Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 42. Melamar Pekerjaan II


__ADS_3

"Arya Pratama. Kamu disini mengajukan posisi sebagai Finance Advisor?" tanya salah seorang Staff HRD, seorang pria nampak sebaya dengan Arya.


Arya yang tengah terduduk pun lantas menjawab, "Betul, Pak."


Sang pria mengangguk-angguk, memahami keinginan Arya mengisi jabatan tersebut. "Kalau begitu, apa yang kamu tau tentang asuransi?" tanyanya kembali.


Sebelum menjawab pertanyaan itu, Arya menarik nafasnya dalam-dalam, memikirkan sesuatu yang matang tentang topik yang ditanyakan.


"Asuransi adalah jaminan, menjamin aspek-aspek tertentu dalam kehidupan seseorang di masa mendatang," jawab Arya penuh percaya diri.


"Bagus. Sebenarnya kurang tepat, tapi tetap merujuk pada definisi asuransi. Biar saya jelaskan, asuransi adalah kesepakatan antara dua pihak, dimana pihak kesatu berkewajiban membayar premi atau iuran sesuai jangka yang telah ditetapkan. Sementara pihak kedua berkewajiban memberikan jaminan bila terjadi sesuatu pada pihak kesatu, atau aset-aset pihak kesatu sesuai dengan perjanjian yang yang telah disepakati," terang sang pria panjang lebar.


Selagi mendengar penjelasan sang pria, Arya mengangguk-angguk penuh antusias, mencerna dalam-dalam apa yang tengah dijelaskan. "Baik Pak, saya mengerti," balasnya.


Sang pria pun tersenyum dengan balasan Arya. "Oke. Menurut informasi yang saya baca, status kamu disini sudah menikah. Apa betul?" tanyanya.


"Betul Pak. Sebenarnya, status saya adalah duda beranak satu," jawab Arya terus terang.


"Hmm ... apakah kamu bisa menjamin kalau hal itu gak akan menggangu pekerjaan kamu nantinya? Ehmm ... maksud saya, apakah kamu tidak merasa sulit?" Sang pria bertubi-tubi memberikan pertanyaan.


Pandangan mata Arya tetap stabil, tak bergeser sedikitpun kecuali menatap serius membalas tatapan sang pria.


"Saya akan memberikan jaminan. Apabila anak saya terbukti menggangu pekerjaan saya, maka saya siap untuk dipecat," jawab Arya penuh penegasan, terlebih lagi pertanyaan itu menyangkut tentang anaknya sendiri.


"Hmm oke, jawaban yang sangat menarik." Sang pria seketika memegang selembar kertas berisi daftar riwayat hidup Arya. "Mengapa kami harus menerima kamu bekerja sebagai karyawan, di perusahaan kami?" tanyanya, kali ini dengan pertanyaan yang sangat-sangat menentukan nasib pelamar pekerjaan.


Arya kembali menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya berkata, "Karena perusahaan ini sedang mencari kandidat berpotensi, dan saya pun sangat yakin bahwa saya termasuk dalam kandidat tersebut," jawabnya kembali, penuh kepercayaan diri sebagai senjata andalannya.


Tiba-tiba sang pria spontan bertepuk tangan, sedikit melongo dengan jawaban Arya yang penuh keyakinan. "Oke Pak Arya. Terimakasih sudah menjawab pertanyaan saya dengan baik. Silahkan menunggu di tempat tadi," ucapnya.


"Baik Pak." Dengan penuh kharisma Arya bangkit dari kursi. "Terimakasih telah mendengar jawaban saya dengan baik," balasnya, lalu beranjak keluar dari ruangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedikit terjadi keriuhan suasana yang disebabkan oleh para pelamar, mereka saling berbincang-bincang perihal sesi lamaran yang sedang berlangsung.

__ADS_1


Arya masih menduduki kursi tepat disamping sang gadis, mendapati gadis itu tengah mencoba menenggak sesuatu.


"Minum apa?" tanya Arya.


Sang gadis tetap menenggak sebuah pil, lalu meminum sebotol air minuman. Ia kemudian menutup botol tersebut. "Obat penenang. Legal dan sesuai anjuran dokter," jawabnya, tanpa membalas tatapan Arya.


Arya lantas termenung. "Dia minum obat itu buat nenangin diri? Segitu takutnya kah di interview HRD?" pikirnya heran.


Sesaat kemudian, seorang pelamar beranjak keluar dari ruangan. Salah seorang Staff HRD yang bertugas di luar pun segera memanggil pelamar berikutnya.


"Jessica Angeline, silahkan masuk," himbau Staff HRD.


Gadis yang terduduk di samping Arya spontan berdiri, bergegas merapihkan kemejanya lalu berjalan menuju pintu ruangan.


"Semoga lu baik-baik aja," harap Arya dalam hati.


Arya kembali berkosentrasi pada tujuan utama, menyelesaikan misi yang diberikan Gabriel. Tanpa ia sadari, salah seorang karyawati perusahaan yang sempat melintas pun spontan berhenti, lalu melirik penuh penasaran pada wajahnya dari kejauhan.


