Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 29. Waktunya Imunisasi


__ADS_3

Diiringi merdunya suara kicauan burung yang saling beradu, Arya beranjak keluar menuju halaman rumah bersama Lucas.


Sejuknya udara pagi yang cerah itu, terhirup lega oleh Arya, juga mendapati Lucas tiba-tiba berlarian kesana kemari dan tertawa.


"Lucaas ... jangan lari-larian ... nanti kamu jat—" Arya sontak menguap, menggeliatkan kedua tangan kearah belakang. "Hooaamm ... kenapa gua dan Lucas dipindahin kesini? Padahal kemaren lagi asyik-asyiknya ngerayain ultah Lucas," keluh Arya.


...[Aku lupa mengatakan satu hal. Rumah ini adalah reward dari rangkuman pencapaian misimu pada bulan pertama. Maka dari itu sistem pusat memerintahkan untuk segera merelokasikanmu kesini]...


Arya melirik-lirik kiri kanan, dilihatnya berbagai macam tanaman bunga yang berjejeran disekitar tembok pembatas rumah. "Serius nih rumah buat gua?" Ia kemudian berbalik, menatap penuh heran pada bentuk rumah tersebut. "Ini sih lebih besar dari rumah gua dulu," tambahnya.


...[Ya. Kau tak perlu mengkhawatirkan nilai asetnya. Sertifikat kepemilikan rumah ini didasarkan atas namamu, kau cukup menandatangani sertifikatnya segera]...


"Ha? Emang dimana sertifikatnya?" tanya Arya.


...[Didalam lemari kamarmu. Ada sebuah brankas kecil yang berisikan surat-surat penting, termasuk BPKB mobil]...


Perhatian Arya lantas tertuju pada ruang garasi, terletak tepat disebelah kiri rumah. "Jadi, didalem garasi itu ada mobilnya?" tanya Arya penasaran.


...[Ya. Mobil itu bisa kau gunakan untuk berpergian keluar bersama Lucas]...


Selagi sistem menjelaskan, Arya berjalan menghampiri garasi, lalu mencoba membuka pintu garasi tersebut. Dilihatnya sebuah mobil berwarna biru metalik, berjenis SUV dengan kapasitas lima kursi.


"Wahhh ... ini sih harganya bisa miliaran, Audi Q5 pula. Kenapa gak cari yang murah aja? Mobil semahal ini perawatannya pasti mahal juga," keluh Arya, meski sempat terkagum dengan kehadiran mobil tersebut.


*Sistem mendengus*


...[Dari pada kau memikirkan biaya perawatan, lebih baik kau pelajari sendiri bagaimana cara merawatnya. Dibelakang mobil itu ada sebuah kotak berisi peralatan bengkel. Untuk pelumasnya, kau cukup membelinya lewat online. Carilah ilmu-ilmu tentang memperbaiki mobil ini bila ada kerusakan. Atau, kau bisa mempelajarinya dariku]...


Arya hanya mampu tersenyum meringis mendengar penjelasan panjang lebar itu. "Iya iyaa ...." balasnya.


Tiba-tiba, Lucas muncul dari arah belakang, berlarian penuh riang kearah Arya. "Papaaa!" himbau sang bayi.


"Nah, nih dia Arya junior. Pasti seneng dia liat mobil kayak gini," ucap Arya, menyaksikan Lucas sekejap berhenti tepat didepan mobil.


"Whoaaa ...." Kedua mata Lucas spontan terbelalak, melihat penuh takjub pada kendaraan yang melampaui tinggi badan mungilnya itu. "Moobiil?" ucap Lucas, menoleh pada Arya sambil menunjuk mobilnya.


Arya justru terbelalak lebar. "Coba kamu bilang sekali lagi," pintanya, tak menduga apa yang diucapkan Lucas barusan.


"Moobiil ... moobiil ...." Lucas sontak melompat-lompat kegirangan. "Moobil! Moobil! Moobil!" seru sang bayi.


"Buset! Perasaan gua belum ngajarin apa-apa ke anak ini, kok dia bisa tau yang didepannya itu mobil?!" Arya menjadi terheran-heran.


...[Hahaha! Jangan kau kira hanya orang dewasa saja yang tahu tentang mobil! Bahkan bayi seusia Lucas pun dapat mengetahuinya]...

__ADS_1


Selagi berdiri berkacak pinggang, Arya spontan mendengus dalam. "Jangan bilang dia ini anak ajaib. Masa iya baru umur satu tahun berjalan udah tau nama-nama kendaraan," balasnya.


Lucas berjalan mendekat, mendongak kewajah Arya seolah ingin meminta sesuatu padanya. "Papaa ...." ucap sang bayi.


"Apaa Lucas? Kamu mau coba naik mobil itu sekarang?" tanya Arya memastikan.


Sekejap Lucas mengangguk cepat penuh antusias, justru hal itu membuat Arya menggeleng-geleng penuh heran dibuatnya.


...[Host, cobalah ajak bayimu berkeliling dengan mobil baru. Jangan lupa pasang sabuk pengaman untuknya. Kunci mobil ada dalam sakumu]...


"Iyaa iyaa ... okee!" balas Arya sebelum akhirnya menggendong Lucas, lalu membawa bayi tersebut masuk kedalam mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Papa papaa!" Lucas spontan menunjuk kearah kereta listrik, yang tengah melintas mendahului laju mobil.


Arya membawa Lucas berkeliling area dalam kota, melewati jalan besar dengan perlintasan rel kereta listrik yang terletak tak jauh disisi jalan.


"Itu apa Lucas? Kamu tau?" tanya Arya, berniat menguji pengetahuan Lucas.


