
Setibanya di dalam kamar apartemen, Arya lansung membawa sang bayi menuju ke sisi ranjang.
...[Pelan-pelan host, tulang-tulangnya masih lemah]...
"Iyaaa, aku tau kok. Ini makanya aku pelan-pelan," jawab Arya.
Dengan ekstra hati-hati Arya membaringkan tubuh sang bayi secara perlahan. Ia berusaha melakukan pergerakan selembut mungkin, agar tak membuat tidur bayi tersebut terganggu. "Hmm ... kayaknya ada yang kurang," ucapnya.
Arya seketika membongkar kantong belanjaan, meraih sebuah selimut kecil yang akan ia gunakan untuk menutupi tubuh sang bayi. "Bayi kalo abis nangis gampang kelelahan kah?" tanyanya.
...[Ya, itu bersifat alamiah, karena tenaga bayimu telah habis digunakan untuk menangis]...
Arya lansung terduduk sila, termenung sambil menatap pada wajah sang bayi. "Hmm ... aku waktu kecil gampang nangis juga gak yah?" tanyanya dalam hati.
...[Sering]...
"Ha?"
...[Menurut penerawanganku pada masa kecilmu, kau lebih sering menangis. Bahkan dalam sehari kau bisa menangis sebanyak tiga puluh kali]...
Arya menopang sebelah pipinya dengan sebelah kepalan tangan. "Iya kah? Astaga malunyaa ...." balasnya.
...[Usahakan untuk tak selalu membuat bayimu menangis, karena dikhawatirkan perkembangan mentalnya terganggu. Maka dari itu, kau ditugaskan untuk selalu mengawasi pertumbuhannya setiap saat]...
"Jadi ... aku harus membuang jauh-jauh kebiasaan masa kecilku pada bayi ini kah?" tanya Arya.
...[Betul sekali, host! Jika kau bisa membayangkan seperti apa kebiasaan burukmu di masa lalu, maka kebiasaan itu juga akan berlaku pada bayi ini]...
"Oh, oke." Awalnya Arya mencoba mengerti, akan tetapi ia sontak terbelakak. "J—jadi ... kebiasaan bu—"
...[Mabuk-mabukan, candu narkotika, bermain wanita, gemar berjudi, semua itu akan menjadi kebiasaan bayi ini suatu saat nanti]...
Arya tiba-tiba berdiri lalu berkacak pinggang. "Jangan lah! Boy gak boleh ngikutin kebiasaan buruk gua!" protesnya.
...[Kau sendiri sudah paham kan? Maka inilah kesempatanmu. Kau dihidupkan hanya untuk memperbaiki kebiasaan burukmu di masa lalu, yang akan terjadi pada bayi ini di masa depan. Kalau kau dulunya adalah seorang artis, tidak menutup kemungkinan bayi ini juga akan menjadi seorang artis]...
Sambil menyentuh dagunya, Arya mengangguk-angguk. "Hmm ... Kayak teori Doppelganger, tapi kita bernasib sama. Berarti bayi ini jangan sampai bercita-cita menjadi seorang artis, atau nasibnya bakalan sama kayak gua. Begitu kah?" tanya kembali Arya.
...[Bisa ya bisa tidak. Kalau sewaktu-waktu kau lepas tangan dalam membimbingnya, maka garis kehidupan bayi itu akan semakin lurus mengikuti garis takdirmu sendiri. Anggap saja kau ini sudah berpengalaman, jadi kau harus mencegah nasib burukmu terjadi pagi bayimu. Mengerti?]...
Panjang lebar sistem berbicara dalam pusat pikiran Arya, ia justru berjalan menuju meja, meraih sebuah ponsel yang terletak diatas meja tersebut.
...[Host! Apa kau mendengarkanku?!]...
"Iyaa iyaa, aku denger kok." Arya kemudian terduduk diatas kursi, sambil menyalakan daya ponsel terbarunya itu. "Gua harus overprotektif ke bayi itu kan?" tanyanya meremehkan.
...[Setidaknya seperti itu, host. Bila itu baik bagimu, maka akan baik pula baginya]...
Arya perlahan menggeleng. "Tapi kayaknya aku gak bisa. Soalnya aku gak pernah ngelarang siapapun dalam hidup aku. Overprotektif tidak selamanya baik, siapa tau bayi itu lama kelamaan merasa terkekang kebebasannya," balasnya.
