
Alexa seketika berdiri. "Arya aku pamit dulu yah. Soalnya ada urusan sama manajemen," ucapnya.
"Loh, terus Reina? Kalian kan dateng berdua," balas Arya.
Menanggapi kecemasan Arya, Reina ikut bicara, "Tenang aja Mas Arya. Rumah Alexa gak jauh kok dari sini."
"Serius?" tanya Arya meyakinkan.
Alexa mendengus. "Aku belum bilang yah? Rumah aku cuma beda blok dari sini. Makanya sebelum dateng kesini Reina aku suruh main kerumah aku, baru kita sama-sama dateng kesini," jelasnya.
"Iya Mas Arya. Aku masih bisa pulang sendiri kok, kan masih pagi," sambung Reina.
Justru bukan hal itulah yang ditakutkan Arya, melainkan ia merasa canggung apabila berduaan saja bersama Reina.
"Gak, kamu nanti saya anterin pulang. Soalnya udah ada Gabriel yang bisa jagain Lucas," tegas Arya.
Alexa lantas tersenyum. "Oh yaudah deh kalo gitu, aku pamit dulu yah." Ia menyempatkan diri menghampiri Lucas, meraih tubuh sang bayi dari pangkuan Reina. "Lucaaass, Tante pergi dulu yah. Mainnya sama Tante Reina aja yah? Nanti kalau sempat Tante dateng lagi kesini, oke?!" bujuknya.
Dengan lugunya Lucas tersenyum riang, sambil menepuk-nepuk pundak Alexa. Sang bayi sepertinya merasa senang bisa bertemu kembali dengan gadis itu.
Alexa tak dapat menahan gemas, lansung mencium kening Lucas. "Mmmuuacchh! Tante saaaayang sama kamu. Nanti Tante beliin mainan, okee?!" ucapnya lalu menyerahkan Lucas pada Reina.
"Gak usah repot-repot Alexa. Lucas udah banyak kok mainannya," tampik Arya, merasa segan atas kebaikan Alexa terhadap Lucas.
Alexa sontak bergegas menuju pintu rumah, seketika menoleh kebelakang seraya melambai-lambai. "Dadaah semuaa! Babaayy Lucaass!" serunya penuh senyuman.
"Babaay Tante Alexaa," balas Reina, melambai-lambai tangan mungil Lucas kearah Alexa.
Sebelum mendapati Alexa keluar, Aryaaa segera berkata. "Hati-hati yah Alexa. Kalo ada apa-apa kabarin aku."
"Okeey!"
Kini, hanya tinggal Reina seorang satu-satunya gadis yang terduduk bersama dua orang pria, Arya sang Tuan rumah serta Gabriel yang sempat diakuinya sebagai saudara.
Gabriel nampak terduduk menjauh disamping Arya, berseberangan dengan Reina, juga menyaksikan betapa riangnya Lucas terpangku seraya bercengkrama dengan gadis tersebut.
Arya lantas melirik kearah Gabriel. "Ada misi gak?!" tanyanya.
"Ada Tu—" Gabriel keceplosan berbicara. "Maaf Tuan. Kebetulan ada misi yang harus anda selesaikan," jawabnya dalam hati.
"Apaan misinya?" tanya kembali Arya penasaran.
"Misi level B kali ini adalah mengajak Lucas berjalan-jalan disekitar komplek rumah, dengan misi sampingan yaitu Anda harus berinteraksi dengan tetangga baru," jawab Gabriel dalam hati.
Arya kembali bertanya. "Selain Aulia?"
"Betul Tuan. Siapapun itu, cukup berinteraksi dengan satu tetangga saja," jelas Gabriel.
__ADS_1
Arya lansung terbelalak. "Aahh! Gua baru inget, biasanya setiap orang yang baru pindah harus melapor ke RT/RW setempat. Mending bawa Lucas kesana dah," pikirnya.
"Baik Tuan. Tapi hamba hanya bisa memantau dari kejauhan. Wujud manusia hamba memiliki waktu yang terbatas, tidak selamanya akan berwujud seperti manusia," papar Gabriel dalam hati.
