Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 50. Semuanya Berakhir Sudah


__ADS_3

Dinginnya angin berhembus, memandu Sarah berjalan sendirian di tengah gelapnya malam.


Sebelumnya, sejak sore gadis itu keluar rumah begitu saja, tanpa mengabari kemana ia akan pergi pada orangtuanya.


"Nggak. Bukan karena aku udah cinta sama Arya. Tapi aku emang bener-bener gak bisa ngejalanin perjodohan itu. Aku tuh udah dewasa, harusnya mereka kasih kebebasan untuk aku cari jodoh sendiri," gumam Sarah bermasam muka, terus melangkahkan kakinya melewati setapak jalan beton, berbatasan dengan tembok penahan ombak laut.


Tembok tersebut hanya setinggi dada Sarah, ia tak memperhatikan betapa besarnya ombak yang datang menghadang.


Beruntung suasana di sekitar lingkungan nampak terang, menutup kemungkinan seseorang bisa leluasa berbuat kejahatan.


Sarah lalu berhenti, menolehkan pandangan ke arah desiran ombak lautan teluk ibukota. "Kalau begini terus, aku udah gak kuat sandiwara lagi di depan mereka ...." keluhnya dalam hati.


Ruang bahagia dalam hatinya semakin sempit, terasa sesak mengikis jiwa serta batin yang terus teriris. Sarah Ayudya, kini pemikiran panjangnya telah di ujung tanduk, pandangan matanya menatap kosong, air mata pun perlahan mengalir membasahi wajah yang nampak murung itu.


"Kalau aku mati, apa mereka semua bakal menyesal?" batin Sarah, diterjang keputusasaan.


"Gak boleh."


Tiba-tiba seseorang berkata, juga mendaratkan sebelah telapak tangannya pada pundak Sarah. "Kamu gak boleh mati," ucapnya sekali lagi.


Sarah mendadak curiga. Karena dipenuhi rasa was-was, ia sontak menarik tangan orang tersebut seraya melontarkan pukulan sikut ke arah perutnya.


(*Bugh!)


Tanpa sempat menengok ke arah belakang, Sarah spontan berlari secepat mungkin karena merasa keamanannya sedang terancam.


"S—Saraahh!" himbau orang tersebut.


Rupanya Arya, yang telah mengejutkan Sarah sampai membuat gadis itu berlari terbirit-birit.


Sempat merasa nyeri di perut, Arya bergegas mengejar kepergian Sarah. "Tuh cewek tenaganya kuat juga ...." batinnya.


Sarah berlari sejauh mungkin, tanpa menyadari bila orang yang tengah mengejarnya adalah Arya.


"Saraaah, berhentii! Ini aku, Aryaa!" himbau Arya menegaskan, namun suaranya tak mampu didengar oleh Sarah.


Kejar-kejaran pun terjadi, tak ada seorangpun yang menyaksikan ulah mereka berdua, kecuali hanya Gabriel serta Lucas yang memantau dari kejauhan.


"Gak! Aku gak boleh mati ditangan orang! Seenggaknya harus kasih perlawanan!" batin Sarah, mendadak berhenti.


Arya lantas melambatkan langkah, berjalan terengah-engah menghampiri Sarah yang enggan berbalik. "Saraah ... kamu jangan ta—"


(Dugh*)


Tiba-tiba Sarah meluncurkan tendangan berputar, beruntung Arya dengan sigap menangkis, sebelum kaki gadis itu benar-benar mematahkan giginya.


Sarah sontak terbelalak, memperhatikan dengan seksama wajah pria itu ternyata Arya, pria yang ia kagumi selama ini.


"Kamu sabuk hitam? Pernah ikut beladiri apa? Kok kuat bener tendangannya?" tanya Arya, merasa kagum dengan kekuatan tendangan Sarah, meski tengah menahan sebelah kaki gadis tersebut.


"K-k-kamu ...." Sarah mati langkah, rona dipipinya mendadak merah, lalu seketika berkata, "Kamu Aryaa kan?!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Desiran ombak terlihat tenang saat menghempas tembok pembatas, menenangkan dua jiwa yang saling berdiri menyaksikan indahnya pemandangan itu.


"Kamu kok bisa tau aku ada disini?" tanya Sarah.


Arya yang berdiri disampingnya pun berkata. "Aku sebenarnya lagi refreshing disini, kebetulan aja ngeliat kamu dari kejauhan."


"Ohh ... gituu ...." balas Sarah, kini mulai menampakkan wajah murung.


"Kamu sendiri ngapain disini? Tengah-tengah malem begini jalan sendirian, apa gak takut?" tanya Arya.


"Nggak. Aku juga sama, kesini cuma mau cari angin segar aja," jawab Sarah, mengelabui kecurigaan Arya.


