
"Masih siang nih, enaknya kemana lagi yah?" tanya Arya, selagi fokus mengemudikan mobil.
Arya berhasil pergi membawa Lucas meninggalkan rumah sakit, setelah sebelumnya ia membuat Bella menjadi terheran-heran.
Kini, Lucas nampak tertidur sambil terduduk, dengan belenggu kain sabuk pengaman yang menahan perutnya.
...[Bukannya tadi kau bilang ingin menemui Reina?]...
"Ohh iya, baru inget gua," jawab Arya.
*Sistem mendengus*
...[Pulanglah terlebih dahulu. Lucas sepertinya merasa lapar. Bersihkan dirimu dan Lucas, lalu ganti pakaian sebelum pergi]...
"Siaaap!" Arya lansung tancap gas menuju rumah.
Lucas tiba-tiba terbangun. "Pa ... paaah ...." himbau sang bayi dengan pelan.
"Iyaa nak, sabar yah. Kita lagi sebentar lagi sampai," balas Arya.
Padahal, Arya mengendarai dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Tetapi, ada seorang petugas polisi yang mencoba mengejarnya.
Dengan sigap polisi tersebut mendahului lalu menghadang laju mobil Arya, membuatnya lantas melambatkan kecepatan mobil.
"Lah, kenapa nih?" tanya Arya penuh heran.
...[Host, sepertinya kau melanggar peraturan]...
"Ha? Kok bisa?" tanya kembali Arya penasaran.
...[Tidak tahu. Biar petugas polisi saja yang menjelaskannya. Kau hanya perlu bersikap kooperatif]...
Arya mendengus. "Yaudahlah," balasnya, lalu menghentikan laju mobil.
Sang petugas polisi pun turut berhenti, bergegas turun dari motornya, kemudian berjalan menghampiri mobil Arya.
"Surat-surat gua lengkap kan?" tanya Arya memastikan.
...[Ya. Semua surat-suratmu, ada didalam dashboard mobil]...
"Oke." Arya segera menurunkan kaca mobil, mendapati sang petugas telah berdiri dihadapannya.
"Selamat siang, Pak." Dengan ramahnya sang petugas menyapa, sempat memberikan hormat kepada Arya. "Bisa turun sebentar," pintanya.
"Oh iya Pak." Arya lekas melepaskan sabuk pengaman, lalu beranjak turun dari mobil. "Kenapa ya Pak?" tanyanya.
"Maaf, Bapak telah melanggar ganjil genap. Bisa tunjukkan surat-suratnya?" pinta kembali sang petugas dengan sopan.
Arya spontan menoleh pada plat nomor mobilnya. "Wah iya! Plat gua ganjil. Berarti sekarang jam genap," batinnya.
"Bagaimana Pak? Apakah ada surat-suratnya?" tanya sang petugas, sedikit curiga.
"Ada Pak, ada! Tunggu sebentar." Arya kembali memasuki mobil, mengeluarkan surat kendaraan juga surat izin mengemudinya dari dalam dashboard. "Ada-ada aja. Kenapa situ gak ngasih tau dari tadi ..." keluhannya dalam hati.
...[Hmm ... sengaja. Seharusnya, kaulah yang lebih tau peraturan lalulintas di ibukota. Jadikan ini sebagai pelajaran, agar tak terulang lagi dikemudian hari]...
__ADS_1
Arya hanya mampu tersenyum meringis, sembari berjalan menghampiri sang petugas. "Ini Pak," ucapnya, menyerahkan seluruh surat-surat pada sang petugas.
Dengan seksama sang petugas memperhatikan informasi dalam surat-surat tersebut. "Mas Arya Pamung— oh bukan. Saya kira Arya Pamungkas," kata sang petugas, hampir salah menyebutkan nama Arya.
"Enggak Pak. Saya Arya Pratama," jelas Arya.
Sang petugas lantas menoleh pada wajah Arya. "Loh, kok mirip?" tanyanya curiga.
"Apanya Pak?"
"Mukanya," jawab sang petugas, menduga bila Arya adalah Arya Pamungkas.
"Emang mirip, orang gua sendiri." Arya menegaskan dalam hati, tetapi ia sebisa mungkin membuang kecurigaan sang petugas. "Nggak Pak. Saya Arya Pratama, udah nikah, udah punya anak malah," jawabnya dengan tenang.
"Ohh ...." Sang petugas menggaruk-garuk helmnya. "Iya kali, mungkin kebetulan mirip," ucapnya.
Arya lansung tersenyum dan berkata, "Bener kan Pak. Yaudah, bisa dipercepat Pak? Soalnya saya lagi buru-buru."
"Baik baik. Saya buatin dulu surat tilangnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arya akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah, setelah sebelumnya ia sempat ditilang oleh sang petugas kepolisian.
"Besok-besok, gua harus hapal ganjil genap. Lumayan juga dendanya," batin Arya, lalu menepikan mobilnya mobil tepat didepan gerbang rumah.
Selepas turun dari mobil, Arya lansung membawa Lucas bergegas menuju kedalam rumah, tanpa menyadari ada seorang gadis yang tengah melihatnya dari kejauhan.
"Orang itu ... mencurigakan ...." batin sang gadis, sempat menyaksikan Arya dari atas balkon rumah.
Arya terlebih dahulu membersihkan diri, membersihkan Lucas, lalu memberikan asupan bergizi pada sang bayi.
"Makan yang banyak yah nak, biar kamu tumbuh sehat dan kuat," bujuk Arya, menyuapi Lucas dengan bubur khusus balita.
Usai menyuapi Lucas, Arya bergegas membawa sang bayi menuju pintu rumah. Kini, ia menggunakan alat gendongan yang sering digunakan saat membawa Lucas ketempat yang ramai.
