Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 53. Siasat Gabriel


__ADS_3

{{Maaf kalau kemarin author gak sempat update, sebab author sedang tidak enak badan🙏}}


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuh lihat ... ada siapa tuh?" ucap Arya pada Lucas yang tengah ia gendong.


Arya perlahan menuruni anak tangga, membuat Angela dan Winda spontan berdiri menyaksikannya.


"Haloo dedeee!" himbau Angela, melambai-lambai tersenyum ke arah Lucas.


Sementara Sarah terus menyoroti dengan tajam wajah Angela, dimana ia justru menjadi pusat perhatian sang bayi.


"Mamaah!" himbau Lucas, menunjuk ke arah Sarah.


"Bukan mamah, tapi teman papah," sanggah Arya, seketika berjalan menghampiri Angela.


Melihat respon Lucas terhadap Sarah, Angela menjadi tersinggung. Ia beranggapan bila sang bayi justru lebih mengingat sosok Sarah ketimbang dirinya.


"Wahh ... ini anak kamu?" tanya Winda.


Arya tersenyum. "Hehe iyaa ... kenalin namanya Lucas," jawab Arya.


Karena merasa gemas Winda lansung meraih tangan sang bayi. "Halo dedee Lucas ... kenalin namaku Winda," ucapnya.


Lucas nampak gembira menerima perlakuan baik dari Winda, sedangkan Angela nampak tertunduk lesu meski jaraknya sangat dekat dengan sang bayi.


"Angela, kamu kenapa?" tanya Arya.


"Boleh aku gendong?" pinta Winda.


"Oh, silahkan." Arya menyerahkan Lucas dalam gendongan Winda, seketika ia pun menyadari keadaan yang di alami Angela. "Kamu gapapa? Apa ada yang salah?" tanyanya.


Angela menggeleng pelan. "Emm ... kayaknya, aku gak pantes deh ada disini," ungkapnya.


"Loh kenapa?" tanya kembali Arya penasaran.


Sekejap Angela menatap wajah Arya penuh senyuman. "Gapapa kok. Mungkin kalau kita bisa jadi temen, aku berharap aku bisa main terus kesini," jawabnya.


"Ohh ... yaa boleh aja. Mau mampir tiap hari pun gak masalah," balas Arya.


"Boleh sampai aku benar-benar resmi jadi ibunya Lucas!" Sarah sontak menyergah, membuat pandangan Angela lansung melirik ke arahnya. "Kalau aku dan Arya udah menikah, kamu harus sadar siapa kamu, sebelum mencoba berkunjung kerumah ini lagi," tegasnya.


Tak ada perbedaan signifikan dari dua wajah kembar yang saling beradu tatapan tajam itu, Sarah dan Angela mulai menanam bibit permusuhan dalam hati mereka atas apa yang telah terjadi sebelumnya.


"Oh, oke," balas Angela, kini pandangan wajahnya menatap cemas.


"Angel? Angeel?" himbau Winda, terkejut mendapati perubahan sikap wajah Angela.


Arya mendengus. "Gabriel kemana sih, katanya mau nunjukin sesuatu! Ini lama kelamaan bisa kacau urusannya kalau dibiarin terus," gumamnya dalam hati.


Angela lansung terduduk, kini nampak menunduk cemas dengan keterpurukan batin. "Untuk apa juga aku kesini, padahal kalau aku tau Arya dan cewek itu semakin deket, aku gak mau lagi kenal sama dia."


"Arya sini," himbau Sarah.


Mau tidak mau Arya menuruti permintaan itu. "Iyaaa," balasnya, berjalan menghampiri Sarah.


Tiba-tiba, terdengar suara dering ponsel dari dalam tas lengan Angela, namun gadis itu tak terlalu memperdulikan.


Winda yang tengah memangku Lucas pun menyadari hal tersebut. "Angeel ... ada yang nelpon tuh," tegurnya.


"Hmm!" Dengan kesal Angela merogoh ponsel dari dalam tas lengan, seketika terkejut mendapati siapa sosok seseorang yang sedang menghubunginya itu. "Randy?! Tumben dia nelpon?! Ada apa?!" pikirnya, segera mengangkat panggilan tersebut.


Arya terduduk disamping Sarah, menyaksikan Angela perlahan beranjak menuju pintu rumah.


"Kenapa diliatin terus? Kamu suka sama dia?" tegur Sarah, melirik kesal.


"Emm enggak kok. Aku cuma heran aja sama sikap dia belakangan ini," jawab Arya meyakinkan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang awal malam yang dingin, Angela nampak terduduk memainkan ponsel, sementara Arya dan Winda terlihat melakukan perbincangan menyangkut kerjasama antar perusahaan mereka.