"Kayak ... kenal. Itu cowok mukanya mirip banget sama foto cowok yang pernah ditunjukkin Sarah!" pikir karyawati tersebut, akan tetapi ia terpaksa menyimpan rasa penasaran, perlahan menjauh karena tengah disibukkan dengan pekerjaan.


Pelamar terakhir pun keluar dari ruangan, menandakan sesi interview telah berakhir. Staff HRD yang bertugas diluar ruangan segera memberikan informasi penting terkait kegiatan sebelum jam istirahat.


"Bagi yang ingin istirahat, beribadah atau makan, boleh keluar dari gedung ini. Di sekitar gedung ada kantin dan tempat beribadah terdekat. Tapi ingat, jangan sampai datang lewat dari jam satu. Atau kalian langsung dinyatakan gugur. Mengerti?" terang Staff HRD.


"Mengertiii ...." balas para pelamar serempak.


Arya segera berdiri, perlahan melangkahkan kakinya menuju pintu utama gedung. "Lucas kira-kira lagi ngapain yah? Gua jadi kangen sama dia," batinnya.


"Permisi." Tiba-tiba Jessica spontan menyalip Arya, tergesa-gesa berjalan menuju pintu utama.


Hal itu justru membuat Arya semakin heran. "Kayaknya, efek obat itu gak berlaku buat dia. Malah lama-lama bisa bikin dia kecanduan." Arya merasa tertarik dengan keadaan Jessica, dimana gadis itu telah memberikan kesan menarik baginya. "Kalau emang kita berdua sama-sama lolos, gua bakal terang-terangan ngelarang lu ngelakuin kebiasaan buruk itu lagi," batinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selepas mengisi kekosongan perut, Arya kembali bergegas memasuki gedung perusahaan, tempat dimana ia menjalani misi yang diinstruksikan Gabriel.

__ADS_1


"Kalau gua keterima, Reina pasti seneng dengernya," pikir Arya, namun tiba-tiba mendapati Jessica sontak memotong jalannya.


"Maaf." Dengan tergesa-gesa Jesicca berjalan mendahului Arya, memasuki pintu utama gedung.


Arya justru kecanduan rasa heran dibuatnya. "Itu cewek kenapa yah?! Kayaknya sengaja banget menghindar dari gua?!" gumamnya dalam hati.


Kini Jessica nampak terduduk seraya memainkan ponsel, sementara Arya sempat mendengus, sebelum menduduki kursi tepat di sebelah gadis itu.


"Sabaarr .... mungkin dia lagi terbawa rasa gugup. Padahal tadi dia abis minum obat penenang di depan gua." Arya semakin membatin dibuat Jessica, terheran-heran dengan sikap gadis tersebut pasca berkenalan dengannya.


Waktu telah menunjukkan pukul satu siang hari, namun jumlah pelamar yang kembali pun nampak berkurang, sepertinya mengundurkan diri sepihak akibat terpengaruh rasa pesimis. Atau mereka memang dinyatakan tidak lolos usai menjalani sesi interview.


Tak berselang lama, salah seorang Staff HRD pun keluar dari dalam ruangan, perlahan menutup pintu lalu berbalik menghadap para pelamar.


"Selamat siang semuanya," sapa Staff HRD.


"Siaaang Buu ...." balas para pelamar serempak.


"Okey terimakasih. Setelah melewati sesi interview HRD, kita akan menjalani tahap terakhir, sesi interview petinggi perusahaan. Bagi yang namanya disebutkan, silahkan naik ke lantai dua. Nanti akan diarahkan oleh petugas disana."


Apa yang dijelaskan Staff HRD tersebut, spontan membuat hati para pelamar merasa deg-degan. Sebab mereka semua sama-sama berambisi untuk diterima bekerja sebagai karyawan, di perusahaan bonafit tersebut.


Sang Staff HRD kembali melanjutkan perkataannya. "Arya Pratama," himbaunya.


Arya lansung berdiri. "Saya Bu," balasnya.


"Okey. Lansung naik ke lantai dua yah," pinta sang Staff HRD.


Menjadi orang pertama yang disebutkan, Arya lantas berjalan dengan tenang menuju anak tangga. Tetapi jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat-sangat senang karena sudah berjuang melewati tahap demi tahap, dalam proses seleksi calon karyawan.


"Jessica Angeline," himbau kembali sang Staff HRD, membuat Jessica spontan berdiri lalu bergegas menyusul Arya.


Lagi-lagi, Jesicca berulah. Untuk yang ketiga kalinya ia spontan memotong jalan Arya. "Permisi," ucapnya, tergesa-gesa berjalan menuju anak tangga.


Arya sempat terhenti, sontak mendengus sedalam-dalamnya. "Ini tempat emang bener-bener nguji kesabaran gua." Dengan berat hati Arya kembali melangkahkan kaki, menyusul kepergian Jessica. "Tapi tuh cewek lama-lama bikin gua tertarik, apa alasan dia sampai segitunya ngejauhin gua," batinnya.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2