
Seminggu pun berlalu.
Tak banyak kejadian-kejadian penting yang dilalui Arya, kecuali hanya menyaksikan pertumbuhan Lucas yang semakin berkembang.
"Ayo Lucaas ... kamu sudah bisa duduk sama berdiri kaan? Ayo sini samperin papa," ucap Arya, nampak tersenyum saat menyaksikan sang bayi perlahan menegakkan tubuh.
Lucas akhirnya dapat berdiri, meski tubuhnya sempat bergoyang-goyang menahan keseimbangan.
Dalam waktu seminggu, Arya tekun mengajari sang bayi untuk duduk, sampai mencoba membimbing bayi tersebut berdiri dengan benar.
"Ayo Lucaas kesinii! ... peluk papaa!" seru Arya, seraya menjulurkan kedua tangan.
"Pwapwa!" Lucas pun perlahan melangkahkan kaki kanannya ke arah depan, lalu kaki itu menapak dengan sempurna. Sang bayi kemudian melanjutkan dengan melangkahkan kaki kirinya, sambil turut menjulurkan kedua tangan kearah Arya.
Lucas berjalan dan terus berjalan penuh riang. Tak ada satupun kendala yang ia alami, selagi kakinya perlahan melangkah menuju Arya.
"Dikit lagi! Ayo Lucaas!" seru kembali Arya, mendapati sang bayi nampak berjalan dengan sempurna.
Tiba-tiba, Lucas mempercepat gerakannya dalam melangkah. "Pwapwaa!" himbau bayi tersebut.
Arya pun sontak tercengang saat menyaksikan hal itu. "L—Lucaaas!" balasnya, yang seketika melebarkan kedua tangan, bersiap menyambut kedatangan Lucas.
"Pwapwaaa!"
Lucas akhirnya tiba dalam pelukan Arya, berhasil menumbuhkan rasa bangga yang amat luar biasa dalam hati pria tersebut.
"Usaha yang bagus, boy." Arya seketika mengangkat tubuh sang bayi. "Papah bangga sama kamu," ungkapnya, lalu mengecup kening Lucas yang telah berada dalam gendongannya.
...[Selamat! Host telah menyelesaikan misi level S, mengajari bayimu berjalan dengan sempurna!]...
"Ahaha ... terimakasih sistem, terimakasih," ungkap Arya. Raut wajahnya nampak sangat bahagia, bersanding dengan raut wajah penuh ceria dari sang bayi.
...[Ya. Terimakasih telah menyelesaikan misi kali ini, host. Reward untukmu adalah satu unit kulkas dua pintu, satu unit sepeda listrik terbaru, satu kotak besar berisi mainan Lucas, uang senilai lima juta rupiah, serta dua tiket jalan-jalan ke Dufan! Selamat atas pencapaiannya host!]...
"Waahh ... banyak sekali hadiahnya," balas Arya dengan tersenyum ceria.
Sesaat kemudian, Arya kembali menguji Lucas untuk terus berjalan dengan sempurna. Rasanya sulit untuk dibayangkan, bayi seusia Lucas mampu berjalan dalam waktu cepat.
Semua itu tentu karena kesabaran, ketekunan, dan perhatian ekstra Arya yang selalu ia tunjukkan pada Lucas, membuat bayi tersebut akhirnya mampu membalas segala harapannya.
"Pwapwa!" himbau Lucas. Ia nampak berdiri di samping ranjang, berseberangan dengan Arya yang tengah berlutut seraya menanti di sudut ruangan dekat jendela.
"Ayo Lucas! Tunjukkan sekali lagi!" seru Arya.
__ADS_1
Lucas seketika berjalan dengan cepat, sepertinya sangat senang saat sang ayah mencoba menghabiskan waktu bersamanya.
...[Host, sebaiknya jangan terlalu sering mengajari bayimu berjalan, terlalu banyak gerak akan membuatnya mudah kelelahan]...
Arya lansung memeluk kedatangan tubuh Lucas. "Iyaaa ... lagian cuma hari ini aja kok. Besok-besok pasti Lucas udah bisa jalan sendiri," balasnya, dan kembali menggendong tubuh sang bayi erat-erat.
...[Bagus. Kau sudah menanamkan sifat kemandirian pada bayimu]...
(*Tok tok tok*)
Seketika terdengar suara ketukan pintu, membuat Arya lansung menoleh kearah pintu kamarnya. "Siapa yah?" tanyanya, lalu berjalan menuju pintu kamar.
"Selamat siang. Dengan pak Arya Pratama?" tanya salah seorang kurir ekspedisi, berdiri di depan pintu kamar Arya bersama beberapa orang kurir lainnya.
"Betul, saya sendiri. Ada paket apa yah?" jawab Arya, lansung melemparkan pertanyaan pada sang kurir.
"Maaf pak, kami hanya ditugas untuk mengirim paket saja." Sang kurir lansung menyodorkan selembar kertas. "Boleh minta tanda tangannya pak?" pinta kurir tersebut.
...[Host, terimalah. Mereka aku tugaskan untuk mengirim barang-barang hadiahmu]...
"Ooh!" Arya spontan memahami maksud perkataan sistem, juga segera membubuhkan tanda tangan pada selembar kertas yang disodorkan sang kurir. "Udah pak. Barang-barangnya ada dimana yah pak?" tanya Arya.
"Tunggu sebentar pak." Sang kurir bersama beberapa rekannya lansung bergegas meninggalkan kamar Arya.