...[Host, argumenmu itu sangat didasarkan dengan pemikiran yang naif. Bagaimana kalau kau berpikiran bila overprotektif itu tidak selamanya buruk? Apa yang akan berdampak pada bayi i—]...
"Haaa iya iya iya! Aku paham sekarang!" Arya sontak memotong perkataan sistem.
...[Bagus! Kalau tak ingin menjadi ayah yang overprotektif, kau bisa menjadi ayah yang semi-protektif]...
(Cekrek!)
Seketika terdengar suara jepretan kamera dari ponsel Arya. "Kameranya lumayan bagus," pujinya, sesaat setelah mengambil gambar selfi.
Arya tiba-tiba mengarahkan ponselnya kearah sang bayi.
...[Host, apa yang kau lakukan?]...
(Cekrek!)
"Memotret anak sendiri wajar kan?" Arya kemudian bangkit dari kursinya, sedikit berjalan mendekati ranjang sambil mengarahkan kamera ponselnya kearah wajah sang bayi. "Kenang-kenangan itu perlu. Biar nanti si Boy tau dia waktu kecilnya seperti apa. Soalnya aku sendiri gak pernah tau, waktu kecil tuh aku seperti apa," jawabnya.
(Cekrek!)
(Cekrek!)
...[Hmm ... pemikiran yang bagus host]...
__ADS_1
(Cekrek!)
"Wahh ... Boy kalau difoto imut juga," sanjung Arya. Ia tersenyum-senyum saat melihat hasil foto dari wajah tidur bayi tersebut.
...[Padahal sudah jelas bayi ini adalah sosok dirimu sewaktu kecil, host]...
Arya tak sempat mendengar perkataan sistem, dan terus menerus menangkap gambar dari wajah sang bayi. Ia terkadang sampai melakukan gerakan-gerakan layaknya seorang fotografer profesional, demi mendapatkan hasil gambar yang sangat sangat baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ahh ... lapaaar ... mau makan gak ada apa-apa. Mau belanja tapi si boy belum bangun-bangun juga," keluh Arya, yang nampak sedang terlentang diatas lantai kamar.
...[Host, sekarang sudah malam. Bayimu akan terus tertidur sampai esok pagi. Sebaiknya lakukan sesuatu agar perutmu bisa terisi]...
Arya mendengus. "Kalau keluar tanpa harus bawa si Boy gak boleh yah?" tanyanya.
...[Tidak boleh. Kalau kau kebiasaan seperti itu, lama kelamaan kau akan lengah, tak menyadari bila bayimu menghilang atau diculik seseorang]...
"Yaudah deh."
Arya kembali memainkan ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi layanan pengantaran makanan online. "Pesen online aja," ucapnya.
...[Host, matikan lampunya]...
"Iyaa ...."
Arya seketika bangkit dari tempatnya, berjalan menghampiri tombol daya listrik yang akan ia tekan.
(Ceklek!)
...[Host, turunkan suhu pendingin ruangan. Bayimu bisa kedinginan nantinya]...
"Iyaaa ...."
Remot AC yang terletak diatas meja pun diraih Arya. Ia kemudian menurunkan derajat suhu udara yang dikeluarkan mesin AC ruangan.
...[Host. Bayimu berpindah posisi tidur, kain selimutnya sedikit tersingkap. Selimuti bayimu dengan benar]...
"Iyaaa ...."
...[Host, mulai besok kau harus inisiatif. Aku hanya akan mengingatkan untuk hari ini saja. Ingatlah apa yang aku perintahkan tadi]...
"Iyaaa ...."
...[Jangan anggap remeh! Ini semua demi kepentingan bayimu!]...
Arya seketika tersenyum cerah. Jika ada seorang gadis yang menyaksikan senyuman itu, maka dipastikan akan melayang-layang karenanya.
"Aku paham sistem. Jangan anggap aku seperti anak kecil paman," sindirnya.
...[P—pamaan?!]...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bang Arya?" tanya salah kurir, setelah Arya membuka pintu kamar.
"Betul bang," jawab Arya.
"Totalnya jadi 15 ribu rupiah bang," ucap sang kurir.
Arya kemudian menyodorkan selembar uang berwarna biru pada sang kurir. "Ambil aja kembaliannya bang," katanya, sambil meraih sekantung makanan dari tangan sang kurir.
"T—terimakasih bang!"