"Ke ... re ... ta ...." jawab Lucas, mengeja dengan perlahan namun pasti.


Arya sontak menoleh, menatap penuh heran pada wajah polos sang bayi. "Tadi motor, becak, terus sepeda. Jangan-jangan ibunya seorang guru. Masa iya diumur segitu udah tau nama-nama kendaraan ...." batinnya seraya menggeleng pelan.


"Ahh iya iya ... pesawat. Kamu ngeliat aja lagi. Papa aja hampir gak keliatan," balas Arya.


...[Host, sepertinya kau terganggu dengan kelebihan yang dimiliki Lucas. Apa yang salah dengan hal itu?]...


Arya menghentikan laju mobil tepat dibelakang garis zebra cross, mendapati lampu lalulintas menyala merah. "Enggak ada. Gua cuma gak nyangka aja Lucas bisa nebak semua kendaraan. Padahal gua belum ngajarin apa-apa," jawabnya dalam hati.


...[Jadi, kau merasa fungsimu sebagai seorang ayah berkurang, kah?]...


Mendengar perkataan sistem, Arya spontan mendengus. "Yaa bisa dibilang begitu. Impresi pertama orangtua kan pasti senang, tau anaknya cepat belajar dari mereka. Terus apalagi yang harus gua ajarin ke Lucas?" jawab Arya, penuh keganjalan dalam hati.


*Sistem mendengus*


...[Host, kau malah memikirkan hal sepele. Lucas adalah anakmu. Apa yang dia punya tentu berada dalam tanggungjawabmu. Bentuk wajah, bentuk fisik, perilaku, kebiasaan, serta kecerdasannya, semua itu berasal DNA-mu. Orang-orang akan beranggapan kau adalah ayah yang baik, selepas mengetahui kepandaian yang ditunjukkan Lucas]...


Lampu lalulintas menyala hijau, Arya segera melajukan mobilnya secara perlahan. "Hmm ... ada benernya juga sih. Emang situ udah yakin Lucas anak kandung gua sendiri?" tanya Arya penasaran.


...[Kalau tidak percaya, lakukanlah uji tes DNA antara kau dan Lucas]...


"Ahh iya, boleh juga tuh! Sekalian aja imunisasi Lucas. Otewe dah ke rumah sakit terdekat!" pikir Arya, menyetujui saran sistem.

__ADS_1


...[Aku sampai lupa. Memang misimu hari ini adalah membawa Lucas imunisasi tahun pertama. Sebab pada awal kelahiran, ia sudah menerima imunisasi lansung dari sistem pusat]...


"Haaa?!" Arya terkejut dengan perkataan sistem.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setibanya dirumah sakit, Arya kini terlihat mengantri untuk mendaftar pada loket petugas administrasi.


"Wahh ... rame juga. Mana ibu-ibu semua," gumam Arya dalam hati, mendapati begitu banyaknya pengunjung wanita paruh baya, yang memadati ruang lobby.


Lucas nampak terdiam tenang, selagi berada dalam gendongan sang ayah. Wajah lugu sang bayi yang menghadap kebelakang, justru tak jarang mendapatkan perhatian dari beberapa pengunjung yang melihatnya.


Bahkan, ada salah seorang pengunjung wanita paruh baya yang sempat menghibur Lucas, imbas dari rasa gemasnya terhadap wajah mungil bayi tersebut.


****


Setelah menunggu beberapa saat, Arya akhirnya mendapatkan giliran untuk dilayani oleh petugas administrasi.


"Selamat datang. Keperluannya apa Mas?" tanya salah seorang petugas wanita.


"Ehm ... saya mau tes DNA bisa? Sekalian mau imunisasi anak saya," jawab Arya sedikit gugup.


"Loh, tes DNA? Emang kenapa sama anaknya Mas?" tanya kembali sang petugas penuh heran.


"G—gapapa, cuma penasaran aja. Bisa dibilang iseng-iseng aja. Tapi saya yakin kok kalo anak ini anak kandung saya," jawab Arya, sedikit bertambah gugup.


Sang petugas pun spontan menggeleng-geleng dibuatnya. "Yakin Mas? Biaya tes DNA gak murah loh ... kalau imunisasi masih bisa pakai BPJS disini," katanya.


"Yakin. Berapa biayanya sama imunisasi sekalian. Saya gak punya BPJS soalnya," balas Arya menegaskan.


"Hmm ... okey." Sang petugas mengeluarkan selembar kertas formulir, bersiap menuliskan sesuatu dalam kertas tersebut. "Boleh pinjam KTP-nya Mas?" pintanya.


"Oh, boleh." Arya terlebih dahulu menurunkan Lucas, lalu merogoh sebuah dompet dari dalam saku celana. "Ini Bu," ucapnya, menyerahkan kartu identitas yang ia keluarkan dari dalam dompet.


Lucas tetap fokus menoleh kebelakang, menyaksikan betapa ramainya para pengunjung yang sama-sama memiliki keperluan untuk untuk berobat.


Lantas seorang perawat yang sempat melintas dari kejauhan, tak sengaja melirik kearah Lucas.


"Kok ... kayak kenal? Mukanya lucu, imut, gemesin." Gadis perawat itu mengingat dengan seksama sosok wajah mungil sang bayi. "Wahhh! Lucaaas!" duganya penuh gembira dalam hati.


Rupanya, Bella Maharani. Teman sebaya Alexa yang ternyata bekerja sebagai perawat dirumah sakit itu, spontan bergegas menghampiri Lucas.


Tanpa berkata-kata, Bella dengan gemasnya meraih dan menggendong Lucas secara diam-diam, tak sedikitpun meraih perhatian Arya yang sedang sibuk berkomunikasi dengan petugas administrasi.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2