Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 47. Niat Baik


__ADS_3

Arya melajukan mobilnya keluar dari parkiran kantor, segera bergegas menghampiri Jessica yang nampak gelisah menunggu sesuatu.


Setibanya di dihadapan Jessica, Arya pun berkata, "Permisi. Butuh tumpangan gak?"


Jessica yang fokus menatap ponsel lansung melirik ke arah Arya, dalam sekejap gadis itu kembali membuang muka. "Gak usah, gue udah ada yang jemput," jawabnya sinis.


Arya sempat terdiam. "Oh yaudah. Percuma juga gua nawarin," batinnya, segera memasukkan gigi persneling mobil.


Belum sempat Arya menyingkir, tiba-tiba ia mendapati Jessica berbicara dengan seseorang melalui panggilan ponsel. Hal itu justru membuatnya penasaran, sejenak menanti alih-alih memanaskan mesin mobil.


"Lo dimana sih?! Gue udah kepanasan!" omel Jessica pada lawan bicara dalam panggilan ponsel.


Jessica lantas mendecih, sepertinya mendapatkan jawaban yang tak menyenangkan dari lawan bicara, membuat gadis itu sekejap memutuskan panggilan ponsel.


Arya yang sedari tadi melirik penasaran, lansung membuang muka melihat Jessica spontan menoleh ke arahnya.


Wajah Jessica nampak menatap kesal, seketika mendapati kaca jendela mobil Arya perlahan menutup.


"Gimana nih! Gak mungkin dong gue pulang jalan kaki, mana jauh bang—" Tiba-tiba Jesicca menyaksikan mobil Arya melaju dengan lambat.


"Sekalinya di tolak ya mau ngapain lagi, mending cabut," pikir Arya.


Merasa telah menyia-nyiakan kesempatan, Jessica sontak berlari mengejar mobil Arya, melambai-lambai seakan memberikan isyarat pada Arya untuk berhenti. "Pliiss! jangan tinggalin guee!" harapnya dalam hati, penuh kecemasan.


Arya spontan berhenti. Disaksikannya dari kaca spion mobil, Jessica bergegas menghampirinya.


Gadis itu turut berhenti tepat di samping mobil Arya, seketika menggedor-gedor kaca jendela mobil penuh gelisah. "Buka kacanyaa," pinta Jessica.


Usai menurunkan kaca mobil, dengan tersenyum Arya berkata, "Maaf ... Ada yang bisa saya bantu?"


Jessica lansung gelagapan. "Ehmm ... gue boleh minta tolong gak?" pintanya.


"Boleh. Dengan senang hati gue tolong," balas Arya menahan senyuman.


Sadar telah mempermalukan diri, Jesicca lantas menunduk seraya berkata, "Sekali ini aja ... gue minta anterin pulang sampai rumah ... nanti gue bayar kok."


Tanpa pikir panjang, Arya pun mengangguk seolah mengiyakan permintaan gadis itu. "Boleh, lansung masuk aja. Jangan lupa pasang sabuk pengaman yah," ucapnya.


"M—makasih!" Jessica lansung membuka pintu mobil bagian tengah, segera membawa dirinya masuk ke dalam mobil Arya.


Arya tak menyangka gadis itu lebih memilih duduk di bangku belakang, ketimbang terduduk tepat di sampingnya. "Padahal kan bisa duduk di depan ... nih cewek emang gak bisa dijadiin relasi, gua aja gak dihargain dari tadi. Kayaknya gua udah salah pilih target," batinnya.


Senyuman yang sempat ditunjukkan Arya pun menghilang, berganti menjadi pandangan yang menatap tajam ke arah depan. Hal itu didasari atas perlakuan yang ia terima dari Jessica, kini gadis itu tengah terduduk seraya menunduk memainkan ponsel di belakangnya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya gua dianggep supir online. Padahal niat gua baik mau nganterin dia pulang, karena rumah kita searah," pikir Arya, perlahan melajukan mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selama diperjalanan, tak ada komunikasi berkelanjutan yang terjadi antara Arya dan Jessica, kecuali hanya percakapan singkat tentang kemana jalur yang harus di ambil.


Selama itu pulalah Arya terus menggumam dan menggumam dalam hati, mengeluhkan pandangan Jessica tentang dirinya.


"Awalnya baik, sekarang jadi seolah-olah minder setelah tau kekurangan gua," batin Arya, tetap melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang.


Arya seketika teringat akan misi yang diberikan Gabriel, lantas hal itu selalu menjadi pilihan yang rumit tentang haruskah ia menjalani misi tersebut atau tidak.


Meski begitu, Arya spontan melirik Jessica dari cermin dashboard. "Gua boleh minta nomor lu gak?" pintanya mendadak.


Jessica lansung menoleh ke arah depan. "Hmm ... nomor lu aja sebutin sekarang," balasnya.


Arya malah termenung. "Gabriel bilang harus dapat nomor kontak relasi, itu berarti bukan kontak gua yang harus di kasih ke relasi." Ia sekejap mendengus, lalu menyerahkan ponselnya pada Jessica. "Masukin aja nomor lu, terus simpen kontaknya sesuai nama lu," ucapnya.


Jessica mau tidak mau meraih ponsel tersebut. "Oh yaudah," balasnya, segera memasukkan nomor telepon yang ia miliki, dan menyimpannya dalam daftar kontak ponsel Arya.


Selepas mendapati ponselnya dikembalikan, Arya lansung terdiam. "Kalau bukan karena misi, gua gak bakal ada niatan minta nomor cewek ini ... lagipula dia kan belum tau nomor gua," pikirnya.


