
"Tuan, selamat. Anda telah menyelesaikan misi level A, mempertemukan kembali Angela dengan Lucas. Reward untuk Anda adalah dua tiket liburan ke Bali, satu voucher belanja senilai dua ratus ribu rupiah, serta uang tunai sebesar delapan juta rupiah, lansung masuk ke rekening Anda. Terimakasih telah menyelesaikan misi ini dengan baik, Tuan."
Tanpa menunjukkan wujudnya, Gabriel berkata panjang lebar menjelaskan berbagai macam reward menarik untuk Arya.
"Wahh ...." Arya yang tengah terbaring pun spontan bangkit, dan terduduk di atas sofa. "Sampai kapan masa berlaku tiketnya?" tanyanya dalam hati.
"Tidak ada masa berlaku, Anda bisa menggunakannya kapanpun. Namun hanya bisa digunakan untuk sekali pakai," jawab Gabriel.
"Hmm ... udah lama gak ke Bali ...." pikir Arya, mengingat kenangan-kenangan semasa hidupnya.
"Tuan, apakah Anda ingin mengulang masa-masa itu?" tanya Gabriel yang mampu membayangkan pikiran Arya.
"Yang mana nih?!" jawab Arya, membalikkan pertanyaan.
"Berfoya-foya, mengunjungi disk—"
"Gak! Gua bersumpah gak bakal kaya gitu lagi," potong Arya tegas.
"B—baik Tuan. Terimakasih atas jawaban Anda, hamba senang mendengarnya," ungkap Gabriel.
Arya menggeleng-geleng, kedua alisnya pun nampak mengkerut saat membayangkan betapa sia-sianya masa hidup yang ia jalani, dekat sebelum musibah kecelakaan itu merenggut nyawanya.
"Tuan? Anda baik-baik saja?" tanya Gabriel.
Arya mendengus dalam. "Iyaa ...." balasnya.
Sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki yang menandakan bahwa Sarah tengah berjalan menuruni anak tangga. "Sayaaang ...." himbaunya.
"Iyaaa ...." sahut Arya.
Langkah kaki Sarah sempat terhenti di ujung anak tangga. "Loh, kirain kamu tidur," ucapnya.
"Yaa enggaklah. Kalau aku tidur, siapa yang mau jagain kalian berdua," balas Arya seraya berdiri.
Sarah lantas menyungging senyum, sebelum berkata, "Aww ... kamu baik banget."
Apa yang dikatakan Arya barusan, benar-benar membuat Sarah merasa senang mendengarnya. Hal tersebut jelas memancing gadis itu segera berjalan mendekat, spontan merangkul kedua pundak Arya penuh mesra.
"Mau ngapain lagiii? Ini udah malem gak enak sama tet—"
Gumaman Arya pun terpotong, sebab bibirnya tiba-tiba disambar oleh kecupan hangat secepat kilat Sarah.
"Cuma begitu doang kok. Gak mungkin ada orang yang ngeliatin kan?" tanya Sarah, perlahan melepaskan rangkulan lalu berjalan menuju pintu rumah.
Arya sedikit terkejut dengan sikap berani gadis cantik berkacamata itu. "Gabriel, lu setuju gak kalau gua nikahin Sarah?" tanyanya dalam hati.
"Hmm ... maaf Tuan, hamba tak bisa memberikan pendapat tentang hal itu. Hanya sistem Anda sendiri yang bisa melakukannya," balas Gabriel bertelepati.
"Aryaaa ... gak mau nganterin aku sampai gerbang nih?" tegur Sarah, mendapati Arya mematung.
__ADS_1
"M—maaf." Arya segera berjalan menghampiri Sarah, meski ia masih terbayang-bayang dengan ciuman itu. "Mau aku anterin?" tanyanya dengan polos.
"Ha? Gimana gimana? Kamu anterin aku pakai mobil kamu gitu maksudnya?" jawab Sarah, dengan heran melemparkan pertanyaan.
Selepas membuka pintu rumah, Arya spontak menepuk kening. "Astagaaa ... lupa aku kalau kamu bawa mobil," jawabnya.
"Hmm, gapapa, lagipula aku bisa pulang sendiri kok. Toh siapa yang jagain Lucas kalau kamu ikut?" balas Sarah, merasa gemas dengan tingkah laku Arya.
"Ahaha iyaa, bener juga."
Arya menuntun Sarah berjalan keluar dari gerbang rumah, hingga menyaksikan gadis itu beranjak masuk ke dalam mobil.
Jauh dalam lubuk hatinya, Sarah masih enggan untuk meninggalkan Arya, merasa ingin selalu berada di sisi pria itu setiap waktu.
Namun, sepertinya mereka harus dipisahkan oleh kesibukan masing-masing, juga hal itulah yang mungkin akan memicu rasa rindu salah seorang diantaranya.
"Aku pulang dulu yah, sayang," pamit Sarah, selepas menyalakan mesin mobil.
"Iya, kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut. Kalau ada apa-apa kabarin aku," balas Arya.
Sarah lantas tersenyum mendapatkan perhatian yang berlebih, dimana Arya justru menatap serius, lebih mengkhawatirkan situasi gadis itu yang harus pulang sendirian.
Tanpa berkata-kata lagi, usai memandang ke arah depan, Sarah lansung tancap gas meninggalkan Arya.
Menyaksikan mobil Sarah perlahan menjauh, kekhawatiran Arya kian memuncak. "Briel, selama ini lu selalu nyuruh gua ngejalanin misi," ucapnya dalam hati.
"Iya Tuan?" balas Gabriel, seketika memunculkan wujud manusianya di belakang Arya.
