terduduk di sisi ranjang, mengusap-usap mulut Lucas yang berada dalam pangkuan.
Dengan lembut Arya membersihkan sisa krim yang menempel tak karuan di mulut Lucas. Bayi tersebut pun terlihat senang, saat dimanjakan oleh sang Ayah.
...[Di lantai satu mall, akan diadakan acara lomba khusus ayah dan balita. Kau harus segera mendaftar]...
"Sekarang? Lomba seperti apa emangnya?" tanya kembali Arya, terlihat mencubit gemas pipi Lucas dengan lembut.
...[Ya. Lomba itu dikhususkan untuk ayah dan bayi berusia lima tahun kebawah, yang akan berpasangan menjadi peserta lomba. Ada beberapa segmen lomba dalam acara tersebut, dan misimu kali ini cukup mendaftar sebagai peserta bersama Lucas, tak diwajibkan menjuarainya]...
"Ohh ... cuma daftar doang? Oke deh." Arya lansung meraih ketiak Lucas, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Kali ini kita harus ikut lomba, mudah-mudahan kita juara yah Lucas," harapnya, menatap wajah riang sang bayi.
"Pwapwaa!" Lucas pun membalas perkataan Arya dengan imutnya.
...[Host, gunakanlah pakaian yang seragam warnanya. Itu akan menambah nilai keakraban kalian]...
"Oh tentu saja. Warna biru adalah kesukaanku," balas Arya.
Dengan penuh semangat Arya berganti pakaian, juga penuh perhatian saat mengganti pakaian Lucas. Mereka terlihat mengenakan pakaian yang serupa warna, didominasi warna biru.
Kini sang bayi telah terduduk di depan perut Arya, menghadap kedepan dengan terbelenggu kain gendongan yang sangat nyaman dan empuk untuk bayi seusianya.
"Oke!" Arya memegang gagang pintu kamar, terlebih dahulu menghela nafas dalam-dalam. "Ayo kita pergi, let's go!" serunya, lalu membuka pintu kamar.
"Oooo!" Lucas pun spontan meniru seruan Arya, terlihat bergembira penuh senyuman ketika sang ayah membawanya bergegas pergi menuju mall.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lantai satu mall.
Terdapat sebuah panggung besar yang terletak di depan dua eskalator, menjadi pemicu hiruk pikuk suasana seluruh pengunjung yang berkerumun disekitarnya.
"Disitukah acara lombanya?" tanya Arya dalam hati, selepas memasuki pintu utama mall.
...[Ya. Terlihat ramai bukan? Segera daftarkan dirimu dan Lucas, host]...
Arya spontan mempercepat langkah kakinya, menuju meja pendaftaran yang terletak tepat di samping panggung.
"Semoga gak jadi pusat perhatian. Yang penting fokus sama misi kali ini," batin Arya.
...[Tenang saja host. Aku akan membantu]...
...[Penurunan tingkat nervous, -50]...
Rasa gugup dalam diri Arya seketika memudar, sesaat setelah sistem melakukan sesuatu padanya.
Arya kini merasa lega, leluasa mengantri untuk mendaftarkan diri menjadi peserta lomba.
Terlihat beberapa pasangan ayah dan balita yang turut mengantri, berniat menjadi peserta juga tak sedikit dari mereka yang berambisi untuk menjadi juara.
Setelah barisan antrian berkurang, Arya mendapatkan gilirannya.
"Namanya siapa Pak?" tanya salah seorang wanita yang menjadi panitia lomba, terduduk dibelakang meja sambil memegang pulpen.
"Arya Pratama," jawab Arya.
"Umurnya Pak?"
Arya spontan termenung. "Dua lima, atau dua delapan?" tanyanya dalam hati.
...[Dua puluh lima tahun]...
"Dua puluh lima tahun," jawab Arya, membuat sang panita segera mengisi lembar formulir.
"Oke. Nama anaknya dan umurnya Pak?" tanya kembali sang panitia.
