
Sarah tak dapat mengelak saat ia dipaksa duduk diatas kursi dekat jendela, dengan kondisi perut terbelenggu tali, juga kedua tangannya terikat kebelakang.
"Kenapa? Kenapa aku diikat? Apa salahku?" tanya Sarah.
"Udah kamu diem aja disitu. Bisa bahaya nanti Mas Arya kalo deket-deket kamu," jawab Bella, berdiri bersedekap tangan dihadapan Sarah.
Arya terlihat berdiri seraya menggendong Lucas. "Jangan kayak gitu lah ... kalian gak kasihan sama Sarah?" sambungnya, merasa tak tega dengan perlakuan yang diterima Sarah.
"Udah biarin aja mas Arya. Kalo gak digituin, dia bakal berani macem-macem sama kamu," timpal Clarissa, yang nampak terduduk disisi ranjang.
Merasa terpojokkan, Sarah lantas menunduk murung. Ia mulai meratapi perbuatan memalukan yang sempat dilakukannya barusan, akan tetapi hal itu benar-benar didasari perasaan yang dimilikinya terhadap Arya.
"Gimana Sarah, janji gak bakal ngelakuin hal kayak tadi lagi? Kita bakal lepasin kamu kok," ucap Alexa, menjadi yang merasa paling malu diantara teman-temannya yang lain.
Sarah sejenak termenung, lalu berkata, "Enggak. Sekalipun harus t*lanjang, aku bakal lakuin itu untuk merebut perasaan Arya," jawabnya dengan nyeleneh.
Alexa dkk pun sontak terbelalak, tak menyangka dengan jawaban yang terlontarkan dari mulut gadis itu.
"Yaudahlah." Bella lansung berbalik menghampiri Arya. "Yuk dede Lucas, kita main lagi," ajaknya, sambil meraih tubuh sang bayi dari gendongan Arya.
"Sini sini dede Lucaas! Kita main robot-robotan lagi yuk," himbau Clarissa.
Alexa sekejap mendengus. "Terserah kamu aja deh Sarah." Ia spontan menarik tangan Arya, membawa pria tersebut berjalan menuju meja dapur." Yuk Arya, kita lanjut bikin kuenya," ajak Alexa.
"Ehhh!" Arya menjadi kebingungan dengan situasi itu, sebab ia masih menyimpan sedikit rasa iba terhadap Sarah. "Beneran gapapa? Sarah, mending kamu jang—"
"Udaah biarin aja!" Alexa spontan memotong ucapan Arya. "Dia emang suka begitu kalo udah tergila-gila sama cowok," sindirnya.
Menit demi menit pun berlalu, Sarah tetap mematung selagi terduduk diatas kursi. Ketika kedapatan ia melirik ke arah Arya, nafas dalam dadanya lansung menggebu-gebu tak karuan.
Sementara Alexa sedari tadi sibuk memperhatikan layar ponsel, membaca sebuah artikel online yang menjelaskan tatacara membuat kue ulang tahun.
"Alexa sebenernya bisa bikin kue gak sih," gumam Arya yang berdiri disamping Alexa, mendapati gadis itu belum jua melakukan sebuah pergerakan.
...[Setahuku, hanya satu orang dari kenalanmu yang ahli mengolah kue]...
Arya lansung mendengus. "Reina kan? Gua jadi inget sekarang, kenapa dia belum dateng juga?" tanyanya dalam hati.
...[Hmm ... sebenarnya, dia sudah lama berdiri didepan kamar. Sepertinya merasa gugup untuk bertemu denganmu lagi]...
"Kenapa situ gak ngomong dari tadi!" Arya sontak mendecih, merasa kesal dengan pengakuan sistem, lalu akhirnya bergegas menuju pintu kamar. "Reina juga ... kayak mau ketemu presiden aja pakai gugup segala," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa Arya menarik pintu kamar, membuat Reina lansung terkejut karenanya.
"M—Mas Arya ...." himbau Reina dengan gugup.
Arya mendapati gadis itu menenteng dua kantung belanjaan yang sangat besar. "Beli bahan-bahan dulu?" tanyanya memastikan.
Reina spontan menyembunyikan kantung belanjaannya dibalik punggung. "I—iya Mas ... maaf yah," ungkapnya tersenyum meringis.
Arya mendengus, lalu berkata, "Pantes ...." Dengan inisiatif ia meraih dua kantung belanjaan Reina. "Sini, aku bawain. Kamu lansung masuk aja," suruhnya.
Reina lantas menyerahkan dua kantung belanjaannya pada Arya, lalu bergegas masuk kedalam kamar. Namun, langkah kakinya seketika terhenti, terkejut mendapati begitu banyaknya wanita yang hadir dalam kamar tersebut.
Perhatian Alexa dkk spontan tertuju pada Reina, tatapan mereka nampak seperti menyimpan curiga pada gadis itu.
"Arya! Siapa dia?" tanya Sarah.
Baru saja pertanyaan itu dilontarkan, Reina sekejap berbalik, mencoba menyingkir dari hadapan mereka.
"Loh! Kamu mau kemana?!" tanya Arya, berdiri dibalik pintu sambil menghadang jalan Reina.
"Kayaknya ... aku gak pantes ada disini Mas," jawab Reina menunduk cemas.
Arya seketika melirik pada Alexa dan kawan-kawan, mencoba memahami perasaan Reina yang sulit menerima situasi itu.
Bella dan Clarissa lantas berdiri. "Apa tuh?" tanya mereka serempak.
"Tolong bawain ini, taruh diatas meja dapur," jawab Arya, merujuk pada dua kantung belanjaannya.