Tak berselang lama, sebuah kulkas dua pintu, satu unit sepeda listrik terbaru, dan sebuah dus besar berisi macam-macam mainan khusus anak pun tiba di dalam kamar Arya.
Lucas spontan menarik-narik pelan celana pendek Arya. "Pwapwaa ...." ucapnya, seraya menunjuk ke arah dus besar.
"Oh iyaa ... yuk kita liat apa isinya," balas Arya, setelah memahami maksud dari sang bayi.
Arya perlahan meng-unboxing dus tersebut. Dilihatnya berbagai macam jenis mainan seperti beberapa mini robot Gandam, miniatur mobil hotwills, serta beberapa jenis mainan lainnya.
"Lucas ... robotnya buat papah yah?" pinta Arya, memegang sebuah kotak berisikan mini robot Gandam terbaru.
Lucas yang menyaksikannya pun spontan menggeleng cepat. Bayi tersebut sepertinya benar-benar serius menanggapi perkataan Arya.
"Kenapa Lucas? Kamu suka robot yah?" tanya Arya.
Kali ini, Lucas spontan mengangguk cepat, melompat-lompat sangat kegirangan saat mendengar pertanyaan Arya.
Arya pun lansung tertawa dibuatnya. "Hahaha ... tenang saja Lucas, semua mainan ini punya kamu. Papah gak berhak mengusik barang-barang kamu," ucapnya.
...[Host, dengan mainan itu, bayimu akan meningkatkan kemampuan berpikirnya dalam berimajinasi. Hal itu sangat diperlukan untuk pertumbuhannya]...
__ADS_1
"Loh ... mainan bisa bikin bayi cerdas? Kata siapa?" sanggah Arya, merasa keberatan dengan perkataan sistem.
(*Sistem mendengus*)
...[Aku tidak mengatakan itu bisa membuat otak bayimu cerdas, tapi lebih membuka ruang dalam otaknya untuk berpikir. Bayi tersebut nantinya akan jenuh dengan mainannya, disaat itulah kau harus menumbuhkan minatnya untuk membaca, demi mengisi kekosongan ruang berpikir yang telah ter-ekspansi dalam otaknya]...
"Oowhh ...." Arya spontan tercengang, apa yang dikatakan sistem sepertinya dapat terima bagi akal pria tersebut. "Jadi penasaran Lucas cita-citanya mau jadi apa nanti," ucapnya, menatap serius pada Lucas yang tengah antusias memainkan miniatur hotwills.
...[Jika kau menginginkan bayimu memiliki cita-cita yang sangat bagus, carilah buku-buku atau materi lain yang searah dengan cita-cita tersebut]...
"Bener. Gua udah paham sekarang," balas Arya.
...[Bagus jika kau memahaminya, host]...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam pun tiba, kini Arya sedang terduduk sila menghadap ke arah layar televisi. Sementara Lucas nampak tertidur pulas di atas ranjang, berselimutkan kain tebal dengan sebuah karet dot yang terus-menerus dikenyotnya.
Meski seminggu telah berlalu, Arya tak jua memiliki kesempatan bertemu kembali dengan orang-orang yang sempat ia kenal. Alexa yang terlebih dahulu mengenalinya, hanya dapat ia saksikan dalam layar televisi.
"Kalau Alexa seorang artis, berarti dia kemungkinan punya relasi-relasi yang berhubungan denganku," batin Arya.
...[Tentu saja. Kau bisa menanyakan hal itu padanya]...
Terlalu terpaku dengan sosok Alexa, Arya tak menyadari bila Reina sudah tiba di depan pintu kamar.
Reina yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar, terlihat cemas dan terus menunda niatnya untuk mengetuk pintu tersebut.
"Aku kayaknya kurang sopan banget deh kalau datengnya tengah malem begini. Mas Arya pasti keganggu." Reina menggigit bibir bawahnya, seketika mengerling-ngerling cemas, gelisah tak karuan. "Kapan-kapan aja deh. Kalau ada waktu libur, aku pasti bakal kesini lagi," batinnya, lalu melenggang pergi meninggalkan kamar Arya.
"Gooooll!! Gitu doong! Ada kesempatan lansung sat set sat set!" Arya terlalu heboh saat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola dari layar televisi.
...[Berisik! Pelankan suaramu! Lucas bisa-bisa terbangun nantinya!]...
"Iya maaf." Arya spontan menoleh ke arah Lucas, nampak bayi tersebut hanya melakukan sedikit gerakan, tak merasa terganggu dengan kehebohan Arya. "Kebiasaan gua emang gini dari dulu," ucapnya dengan pelan.
...[Kalau begitu, hilangkan kebiasaan burukmu sekarang juga. Matikan TV-nya, dan lekaslah tidur. Besok ada misi yang harus kau jalani]...
Arya sontak berdiri. "Oh iya. Besok kan gua jalan-jalan ke Dufan sama Lucas," sambungnya, lalu meraih remot TV yang tergeletak di atas lantai.
...[Ya. Akan ada serangkaian misi yang harus kau selesaikan di tempat wahana besar itu. Jangan buang-buang waktumu untuk beristirahat]...
"Oke." Arya lansung mematikan televisi, dan segera bergegas melangkahkan kakinya menuju ranjang. "Selamat tidur sistem," ucapnya.
__ADS_1
...[Ya. Selamat tidur dan selamat malam, host]...
~Tbc