
Menjelang waktu istirahat, Reina nampak semangat melayani para pengunjung mall yang sedang mengantri di dekat meja kasirnya. "Mas Arya sama dede Lucas kira-kira lagi apa yaah ... kok aku jadi kangen sih sama mereka," batinnya, sambil memindai satu-persatu barang belanjaan salah seorang pelanggan.
Tanpa disadari Reina, ada satu benda yang luput dari perhatiannya. "Jadi pengen cepet-cepet libur ...." ucapnya dalam hati, dengan melewati satu benda yang tak ia pindai.
"Berapa mbak?" tanya salah seorang pelanggan.
Reina nampak termenung menatap layar monitor. Bayangan sosok wajah Arya dan Lucas pun selalu melekat dalam benaknya. "Kalau aku berniat jadi mamahnya Lucas, kira-kira bapak ibu bakal setuju gak yah?" pikirnya.
"Mbak'eee?" tegur sang pelanggan, mendapati Reina sedari tadi merenung.
"Ehh! Maaf Bu, maaf!" Reina sekilas tersadar, dan segera menjumlahkan total belanjaan sang pelanggan. "Semuanya jadi seratus dua puluh lima ribu yah Bu," ucapnya.
Sang pelanggan pun menjadi gondok, meski tetap merogoh uang dari dalam dompet. "Kalo lagi kerja tuh jangan mikirin pacar mbak'e," tegurnya, lalu menyodorkan sejumlah uang.
"Iyaa Bu. Saya minta maaf yah," ungkap Reina dengan tersenyum, berkali-kali menunduk mengakui kesalahannya.
Kejadian yang terjadi di meja kasir itu, tersorot oleh sang supervisor dari kejauhan. "Akhir-akhir Reina suka melamun. Mungkin harus dikasih sedikit teguran, karena lama-lama bisa menggangu kenyamanan pelanggan," batin sang supervisor.
Pria yang menjadi pembina para karyawan itu lantas berjalan mendekat, guna menyadarkan Reina akan keberadaannya.
Reina pun sempat melirik pada sang supervisor, membuat rasa panik seketika menjalar dalam hatinya. "Gawat. Kayaknya aku ketahuan deh," batinnya pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tiga, dua, satu, action!"
Seruan sang sutradara, membuat para kru film langsung bertugas mengambil sebuah adegan percakapan dari dua orang artis, yang sedang berakting didepan kamera. Salah satunya, adalah Alexa.
"Aku mencintaimu, Marsha." Terlihat sang aktor yang menjadi lawan main Alexa, membungkuk sambil menyodorkan sekuntum bunga padannya. "Maukah kamu menerima lamaranku?" pinta sang aktor.
Alexa yang terlihat berdiri sambil bersedekap tangan, justru termenung mengabaikan perkataan sang aktor. Pandangan matanya menatap lurus ke arah depan, tak membalas tatapan sang aktor yang sudah tertulis dalam skenario sutradara.
"Aku baru tau, kalau mas Arya itu mirip sama Arya Pamungkas. Apa jangan-jangan mereka orang yang sam—"
"Cuuut!!!"
Sergahan sang sutradara spontan memotong renungan Alexa, membuat gadis itu lansung tersadar akan kesalahannya.
"M—maaf Bang! Sekali lagi sekali lagi! Saya tadi gak konsen!" pinta Alexa dengan alasan yang sama.
Sang sutradara sontak membuang muka, menahan rasa muak karena Alexa terus membuang-buang waktu syuting. "Ini udah taking ke tiga puluh kali Alexaaaa! Kamu mau berapa kali lagi nyusahin saya?!!" tegurnya.
"Saya janji Bang, ini yang terakhir!" tegas Alexa, sedikit membungkuk sambil merapatkan kedua telapak tangan, berharap sang sutradara mau melanjutkan pengambilan syuting.
__ADS_1
"Argghh!! Yaudah! Ini yang terakhir, jangan sampai salah lagi!" Dengan berat hati sang sutradara mengiyakan permintaan Alexa. "Soalnya waktu kita udah mepet. Bos produksi bener-bener berharap sama kamu, dan gak ada lagi yang cocok meranin tokoh Marsha selain kamu," ujarnya.
"Siap Bang." Alexa pun kembali mengatur posisinya sesuai skenario sutradara. "Kali ini aku bakal serius," ucapnya pada lawan main, sebelum menarik nafas dalam-dalam.
Sang sutradara sempat menoleh pada beberapa kru, lalu bersiap melanjutkan kembali pengambilan adegan syuting film.
"Alexa! Kamu itu calon aktris papan atas! Hilangin semua yang menggangu dipikiran kamu, fokus sama syuting ini!" Sang sutradara bersorak melalu alat pengeras suara. "Kamera siaaap ... tiga, dua, satu, action!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bu Sarah, grup kami punya usulan ide marketing untuk penjualan kosmetik."
Di dalam ruang manajer, Sarah Ayudya nampak terduduk dibalik meja kerja, bersama seorang karyawati yang turut terduduk didepan mejanya.
Sarah pun lansung meraih sebuah flashdisk yang disodorkan sang karyawati. "Biar saya cek dulu. Kalau konsepnya bagus, grup kamu bakal dapet projek jangka panjang," ucapnya, lalu mencolok flashdisk pada lubang port laptop.
Selama beberapa tahun Sarah aktif bekerja dalam bidang kosmetik. Ia mengawali karirnya sebagai sales kosmetik, Beauty Advisor, hingga akhirnya dipercayai para petinggi perusahaan menjabat sebagai Manager Utama.
Sang karyawati seketika mendapati Sarah mengernyitkan dahi, seperti merasa tak tertarik dengan rancangan konsep itu. "Bu Sarah, kalau kurang bagus, saya bakal revisi lagi," ucapnya.
"Enggak. Ini bagus kok." Sarah menyimak dengan detail layar laptopnya, memperhatikan bagaimana konsep itu menjelaskan ide marketing penjualan kosmetik perusahaan. "Atas dasar apa kamu bilang konsepnya kurang bagus? Justru baru kali ini saya melihat konsep yang sedetail ini," balas Sarah.
Mendengar pengakuan Sarah, sang karyawati lantas gembira. "Waahh ... tapi Bu, saya akui masih banyak kekurangannya. Tingkat resikonya juga belum sesuai standar perusahaan," sanggah sang karyawati.
"Kalau begitu, kurangi tingkat resikonya. Ide kalian sudah bagus. Nanti saya coba ajukan ke Arya," anjur Sarah, lalu sekejap menutup jendela program pada layar laptop.
"M—maaf Bu, Arya siapa yah?" tanya sang karyawati.
Sarah pun sontak menepuk keningnya. "Astagaaa! Kenapa tiba-tiba aku malah nyebut nama Arya! Ini pasti ada yang gak beres! Atau jangan-jangan aku memang jatuh cinta sama dia?!" pikirnya.
"Bu? Bu Saraah?" Sang karyawati melambai-lambai, merasa heran mendapati Sarah tiba-tiba termenung.
Sarah kembali pada jalur kesadaran. "Sorry ... sepertinya saya lagi kurang sehat. Maksud saya tadi, nanti konsepnya akan saya ajukan ke Pak Direktur," ucapnya.
"Oh, baik Bu." Sang karyawati segera memahami maksud perkataan Sarah, seketika bangkit dari tempatnya terduduk. "Saya permisi dulu Bu Sarah," kata sang karyawati, sebelum akhirnya beranjak keluar dari ruangan manajer.
Selepas mendapati bawahannya keluar, Sarah kembali termenung. "Arya, Arya, Arya, Arya." Ia tiba-tiba memangku sebelah pipi, dengan sebelah kepalan tangan yang bertumpu pada meja. "Berani-beraninya kamu muncul dalam pikiranku Arya ... kamu harus tanggung jawab. Setidaknya, lamar aku segera ...." batinnya, lalu tersenyum-senyum sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menjelang teriknya sinar mentari, Arya telah membawa Lucas berjalan mengelilingi gedung apartemen sebanyak lima kali, dalam waktu dua jam penuh.
Kini sang bayi nampak tertidur diatas perut sang ayah, kehabisan tenaga setelah berjalan menikmati suasana keindahan disekitar lingkungan gedung apartemen.