Jessica pun turut membatin. "Kalau dia udah ngabarin, gue langsung telpon buat minta maaf yang sebesar-besarnya."


"Hmm ... sebenernya belok kiri, tapi gak usah deh, berhenti di pertigaan itu aja. Rumah gue udah gak jauh kok," jawab Jessica, mencoba menampakkan senyuman.


"Oh yaudah." Arya mempercepat laju mobil menuju pertigaan jalan. "Serius nih cuma sampai depan pertigaan itu aja?" tanyanya memastikan, meski sebenarnya hanya berbasa-basi.


Dengan senyuman yang nampak melebar, Jessica pun berkata. "Iyah, gapapa kok, tenang aja. Dari situ aku bisa jalan kaki."


Arya sempat melirik cermin dashboard, membuang lirikan, dan sontak kembali melirik wajah Jessica dari cermin dashboard.


Nampak raut wajah gadis itu kini berubah 180 derajat dari sebelumnya, selalu tersenyum memperbaiki imejnya di hadapan Arya.


"Oke, udah sampai," ucap Arya, selepas menepikan mobil.


"Berapa? Serius aku bayar," balas Jessica.


"Ah gak usah," tolak Arya.


"Udah gapapa, aku gak enak tadi udah nolak tawaran kamu," paksa Jessica.


Arya mendengus. "Udah gak usah. Kalau lu ada niat bayar, itu sama aja nganggep gua supir taksol. Lagian dari awal niat gua baik, karena kebetulan rumah kita searah," tegasnya.

__ADS_1


Jessica pun sampai tercengang, kini matanya nampak terbelalak, seolah tak menyangka dengan perkataan Arya barusan. "Ini cowok ternyata baik banget ternyata," pikir gadis tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dipenghujung sore yang sejuk, kini Arya bergegas melajukan mobilnya menuju gerbang komplek, setelah sebelumnya ia pergi mengunjungi toko kue, juga sempat mengantar Jessica pulang.


Setibanya di depan gerbang rumah, Arya mendapati pintu pagar terbuka lebar-lebar. Rupanya Gabriel, ketiga robot android, serta Alexa yang menggendong Lucas, telah menanti kedatangannya sedari tadi.


"Gabriel emang hebat. Bisa-bisanya dia tau kapan Arya mau dateng," pikir Alexa, seketika mendapati Lucas memaksa untuk turun.


Lucas lansung berlari menghampiri Arya. "Papaaah!" himbaunya dengan riang, terlanjur melampiaskan rindu pada sang ayah.


Arya spontan membungkuk menjulurkan kedua tangan, meraih tubuh sang bayi lalu menggendongnya seerat mungkin. "Lucaas! Papah pulang nih," ucapnya penuh bahagia.


Gabriel hanya bisa tersenyum mengusap-usap rambut belakang, sementara Alexa nampak berinsiatif menghampiri Arya.


"Kamu udah kerja yah? Kok gak bilang-bilang ...." ucap Alexa sedikit cemberut.


"Ahaha maaf ... soalnya aku juga dapet kabar mendadak dari temen soal lowongan pekerjaan, makanya gak sempet ngabarin kamu," balas Arya tersenyum-senyum.


"Tuan, selamat. Anda telah menyelesaikan misi level B, mendapatkan relasi rekan kerja juga mendapatkan nomor kontaknya. Reward untuk Anda adalah satu lusin setelan seragam kerja baru, satu setel pakaian olahraga, pulsa senilai seratus ribu rupiah, serta uang tunai dua ratus ribu rupiah, lansung masuk kedalam rekening Anda. Terimakasih telah menyelesaikan misi kali ini dengan baik, Tuan."


Gabriel menjelaskan panjang lebar, selagi berjalan mengikuti Arya dan Alexa masuk ke dalam rumah.


Alexa segera menduduki sofa, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas belanjaannya. "Arya, aku punya hadiah buat kamu," ucapnya, menyerahkan sebuah kado.


Arya lansung meraih kado tersebut. "Perasaan aku lagi gak ulang tahun. Tapi, terimakasih yah," ungkapnya tersenyum.


"Iyaaa sama-sama. Dibukanya nanti aja, soalnya aku malu kalo dibuka sekarang," balas Alexa, turut melambungkan senyum.


"Ahaha iyaa ... gapapa kok. Aku malah seneng tiba-tiba dikasih kado begini," tambah Arya.


"Ehehe ... anggep aja hadiah untuk kamu yang udah sukses dapet kerjaan. Semangat terus yah!" kata Alexa, mengangkat sebelah kepalan tangan tinggi-tinggi, merayakan keberhasilan Arya.


"Tuan, apa hamba juga boleh memberikan sebuah kado untuk anda?" sambung Gabriel dalam hati, nampak berdiri di dekat anak tangga.


"Ahh gak usah. Justru gua sangat berterimakasih karena lu udah ngejaga Lucas dengan baik, juga udah nyambut kedatangan Alexa selagi gak ada gua. Thanks yah Gabriel," balas Arya dalam hati, meski sedang berbalas senyuman dengan Alexa.


Mendapat balasan dari Arya, Gabriel pun terharu. "T—tidak Tuan, tak perlu berterimakasih pada Hamba. Semua sudah menjadi tugas hamba sebagai sistem pengganti sementara," ungkapnya dalam hati.


Sementara, di dalam sebuah kamar yang nampak sempit, Jessica terlihat tengah terbaring seraya mendecih berulang-ulang, terus menatap layar ponsel yang digenggamnya penuh kesal. "Ish! Maana siih, kok gak nelpon-nelpon juga dari tadi?! Padahal kan dia udah dapet nomor gue!" gumamnya dalam hati, sepertinya dimaksudkan untuk Arya.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2