Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 56. Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

Arya tak berdaya saat dipojokkan Amanda, sedari tadi terus mengacuhkan perkataan gadis itu.


(Bap*)


"Arya kamu denger gak?!" tanya Amanda tegas, menghentakkan pintu pada dua sisi ketiak Arya.


"Saya denger Bu," jawab Arya tenang, tanpa sedikitpun membalas tatapan sang atasan.


"Lihat aku." Amanda menggenggam dagu Arya, memaksanya untuk saling bertatapan. "Aku jauh lebih baik dari Sarah," ucapnya, perlahan mendekatkan wajah.


Dalam keadaan itu tentu Arya mengalami dilema, tak berdaya dalam jebakan rayuan maut Amanda. Ia benar-benar tak menyangka bila wanita itu telah berencana sejauh ini hanya untuk menyandera dirinya.


Amanda memejamkan mata, seraya menyodorkan bibir ia yakin bahwa Arya akan menerimanya.


(Tok,tok,tok*)


Beruntung. Belum sempat bibir mereka beradu, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruangan.


"Siapaa sih?!" gumam Amanda, terpaksa memasangkan seluruh kancing kemejanya.


Arya spontan menyingkir untuk berdiri di belakang Amanda. "Syukurlah ... ada penyelamat ...." batinnya penuh rasa lega.


Amanda perlahan membuka pintu, yang terlihat rupanya Jessica. "Loh, kamu ngapain kesini?! Siapa yang nyuruh?!" tanyanya kesal.


Arya yang tengah menunduk pun menjadi sorotan Jessica, hal itu lantas membuatnya segera membungkuk di hadapan Amanda. "Bu! Jangan pecat Arya! Arya gak salah apa-apa! Pecat saya aja Bu, pecat saya! Saya udah berbuat salah!" ungkapnya penuh harapan.


Amanda sekejap mendengus mendengar permohonan gadis itu, semuanya kini telah menjadi kesalahpahaman di antara mereka. "Siapa yang mau pecat Arya, hah? Emangnya kamu pikir saya punya wewenang untuk ngelakuin itu? Enggak. Tugas saya cuma mengawasi pekerjaan kalian saja. Yang berhak merumahkan karyawan cuma pihak HRD aja," ucapnya menerangkan.


Jessica lansung berdiri tegak. "Serius Bu?!" tanyanya.


"Hmm. Yaudah kamu cepet kembali ke ruangan sana! Arya gak bakal di pecat," perintah Amanda.


"B—baik Bu," sahut Jessica, pun perlahan berbalik meninggalkan ruangan tergesa-gesa.


Amanda kembali mendengus. "Ada-ada saja dia," gumamnya, seketika menutup pintu rapat-rapat.


Arya kembali mempersiapkan mental, tiba-tiba menyaksikan Amanda berjalan melewatinya. "Loh, gak nempel lagi? Udahan kah?" pikirnya.


"Arya. Lupain aja soal tadi, anggap saya cuma becanda," kata Amanda yang telah terduduk di kursi kerja.


"I—iya Bu," balas Arya, tanpa berbalik menghadap Amanda.


Amanda menghela nafas. "Yaudah kamu boleh kembali ke ruangan kamu, karena urusan kita udah selesai. Lain kali kamu tegur rekan kerja kamu itu, bilang ke dia untuk jangan pernah datang terlambat lagi," titahnya.


Kini Arya spontan berbalik, lalu berkata, "Siap Bu, terimakasih. Saya izin meninggalkan ruangan."


"Ya." Amanda pun menyaksikan Arya kembali berbalik dan pergi meninggalkan ruangan, sekejap tak rela rasanya hati ia melepaskan pria itu begitu saja. "Okey Sarah, kamu menang, Arya sangat sulit untuk ditaklukkan. Kamu emang beruntung Sarah," batinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arya kembali memasuki ruangan kerja, tetap berjalan menuju mejanya walau menjadi pusat perhatian seluruh karyawan yang lain.


"Bang, lo gapapa?" tanya salah seorang karyawan yang terduduk di seberang Arya.


