Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 45. Terburu-Buru


__ADS_3

"Tuan, selamat. Anda telah menyelesaikan misi level S, mencari pekerjaan. Reward untuk Anda adalah satu unit sepeda motor matic 125 CC terbaru, satu unit kereta dorong khusus balita, satu set krim perawatan wajah, satu unit parfum buatan Prancis, peningkatan kinerja robot android +4, serta uang tunai senilai sepuluh juta rupiah. Terimakasih telah menyelesaikan misi ini dengan baik, Tuan."


Gabriel berkata panjang lebar, menjelaskan betapa banyaknya hadiah yang didapatkan Arya, usai menyelesaikan misi darinya.


Arya nampak bungkam selagi terburu-buru menapaki anak tangga, menggedong Lucas bergegas menuju kamar.


"Gak masuk akal kalau ingatan Aulia tiba-tiba pulih, cuma karena kepalanya kepentok lantai," batin Arya.


Gabriel memahami apa yang tengah dipikirkan Arya. "Tidak ada yang tidak mungkin Tuan. Sebab benturan itu memicu sel otak bekerja lebih cepat dalam mencari memori yang sempat hilang," katanya.


Arya spontan berhenti, lansung berbalik menoleh curiga ke arah Gabriel. "Jangan mengada-ada, itu cuma sekedar teori. Atau jangan-jangan ... lu sendiri yang udah bangkitin ingatan lama Aulia?" tuduhnya.


"T—tidak Tuan." Gabriel lantas tersenyum, mengelus-elus ekor rambutnya. "Mana mungkin hamba melakukan hal yang dapat mengganggu kenyamanan Anda? Tak usah terlalu dipikirkan Tuan. Sebaiknya Anda segera beristirahat," balasnya.


Arya mendengus, meski pandangannya tetap mencurigai gerak-gerik Gabriel. "Oh ... yaudah." Ia lansung meraih gagang pintu, dan berkata, "Intinya kalau Aulia sadar beneran, usahakan jangan sampai dia ngelihat atau berpapasan sama gua. Karena kalau dia ingat siapa gua, dia pasti lupa sama Lucas."


"Baik, Tuan," jawab Gabriel, menyaksikan Arya masuk ke dalam kamar.


Lucas masih tertidur dalam gendongan Arya, lantas hal itu membuatnya segera bergegas membawa sang bayi menuju ranjang khusus balita.


"Sekalinya ketemu papah, kamu malah tidur. Maaf yah Lucas," batin Arya, meletakkan tubuh Lucas ke dalam ranjang mini yang sesuai untuk ukuran tubuh bayi tersebut.


(Zwuuff*)


Gabriel sekejap muncul di dalam kamar. "Tuan, ingin hamba bawakan teh?" tanyanya.


"Hmm ... kopi hitam aja dah. Gulanya dikit aja," jawab Arya, seraya melepaskan ikatan dasi.


"Baik Tuan."


(Zwuuff*)


Gabriel kembali menghilang, lalu sekejap muncul dalam ruang dapur, segera menyajikan minuman yang diinginkan Arya.


"Enak juga yah, tiba-tiba bisa ngilang begitu," pikir Arya, merujuk pada kemampuan misterius Gabriel.


"Tuan," himbau Gabriel dengan bertelepati.


"Apa?" sahut Arya dalam hati, kini tengah menggantungkan kemeja birunya di balik pintu kamar.


"Apakah Anda sudah mengetahui program surgawi?" tanya Gabriel.


"Apaan tuh? Program apaan?" Arya tak mengerti dengan pertanyaan Gabriel.

__ADS_1


Gabriel sempat terdiam, sebelum akhirnya muncul kembali dalam sekejap mata.


(Zwuuff*)


"Maaf Tuan, hamba kira Anda sudah mengetahui program itu dari sistem Anda," ungkap Gabriel, berdiri di hadapan Arya sembari memegang secangkir kopi hangat.


"Enggaak. Belum tau apa-apa gua. Emangnya program apaan?" balas Arya, melemparkan pertanyaan.


Gabriel mendengus, sebelum meletakkan secangkir kopi ke atas meja yang terletak di samping ranjang Arya. "Kalau Tuan belum mengetahuinya, hamba tak diperkenankan menjelaskan lebih lanjut program itu. Mungkin Anda bisa menanyakannya pada sistem Anda nanti," jawabnya.


Arya semakin terheran-heran. "Yaudah yaudah ... gua mau tidur nih," ucapnya.


"Baik Tuan." Gabriel seketika bertekuk sebelah lutut di hadapan Arya. "Selamat malam, dan selamat tidur," ungkapnya.


(*Zwuuff)


Selepas menghilangnya Gabriel, Arya segera berjalan meraih secangkir kopi. "Kayaknya enak nih." Setelah basa-basi, ia lansung menyeruput kopi tersebut. "Ahhh ... Gabriel kalo jadi barista cocok nih. Kapan-kapan cari ide buka kafe deh," pikirnya, memuji kemampuan Gabriel dalam meracik kopi.


Arya terlebih dahulu beranjak ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dengan air hangat, lalu berganti pakaian tidur.


Ranjang adalah tempat ternyaman bagi Arya, terbaring melepaskan penat setelah seharian beraktivitas mengikuti walk-in interview di sebuah perusahaan asuransi.


