
"Arya lagi sama siapa tuh?!"
Marsha sedari tadi melirik dari kejauhan, menyaksikan Arya terduduk seraya berbincang-bincang bersama dua orang gadis yang tak ia kenali.
Kantin adalah tempat yang paling dinantikan Marsha untuk bertemu dengan Arya, akan tetapi kali ini ia sama sekali tak memiliki kesempatan itu, sebab Arya terlebih dahulu tiba di kantin bersama Angela dan Winda.
Marsha spontan mendecih. "Se-humble itu kah Arya? Sampai-sampai banyak cewek yang mau deketin dia?! Aku kira cuma aku aja yang paling deket sama dia disini," gumamnya, nampak terus mengaduk-aduk semangkuk bakso yang belum jua ia lahap.
"Chaa ... dimakan dong baksonya ... jangan ngeliatin Arya terus. Nanti kamu sakit loh," tegur sang rekan.
"Emm!" balas Marsha gondok.
Sementara Arya terlihat sedikit menelengkan wajahnya kesamping, menyadari bila Marsha terus memperhatikannya dari kejauhan. "Sorry Marsha, bukannya gua sombong. Tapi kali ini mereka bener-bener pengen makan bareng sama gua, meskipun udah waktunya mereka cabut dari tempat ini," batinnya.
"Arya ...." tegur Angela.
Arya lansung meluruskan pandangan. "Iya, ada apa Angela?" sahutnya.
"Gapapa. Kok dari tadi kamu kelihatan kayak risih gitu, apa jangan-jangan ada pacar kamu disini?" tanya Angela curiga.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Arya terlebih dahulu menyedot sebotol minuman segarnya. "Gak ada. Aku cuma lagi mantau keamanan sekitar," jawabnya percaya diri.
"Hmm ... by the way." Winda lansung masuk kedalam percakapan mereka. "Kalau kalian udah saling kenal, berarti kamu udah tau dong Angel sekarang udah dijodohin," sambungnya, terus melirik kagum ke arah Arya.
"Hmm. Gak juga, aku malah baru tau sekarang," balas Arya.
Angela mendadak geram, lansung dicubitnya sebelah paha Winda yang membuat gadis itu spontan mengerang.
"Sakit ih!!" keluh Winda, mendapati Angela terus melotot ke arahnya.
Winda lantas menyadari, bila Angela tak ingin ia membeberkan berita perjodohannya begitu saja pada Arya. "Sorry, aku keceplosan, hehehe," balasnya menyindir.
"Hmphh!" Angela sontak membuang muka seraya bersedekap tangan.
Tingkah laku dua gadis itu telah menjadi sorotan menarik bagi Arya. "Mereka bener-bener kayak adik kakak. Kira-kira yang siapa yah yang paling tua?" pikirnya.
"Ehm, Tuan." Gabriel spontan menghimbau via telepati.
"Iya ... