
"Bisa-bisanya kamu keluar dari rumah, terus menyusup kerumah dek Arya. Mamah bener-bener kecewa sama kamu."
Sang bunda mengomeli Aulia, mereka nampak berdiri menghadap Arya didepan gerbang.
"Ehehe gapapa Tante, saya gak merasa terganggu kok," sambung Arya, terlihat berdiri menggendong Lucas.
Aulia tetap terdiam memperhatikan wajah Lucas, sedari tadi tak menghiraukan omelan sang bunda. Gadis itu sepertinya enggan memperlebar jarak dengan sang bayi, akan tetapi ia tak berdaya ketika dilabrak oleh sang bunda.
"Dek Arya, saya minta maaf atas kelakuan tidak sopan Aulia. Besok-besok, saya jamin kejadian ini gak bakal terulang lagi," ucap sang bunda, meyakinkan Arya.
Arya mengangguk-angguk menampakkan senyuman. "Iyaa Tante. Tapi saya mohon Aulia jangan dihukum yah, dia gak ada maksud jahat kok Tan," balasnya.
Sang bunda turut melemparkan senyuman, sebelum akhirnya menggiring Aulia berjalan menuju gerbang rumah.
Lucas nampak melambai-lambai, seketika sang bayi mendapati Aulia menengok kebelakang, juga turut melambai kearahnya.
"Babaayy ...." ucap Aulia.
"Baayyy ...." balas Lucas, nampak tersenyum riang memandang jauh wajah gadis tersebut.
"Kamu seneng banget sama dia yah Lucas." Arya perlahan berbalik, membawa sang bayi berjalan memasuki gerbang rumah. "Tapi kayaknya dia gak bakalan bisa keluar lagi. Jangan sedih yah Lucas," ucapnya.
Arya masih tak menduga mengapa Aulia bisa menyelinap masuk kedalam kamarnya. Namun hal itu tak membuatnya merasa khawatir, sebab ia mengerti bahwa Aulia tidaklah berniat jahat sedikitpun pada Lucas.
Setibanya didalam kamar, Lucas lansung diletakkan kedalam ranjang khusus balita. Sang bayi mulai meraba-raba wajah Arya, sepertinya memiliki maksud tertentu.
"Kamu mau tidur disamping papah?" Dengan segera Arya memahami maksud Lucas, lalu kembali meraih ketiak sang bayi. "Yaudah yuk, kita tidur bareng," tambahnya, membawa tubuh sang bayi menuju keatas ranjang.
Arya terbaring menadahkan kepala diatas kedua telapak tangan, tepat disamping Lucas. Ia lantas termenung, tak menyadari bila sang bayi mencoba bangkit mendaki tubuhnya.
"Papaaah ...." himbau Lucas, selepas tiba diatas perut Arya.
Lucas lansung merangkul leher sang ayah, sekejap memejamkan mata karena hal itu jelas membuatnya merasa nyaman.
"Lucas ini ... padahal tadi sempat tidur sendirian didalam ranjang bayi. Sekarang tidurnya diatas perut gua," gumam Arya dalam hati.
Arya spontan mendengus, lalu memejamkan mata seraya mengelus-elus punggung sang bayi. "Besok Alexa pasti dateng. Dan ...." Ia pun sontak membuka mata, seketika teringat suatu hal yang terlupakan. "Ahh iyaa! Gara-gara kejadian tadi, gua sampe lupa nelpon Reina," batinnya.
Perhatian Arya lantas tertuju pada jam digital yang menggantung diatas pintu kamar. Sekejap niatnya diurungkan untuk mencoba menghubungi Reina, karena hal itu pasti akan menggangu Lucas yang sedang tertidur.
"Besok pagi aja dah ... mumpung gua udaah ...."
Belum sempat perkataan batinnya terungkap, Arya perlahan memejamkan kedua mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pagi menjelang, semilirnya angin udara berhembus dari celah ventilasi, membuat Arya lantas membuka kedua mata.
