Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 37. Benar-Benar Usil


__ADS_3

Selepas Arya memberi pengakuan yang mengejutkan, suasana dalam rumah tersebut mulai berubah.


"Diminum yah, jangan sungkan-sungkan," ucap Bu RT, sesudah membawakan dua gelas minuman segar untuk Arya dan Reina.


"Ahh iya Bu, terimakasih banyak," balas Arya, mengangguk segan penuh senyuman.


"Makasih banyak Bu, aku jadi gak enak ngerepotin," sambung Reina yang menjadi lega dengan kehadiran Bu RT, setelah sebelumnya ia merasa ketar-ketir dibuat Arya.


Bu RT nampak terduduk disamping Pak RT, seketika perhatiannya tertuju pada wajah mungil Lucas. "Waahh ... siapa ini namanyaa?" Wanita paruh baya itu lantas berjalan menghampiri Reina, kemudian terduduk tepat disampingnya. "Ihhh! Kamu ganteng banget sih! Sini sama nenek yuk," bujuknya, menatap gemas pada wajah sang bayi.


Lucas lantas tertawa riang dengan perlakuan itu, sekejap menjulurkan tangannya pada Bu RT.


"Owalaah ...." Dengan senangnya Bu RT meraih ketiak sang bayi, nampak Reina tersenyum-senyum saat menyerahkannya. "Siapa namanya Dek Arya?" tanyanya, sambil memangku Lucas.


"Namanya Lu—"


"Lucas Hikaru Pratama Bu. Umurnya baru satu tahun," potong Reina penuh senyum, sebelum Arya sempat menjawabnya.


"Ahaha iyaa ... mirip saya kan Bu?" tanya Arya penuh percaya diri.


Bu RT spontan menatap wajah Arya dengan seksama, sebelum berkata, "Enggak ah. Mirip mamahnya malah," jawabnya, mematahkan kepercayaan diri Arya.


Arya hanya tersenyum meringis mendengar pengakuan itu. "Ehehe ... emang iya yah Bu?" Dalam hatinya, ia menyimpan sedikit rasa gondok. "Malah dibilang mirip Reina gak tuh?! Mirip darimananya coba ... hadehh ...." pikirnya.


"Loh, kalo menurut saya malah mirip papahnya," sanggah Pak RT, tak memahami gurauan sang istri.


"Naa ni, nii na nii nuu ...." Bu RT menghibur Lucas dengan wajah gemas, tak menghiraukan perkataan sang suami serta Arya barusan.


"Selamat Tuan! Anda telah menyelesaikan misi sampingan, berinteraksi dengan tetangga disekitar rumah. Reward untuk Tuan adalah bebas biaya pemeliharaan lingkungan komplek selama enam bulan, serta voucher belanja senilai dua ratus ribu rupiah. Terimakasih telah menyelesaikan misi sampingan ini dengan baik, Tuan."


Gabriel bertelepati, menyampaikan pencapaian misi sampingan yang berhasil diselesaikan Arya.


"Oke. Gua jadi pengen cepet-cepet cabut dari tempat ini. Tapi kayaknya Lucas seneng banget sama Bu RT," balas Arya dalam hati.


"Dek Reina, suami kamu kerja apa?" tanya Bu RT.


Reina mendadak termenung menahan senyuman. "Gawat ... aku gak tau Mas Arya kerja apa. Harus jawab kayak gimana nih?!" pikirnya dengan cemas.


Arya mendeham. "Saya pengangguran Bu," jawabnya, berbarengan dengan raut wajah yang menatap serius.


Bu RT lantas berpaling tatapan kearah Reina, seolah tak menyangka dengan jawaban Arya. "Bener dek Reina? Apa suami kamu beneran seorang pengangguran?" tanyanya penuh tekanan.


Keringat dingin sekejap mengucur dari kepala Reina, tak berani memalingkan pandangan matanya yang beradu dengan tatapan tajam Bu RT.


"Mas Arya, tolongin kek!! Aku bingung harus jawab apaa!" batin Reina ketar-ketir.


Arya mendengus. "Ehem ... Maaf Bu, saya memang pengangguran. Tapi saya bakal melakukan apapun demi kebahagiaan anak saya," tegasnya.