Sebisa mungkin Arya mencegah Reina keluar dari kamar, karena ia sangat-sangat membutuhkan keberadaan gadis itu.
"Oke!" Bella dan Clarissa segera berjalan menghampiri Arya, meraih masing-masing dua kantung belanjaan darinya, juga nampak mengacuhkan Reina yang terus menunduk murung.
Kini, Arya leluasa berdiri dihadapan Reina, terlebih dahulu menghela nafas untuk kemudian mencoba meyakinkan gadis tersebut.
"Reina. Mereka cuma teman-teman aku, juga teman mainnya Lucas. Kamu jangan merendah diri, mereka semuanya baik kok," bujuk Arya.
"T—tapi Mas ...." Reina spontan menoleh kearah Alexa. "Mbak yang disitu artis loh. Aku gak mungkin bisa deket sama dia. Kayaknya kenalan mas Arya orang-orang elit semua," balas Reina pesimis.
"Udaahh." Arya sontak menarik tangan Reina, mencoba membawa gadis itu beranjak menuju meja dapur. "Semua manusia sama kok. Gak ada yang sempurna di dunia ini," tegasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Alexa akhirnya menunda keinginannya membantu Arya membuat kue, menyerahkan tugas itu sepenuhnya pada Reina yang memang ahlinya.
"Hebat. Reina emang jagonya bikin kue. Cuma beberapa menit doang, adonannya udah jadi," sanjung Arya dalam hati, menyaksikan betapa tekunnya Reina mengolah bahan-bahan kue tart.
[Host. Kalau kau jantan, katakan lansung padanya. Itu akan memicu semangat dalam hatinya]
Arya merasa tersinggung. "Iya juga yah." Ia tersenyum meringis, mengusap-usap rambut belakang. "Reina. Kamu hebat yah, bisa bikin kue dengan rapih," pujinya.
"Ahh enggak kok Mas. Aku banyak belajar dari situs memasak online, jadinya terbiasa sampai sekarang," balas Reina, sembari menuangkan adonan kue kedalam loyang kotak.
Bergeser menuju ke atas ranjang, Lucas nampak termenung menoleh penuh serius ke arah Reina, meski Bella dan Clarissa sibuk mengajaknya bermain robot mini.
Alexa terduduk disamping Bella, tetap menatap penuh serius pada layar ponsel, tanpa memperhatikan apa yang dilakukan Arya bersama Reina. "Arya Pamungkas ... Arya Pratama ... kayaknya gak mungkin deh mereka orang yang sama," pikirnya.
Sementara, Sarah nampak memendam rasa geram, sedari tadi melirik tajam ke arah Reina yang tak memperlebar jarak sedikitpun dengan Arya. "Aryaaa! Jangan deket-deket sama dia! Kamu tuh harusnya deket-deket sama aku! Cintamu adalah aku. Sayangmu adalah aku!" ocehnya dalam hati, penuh api kecemburuan.
"Doorr! Bella dan robotnya kalah, yeaay!" seru Clarissa, memegang sebuah robot mini gandam berwarna biru.
"Gak bisa! Kamu curang! Aku bakal balas dendam." Bella pun turut memegang robot mini gandam berwarna putih. "Rasakan ini!" serunya, menghantam robot Clarissa dengan robotnya.
Kedua gadis itu sama sekali tak memperhatikan Lucas, sampai-sampai tak menyadari bila sang bayi mencoba beranjak turun dari ranjang.
Kehadiran Reina, membuat rasa penasaran Lucas menjadi tinggi. Bayi tersebut akhirnya berlari menghampirinya, selepas berhasil menapakkan kaki ke atas lantai.
"Pwapwaaa!" himbau Lucas.
"Lucaaas!" himbau Bella dan Clarissa serempak.
"Loh, Lucas ngapain kesini nak." Arya mendapati sang bayi berlari menuju Reina, lalu berhenti tepat dibelakang gadis itu. "Wah, jangan-jangan Lucas tau kalo Reina lagi bikinin kue buat dia," duga Arya dalam hati.
...[Ya. Itulah naluri seorang bayi, mengenali siapa yang benar-benar berbuat baik padanya]...
"Uuuu!" Dengan lugunya Lucas menarik pelan sisi celana, pada bagian paha Reina. "Uuuuuu!" himbau sang bayi, tak jelas mengatakan apa.
"Ehhh!" Reina spontan menoleh kearah belakang, menyadari kehadiran Lucas lalu sekejap berjongkok dihadapan sang bayi. "Dede Lucas mau kue? Sabar yah ... Tante pasti bikin yaaaang paling enak," ucapnya penuh senyuman.
Tiba-tiba, Lucas merangkul pundak Reina, menempelkan sebelah pipi mungilnya pada pipi gadis itu. "Mwamwaa ...." kata sang bayi.
...[Host, bolehkah aku menebak. Gadis ini adalah calon sosok ibu yang diinginkan Lucas]...
Menyaksikan apa yang dilakukan Lucas, Arya justru tersenyum-senyum. "Yaaa, kalo emang Lucas lebih condong ke Reina, dan Reina juga tertarik sama gua, selepas Lucas menginjak usia lima tahun nanti, gua pasti ngelamar Reina," balasnya dalam hati.
__ADS_1
"Uhhh dede Lucas ...." Reina membalas rangkulan Lucas, memeluk penuh kehangatan tubuh mungil sang bayi. "Ibuu ... bapaakk ... aku mau punya anak kayak Lucaasss!" batinnya, menahan rasa gemas dalam hati.
~Tbc