Arya berkedip-kedip menatap langit-langit ruangan, lalu pandangannya pun tertuju kearah Gabriel yang tengah berdiri disisi ranjang.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Gabriel, sekejap membungkuk bersama ketiga robot android.
Arya lantas bangkit, terduduk ditengah-tengah ranjang lalu menguap serta menggeliatkan kedua tangan. "Pagi semuanya. Pagi Gabriel, pagi Lucas," balasnya, seketika menyadari bahwa Lucas tengah berada dalam gendongan Gabriel.
"Ada apa Tuan?" tanya Gabriel, mendapati pandangan Arya memicing tajam kearah Lucas.
"Kok Lucas ada sama lu? Sejak kapan bangunnya?" jawab Arya, melemparkan pertanyaan.
Gabriel tersenyum meringis. "Maaf Tuan, hamba hanya berinisiatif mengurus Lucas dari pagi. Tapi Tuan tenang saja, Lucas sudah mandi, sarapan, serta minum susu," jawabnya.
"Serius lu? Yakin semuanya beres?" tanya kembali Arya memastikan.
"Betul Tuan. Lihat saja, putra Anda sudah tampan, wangi, dan segagah ini. Apakah hamba nampak berbohong?" jawab Gabriel percaya diri, meyakinkan hati Arya.
"Papaaah!" Lucas menghimbau, menjulurkan kedua tangannya kearah Arya.
Gabriel lantas mencoba menghalangi niat Lucas. "Maaf Tuan Muda, jangan menyentuh Tuan Arya dulu. Sebab, beliau belum mandi," sindirnya.
"Haa?!" Arya pun tersinggung, sekejap bangkit dan berjalan menghampiri Gabriel. "Tadi lu ngomong apa?" tanyanya sinis.
"Tuan, sebaiknya Anda lekas mandi. Sebab, tamu anda sudah menunggu dari tadi diruang tamu," jawab Gabriel, mengalihkan pertanyaan Arya.
"Hmm ... yang datang dua orang gadis Tuan," jawab Gabriel.
"Mampus!" Dengan tergesa-gesa Arya menerobos tubuh Gabriel, ia bergegas keluar dari kamar untuk segera menemui tamu yang dimaksud. "Dua orang?! Siapa satunya lagi?! Gak mungkin Alexa bawa Bella atau Clarissa, apalagi Sarah ... Reina?! Dia kan belum tau alamat gua yang sekarang!" gumamnya dalam hati, terkatung-katung menuruni anak tangga.
Saking tergesa-gesanya, Arya tak memperhatikan keseimbangan tubuh, membuat kakinya lantas tergelincir selagi menapak turun pada anak tangga.
(*Gedabak gedebuk gedebak gedebuk*)
"Aryaaaa!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk yang kedua kalinya, Arya membuka mata. Kali ini ia justru terbaring diatas sofa, mendapati kehadiran dua gadis yang terduduk tepat diseberangnya.
Arya pun perlahan berkedip, seraya terduduk ia sejenak mengenali siapa sosok dua gadis yang tidak asing itu. "Alexaa? Reinaa? Bener bukan?" duganya memastikan.
Dua gadis itu lantas berdiri, justru lebih mengkhawatirkan kondisi Arya yang sempat jatuh menggelinding pada anak tangga.
"Arya kamu gapapa kan?!" tanya Alexa dengan cemas.
__ADS_1
"Mas Arya jangan suka terburu-buru gitu ... bahaya tau lari-larian diatas anak tangga," tegur Reina yang turut merasa cemas.
Dugaan Arya ternyata benar, rupanya yang datang berkunjung adalah Alexa dan Reina. Ia lantas tersenyum meringis, seraya mengusap-usap rambut belakang.
"Jadi, Reina udah tau rumah gua yang sekarang, pasti dikasih tau Alexa. Tapi sejak kapan yah, mereka bisa jadi akrab begini?" tanyanya dalam hati.
"Tuan, sepertinya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Apa perlu hamba buatkan teh untuk mereka?" sambung Gabriel dalam hati.