"Lucas Hikaru Pratama, enam bulan berjalan," jawab Arya.
"Loh, enam bulan udah sebesar ini? Apa gak salah Pak?" Sang panitia sempat merasa curiga, meski tetap mengisi lembar formulir.
Arya hanya terdiam, sepertinya merasa bosan dengan pertanyaan itu.
"Ini yah pak." Sang panitia menyodorkan dua kartu peserta, bertuliskan sebuah angka sesuai urutan pendaftaran. "Mas tunggu dibelakang panggung yah. Nanti diarahkan oleh panitia lain," jelasnya.
"Oke." Arya lansung meraih kartu pesertanya, dan segera bergegas menuju belakang panggung lomba.
Meski lomba belum dimulai, Arya sempat menjadi pusat perhatian para ibu-ibu yang tengah berdiri di dekat panggung, sejak pria itu mengantri hingga berjalan menuju belakang panggung.
"Kok mukanya kayak kenal yah aku? Kayak artis film-film kesukaanku," duga salah seorang ibu-ibu.
"Iya yah. Mirip Arya Pamungkas mukanya," ucap salah seorang ibu-ibu lainnya.
"Nah! Itu dia maksud aku!"
"Cuma mirip aja. Udah sering kok aku nemuin orang yang mukanya mirip-mirip kayak artis. Tapi jujur, Mas tadi beneran mirip banget, kayak Arya Pamungkas beneran loh," sambung salah seorang ibu-ibu yang lain.
Terlepas dari dugaan itu, orang yang mereka bicarakan memang benar-benar Arya Pamungkas, yang mengubah identitasnya menjadi Arya Pratama. Tak ada perbedaan yang signifikan dari penampilan pria tersebut, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala, semuanya sama persis.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terdapat sepuluh pasangan yang resmi menjadi peserta acara lomba ayah dan balita, di mall tersebut. Arya dan Lucas salah satunya, dengan angka tujuh yang menjadi nomor kepesertaan mereka.
Namun, tiga pasangan peserta telah mengundurkan diri sebelum acara itu dimulai, menjadikan Arya dan Lucas sebagai peserta urutan terakhir.
"Oke semuanyaa! Selamat siang dan selamat berbelanja! Selamat menyaksikan acara lomba ayah dan balita ini! Sebelum memulai, mari kita panggil satu persatu peserta terlebih dahulu. Peserta nomor urut satu, Bapak Budi beserta baby Rohmat, silahkan naik ke atas panggung!" seru sang pembawa acara.
Nama peserta yang dihimbau pun segera muncul dari belakang panggung, diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari para penonton.
"Baby Rohmat umurnya berapa Pak?" tanya sang pembawa acara.
"Tiga tahun," jawab sang pria yang menjadi peserta nomor urut satu.
"Wah, tiga tahun masih mungil yah. Semangat yah Pak! Semoga bisa jadi juara!" ucap sang pembawa acara, berbicara dengan sebuah mic yang digenggamnya.
Setelah menghimbau beberapa peserta, kini giliran Arya yang akan dihimbau untuk naik ke atas panggung.
"Okeee! Peserta selanjutnya dan yang terakhir, Bapak Arya Pratama beserta baby Lucas, silahkan naik ke atas panggung," himbau sang pembawa acara.
...[Kau sudah siap host?]...
Pertanyaan itu, seiring dengan terhembusnya nafas Arya yang dalam. "Ya!" balasnya dalam hati.
Arya dan Lucas akhirnya beranjak menaiki tangga kecil, yang terhubung dengan belakang panggung. Mereka menampakkan wajah, sekejap membuat seluruh penonton yang menyaksikan sempat tercengang.
"Arya?!"
"Aryaa?!"
"Aryaaa?!"
Seluruh pengunjung yang didominasi oleh ibu-ibu itu pun nampak heboh saat melihat kehadiran Arya di atas panggung.
"Waaah, kalian serasi banget yah. Gak cuma baju, mukanya pun mirip!" kata sang pembawa Acara.