"Bu udah Bu. Barangkali dek Arya ini cari uangnya lewat internet. Kan sekarang jaman sudah canggih Bu," sambung Pak RT, mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Lucas tiba-tiba merengek. Dilihatnya wajah Arya penuh kesedihan, merasa tak terima bila sang ayah diperlakukan seperti itu oleh Bu RT.


Sang bayi pun akhirnya menangis seraya menjulurkan tangan kearah Arya, membuat rasa bersalah lansung meresap dalam hati Bu RT.


"Owalaah, kenapa nangis ganteeng? Cup, cup, cup. Nenek cuma becanda kok," ungkap Bu RT, seketika berdiri seraya menggendong Lucas, mengelus-elus punggung sang bayi.


Arya menjadi saksi bagaimana perubahan suasana hati Lucas yang telah terhubung dengan batinnya, berharap Bu RT tak lagi mempermalukannya dihadapan sang bayi.


"Loh, mau kemana Bu?" tanya Pak RT, mendapati sang istri membawa Lucas menuju pintu rumah.


"Aku mau jalan-jalan sama cucuku," jawab Bu RT, wanita dengan rambut putih panjang memudar yang terikat kebelakang, juga nampak mengenakan sebuah kacamata klasik itu.


Pak RT pun menggeleng-geleng dibuatnya. "Maaf yah Dek Arya, istri saya memang seperti itu sifatnya," ungkapnya.


Arya lantas tersenyum dan berkata, "Iya Pak, gapapa kok."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dek Arya, saya minta maaf kalau tadi udah buat dek Arya tersinggung," ungkap Bu RT.


Arya berdiri menggendong Lucas disamping Reina, berhadapan dengan Pak RT dan sang istri didepan gerbang.


"Iyaa Bu, tenang aja. Saya orangnya gak gampang baperan kok," balas Arya melambungkan senyum.


"Pak, Bu, makasih yah udah terima kami dengan baik. Aku jadi gak enak ngerepotin kalian," sambung Reina, dengan rasa sungkan yang mengendap dalam hati.


Bu RT turut menampakkan senyuman. "Ahh itu sudah biasa Reina. Kalian jangan pernah kapok yah, sering-sering datang kesini bawa Lucas," ucapnya.


Kesepian sekejap merasuk dalam hati Bu RT, tak menyangka bila waktunya bersama Lucas sangatlah terasa singkat. "Dadaaah ganteeng ...." Air mata pun lantas mengucur, ketika wanita paruh baya itu melambai-lambai kearah Lucas yang semakin menjauh dari pandangan. "Andai saja mereka anak kita, tentu aku sudah menjadi nenek yang paling bahagia didunia ini Pak," ungkapnya.


"Betul Bu. Kalau mereka gak sempat kesini lagi, kita aja yang kesana. Bagaimana Bu?" anjur Pak RT, turut merasakan hal yang sama.


"Selamat Tuan! Anda telah menyelesaikan misi level B, membawa Lucas berjalan-jalan disekitar komplek rumah. Reward untuk Tuan adalah satu unit speaker aktif dual stereo, satu unit konsol VR, satu karung pakan ikan hias, serta uang tunai senilai dua juta rupiah. Terimakasih telah menyelesaikan misi kali ini dengan baik, Tuan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang siang yang terik, Arya membuktikan janjinya, membawa Lucas serta Reina untuk pergi mencari makan bersama.


Sebelumnya, Reina berniat mengisi bangku mobil bagian tengah. Akan tetapi Arya bersikeras memintanya duduk didepan, seraya memangku Lucas.


Kini, Reina nampak termenung, sedari tadi hal itu ia lakukan sejak berangkat meninggalkan rumah Arya. "Mas Arya udah punya rumah, udah punya mobil pula. Kayaknya ... aku harus sadar diri mulai dari sekarang. Gak pantes juga cewek biasa kayak aku ini ngejar-ngejar perasaan dia," renungnya gundah gulana.


Arya telah menyadari mengapa Reina selalu termenung. "Dia lagi mikirin apa?" tanyanya dalam hati, ditujukan pada Gabriel.


"Gadis itu mulai merasa pesimis Tuan," jawab Gabriel dalam hati.