"Besok tanda tangan kontrak. Besoknya lagi gua training selama seminggu." Selagi merenung, perhatiannya spontan tertuju ke arah Lucas. "Kayaknya, waktu gua untuk Lucas semakin berkurang. Apa dia bakal sedih yah?" pikirnya.


"Sehari ini aja, papah minta tidur bareng sama kamu," batin Arya, lalu tertidur mendekap tubuh sang bayi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan, bangunlah," himbau Gabriel.


Teriknya sinar mentari menembus celah ventilasi, membuat Arya sontak terbangun. "J—jam berapa sekarang?" tanyanya, terduduk panik.


"Jam tujuh Tuan," jawab Gabriel, nampak menggendong Lucas.


"Papaaah!" Lucas lantas menunjuk ke arah Arya, lengkap dengan raut wajah seriusnya yang nampak menggemaskan.


Arya spontan bangkit dari ranjang, berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi. "Jadwal tanda tangan kontraknya jam sembilan. Perjalanan makan waktu sejam lebih .... gua mesti buru-buru," pikirnya, lalu bergegas membersihkan diri.


Gabriel dan Lucas sempat menoleh ke arah kamar mandi, sebelum akhirnya mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Uuuu?" ucap sang bayi.


Gabriel lantas tertawa. "Benar Tuan Muda. Anda telah berhasil mengomeli Tuan besar. Sekarang beliau sedang mandi." Ia kemudian beranjak keluar dari kamar bersama Lucas. "Ayo Tuan Muda. Kita siapkan sarapan untuk Tuan Besar," katanya.

__ADS_1


Dalam hitungan sepuluh menit, Arya lansung keluar dari kamar mandi, tergesa-gesa mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil.


"Mau ngomelin Gabriel juga percuma, gua kan gak bilang minta dibangunin jam enam," gumamnya.


Arya Pratama, kembali mengenakan setelan pakaian formal yang ia gunakan kemarin, meski sebenarnya pakaian itu telah diganti dengan pakaian baru oleh robot android dalam rumah.


"Ahhh! Gabriel, dasinya!" perintah Arya, nampak kesulitan melakukan sesuatu pada dasi kemeja.


"Tenang saja Tuan," balas Gabriel.


Arya lansung menyisir rambut, menyemprotkan parfum, lalu meraih tas genggam serta kunci mobil dari dalam laci meja. Tanpa menutup pintu kamar, ia berjalan tergesa-gesa menuju anak tangga.


Gabriel menyadari kedatangan Arya yang telah tiba di anak tangga. "Tuan, hamba telah menyiap—" Perkataannya mendadak terhenti, menyaksikan Arya tiba-tiba berjalan melewatinya. "Tuan! Jangan terburu-buru!" tegurnya.


"Sorry! Gua lagi buru-buru!" balas Arya, lansung membuka pintu rumah untuk kemudian beranjak menuju pintu gerbang.


"Tuan Muda, ayo kita antar kepergian Tuan besar." Gabriel meraih ketiak Lucas, menggendong bayi tersebut bergegas mengejar Arya. "Tuaan! Sebaiknya sarapan dulu!" tegurnya kembali, mendapati Arya telah masuk ke dalam mobil.


Arya segera membuka kaca jendela mobil, terlebih dahulu menanti Gabriel datang. "Ntar aja gua makan di luar. Tolong titip Lucas yah. Kalo ada apa-apa langsung telpon gua," pintanya, menyalakan mesin mobil lalu tancap gas.


"Hati-hati Tuaan!" Gabriel melambai-lambai sebelah tangan, menyaksikan mobil Arya melaju cepat dari gerbang rumah.


"Papaaah!" Lucas pun turut melambai-lambai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(Prinkk*)


Selepas membuka pintu kamar, sang bunda spontan terkejut, sampai-sampai ia tak sengaja menjatuhkan gelas yang berada dalam genggaman.


"Mamaah?!" Aulia yang tengah merias diri di hadapan cermin pun lansung beranjak menghampiri sang bunda. "Ada apa sih Maah?! Kok kaya kaget gitu ngeliatin aku?!" tanyanya penuh heran.


Sang bunda terbelalak, tak mengira tak menyangka tak menduga, merasa belum percaya dengan perubahan penampilan dari sang putri. "K—k—kamuu ... kamu Aulia kan? Aulia Sofia, putrinya Mamah?" tanya sang bunda, mengabaikan keheranan Aulia.


***


Sebelumnya, dipertengahan malam yang suntuk, sang bunda memutuskan beranjak menuju kamarnya, meninggalkan Aulia terbaring seorang diri di atas ranjang. Wanita paruh baya itu lantas tertidur sampai menjelang pagi, tak menyadari bila sang putri telah terbangun jauh lebih cepat dari kebiasaan sebelumnya.


Aulia Sofia, membuka kedua matanya tepat pada pukul lima dini hari, berbarengan dengan Gabriel yang turut terbangun di jam yang sama, meski keduanya berada di tempat yang berbeda.


"Tuan Arya ... Nona Aulia sudah sadar," batin Gabriel, selepas memunculkan wujudnya di hadapan ranjang Arya, mendapati sang Tuan masih terlelap nyenyak dalam tidurnya.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2