"Tuan, sebaiknya dipercepat. Lakukanlah sesuatu agar suasana hati gadis itu segera membaik. Atau jika tidak, semua akan sia-sia," ucap Gabriel bertelepati.


"Iyaa sabaar ...." balas Arya dalam hati.


Arya sempat melirik wajah Sarah, terlihat betapa mempesonanya wajah gadis itu saat dilanda rasa galau.


"Mau berbagi cerita? Mungkin kita bisa sama-sama kasih solusi masalah masing-masing," ucap Arya.


Apa yang dikatakan Arya justru membuat Sarah enggan berkata-kata, kecuali hanya menunjukkan dua bola matanya yang nampak berkaca-kaca.


Air mata lantas mengalir di pipi Sarah, namun gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap bersikap tenang.


"Gabriel?!" tanya Arya

__ADS_1


"Sekarang Tuan!" balas Gabriel spontan.


Dalam sekejap Arya merangkul, mengelus-elus, serta menempelkan sisi keningnya pada kening Sarah.


"Jangan sedih, aku bisa ngerasain apa yang kamu rasain sekarang. Mungkin itu terasa berat untuk kamu, kalau cuma kamu pendam seorang diri," kata Arya menenangkan.


Sarah sempat terkejut dengan tindakan Arya, akan tetapi ia tak merasa terganggu dengan hal itu.


"Tuan, semoga berhasil. Sebab misi kali ini sangat penting, menyangkut keberlangsungan hidup gadis itu," harap Gabriel, menjelaskan lewat telepati.


Arya mendengus dalam, mendapati Sarah perlahan merengek, menunjukkan apa yang tengah dirasakannya kini. "Tenang Sarah, kamu gak sendiri. Ada aku disini ... yuk, ceritain semuanya ke aku. Siapa tau aku bisa kasih solusi," bujuk Arya.


Perkataan itu lantas merasuk dalam menembus jiwa Sarah, membuat gadis itu sontak memeluk Arya, lantas menangis sejadi-jadinya.


"Kamu, kamu bodoh Arya! Kamu bodooh!" bentak Sarah, memukul-mukul pundak Arya sekuat tenaga.


"T—tenang Sarah, tenang. Aku bodoh kenapaa?" tanya Arya heran.


Sarah enggan menjawab, ia lebih memilih melampiaskan kekesalan dengan terus menerus memukul pundak Arya.


"Tuan, biarkan saja, jangan ditangkis. Biarkan dia memukuli Anda sepuas hatinya. Itu termasuk salah satu cara menenangkan suasana hati gadis itu," anjur Gabriel dalam hati.


"Kamu jahat! Jahaaat! Tiba-tiba ngilang gitu aja tanpa kabar! Di telpon pun gak pernah aktif!"


Sarah berkata seraya meluapkan emosi, juga nampak semakin cepat pergerakannya dalam memukul-mukul bahu Arya.


"Kamu pindah gak bilang-bilang! Aku udah kesana kemari cari alamat tapi gak pernah ketemu alamat rumah kamu! Padahal aku mau kenalin kamu ke orangtua aku, biar mereka percaya kalau aku tuh bisa cari jodoh sendiri! Kamu Aryaa! Kamu jahaaat!" ungkap Sarah, diakhiri sebuah pukulan keras yang menghempaskam seluruh unek-uneknya.


"Udah?" tanya Arya.


Sarah spontan memeluknya seerat mungkin. "Aku sayang kamu Aryaaa! Aku cinta sama kamuu!" ungkapnya.


Angin seketika berhembus amat kencang, usai Sarah mengungkapkan perasaan tulus-nya terhadap Arya.


"Tuan, jawab perasaannya sebisa An—"


"Aku juga cinta sama kamu Saraaah!!" ungkap Arya tegas, juga sontak membalas pelukan Sarah dengan erat.


Sarah justru terbelalak, tak menyangka ia benar-benar mendengar pengakuan itu dari Arya.


"Se—serius kamu?" Merasa tak percaya, Sarah terpaksa melepaskan pelukan Arya, menatap tajam wajah pria itu juga demi mendapatkan keseriusannya. "Kamu gak bohong kan, Arya?" tanyanya penasaran.


"Why? Kenapa harus lima tahun? Kamu ragu aku gak bisa ngurus Lucas seorang diri?" balas Sarah, menjadi heran dengan alasan Arya.


Arya seketika memegang kedua pundak Sarah. "Nggak, bukan begitu. Minimal sampai Lucas masuk TK. Biar nanti calon istri aku gak kesulitan harus ngerawat dua anak bayi," jelas Arya meyakinkan.