"Kayaknya, iklan promosi perusahaan Mas Arya bakalan sukses deh," ucap Winda, sebelumnya ia telah menyerahkan Lucas pada Sarah.


Arya tersenyum. "Ahaha ... mudah-mudahan sih begitu, soalnya budget yang dikeluarkan lumayan besar," balasnya.


"Bukan begitu Mas, gak usah pikiran soal budgetnya. Secara yang jadi bintang iklan kan Mas Arya sendiri, toh udah pasti iklannya bakal menarik perhatian ibu-ibu rumah tangga, hehehe," sanggah Winda, alih-alih memuji penampilan Arya.


"Ahh kamu bisa aja, hehehe," lanjut Arya.


Lucas sedari tadi nampak tenang selama berada dalam pangkuan Sarah, sementara gadis itu justru terus melirik tajam ke arah Winda, khawatir bila Arya kepincut dengan kecantikannya.


"Briel? Gabrieeel? Et dah, kemana nih orang," batin Arya, tak jua mendapati keberadaan Gabriel.


Sarah perlahan menunduk menatap kepala sang bayi, seketika merasakan cairan hangat membasahi sekujur rok mininya. "Duhh! Lucas kayaknya ngompol deh ... mana aku masih pakai rok kerja," keluhnya dalam hati.


"Ada apa? Lucas ngompol?" tanya Arya, menyadari apa yang dirasakan Sarah.


Dengan spontan Sarah berdiri mengangkat ketiak Lucas, membawa sang bayi berjalan tergesa-gesa menuju ruang toilet.


Tanpa menjawab pertanyaannya, Arya menjadi terheran-heran dengan sikap Sarah. Demi mengatasi hal tersebut pun ia turut berdiri dari kursi sofa. "Bentar yah, aku mau ngambil celana Lucas dulu, kayaknya dia abis ngompol," ucapnya pada Winda.


"Ohhh iyaa, silahkan," balas Winda.


Angela tetap terpaku pada layar ponsel, sepertinya merasa jenuh berlama-lama di rumah itu. "Mulai detik ini aku harus bisa ngelupain Arya, dan fokus sama Randy. Aku tuh gak bisa lama-lama diginiin terus, kasian juga Randy kalau tau aku hampir mengkhianati perjodohan kita," pikirnya serius.


"Angel, serius Randy mau kesini?" tanya Winda.


"Iya. Udah aku serlok soalnya," jawab Angela.


Winda mendengus, memahami betapa rumitnya keadaan yang dialami atasannya itu. "Kasian juga Angela. Aku tau dia masih sulit ngelupain Arya," batinnya.


Tak berselang lama, Arya kembali menuruni anak tangga sembari membawa sehelai celana Lucas, bergegas memberikan celana tersebut pada Sarah di kamar mandi lantai satu.


Sarah lansung meraih celana tersebut. "Ih gapapa kok. Kamu jangan anggap remeh aku yah, aku udah siap loh jadi ibunya Lucas," balasnya.


Arya pun tersenyum, kemudian berjalan menuju ruang tamu. "Dengan begitu kamu udah menduduki peringkat teratas bersama Reina dan Alexa. Terimakasih Sarah, kamu udah nunjukin kepedulian sama Lucas," batinnya.


"Udah selesai Mas Arya?" tanya Winda.


Belum sempat pertanyaan itu dijawab, Arya seketika menyaksikan kedatangan sebuah mobil dari jendela dekat pintu rumah. "Siapa yah?" tanyanya.


"Randy!" Angela sontak berdiri, turut menyaksikan dengan seksama kedatangan mobil tersebut. "Bener, itu Randy!" duganya.


"Randy? Randy siapa?" tanya Arya penasaran, mendapati Angela spontan berjalan menuju pintu rumah.


Winda turut berdiri. "Itu loh Mas, tunangannya Angel. Maaf yah gak bilang kalau dia mau dateng kesini," jelasnya.


"Ohh ... gapapa," balas Arya mengangguk-angguk.


Winda, Arya, beserta Sarah yang telah selesai mengurus Lucas, mereka berjalan bersama-sama menuju gerbang rumah, menyaksikan seorang pria tengah berbincang dengan Angela di depan mobilnya.


"Siapa dia, Arya?" tanya Sarah bernada pelan.


"Tunangannya Angela," jawab Arya.


Angela seketika menyudahi percakapan, lalu kemudian berjalan mendekati Arya dan Sarah. "Arya, Sarah. Terimakasih udah mau nerima kedatangan aku. Aku kesini juga cuma mau ketemu Lucas, tapi kayaknya Lucas gak mau ketemu aku, hehe ... maaf yah udah gangguin kalian," ungkapnya tersenyum.