"Ohh ... berarti kayak sistem gua yah? Kita tetep berkomunikasi lewat batin kan?" Arya kembali memastikan.
"Betul Tuan. Keamanan Anda adalah prioritas hamba," balas Gabriel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kita mau kemana Mas?" tanya Reina pada Arya, selepas mereka beranjak keluar dari rumah bersama-sama.
"Maaf yah Reina. Aku belum lapor ke RT setempat. Kamu bisa kan temenin aku kerumah Pak RT?" pinta Arya, selagi mengunci pintu gerbang.
Lucas nampak berdiri tepat ditengah-tengah Reina dan Arya, sangat antusias memainkan robot mini gandamnya.
"Ahh gapapa kok Mas, gapapa. Soalnya gak mungkin juga kan aku nungguin didalem sama Mas Gabriel, hehehe ...." balas Reina tersenyum-senyum.
"Oke!" Arya lansung meraih ketiak Lucas. "Nanti abis dari rumah Pak RT kita jalan-jalan ke restoran," ucapnya.
Suasana aman, nyaman dan sejuk, itulah yang Reina rasakan ketika baru berjalan beberapa meter dari rumah Arya. "Wahh enak banget tinggal disini. Tapi gak mungkin juga kan, harga rumahnya pasti mahal," pikirnya.
Sudah dua rumah Arya lewati, namun tak mendapati kehadiran atau aktivitas penghuni dalam gerbang rumah-rumah tersebut. "Kayaknya lagi pada sibuk kerja, atau emang rumahnya kosong?" batinnya.
"Tuan, apa Anda bisa mendengarku?" tanya Gabriel, tak menampakkan wujud manusianya.
"Ahh kebetulan! Rumah pak RT-nya dimana? Jauh gak?" tanya Arya dalam hati.
Lucas tiba-tiba menjangkau tubuh Reina, menandakan bahwa ia ingin berada dalam gendongan gadis tersebut.
"Kamu mau sama Tante Reina?" tanya Arya, mendapati Lucas benar-benar ingin berpindah posisi.
Reina menyadari hal itu, lansung meraih ketiak sang bayi. "Sini Mas, biar aku aja yang gendong," pintanya.
"Oke." Arya menyerahkan tubuh Lucas pada Reina. "Kayaknya, Lucas suka sama siapa aja. Mau Alexa atau Reina, malah sama Aulia pun dia senang. Gua jadi bingung mau pilih siapa," batinnya.
*Gabriel mendengus*
"Tuan, jangan jadikan Lucas sebagai acuanmu memilih diantara mereka. Sebab, wanita memiliki perasaan yang jauh lebih lembut dari pria. Pikirkan bagaimana cara mereka mengungkapkan perasaannya pada Anda. Dilihat dari perlakuan mereka pada Lucas, ketiganya sama-sama meyakinkan," tegur Gabriel panjang lebar.
"Hah? Tiga?? Satu lagi siapa?" tanya Arya curiga.
"Tentu saja gadis semalam, yang menyelinap masuk kedalam rumah," jawab Gabriel.
"Aulia? Emang dia ada perasaan sama gua? Bukannya dia cuma suka sama Lucas?" Arya menjadi terheran-heran dengan pengakuan Gabriel.
"Tuan, biar saya jelaskan. Menurut laporan yang hamba terima dari sistem Anda, gadis yang bernama Aulia itu hanya mengalami gangguan mental semata, tidak menutup kemungkinan perasaannya akan muncul kembali setelah menyadari keberadaan Tuan," jelas Gabriel panjang lebar.
__ADS_1
Arya lantas mendengus. "Iya juga sih, ada benarnya juga. Kalau mental Aulia udah membaik, dia pasti lansung inget siapa gua," tambahnya.
"Mas Arya, kok dari tadi bengong aja? Ada masalah apa?" tegur Reina, mendapati Arya sedari tadi merenung selagi berjalan disampingnya.