"Hmm ...." Sarah mengangguk-angguk, mencoba memahami penjelasan Arya. "Yaudah kalau gitu, aku bakal tunggu kamu. Tapi kamu harus bantu, gimana caranya biar aku bisa lepas dari perjodohan orangtua aku," pintanya.


Arya merasa lega. "Gampaang." Ia pun telah menyadari permasalahan yang dialami Sarah. "Gabriel, lu tau kan harus gimana?" tanyanya dalam hati.


"Siap Tuan, hamba mengerti," balas Gabriel.


"Apanya yang gampang? Ini masalah serius loh, gak main-ma—"


Arya spontan menyumpal mulut Sarah dengan sebelah tengan. "Ssttt!" Seraya melambungkan senyum, ia pun berkata, "Tenang aja, semua bisa diatur."


Tak ingin membuang waktu, Arya lansung menarik tangan Sarah, membawa gadis itu berjalan menuju mobilnya.


"Tuan, hamba izin pulang terlebih dahulu, sebab Tuan Muda nampaknya sudah mengantuk," kata Gabriel bertelepati.


"Yaudah. Kasian Lucas, kenapa juga lu harus bawa dia keluar dingin-dinginan begitu," tegur Arya dalam hati.


"M—maaf Tuan, hamba telah mengatur suhu tubuh Tuan muda agar tetap hangat," ungkap Gabriel, lalu menghilang sekejap mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Arya kita mau kemana?" tanya Sarah, mendapati dirinya melaju bersama Arya di dalam mobil.


Arya pun berkata. "Kita ke rumah kamu sekarang juga."


Perkataan Arya lantas membuat Sarah menjadi curiga. "Hmm ... kamu cuma mau nganterin aku pulang aja kan?" tanyanya kembali.


"Ya jelaslah, mau ngapain lagi aku kalau gak nganterin kamu pulang ke rumah," jawab Arya menahan senyum, sementara Sarah terus melirik penuh curiga ke arahnya.


"Aku gak nyangka banget, ternyata Arya juga cinta sama aku." Masih terngiang-ngiang dalam ingatan Sarah, tentang bagaimana Arya turut mengungkapkan perasaan terhadapnya. "Pokoknya ... kamu gak boleh lepas lagi. Aku udah yakin sama kamu, Arya," batinnya.


Tak berselang lama, sesuai petunjuk arah yang diberikan Sarah, Arya menepikan mobil tepat di depan gerbang rumahnya.


Sarah justru melihat kehadiran sebuah mobil yang turut terparkir di depan mobil Arya. "Loh, ini kan mobilnya keluarga Om Baskoro?! Tumben mereka dateng tengah-tengah malem begini, ada apa?" pikirnya.

__ADS_1


"Sarah, udah sampai," tegur Arya, spontan beranjak turun dari mobil.


"Arya, kamu ngapain turun?!" tanya Sarah mendadak curiga.


"Aku? Aku kan mau ketemu sama orang tua kamu. Apanya yang salah?" balas Arya.


Sarah mendecih. "Gawat! Tapi gak sekarang juga Arya!" batinnya, lalu bergegas keluar dari mobil Arya.


Arya seketika berjalan mendekati gerbang, hal itu lantas membuat Sarah berjalan tergesa-gesa menghampirinya.


"Arya, kamu mau ngapain siih?! Ini udah malem! Besok aja kesini lagi, ya?!" bujuk Sarah sambil menggandeng sebelah lengan Arya.


Sarah berusaha mengelabui Arya, juga mencegahnya untuk tidak berkunjung masuk kedalam rumah sebisa mungkin.


"Jadi, aku diusir nih?" kata Arya, berdiri berkacak pinggang, menatap ke arah pintu rumah yang tengah terbuka.


Tiba-tiba, muncul seseorang yang keluar dari pintu tersebut. "Loh, Saraah?! Kamu ngapain di luar situ?!" tanya seorang wanita paruh baya, rupanya ibunda dari Sarah.


Mendadak mati kutu, Sarah tak menyangka bila sang bunda datang memergokinya bersama seorang pria. "Aaaaa, gawaaat! Kenapa jadi begini sih?!" batinnya, tak tau lagi harus berbuat apa.


"Tuh, Ibu kamu manggil." Arya menambah runyam pikiran Sarah, spontan menarik gadis itu berjalan menghampiri sang bunda. "Yuk kita kesana," ajaknya.


"J-j-jangaaan ...." Sarah terbata-bata dalam berkata, juga menjadi pasrah dibuatnya.


"Selamat malam Tante, saya Arya, pacarnya Sarah," ucap Arya menunduk senyum, justru membuat wajah Sarah semakin terlihat panik.


"Ya Tuhaann ... selamatkan hamba ...." batin Sarah, dalam kepanikan bercampur kepasrahan.