"Ahh gapapa kok. Justru aku yang minta maaf udah bikin kamu gak nyaman disini," balas Arya.


Sang pria pun turut berjalan mendekati Arya, seketika menjulurkan jabatan tangan. "Randy, tunangannya Angela. Salam kenal bang," ucapnya melambungkan senyum.


Dengan tenang Arya membalas jabatan tangan pria tersebut. "Arya Pamungkas, temen kerja Angela. Salam kenal juga," balasnya tersenyum ramah.


"Tuan. Ini aku, Gabriel," sambung Gabriel bertelepati.

__ADS_1


"Lu kemana aja? Sekarang lagi dimana?" tanya Arya penasaran.


"Hamba sedang berada dalam wujud pria ini, Tuan," jawab Gabriel.


Arya lantas terbelalak. "Laahh, ada-ada aja lu! Jangan suka nguasain tubuh orang," tegurnya dalam hati, mengetahui bahwa Gabriel telah menguasai tubuh sang pria tunangan Angela.


"M—maaf Tuan. Ini hamba lakukan demi kelancaran misi Anda," ungkap Gabriel dalam hati.


Sarah dan Angela menjadi heran, menyaksikan betapa lamanya sang pria serta Arya saling tersenyum, seraya berjabat tangan satu sama lain.


Arya mendengus, seketika melepaskan jabatan tangan sang pria. "Yaudah. Lu pasti udah tau kan apa resikonya?" tanyanya dalam hati.


"Sudah Tuan. Hamba telah mengatasi segala resiko dari perbuatan hamba ini. Tuan tak perlu khawatir," balas Gabriel meyakinkan.


"Arya kamu kenapa?" tanya Sarah, merasa ada yang ganjal dengan tingkah laku Arya.


"Gak. Aku gapapa," jawab Arya.


Angela lansung menggandeng tangan sang pria. "Yuk, kita pulang," ajaknya.


Sang pria pun mengangguk, lalu kembali menoleh ke arah Arya. "Kalau begitu, saya permisi dulu," pamitnya.


"Oke. Hati-hati di jalan," balas Arya.


"Aku juga!" Winda segera berdiri di samping Angela. "Aku izin pamit Mas Arya, kak Sarah. Terimakasih udah terima saya dengan baik," ungkapnya.


"Iyaa sama-sama. Hati-hati yaah di jalan," balas Sarah.


"Maaf yah aku belum bisa kasih suguhan apa-apa," sambung Arya.


Winda tersenyum. "Gapapa kok Mas. Aku juga rencananya mau main kesini lagi, boleh kan? Aku mau main sama Lucas, hehe," pintanya.


"B—bole—"


"Boleh-boleh aja kalau ada saya. Minimal kabarin saya kalau kamu main kesini lagi, nanti saya minta nomor kamu ke Arya," potong Sarah dengan tegas.


"Okey, terimakasih kak," balas Winda, sedikit menahan kesal dengan dengan perkataan Sarah.


Arya pun menggeleng-geleng dibuatnya, merasa bila Sarah mulai membatasi setiap pergerakannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Angela bersama sang pria akhirnya pergi meninggalkan Arya, disusul oleh Winda yang mengikuti dari belakang.


"Baayyy ...." Lucas tersenyum riang melambai-lambai ke arah mobil mereka, hal itu semakin menambah ketertarikan Sarah terhadapnya.


"Kamu gak pulang?" tanya Arya.


Enggan menjawab pertanyaan itu, Sarah justru melirik ke arah rumah di sebelah. "Rumah ini keliatannya kosong ... kira-kira harganya berapa yah?" pikirnya.


Arya spontan mencubit gemas pipi kiri Sarah. "Cantiikk ... kok aku dicuekin?" tegurnya.


Lucas pun turut mencubit pipi kanan Sarah, sepertinya meniru apa yang dilakukan sang Ayah. "Mamaah ...." himbaunya.


"Ehhh! Tadi aku lagi mikirin apa yah?!" tanya Sarah, menyadari bila ia kepergok sedang melamunkan sesuatu.


"Hayoo, mikirin siapa?" tanya Arya membalikkan pertanyaan.


Sarah menggeleng pelan, sebelum akhirnya berjalan memasuki gerbang rumah. "Kamu tunggu di bawah dulu, aku mau bikinin susu buat Lucas, terus kelonin dia sampai tidur," pintanya.


Arya terlebih dahulu mengunci pintu gerbang, kemudian berjalan menyusul Sarah memasuki rumah. "Yaudah. Tapi jangan lama-lama. Takutnya di grebek Bu RT nanti," balasnya, mengiyakan permintaan Sarah.


Sementara di halaman rumah, Gabriel tiba-tiba muncul.


(zwuushh*)


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2