Dengan tersenyum Arya berkata, "Gapapa kok, tenang aja."

__ADS_1


Jessica lansung berdiri dan berjalan mendekati Arya. "Lo serius gak jadi dipecat kan?!" tanyanya penasaran.


"Enggaak ... lagian kita cuma ngomongin soal iklan yang bakal di produksi bulan ini kok," jawab Arya, seketika menulis sesuatu dalam selembar kertas sobekan.


Bendera ketenangan lantas berkibar dalam hati Jessica. "Syukurlaahh ...." ungkapnya, tiba-tiba mendapati Arya menyodorkan sobekan kertas.


"Nih, nomor gua. Simpen," ucap Arya.


Jessica sedikit terheran, namun tetap meraih sobekan kertas tersebut. "Oh iya, lo kan belum nelpon-nelpon gue dari kemarin-kemarin ... thanks yah," balasnya tersenyum.


Arya lantas berdiri. "Gimana kalau kita bikin grup sosmed aja? Kumpulin semua nomor kalian, biar gua bikin grupnya," sarannya pada seluruh karyawan.


"Boleh juga tuh," balas salah seorang karyawati lain.


"Hmm. Gue setuju," sambung salah seorang karyawati yang lain.


"Betul tuh, biar kita bisa saling berbagi informasi tentang kerjaan," sambung salah seorang karyawan lainnya.


Satu persatu karyawan pun mengutarakan tanggapan mereka, tentang rencana yang dikemukakan Arya.


Menjelang detik-detik terakhir jam kerja, Arya telah mengumpulkan seluruh nomor kontak dari rekan satu ruangan kerja, juga memasukkan nomor-nomor tersebut ke dalam sebuah grup chat yang telah ia buat.


Suara bel digital yang mengakhiri jam kerja pun berbunyi, Arya lekas merapihkan seluruh peralatan untuk kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan bersama-sama.


"Arya pulang dulu yah," ucap salah seorang karyawati, melambai-lambai bergegas meninggalkan Arya.


"Oke, hati-hati yah dijalan," balas Arya, turut melambai-lambai.


"Byee Aryaa ...." sambung salah seorang karyawati lainnya, tersenyum juga melambai-lambai.


"Bang, gua duluan nih," ucap salah seorang karyawan yang nampak bersahabat.


"Iyaa, lu hati-hati," balas Arya.


Hampir seluruh karyawan berpamitan dengan Arya, hingga kini hanya menyisakan ia saja dengan Jessica.


"Loh, Jessica mana?" pikir Arya, berjalan menuju lift dengan pandangan yang terus menatap ke depan.


Rupanya, Jessica berjalan pelan di belakang Arya. "Arya baik, tapi duda ... ahh ... kenapa harus mikirin statusnya sih?! Emangnya salah kalo dia duda?! Enggak kan?!" batinnya bertanya-tanya.


Arya sekejap berhenti di depan lift, menekan sebuah tombol yang akan membawa lift naik ke lantai dua.


Sedangkan Jessica terus berjalan dan menggumam dalam hati, hingga akhirnya ia tak sengaja menabrak punggung Arya.


"Ehh maaf," ungkap Jessica.


Arya menengok ke belakang. "Loh, gua kira lu udah pulang," ucapnya.


Jessica mendengus. "Belum kok. Emangnya gak keliatan yah kalo dari tadi gue jalan di belakang lo?" balasnya.


"Enggak." Arya mendapati pintu lift terbuka, segera berjalan memasuki lift tersebut. "Oh iya, hari ini lu pulang sama siapa?" tanya Arya, menyaksikan Jessica turut berjalan masuk ke dalam lift.


"Gue? Hmmm ... naik angkot paling ... hehee," jawab Jessica tersenyum-senyum.


Arya yang sempat melihat senyuman Jessica, lantas mendengus seraya memusatkan pandangan ke depan. "Yaudah lu tunggu depan gerbang aja," pintanya.

__ADS_1


Jessica sedikit terkejut. "Mau ngapain? Gak usah, gue bisa pulang sendiri kok," tolaknya, menyadari bahwa Arya berniat mengantarnya pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ihh lu kenapa baik banget sih?! Gue jadi gak enak ngerepotin terus."