"Ohh jadi kamu yang namanya dek Arya toh." Sang bunda menyimak dari ujung rambut sampai ujung kaki Arya. "Kamu ganteng juga yah. Ibu gak nyangka Sarah bisa dapetin kamu," pujinya tersenyum-senyum.


"Ahaha Tante bisa aja ...." balas Arya, mengusap-usap rambut belakang.


"Loh ...." Sarah pun melongo, tak menduga dengan respon yang diberikan sang bunda terhadap Arya.


"Jangan panggil Tante, panggil Ibu saja ... barangkali kamu siap jadi menantu saya, ehehe," ucap sang bunda, tersenyum segan.


"Ehehe, iya Bu ...." balas Arya, tersenyum sungkan.


Sarah spontan melirik bergantian wajah Arya, dan wajah sang bunda, "Loh?! Loohh?!! Loooohh?!!"


Sementara di dalam ruang tamu, nampak kehadiran keluarga besar Baskoro, serta sang ayah yang tengah terduduk menemani mereka, menyaksikan kedatangan Sarah dan Arya di depan pintu.


"Pak Joko, apa benar pria itu yang jadi pacarnya Sarah?" tanya seorang pria paruh baya, diduga sebagai kepala keluarga Baskoro.


"Betul Pak Baskoro. Saya bener-bener minta maaf sekali atas kesalahpahaman ini. Semoga Pak Baskoro bisa memakluminya," balas sang ayah.


Sang kepala keluarga Baskoro spontan tersenyum. "Tidak masalah Pak Joko, gak usah terlalu dipikirin. Soalnya Rangga anak saya juga gak setuju dengan perjodohan ini. Mari kita sudahi saja tanpa harus mengganggu kekerabatan keluarga kita," ungkapnya dengan kepala dingin.


Akhirnya, keluarga besar Baskoro berpamitan pergi meninggalkan rumah keluarga Sarah dengan damai, juga mereka sempat menyapa Arya penuh keramahan.


Kini, giliran Arya yang spontan berdiri dari sofa, berpamitan pada kedua orang tua Sarah untuk pulang menuju rumah.


"Dek Arya, jangan kapok-kapok dateng kemari yah. Kami berdua seneng banget sama kamu," ungkap sang bunda seraya berdiri.


Sang ayah pun turut berdiri, namun pandangan menatap Arya dengan tajam. "Ingat, kamu udah dapetin kepercayaan dari saya. Tolong jaga kepercayaan itu baik-baik, buktikan bahwa kamu bisa menjaga putri saya dengan baik," tegasnya menasehati.


"Siap Pak." Dengan kedua telapak tangan yang menempel di depan dada, Arya kembali berkata, "Saya izin permisi dulu."


"Baik. Hati-hati dijalan," balas sang ayah.


Sarah beserta kedua orangtuanya pun berjalan mengiringi Arya menuju gerbang rumah.


"Arya, kamu hati-hati yah," ucap Sarah, terpaksa melepaskan gandengan tangannya pada lengan Arya.


Arya kemudian berbalik. "Aku pulang dulu. Kalau udah sampai rumah nanti aku kabarin." Ia lalu menoleh pada kedua orang tua Sarah, yang nampak berdiri dibelakang gadis itu. "Pak, Bu, saya pulang dulu yah," ucapnya.


"Iyaa, hati-hati dijalan," balas kedua orang tua Sarah serempak.


Sarah hanya mengangguk-angguk penuh bahagia, menyaksikan Arya berjalan menuju mobil. "Bu ... ternyata ... nasib kita sama. Bapak dan Arya sama-sama pahlawan kita," batinnya terharu, melambai-lambai ke arah mobil Arya.


"Selamat! Tuan telah berhasil menyelesaikan misi level S ini dengan dengan sempurna. Reward untuk Anda adalah satu unit motor sport 150 CC terbaru, satu unit sepeda listrik terbaru, satu set mainan terbaru khusus balita, satu set meja biliar di ruangan lantai dua, penambahan kharisma+5, penambahan stamina+5, serta uang tunai sebesar dua puluh lima juta rupiah, lansung masuk ke dalam rekening Anda. Terimakasih atas pencapaian misi kali ini, Tuan."


Gabriel spontan bertelepati, menjelaskan panjang lebar tentang reward yang diraih Arya.


Arya pun mendengus, selagi melajukan mobilnya secara perlahan. "Terimakasih juga Gabriel. Kalau bukan karena bantuan lu, semua pasti gak bakal selancar ini," balasnya dalam hati.


"Ahaha, tidak Tuan. Itu sudah menjadi tugas hamba sebagai sistem sementara Anda," sambung Gabriel.


Semua masalah pun berakhir sudah. Arya kini bergegas pulang menuju rumah, sebab ia sudah tak mampu lagi menahan rindu yang terus menggunung terhadap Lucas.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2