Arya spontan menoleh kearah Gabriel yang tengah berdiri membelakangi anak tangga, seraya menggendong Lucas. "Ah yaudah. Tapi Lucasnya bawa kesini dulu! Kalo lu yang gendong, nanti mereka kepikiran yang enggak-enggak," pinta Arya.
"Baik Tuan." Gabriel segera berjalan menghampiri Arya, sekejap ia menjadi pusat perhatian Alexa dan Reina. "Ini Tuan. Tolong jangan terlalu lama, sebab Tuan belum mandi, sedangkan Tuan Muda sudah mandi," sindir Gabriel seraya menyerahkan Lucas.
Arya lansung meraih ketiak sang bayi. "Lu kok jadi bawel banget sih?! Iya bentar lagi gua mandi!" balasnya gondok.
Dengan tenangnya Gabriel menyingkir, namun tetap menjadi pusat perhatian Alexa dan Reina. "Maaf Tuan, hamba tidak bermaksud menyindir. Tapi kebersihan adalah yang terpenting untuk Tuan Muda," tegas Gabriel dalam hati.
Arya sontak mendecih, turut menoleh sinis kearah Gabriel yang telah menjauh. "Ini orang ngeselin amat yak," batinnya.
"Arya, kalo boleh tau, dia siapa yah? Saudara kamu bukan?" tanya Alexa, sedari tadi merasa curiga atas keberadaan Gabriel.
"Ahaha iya! Dia sodara jauh aku. Jauh banget, dari Korea soalnya," jawab Arya tersenyum meringis.
"Wahh ... jauh banget yah. Pantes mukanya mirip orang Korea. Aku kira tadi anggota grup boyband," sambung Reina, turut tersenyum meski sebenarnya masih menyimpan rasa curiga.
"Ahaha ... emang dia dulunya mantan anggota boyband. Tapi sekarang udah berhenti, terus menetap disini sementara waktu," balas Arya, ikut menyambungkan dugaan Reina.
Kesempatan demi kesempatan Arya manfaatkan untuk mengelabui dua gadis itu, berusaha agar mereka tak lagi mencurigai keberadaan Gabriel.
Arya terus tersenyum-senyum, menanti Gabriel membawakan dua gelas teh hangat untuk Reina serta Alexa. "Dia kalo jarak jauh begini, bisa denger gak yah?" pikir Arya.
"Tentu saja bisa Tuan. Meski terpisah jauh, hamba tetap dapat mendengar perkataan hati Tuan," balas Gabriel dalam hati, berdiri didalam ruang dapur yang nampak jauh dari ruang tamu.
"Nah! Lu pasti denger kan apa yang gua bilang tadi ke mereka?" tanya Arya dalam hati, memastikan.
"Tentu Tuan. Anda mengakui hamba adalah saudara jauh, hamba merasa senang saat mendengarnya," balas Gabriel, sedikit terharu.
"Lupain soal itu! Kalo mereka nanya lagi kayak tadi, lu mesti jawab apa yang udah gua jawab barusan. Ngerti?!" tegas Arya dalam hati.
"Baik Tuan, hamba mengerti," sahut Gabriel.
Sesaat kemudian, Reina dan Alexa tak lagi menanyakan apapun pada Gabriel, walau mereka semua nampak terduduk diruang tamu tanpa kehadiran Arya.
Gabriel terduduk diseberang Alexa serta Reina, menyaksikan betapa senangnya kedua gadis itu bercengkrama bersama Lucas. Sedangkan Arya tengah terburu-buru membersihkan diri dalam kamar mandi, selepas sebelumnya ia meminta Gabriel menemani para gadis untuk sementara waktu.
"Tuan, jangan lama-lama," pinta Gabriel dalam hati.
__ADS_1
"Haa?! Lu ngomong apaa?! Gak kedengeran soalnya!" balas Arya, meski sebenarnya ia mendengar jelas suara hati dari sistem humanoid tersebut.
~Tbc