Arya menyadari Gabriel tengah berdiri di belakangnya. "Sekarang boleh gak gua yang nyuruh lu?" tanyanya.
Gabriel seketika bertekuk sebelah lutut, lalu berkata, "Dengan senang hati, Tuan."
"Tolong pantau Sarah, buat dia aman sampai tujuan," pinta Arya, perlahan berjalan menuju pintu gerbang.
"Baik Tuan. Suatu kehormatan bagi hamba menjalankan perintah dari Anda."
(Zwuuff*)
Gabriel menghilang secepat kilat, juga nampaknya bergegas mengejar kepergian Sarah, memantau situasi dan keamanan perjalanan gadis itu sesuai perintah Arya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi yang cerah, Arya mengawalinya dengan terduduk fokus menatap layar komputer, juga sesekali melirik ke arah sekat meja kerja Jessica yang nampak kosong. "Dia lagi sakit, atau ada keperluan?" pikirnya.
Tiba-tiba, pintu ruangan sontak terbuka. Jessica dengan paniknya berdiri selepas membuka pintu, khawatir bila ia terkena hukuman karena datang terlambat.
Beruntung Amanda belum memasuki ruangan tersebut, dengan tergesa-gesa Jessica berjalan menuju meja kerjanya.
"Kamu, berhenti!"
__ADS_1
Belum sempat Jessica terduduk, Amanda menghimbau seraya berdiri di depan pintu ruangan.
"Mampus dah gue!" batin Jessica penuh kepanikan.
Amanda mendengus, sebelum akhirnya berjalan menghampiri gadis itu. "Baru berapa hari kerja sudah terlambat. Coba jelasin, apa yang bikin kamu telat dateng kesini?" tanyanya, berdiri dibelakang Jessica seraya bersedekap tangan.
Jessica enggan berbalik, seketika tubuhnya bergetar-getar karena kepergok oleh sang atasan. "Duhh gimana nih?! Gak mungkin juga kan gue ngeles bangun kesiangan?!" pikirnya diujung tanduk.
"Kamu dengerin saya gak? Apa udah gak ngehargain saya lagi?" tegur Amanda, mencoba menahan kekesalan.
Menanggapi hal itu, Arya spontan berdiri. "Bu, maaf tadi saya ngeliat Jessica lagi di toko fotocopy. Mungkin gara-gara kemarin saya minta buat salinan berkas, dia jadi terlambat," belanya.
Pandangan Amanda justru terpusat tajam ke arah Arya, sekejap memperhatikan apakah pria bawahannya itu benar-benar berkata jujur.
Usia mendengus, Amanda pun berkata, "Yaudah kalau gitu kamu saya maafin untuk kali ini. Cepet duduk di tempat kamu," perintahnya pada Jessica.
"B—baik ... Bu," balas Jessica, perlahan berjalan menduduki kursi kerjanya.
Jessica melirik ke arah Arya yang kembali fokus menatap layar komputer. "Gak nyangka banget lo rela berbohong demi gue. Makasih banget Aryaaa ...." ungkapnya dalam hati.
Sementara, Amanda perlahan berjalan menghampiri meja Arya. Pandangan matanya terus terpusat pada wajah pria itu, sepertinya menyadari bahwa Arya telah berbohong demi menyelamatkan Jessica. "Okey aku paham maksud kamu. Setelah ini, kamu yang bakal aku hukum, Arya," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel digital pertanda jam istirahat pun berdentang, Arya bergegas menyusun rapih seluruh perlengkapan kerja, sebelum berniat keluar meninggalkan ruangan.
Namun Amanda yang sedari tadi berdiri di dekat pintu, terus mengawasi setiap gerak-gerik Arya, merasa inilah waktu yang tepat baginya menyampaikan sesuatu, sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"Arya. Pulang nanti kamu dateng ke ruangan saya." Amanda perlahan berbalik menghadap pintu ruangan. "Awas kalau sampai gak dateng," gertaknya.
Arya yang telah berdiri pun berkata. "B—baik Bu."
Amanda lantas melenggang pergi begitu saja, meninggalkan rasa penasaran dalam hati Arya yang mulai bertanya-tanya tentang dirinya.
"Tuan, jangan khawatir. Turuti saja perintahnya," ucap Gabriel melalui telepati.
"Iyaa, gua santai aja kok dari tadi," balas Arya dalam hati.
Jessica sempat menyaksikan hal itu, justru menjadi khawatir dengan situasi yang akan dialami Arya kemudian. "Enggak! Arya gak mungkin dipecat! Kalaupun dipecat, gue yang harus bertanggungjawab," batinnya.
"Ohh, jadi dia cuman ngambil kesempatan pengen ngomong empat mata sama gua? Okelah," pikir Arya.
"Betul Tuan. Ada udang dibalik batu, ada maksud tertentu dari ucapan wanita itu. Jadi anda tak perlu khawatir," balas Gabriel bertelepati.
Arya lantas berjalan perlahan melewati meja Jessica, tak sedikitpun ia berniat melirik ke arah gadis itu.
"A ... Aryaaa ...." Jessica hendak menghimbau, akan tetapi Arya terlanjur pergi meninggalkan ruangan.
Rasa bersalah kian memuncak dalam hati Jessica, ia pun segera menyusun rapih perlengkapan kerja sebelum akhirnya bergegas menyusul kepergian Arya.
__ADS_1
"Di awal pertama kenalan imej gue udah hancur dimata dia. Sekarang gue malah kayak merasa gak punya salah ke dia." Dengan tergesa-gesa Jessica beranjak meninggalkan ruangan. "Arya ... pokoknya lo gak boleh dipecat!" batinnya.
~Tbc