__ADS_1
"Tuh kan, jadi kecapek'an Lucasnya," ucap Arya yang terbaring diatas rerumputan, bernaung dibawah pepohonan rindang demi menghindari sengatan sinar matahari.
...[Tapi, kau telah menyelesaikan misi ini dengan baik. Selamat! Host telah menyelesaikan misi level B, meningkatkan kebugaran bersama sang bayi. Reward untuk host adalah satu unit springbed terbaru, satu set bantal dewasa dan balita, satu unit alat penyedot debu terbaru, satu unit gitar akustik senilai puluhan juta, selusin setelan pakaian terbaru khusus balita, selusin setelan pakaian kasual untuk pria dewasa, satu set alat dumbell mini, satu set alat pengharum ruangan, serta uang senilai delapan juta rupiah]...
Arya lansung mendengus. "Banyak amat. Perasaan cuma misi level B," keluhnya dalam hati.
...[Tentu. Sudah pernah kukatakan bahwa setiap level misi yang telah kau selesaikan, tak menentu jumlah reward yang akan kau dapat. Akhir-akhir ini kau selalu menyelesaikan misi dengan baik. Aku telah melaporkan evaluasi misimu bulan ini, tunggu hasil raport-nya di akhir bulan nanti]...
"Besok dong? Kayak anak sekolah aja ada raport-nya segala," balas Arya dalam hati.
...[Ya. Sebab kau berada dalam bimbinganku. Aku diwajibkan melaporkan perkembanganmu pada sistem pusat]...
Seketika angin berhembus sepoi-sepoi, terasa amat sejuk menambahkan kualitas tidur sang bayi.
Arya mulai menumbuhkan rasa penasaran dalam hati. "Kira-kira ... sistem pusat itu kaya gimana?" tanyanya.
*Sistem mendengus*
...[Kau tak perlu tahu. Cukup fokus saja pada misi-misimu selanjutnya]...
"Mereka sama kayak situ?" tanya kembali Arya, seperti tak dapat menahan rasa penasarannya.
...[Bisa dikatakan seperti itu. Tetapi mereka lebih agung dariku, memiliki kekuasaan tertinggi yang menaungi keberadaanku]...
Arya lansung menadah kepalanya dengan kedua telapak tangan. "Hmm ... padahal gua banyak dosa sebelum meninggal. Kenapa mesti gua yang dipilih?" tanyanya sekali lagi.
*Sistem kembali mendengus*
...[Apa kau masih ingat? Sebelum tewas, kau sempat menyelamatkan nyawa seorang bocah kecil?]...
"Iya. Gua selalu inget kejadian itu," jawab Arya spontan.
...[Bagus, cobalah memahami maksud pertanyaanku tadi]...
"Hmm ... gua masih kurang paham sebenarnya. Tapi, maksudnya timbal balik bukan?" Arya menduga dalam hati.
...[Benar. Itu adalah hukum timbal balik. Andai kau tidak menyelamatkan bocah itu, dan mati bersamanya, tentu kau takkan terpilih untuk dihidupkan kembali. Tapi, jauh dalam dirimu, tertanam naluri kebaikan, sampai-sampai kau rela mengorbankan nyawamu demi nyawa bocah tersebut. Itulah alasan mengapa kau dihidupkan kembali bersama seorang bayi kecil nan mungil ini]...
"Jadi, gua udah dipercaya menjaga seorang bayi?" tanya kembali Arya memastikan.
...[Tidak. Kau justru dipercaya untuk menjadi seorang ayah. Maka dari itu, gunakanlah kesempatan hidup ini baik-baik. Hiduplah bersama Lucas, dalam keadaan senang maupun susah. Bayi itu kelak akan membahagiakanmu suatu saat nanti]...
Penjelasan itu, sekejap merasuk dalam pikiran Arya, menembus relung hatinya hingga membuat air matanya perlahan menetes.
__ADS_1
Arya menangis selagi melebarkan senyuman, mengusap-usap lembut punggung sang bayi yang tertidur diatas perutnya itu. "Mulai detik ini, semua harapan gua ada di Lucas. Gua bakal ngelakuin apapun demi kebahagiaannya," batin Arya penuh bahagia.
~Tbc