...[Host, sepertinya keberadaanmu mengingatkan mereka pada sosokmu yang dulu]...
"Itu dia yang gua pikirin dari tadi. Apa gak bakal jadi masalah?" tanya Arya dalam hati,
...[Hmm ... tenang saja. Takkan terjadi apa-apa. Aku yakin mereka pasti sudah paham dengan teori Doppelganger]...
"Mas. Dede bayinya umur berapa?" tanya sang pembawa acara, mendapati Arya sedari tadi termenung.
"Enam bulan berjalan," jawab Arya.
"What?! Enam bulan?! Segede ini?! Masnya gak becanda kan?"
"Gak. Saya serius," jawab kembali Arya, menegaskan dengan penuh ketenangan.
Seluruh penonton sontak memberikan tepuk tangan yang meriah, juga terdapat beberapa diantara mereka yang bersorak mendukung salah satu peserta.
Acara lomba pun dimulai dengan kuis seputar balita. Sang pembawa acara segera membacakan beberapa soal kuis, yang kemudian mampu dijawab oleh masing-masing peserta.
Lomba kedua, meniru suara.
Pada lomba kali ini, para juri akan menilai bagaimana sang bayi meniru satu kata yang diucapkan oleh ayah masing-masing.
Peserta pertama, nampak sedang berdiri ditengah-tengah panggung sambil menggendong bayinya, mengucapkan sebuah kata melalui mikrofon yang dijulurkan sang pembawa acara.
"Nanas," ucap peserta pertama.
Sang pembawa acara pun lansung mengalihkan mikrofonnya ke mulut sang bayi. Tetapi bayi tersebut nampak terdiam, tak mengerti dengan apa yang sedang dialaminya itu.
Para juri akhirnya menilai peserta pertama telah gagal, memberikan kesempatan bagi peserta kedua untuk unjuk gigi.
Kejadian yang sama pun turut terulang, sang bayi tetap terdiam setelah ayahnya mengucapkan sebuah kata. Mereka lansung dinyatakan gagal.
Peserta selanjutnya adalah peserta ketiga dan keempat. Bayi-bayi mereka hanya sedikit meniru sebuah kata yang telah diucapkan, meski sebenarnya melenceng dari makna kata tersebut. Juri pun memutuskan untuk tetap memberi nilai.
Berikutnya, peserta keenam.
"Papah," ucap pria yang menjadi peserta keenam.
"Maaah ...." Sang bayi tiba-tiba merengek, menangis seraya mengulurkan tangan ke arah sang bunda, yang turut menyaksikan acara tersebut.
"Looh ... kok malah nangis. Dasar anak mamah," gumam sang pria, bergegas menyerahkan bayinya pada sang istri.
Mereka pun lansung dinyatakan gugur.
Dan yang terakhir, giliran Lucas yang akan diuji kemampuan berbicaranya.
Sebelum mengucapkan sesuatu, Arya sempat termenung. "Lucas selama ini cuma bisa bilang pwapwa aja. Gua harus gimana nih?" tanyanya dalam hati.
...[Tidak, kau salah host. Lucas tadi sempat mencoba meniru suaramu]...
"Haa? Yang mana?" Arya mencoba mengingat-ingat kembali.
...[Sebelum pergi, kau sempat berkata "Let's Go!" Lalu, perkataanmu itu spontan ditiru oleh Lucas]...
"Oh iya! Gua baru inget!"
"Bisa dimulai sekarang mas? Soalnya waktunya udah mepet nih," bisik sang pembawa acara, mendapati Arya termenung sejenak.
"Oke." Arya pun menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Gooool!!" soraknya penuh semangat, sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.
__ADS_1
Lucas hanya tersenyum riang, selagi terduduk menghadap ke depan dalam belenggu kain gendongan Arya. Sepertinya bayi tersebut belum mengerti maksud dari sorakan sang ayah.