Sang kurir bergegas pergi dengan membawa rasa senang dalam hatinya.
Sementara Arya perlahan menutup pintu kamar, menahan rasa lapar yang sudah menggebu-gebu dalam perutnya.
...[Apa yang kau beli host?]...
"Nasi goreng biasa," jawab Arya, seraya berjalan menghampiri kursi.
...[Apakah makanan itu bisa dikonsumsi oleh bayimu?]...
__ADS_1
Arya yang sudah terduduk, sontak menyungging senyum. "Mana bisa laaah ... giginya aja belom ada," jawabnya.
...[Oh ... baiklah]...
Tanpa disadari Arya, sang bayi seketika terbangun. Bayi mungil nan imut tersebut tiba-tiba merangkak menuju sisi ranjang.
...[Host! Bayimu!]...
Arya sontak menoleh kearah sang bayi. "Boy!!!" soraknya.
(Srekk)
Arya lansung berlari menghampiri sang bayi yang telah merangkak ke sisi ranjang, tanpa menyadari bila pergerakan tangannya telah menjatuhkan sebungkus makanan yang ia beli.
"Awaass!!" Arya dengan sigap menangkap dan menggendong tubuh sang bayi. "Hampir aja jatoh lu Boyy!!" tegasnya.
Sang bayi pun tertawa riang menatap wajah Arya, sepertinya merasa senang karena pemuda tersebut tetap setia menemaninya.
...[Upaya yang sangat baik, host! Beruntung kau tepat waktu, kalau tidak bayi itu akan terjatuh]...
Arya lalu terduduk, memangkukan sang bayi diatas pahanya. "Gua rasa semua orang juga bakal lakuin hal yang sama, kalau ngelihat ada bayi yang hampir terjatuh kayak si Boy ini," balasnya, sambil mengusap-usap rambut sang bayi.
...[Tidak host, yang kau lakukan itu benar-benar hebat. Tanpa pikir panjang kau lansung bergegas menyelamatkan bay—]...
"Yaah tumpah ...." Arya baru menyadari bila sebungkus makannya nampak jatuh berhamburan keatas lantai.
...[Tidak apa-apa host. Kau bisa pesan lagi]...
Sang bayi tiba-tiba menangis, mengalihkan perhatian Arya yang nampak tercengang saat menatap sebungkus makanannya.
"Lu laper boy? Yaudah yuk kita bikin bubur dulu," ucap Arya.
...[Host. Baca petunjuk pada kotaknya, sebelum membuat bubur]...
"Iyaaa ...."
Meski sibuk menggedong tubuh sang bayi, Arya tetap mampu menggunakan sebelah tangannya untuk meraih sekotak bubur khusus balita, menuangkan bubuk buburnya kedalam mangkuk kecil, memasukkan segelas air hangat kedalamnya, lalu mengaduk-aduknya sampai merata.
"Sabar ya Boy. Bentar lagi jadi," ucap Arya.
Sesaat kemudian, setelah selesai menyuapi semangkuk bubur pada sang bayi, Arya kini mencoba menidurkan bayi tersebut.
"Udah kenyang kan Boy? Bobo yah," katanya, yang nampak tertidur disamping sang bayi, sambil menepuk-nepuk b*kong bayinya itu dengan lembut.
Sang bayi pun akhirnya tertidur pulas dalam dekapan tubuh Arya, begitu juga dengan Arya yang turut tertidur pulas, meski sebenarnya ia sedang menahan rasa lapar.
...[Tenang host, aku akan memasukkan banyak nutrisi kedalam perutmu. Kau tidak akan lapar lagi sampai esok pagi]...
...[Sistem Surgawi, memulai pemberkahan nutrisi empat sehat lima sempurna]...
Sekumpulan cahaya tiba-tiba muncul mengerubungi perut Arya.
...[•••••Menyuplai Nutrisi Host•••••]...
...[•••••10%•••••]...
...[•••••25%•••••]...
Tanpa disadari Arya yang telah tertidur pulas, rasa lapar diperutnya perlahan memudar.
...[•••••50%•••••]...
...[•••••75%•••••]...
...[•••••100%•••••]...
...[Pemberkahan Nutrisi Berhasil! Terimakasih karena sudah mendahulukan kebutuhan bayimu. Selamat tidur dan selamat malam, host]...
(Cekrek!)
~Tbc
__ADS_1