Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 9. Lucas Hikaru Pratama


__ADS_3

...[Host, misi kali ini adalah]...


"Iyaa?"


Arya menanti perkataan sistem, selagi terduduk diatas ranjang memangku sang bayi.


Sang bayi tiba-tiba tertawa riang, kedua tangan yang mungil itu saling menepuk-nepuk, menoleh penuh ceria ke wajah Arya.


"Ada apa boy? Kayaknya lagi seneng banget nih." Arya seketika membalikkan tubuh sang bayi, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. "Kayaknya ... harus dikasih nama nih," ucapnya.


...[Ya! Kau benar! Misi kali ini adalah memberikan nama lengkap untuk bayimu, host. Pilihlah nama yang bagus. Setiap nama memiliki maknanya tersendiri]...


"Nama yang bagus ... kah?" Arya termenung, menatap penuh serius pada wajah sang bayi.


...[Ya, host. Jadi, tingkat reward misi kali ini bergantung dari nama yang akan kau berikan padanya]...


"Pwapwa!" himbau sang bayi, kedua tangannya yang mungil mencoba menyentuh pipi Arya.


...[Bagaimana host? Apakah sudah memikirkan nama yang bagus?]...


Pertanyaan sistem semakin membuat Arya termenung, seperti sedang berkutat dengan suatu hal dalam pikirannya.


Sang bayi lantas menepuk-nepuk lembut pipi Arya yang tengah merenung.


"Leo? Leonardo? Bastian? ... hmm Maxwell, Julian, Adrian ... cuma nama itu yang ada dalam pikiranku saat ini ...." batin Arya.


...[Host? Jangan terlalu mengulur waktu. Misi ini juga ada tenggat waktunya]...


"Nama belakangku Pratama kan?" tanya Arya.


...[Ya. Itu adalah nama belakang baru, pengganti nama belakang lamamu, Pamungkas]...


"Kalau begitu ....." Arya kembali termenung, meski wajahnya tengah di raba-raba oleh sang bayi.


...[Bagaimana host?]...


"Lucas ... Hikaru ... Pratama. Ya!" Arya sontak mengangkat tubuh sang bayi tinggi-tinggi. "Mulai hari ini, namamu adalah Lucas Hikaru Pratama!" ucapnya dengan penuh semangat.


...[Hmm ... n—nama yang bagus host! Tapi, apa makna namanya?]...


"Lucas, artinya pembawa cahaya dalam bahasa Yunani. Sedangkan Hikaru, artinya cahaya dalam bahasa Jepang. Dan Pratama adalah nama lokal, yang artinya pertama, atau berbakat," jelas Arya.


...[Hebat! Nama yang sangat bagus host! Selamat! kau mendapatkan uang tunai sebesar satu juta rupiah, dan bebas biaya sewa apartemen selama dua bulan kedepan. Terimakasih karena sudah menyelesaikan misi kali ini]...


Arya menurunkan tubuh sang bayi. "Lucas Hikaru Pratama. Kamu adalah pembawa cahaya yang akan terus menerangi hidup papa. Kamu adalah putraku yang pertama, mungkin satu-satunya putra yang akan terus menemani hidup papa. Jadilah anak berbakat seperti papa, yah?" ungkapnya tersenyum, lalu mengusap-usapkan hidungnya dengan hidung mungil bayi tersebut.


"Pwapwa!" Sang bayi merespon dengan senyuman manis, sepertinya memahami maksud dari perkataan Arya.


"Lucas!"


Arya seketika meneteskan air mata, bentuk dari rasa bahagianya atas kehadiran sang bayi. Ia kemudian merebahkan tubuh di atas ranjang, mendekap penuh hangat tubuh sang bayi yang ia beri nama 'Lucas Hikaru Pratama' tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang sore hari, Arya nampak sedang memandikan tubuh Lucas di dalam kamar mandi. "Abis ini kita jalan-jalan lagi yah Lucas," katanya, sambil membersihkan seluruh tubuh sang bayi.


Sesaat kemudian, Arya telah merapihkan dirinya. Ia lalu berjalan menghampiri ranjang, meraih tubuh sang bayi lalu menggendongnya dengan erat.


...[Host. Kali ini giliranmu untuk membeli segala kebutuhan. Pergilah ke mall]...


"Iyaa ...."

__ADS_1


Arya beranjak keluar dari kamar, menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. "Beli mainan buat Lucas ah," ucapnya, tanpa memperhatikan bila ada seseorang yang sedang mengintipnya dari kamar sebelah.