Hal itu sontak menjadi bahan tertawaan para penonton, melihat tingkah laku Arya yang nampak konyol bagi mereka.
"Ayo dong Lucas, tiru suara papah," Arya berharap dalam hati, dan ingin mencobanya sekali lagi. "Gooool!" soraknya kembali, dengan gestur yang sama.
"Oool."
Tiba-tiba, Lucas spontan berkata dengan riangnya, meniru kata yang telah diucapkan, juga turut mengangkat kedua tangan mungilnya itu tinggi-tinggi.
Arya, sang pembawa acara, juga para penonton pun dibuat tercengang karenanya. Mereka tak menduga bila bayi berusia enam bulan itu mampu meniru gerakan sang ayah dengan sempurna, meski ada satu huruf yang terlewat dari kata yang diucapkan.
Sang pembawa acara yang sempat tercengang, perlahan bertepuk tangan. Dalam hitungan detik, para penonton pun turut memberikan tepuk tangan dengan meriah.
Nampak para juri saling menatap, serta saling mengangguk satu sama lain, sebelum akhirnya segera membuat penilaian terhadap Arya dan sang bayi.
...[Host, maaf telat mengatakannya. Kau sudah menyelesaikan misi level C, berpartisipasi dalam lomba bersama Lucas. Misi kali ini telah kau selesaikan dengan baik. Selamat! Reward untuk host adalah diskon belanja mall 25%, dan uang senilai satu juta rupiah. Terimakasih atas pencapaiannya]...
"Ya. Sama-sama," balas Arya dalam hati, lalu bergabung bersama lima peserta lainnya.
"Oke semuanyaa! Masih semangat kaan?! Sekarang adalah lomba yang terakhir. Lomba berjalan menghampiri ayah! Yeaayy!" seru sang pembawa acara, menyebutkan bentuk lomba yang terakhir.
Kali ini, seluruh ayah nampak berdiri agak jauh diseberang bayi mereka. Bayi-bayi tersebut nampak terduduk di depan bangku peserta masing-masing.
"Untuk para ayah, sebisa mungkin kalian menghimbau dede-dede ini berjalan menghampiri kalian, yah?! Semangaaaat! Tiga, dua, satu, mulaaai!!" sorak sang pembawa acara.
"Rahmat! Sini Rahmat!" Peserta pertama mencoba menghimbau sang bayi dengan penuh semangat, lalu bayi tersebut akhirnya bangkit secara perlahan.
"Mamaaan, sini samperin bapaaak!" himbau peserta kedua, mengulurkan kedua tangannya ke arah sang bayi. Akan tetapi, sang bayi tak bergeming sedikitpun.
"Angel ... sini nak samperin papah!" himbau peserta ketiga, memanggil sang putri yang nampak sedikit lebih besar diantara bayi-bayi yang lain.
Putri dari peserta ketiga spontan berlari, akan tetapi bukan sang ayah yang ia hampiri, melainkan Arya.
"Loh ... kok ke saya larinya?" tanya Arya, terheran saat mendapati putri dari peserta ketiga memeluknya erat-erat.
"Aaaaa! Angel kamu curaang! Harusnya mamah yang ada disitu!" sorak sang bunda, istri dari peserta ketiga, merasa cemburu melihat tingkah laku sang putri.
Peserta ketiga pun nampak tertawa meringis, lalu dalam sekejap sang pembawa acara berjalan menghampirinya.
"Bapak gugur yah," ucap sang pembawa acara, meski acara lomba masih berlangsung.
Selepas kejadian itu, Arya kini kembali memfokuskan pandangannya ke arah Lucas. "Lucaaaass!" himbaunya penuh senyuman, mengulurkan kedua tangan ke arah Lucas.
"Pwapwaaa!" Lucas perlahan bangkit, menyusul sang bayi dari peserta pertama yang berhasil berdiri.
Tubuh bayi peserta pertama nampak sedikit bergoyang-goyang, mencoba menjaga keseimbangan tubuh setelah sebelumnya sempat terjatuh.