"Ahh enggak. Aku cuma lagi merhatiin rumah Pak RT, ehehe," jawab Arya tersenyum-senyum.
Reina pun terdiam, seketika termenung menyaksikan tingkah laku Arya barusan. "Sejak pertama kali ketemu, aku sering banget liat Mas Arya melamun. Apa jangan-jangan dia selalu mikirin mendiang istrinya? Ah! Aku gak berhak mikir yang enggak-enggak tentang Mas Arya, toh aku bukan siapa-siapanya dia," renungnya.
Setibanya diujung jalan, Arya lansung berjalan menuju gerbang rumah, yang diduga sebagai tempat kediaman seorang pejabat rukun tetangga wilayah itu.
"Permisiii!" himbau Arya.
Reina spontan menoleh sebuah benda yang terletak pada tembok samping pagar. "Mas, itu ada belnya," ucap Reina.
"Ohh iyaa!" Arya lantas memencet sebuah tombol yang dimaksudkan Reina. "Gak kelihatan," tambahnya.
Tak berselang lama, keluarlah seorang pria paruh baya, mengenakan sehelai kaus kutang lengkap dengan kain sarung yang menutupi bagian bawah tubuhnya. "Siapa yah?" tanya pria yang juga mengenakan kopiah tersebut.
"Saya Arya Pak, penghuni disini yang baru pindah kemarin," jawab Arya tersenyum.
"Oalahh." Pria yang diduga sebagai Pak RT itu lantas bergegas menuju gerbang rumah. "Iya dek Arya, saya udah tau kok," balasnya, membuka gerbang rumah.
Perhatian Pak RT pun seketika tertuju pada Reina, juga Lucas yang tengah berada dalam gendongannya.
"Jadi gini Pak. Saya cuma mau melaporkan saja," terang Arya.
"Ohh iya, silahkan masuk silahkan masuk!" Pak RT menuntun Arya bersama Reina menuju kedalam rumah. "Silahkan duduk, jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri, hehehe," ucap pria berkumis tebal tersebut.
"Izin duduk yah Pak," sambung Reina, menduduki sofa disamping Arya.
"Buuu! Ada tamuuu! Tolong bawain minuman." Pak RT menjadi segan dengan kedatangan Arya. "Maaf yah dek, saya cuma tinggal berdua saja sama istri, jadi gak ada apa-apa disini," ungkapnya tersenyum, turut terduduk diseberang Arya.
"Ahh gapapa kok Pak. Saya juga gak lama disini, takut banyak ngerepotin," balas Arya melemparkan senyuman.
"Ohh tidak masalah mau ngerepotin juga, sebab kami sangat senang pemuda-pemudi seperti kalian mampir kerumah kami. Kalau boleh tau, kalian udah berapa lama menikah?" tanya Pak RT, menduga bila Arya dan Reina adalah pasutri.
Arya pun spontan menoleh kearah Reina. "Haa? Menikah? Boleh juga tuh. Tapi gak mungkin juga gua bohong sama Pak RT," batinnya.
Reina sontak termenung, rona dipipinya nampak memerah, tak berani menoleh kearah Arya. "M-m-menikaah?! Aduh Paakk ... saya mau banget nikah sama Mas Arya ... tapi kayaknya gak mungkin Mas Arya mau sama sayaaa!" gumam Reina dalam hati, penuh kehebohan.
"Loh, dek Arya? Kenapa diem aja?" tegur Pak RT.
Sekejap pria paruh baya tersebut menaruh curiga pada Arya, sepertinya mulai memahami apa yang jawaban yang akan ia terima.
"Bener Pak! Dia istri saya!"
Secara spontan Arya mengakui dengan tegas, bahwa Reina adalah istrinya. Hal itu justru membuat jantung gadis tersebut berdegup sangat kencang, menjadi tak karuan dibuatnya.
__ADS_1
"Aduh Tuan ... Anda terlalu gegabah sekali," sindir Gabriel.
~Tbc