"Arya!"


Rupanya, Alexa Widiyanti, wanita yang menghimbau Arya dari dalam kamarnya.


Arya seketika berhenti. "Alexa? Ini kamarmu?" tanyanya.


"Hehe ... iya." Alexa menunduk malu, matanya sempat mengerling-ngerling saat menatap kearah bawah.


"Kenapa gak bilang tadi? Aku kira kamu tinggal di tower lain," kata Arya.


"Enggak kok." Alexa spontan menatap wajah sang bayi. "Aku minta maaf kalau tadi main pergi aja. Aku bener-bener gak nyangka kamar kita bisa sebelahan. Hehehe," balasnya dengan terkekeh-kekeh.


Arya mendengus, mencoba mengabaikan gerak-gerik Alexa. "Lucas sampai ketawa loh liat kamu tiba-tiba lari dari kita," bebernya.


"L—Lucas?!" Pandangan mata Alexa kembali terpusat pada wajah sang bayi. "Jadi ... namanya Lucas kah?" tanya Alexa.


"Iya. Lucas Hikaru Pratama. Bagus gak namanya?" Arya menoleh penuh senyum pada Lucas.


Alexa spontan tercengang. "B—bagus kok! Boleh aku gendong lagi?" pintanya.


"Boleh." Arya lansung memberikan tubuh Lucas pada Alexa.


Alexa kemudian meraih tubuh Lucas, mendapati bayi tersebut hanya terdiam saat berada dalam gendongannya. "Dede Lucas jangan nangis lagi yah. Tante gak ada niat jahat kok. Hehe ....." bujuk Alexa.


Tiba-tiba, Lucas mendadak cemberut. Matanya mulai berbinar-binar, menatap murung kearah Arya.


"Yaah ... baru aja Tante Alexa bilang jangan takut," kata Arya.


"Iyaa betul loh dede Lucas. Tante cuman mau kenalan aja sama kamu," sambung Alexa.


Arya pun mau tidak mau meraih kembali tubuh Lucas dari gendongan Alexa. "Maaf ya Alexa. Sepertinya Lucas belum bisa kenalan sama orang lain," ungkapnya.


"G—gapapa kok gapapa! Aku yang harusnya minta maaf malah, karena selalu buat Lucas nangis," balas Alexa, dengan kedua tangan yang melambai-lambai dihadapan Arya.


"Cup cup cup." Arya mengusap-usap punggung Lucas, lalu dalam sekejap bayi tersebut kembali tenang seperti biasa. "Yaudah yuk, kita lanjut jalan-jalan lagi," ucap Arya.


Alexa sontak terbelalak. "Kamu mau kemana Arya?" tanyanya, yang mampu menghentikan langkah kaki Arya.


"Aku cuma mau ngajak Lucas belanja aja. Emang kenapa?" jawab Arya, melemparkan kembali pertanyaan Alexa.


"Aku mau ikut. Boleh gak?" pinta Alexa.


Arya mendadak heran. "B—boleh aja. Kalau emang ada barang yang mau kamu beli, kita bareng aja kesana," jawabnya.


Lucas nampak merangkul pundak Arya. Bayi tersebut sepertinya merasa tidak nyaman jika tak berada dalam kuasa papahnya.


"Oke! Tunggu bentar yah. Aku mau siap-siap dulu," ucap Alexa, lalu bergegas masuk kedalam kamar.


"Oke," balas Arya.


Alexa kembali keluar dari kamarnya. "Kamu masuk aja, gapapa kok. Tunggu didalam aja yah?" pintanya.


"Wah. Gak enak aku kalau gitu." Arya mencoba menolak permintaan Alexa.


Alexa justru menarik tangan Arya, memaksa pemuda tersebut masuk kedalam kamarnya. "Udah gapapa kok. Lagian kan kita gak cuma berdua," katanya.


Secara tak sengaja Arya membawa dirinya tiba di dalam kamar Alexa, bersama Lucas. Ia kemudian menyaksikan Alexa berjalan memasuki kamar mandi.


"N—nungguin dia mandi dulu? Gua kirain udah mandi!" gumam Arya dalam hati.

__ADS_1


...[Host. Biarkan saja. Memenuhi permintaan seseorang juga termasuk perbuatan baik. Kau juga akan semakin menjalin hubungan pertemanan dengan gadis itu]...


Arya seketika berjalan menuju sebuah bangku sofa. "Iya juga sih. Lagian kan gak mungkin Alexa mau jadi istriku. Lucas aja gak suka sama dia," batinnya.