Jessica berkata selagi terduduk dalam mobil, bersama Arya yang tengah melaju pergi meninggalkan gedung kantor.


"Udah gapapa, kan kebetulan satu arah pulangnya," balas Arya.


Perkataan itu jelas membuat Jessica semakin luluh, terus dan terus melirik kagum ke arah Arya. "Yang penting baik hati ya kan? Tapi gue jadi penasaran mau lihat anaknya Arya. Minta main ke rumah dia boleh gak yah?" pikirnya.


"Tuan, aku kembali," kata Gabriel bertelepati.


"Iya, lu lama sekali munculnya," balas Arya sedikit kesal.


"Maaf Tuan, hamba ingin menyampaikan bahwa Anda telah berhasil menyelesaikan misi level C, memperbaiki hubungan dengan rekan kerja. Reward untuk Anda adalah saldo pulsa sebesar seratus ribu rupiah, bonus kuota data bulanan sebesar 10 GB, serta uang tunai sebesar dua ratus ribu rupiah. Terimakasih telah menyelesaikan misi kali ini Tuan."


Gabriel panjang lebar menjelaskan, jenis reward yang diraih Arya setelah berhasil menyelesaikan misi darinya.


"Oh, baguslah kalau udah selesai. Besok hari terakhir lu kan?" tanya Arya dalam hati.


"Betul Tuan. Maaf jika hamba selalu merepotkan Anda," jawab Gabriel.


"Jangan minta maaf, justru gua berterimakasih udah dapet pengganti sistem yang baik kayak lu. Terimakasih juga udah mau jaga Lucas selagi gua ga ada di rumah," balas Arya mengungkapkan.


Gabriel lantas terharu dan berkata, "Ahaha, tak perlu berterimakasih Tuan, itu sudah menjadi tugas hamba."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai mengantarkan Jessica pulang, kini Arya bergegas melajukan mobil menuju rumah. Tentu saja ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan Lucas, sang bayi yang menjadi pemicu memuncaknya rindu dalam hatinya.


"Kalaupun Gabriel udah gak ada, apa bener sistem gua mau ngejaga Lucas? Kira-kira gimana yah kabarnya sekarang?" batin Arya.


Sesaat kemudian, Arya lansung menepikan mobil tepat di depan gerbang rumah. Perhatiannya lantas tertuju pada banyaknya jumlah kendaraan roda empat, yang nampak terparkir di depan rumah Aulia.


"Ada acara apa nih?" tanya Arya dalam hati, perlahan beranjak turun dari mobil.


"Sepertinya, akan diadakan acara berdoa di rumah itu Tuan," sambung Gabriel, bertelepati dari balik gerbang rumah.


Gabriel segera membuka gerbang, seketika menyaksikan Arya terus berdiri seraya melihat ke arah rumah Aulia.


"*Acara s*yukuran? Aulia beneran sembuh kah?" tanya Arya dalam hati.


"Betul Tuan. Sebaiknya Anda lekas masuk, mari kita bicarakan hal ini di dalam," pinta Gabriel.


"Iyee ...."


Arya perlahan berjalan memasuki gerbang, tersimpan rasa penasaran dalam hatinya tentang Aulia yang diakui Gabriel telah pulih dari keterbelakangan mental.


"Aneh ... semenjak sistem ngelakuin percepatan waktu, semua orang yang pernah gua temui, gak ada lagi yang bilang gua mirip sama Arya Pamungkas. Apa ini karena dia?" pikir Arya, terus melangkah menuju anak tangga.


Gabriel mendahulukan sebuah sistem robot android berusaha mengendarai mobil Arya masuk ke dalam garasi, sebelum akhirnya sistem humanoid tersebut dapat menutup dan mengunci pintu gerbang rapat-rapat.


Teringat akan sesuatu, Gabriel lantas berdiri mematung menghadap gerbang rumah. "Nona E, sepertinya Anda sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Tuan Arya," ucapnya, tanpa mampu didengar oleh Arya.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2