Sesekali Arya menoleh kearah Reina, gadis itu tak jua membalas tatapannya. "Pesimis dalam hal apa?" tanyanya kembali.


*Gabriel mendengus*

__ADS_1


"Tuan, pada intinya saja. Dia merasa tidak layak mendapatkan perasaan Anda. Sebab, ia mengkhawatirkan Tuan akan memandang dari segi harta, fisik, serta penampilan seorang wanita," jelas Gabriel.


Arya sontak tertawa, spontan mengejutkan Reina yang lansung menoleh kearahnya.


"Kenapa Mas? Ada yang lucu?" tanya Reina.


Jauh dalam hatinya, Arya merasa senang Reina begitu mengkhawatirkan perasaannya. Itu menandakan bahwa gadis tersebut benar-benar memiliki pikiran yang jernih, berpikir sesuatu sesuai realita yang ada.


"Enggak kok. Aku cuma keinget aja tadi kumisnya Pak RT tebal juga," jawab Arya meyakinkan.


Apa yang dikatakan Arya, justru membuat Reina mengingat kembali sosok wajah Pak RT. "Apanya yang lucu? Perasaan, gak ada yang lucu deh," batinnya, kembali meluruskan pandangan kearah depan.


"Reina, kamu gapapa kan? Soalnya tadi aku sempet ngaku kalo kamu istrinya aku didepan Pak RT." Arya turut meluruskan pandangan kedepan, fokus melajukan mobilnya dengan aman. "Jangan terlalu dipikirin yah, nanti kesampaian beneran loh," ucapnya.


Reina lantas tertawa lepas, apa yang dikatakan Arya barusan justru selalu terbayang-bayang dalam pikirannya. "Mas Arya ini ada-ada aja ... gak akan terjadi loh Mas. Toh aku ini cuma perempuan biasa, gak mungkin juga Mas Arya mau sama a—"


"Mungkin!" Dengan tegas Arya memotong perkataan Reina, hal itu jelas membuat gadis tersebut sekejap menoleh kearahnya.


"Maksud kamu Mas?" tanya Reina, sebelumnya merasa terkejut dengan penegasan Arya.


Mendapati lampu lalulintas menyala merah, Arya segera menghentikan laju mobil, memanfaatkan kesempatan itu untuk meluruskan kesalahpahaman Reina tentang dirinya.


"Reina." Pandangan Arya menatap serius, ketampanannya pun nampak jelas, menjadi faktor pendukung mengapa Reina sangat-sangat mengaguminya. "Untuk menyukai seseorang ... aku gak pernah memandang apapun. Karena kalau dia udah baik sama aku, terutama sama Lucas ... aku bakal terima wanita itu apa adanya," ungkap Arya panjang lebar.


Reina lantas menganga, tak mengira bila Arya mampu mematahkan rasa pesimis dalam hatinya.


"S—serius Mas? Aku? Aku boleh berharap Mas suka sama aku?" tanya Reina memastikan.


Keseriusan diri Arya, terhias dengan senyuman yang ia tunjukkan untuk Reina. "Iya, aku serius. Tapi kamu harus tau dulu, aku mau fokus membesarkan Lucas sampai umurnya genap enam tahun. Kalau kamu mau sabar menunggu selama itu, jelas aku bakal melamar kamu," simpulnya meyakinkan.


Sejak Arya berkata panjang lebar, Reina justru semakin mendekatkan wajah, memanfaatkan kesempatan setelah mendapati Lucas tertidur dalam pangkuannya.


Bagaikan dua kutub magnet yang akan menyatu, dua bibir itu nampaknya akan beradu, mengusir jauh rasa canggung dalam hati mereka.


Arya mulai menyadari, mulai mengakui dalam hatinya bahwa wajah Reina benar-benar menawan, begitu cantik menyejukkan jiwa.


"Reinaa ...."


"Mas Aryaa ...."


Hanya terpaut beberapa sentimeter sebelum bibir mereka saling menyentuh, menyatukan perasaannya masing-masing.


Namun.


"Hoaaaammm ...."


Seseorang tiba-tiba muncul, nampak bangkit dan terduduk di bangku tengah seraya menggeliat, juga mengejutkan Reina yang sontak menjerit dibuatnya.


Rupanya, Gabriel. Usil sekali sistem humanoid yang satu ini.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2