...[Hmm ... bukan bayimu yang salah, tapi kau. Harusnya kau memperkenalkan terlebih dahulu bayimu dengan orang lain, jangan seenaknya saja memberikannya. Kasih bayimu kesempatan untuk mengenali wajah seseorang, agar ia terbiasa dengan orang tersebut]...


Arya lansung menunduk cemas. "Iyaa maaf. Memang aku juga sadar kalau aku terlalu melonggarkan keamanan Lucas. Kalau sudah begini jadinya, Lucas bakal terus-terusan ketakutan sama Alexa," balasnya dalam hati.


...[Tidak apa-apa host. Masih ada cara untuk membuat bayimu terbiasa dengan kehadiran orang lain disekitarmu. Dengarkan aku. Ini termasuk misi yang akan kau jalani selanjutnya]...


Tanpa disadari Arya, Lucas nampak tertidur. Bayi tersebut telah kehilangan sebagian tenaganya untuk menangis.


"Apa misinya?" ucap Arya, membuat Alexa mampu mendengar suara itu.


"Iyaaa?! Ada apa Aryaaa?!" sorak Alexa dari dalam kamar mandi.


Arya sontak menoleh kearah pintu kamar mandi. "Nggaaak! Gapapaa!" balasnya dengan bersorak.


Beberapa saat kemudian, Arya mulai diterjang rasa kantuk. Ia pun akhirnya tertidur dalam posisi terduduk, seraya bersandar pada dinding kamar.


Lucas yang masih merangkul tubuh Arya juga masih tertidur, mereka benar-benar kelelahan.


Alexa tiba-tiba mengintip dari pintu kamar mandi, mendapati Arya tengah tertidur disudut ruangan dekat pintu kamar.


"Duhh ... mereka jadi ketiduran kan. Tapi bagus deh, gue jadi bisa leluasa berganti pakaian," batin Alexa, lalu perlahan keluar dari kamar mandi, meski hanya mengenakan sehelai kain handuk saja.


Alexa bergegas memilah setelan busana yang tergantung di dalam lemari. Ia pun dengan was-was mengenakan satu persatu pakaian d*lam, lalu mengenakan setelan busananya, sambil terus menoleh cemas kearah Arya.


"Pliss ... jangan bangun kek ...." harap Alexa dalam hati.


Selang beberapa menit kemudian, Alexa nampak anggun, lengkap dengan setelan gaun mini merah yang ia kenakan. Rona wajahnya pun terlihat berbeda, jauh lebih cantik dari rona wajah sebelumnya.


Alexa lalu mencoba membangunkan Arya. "Arya. Bangun Arya, aku sudah siap," ucapnya.


...[Host, bangun]...


Kedua mata Arya yang terpejam pun lantas membuka. "A—Alexaa?" himbaunya, meski pandangan matanya nampak sedikit memudar.


Arya mengedip berulang-ulang, pandangan matanya sekejap terfokus. Ia pun sontak terbelalak saat melihat kehadiran Alexa yang tengah berdiri dihadapannya.


"Kamu Alexa?" tanya Arya dengan penasaran.


Alexa mengangguk sekali, tersenyum meringis melihat reaksi yang diberikan Arya. "Hehe iyaa ... kamu pasti lama nunggunya ... aku minta maaf yah," ungkapnya.


"Pwapwa! Mwamwa!" ucap Lucas seraya menunjuk pada Alexa.


Alexa pun sontak terbelalak dengan mulutnya yang sedikit menganga. Sepertinya terkejut saat Lucas menunjuk kearahnya, sambil mengatakan sesuatu yang sangat-sangat ia mengerti.


"Papa? Mama?" duga Alexa.


Entah apa yang membuat bayi tersebut sontak menunjuk kearah Alexa, juga sepertinya menyebut bila wanita itu adalah mamahnya.


Arya pun sekejap bangkit dari bangku sofa, mendapati Alexa tercengang bukan kepalang saat mendengar suara Lucas.


"M—mamaaa?!" tanya Alexa dengan terheran.


"Yaudah yuk, kita berangkat sekarang Alexa." Arya berjalan tenang menuju pintu kamar, lalu membuka pintunya secara perlahan. "Alexa? Ayooo," himbaunya, mendapati Alexa berdiam diri saja disudut ruangan dekat bangku sofa.


"I—iyaaaa!" Alexa pun akhirnya tersadar, dan segera menyusul kepergian Arya


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2