...[Host, ada yang memperhatikanmu dari luar gerbang]...
"Haa." Arya sekejap berbalik, selepas mengunci pintu rumah rapat-rapat. "Siap—paaa ...."
Spontan tercengang, sekejap terbelalak, Arya tak menyangka dengan sosok seorang gadis yang turut berdiri mematung, didepan gerbang rumahnya itu.
...[Bukankah, dia Aulia So—]...
"Diem." Arya spontan memotong perkataan sistem. "Coba jelaskan. Apa ini bisa dibilang kebetulan, gua tiba-tiba ketemu sama Aulia?" pintanya dalam hati.
...[Tidak. Ini bukan kebetulan. Aku sama sekali tidak mengatur pertemuanmu dengannya. Hanya saja, dia memang tinggal bersebrangan denganmu]...
"Haaaaaaa?" Arya melongo, tiba-tiba mendapati sang gadis memegang erat besi pintu gerbang. "Tapi ... kenapa dia jadi begitu?" tanyanya penuh heran.
Keheranan itu, perlahan berubah menjadi rasa iba. Arya tertegun dengan perubahan Aulia Sofia, penampilan gadis itu sangatlah berbeda jauh dengan apa yang pernah ia lihat dulu.
Rambut hitam kusam pendek bergelombang, tatapan mata yang sayu, penampilan yang nampak tak terurus, Aulia Sofia, berhasil membuat Arya berjalan secara perlahan menghampirinya.
...[Jangan bersedih, host. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, gadis itu kini sedang dalam fase depresi]...
__ADS_1
"A—Auliaa?" Arya menghimbau, meyakinkan dalam hatinya bila sosok gadis itu benar-benar Aulia.
Aulia tak sedikitpun berkedip, pandangan matanya justru tertuju pada Lucas, yang menatap penuh lugu kearahnya. "Siapa...." Ia lantas menunjuk kearah Lucas. "Diaa?" tanyanya dengan nada rendah.
Lucas seketika menoleh pada wajah Arya, sang bayi nampaknya terheran mendapati dirinya ditunjuk oleh Aulia.
...[Host, harap bersabar, ini ujian. Bersikaplah dengan tenang]...
Arya berjalan mendekat, disaksikannya dengan jelas perubahan fisik serta penampilan Aulia. "Ini Lucas, anak kandung saya. Bisa minggir sedikit, saya mau buka gerbangnya," pinta Arya.
Aulia melangkah mundur, sedikit menjauh dari pintu gerbang, menanti Arya berbalik menghadap padanya.
"Jujur, gua merasa sedih karena penampilannya jadi urakan begitu. Apa dia masih inget gua?" tanya Arya dalam hati, selagi mengunci pintu gerbang.
...[Astaga! Aku sampai lupa. Selamat! Kau telah menyelesaikan misi level A, memberikan imunisasi pada bayimu. Reward untuk host, satu un—]...
"Ahhh telat!" Arya spontan memotong perkataan sistem, juga nampaknya enggan berbalik menghadap Aulia. "Jawab pertanyaan gua tadi," pintanya dalam hati.
...[Maaf. Sepertinya aku dapat panggilan dari sistem pusat. Aku akan segera kembali sesaat lagi]...
Mendapati tingkah laku sistem yang aneh, Arya spontan mendengus. "Malah kabur dia ...." batinnya.
"Woiii," himbau Aulia, belum jua mendapati Arya berbalik.
Arya menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya secara perlahan. Dalam situasi yang seperti itu, ia tetap mencoba untuk bersikap tenang, sebelum akhirnya berbalik perlahan menghadap Aulia.
Mereka saling beradu tatapan, Aulia menatap kosong, sedangkan Arya menatap tajam.
"Kayaknya, dia gak inget siapa gua," duga Arya dalam hati.
Tiba-tiba, Aulia memalingkan pandangannya kearah Lucas, kembali menunjuk pada sang bayi. "Siapa makhluk yang sangat lucu dan imut ini? Berapa harganya? Boleh gak saya beli?" pintanya dengan polos.
"Haaa??" Kening Arya lantas mengkerut, tak menyangka dengan perkataan Aulia. "Gak. Lucas gak dijual. Jangan seenaknya aja kalau ngom—"
Perkataan Arya spontan terhenti, seketika mendapati Aulia sekejap membungkuk menatap Lucas lebih dekat.
"Daripada tinggal sama om-om ini, mending kamu ikut saya," bujuk Aulia.
Bukannya merasa takut, Lucas malah menyentuh hidung Aulia, sepertinya tak merasa terancam dengan kehadiran gadis tersebut.
"Tenang, tenaang. Aulia pasti gak ada niat jahat sama Lucas. Tapi, omongannya tadi emang beneran ngeselin," pikir Arya, mencoba menahan kesabaran.
Dengan sentuhan yang amat lembut, Lucas berhasil menghipnotis Aulia, kelembutan itu bahkan sampai merasuk kedalam akal dan jiwanya.
"Ohh ...." Aulia tak dapat menahan kesadaran, sekejap tubuhnya melemah, lalu terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan.
"Lah, Auliaa!" Arya menjadi terkejut, mencoba meraih tangan Aulia, akan tetapi ia tak berhasil menjangkaunya.
(Dugh*)
Aulia akhirnya tersungkur kearah belakang. Tak ada sedikitpun sakit yang ia rasakan, kecuali terus merasakan betapa lembutnya sentuhan Lucas yang masih membekas dalam pikiran.
"Aku ... jadi ... pengen ... punya ... baaayiii ...." igau Aulia dengan tubuh yang terlentang diatas aspal jalanan, perlahan kedua matanya pun seketika terpejam.
~Tbc
__ADS_1