Lucas akhirnya berdiri dengan sempurna. "Pwapwaaa!" himbaunya dengan riang, mengulurkan kedua tangan ke arah Arya.
"Lucaaas!" balas Arya.
Seluruh penonton, sang pembawa acara, serta para juri pun sontan tercengang, menyaksikan Lucas tiba-tiba berlari.
Bayi peserta pertama pun turut berlari, nampak menyusul pergerakan Lucas.
Akan tetapi, Lucas yang jauh lebih cepat saat berlari, hampir tiba dalam pelukan Arya.
"Pwapwaaa!" himbau Lucas dengan riangnya.
Arya semakin tersenyum lebar, menyaksikan sang bayi berhasil tiba dalam pelukan. "Lucaaas!" Ia pun segera memegang ketiak Lucas, mengangkat tinggi-tinggi tubuh bayi tersebut dengan penuh bangga. "Akhirnyaaa ... kamu berhasil nak!" ucapnya, lalu menyambar kening sang bayi dengan sebuah kecupan hangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat kepada pemenang, Bapak Arya Pratama dan baby Lucas. Kalian menjadi juara satu dengan nilai terbaik. Yeaayy!!!" seru sang pembawa acara, selepas mengalungkan sebuah medali pada leher Arya, juga mengalungkan sebuah medali kecil pada leher mungil Lucas.
Seluruh penonton, serta mereka para pengunjung mall yang menyaksikan dari kejauhan, ikut merasa bangga dengan prestasi yang diraih Ayah dan anak tersebut.
Suasana mall menjadi heboh, diiringi tepuk tangan yang meriah dari seluruh pengunjung. Para ibu-ibu justru terpukau dengan senyuman yang terpancar dari wajah Arya.
Arya pun nampak bahagia menggendong Lucas. Ia memiliki kebanggaan tersendiri terhadap sang bayi, karena kemampuan unik yang sempat ditampilkan bayi tersebut dihadapan orang-orang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kantor manajemen artis, Bulan Purnama Management. Sebuah bangunan mewah bertingkat yang terletak di pusat kota itu, menjadi tempat bernaungnya sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam industri perfilman.
"Yaa ... haaa?! serius?! Coba kirim videonya!"
Nampak salah seorang gadis menyudahi panggilan ponsel, terduduk di atas kursi kerja menghadap pada sebuah komputer.
Setelah menerima kiriman file berbentuk video, gadis tersebut lansung membukanya.
Dalam video itu, tersorot wajah Arya dengan jelas ketika mengikuti sebuah acara lomba di dalam mall, sepertinya direkam oleh seseorang untuk dilaporkan pada sang gadis.
"Bos, bos! Bukankah orang ini mirip dengan mantan talent kita, Arya Pamungkas yang udah meninggal karena kecelakaan enam tahun yang lalu?" tanya sang gadis, selepas menghentikan perputaran video yang menyoroti wajah Arya dengan jelas.
Seorang pria paruh baya, lengkap dengan setelan jas mewah pun perlahan membungkuk, menyimak dengan jelas bagaimana bentuk wajah Arya dalam layar laptop. "Hmm ... kayaknya aku mulai percaya sama teori Doppelganger," ucapnya.
"Bagaimana bos? Bukankah suatu keajaiban bisa melihat kembali sosok orang yang sangat-sangat mirip dengan Arya Pamungkas?" tanya sang gadis.
Menanggapi pertanyaan itu, sang pria paruh baya justru menyungging senyum. Ia pun sempat berjalan menjauh, lalu kembali menghampiri meja sang gadis.
"Ya!" Pria paruh baya tersebut sontak menunjuk ke arah layar laptop, merujuk pada wajah Arya yang terpampang jelas. "Cari dimana dia berada! Uji kemampuan aktingnya! Kalau memang bagus, keuntungan buat kita! Lansung saja bikin kontrak!" perintahnya dengan tegas.
"B—baik bos."
__ADS_1
~Tbc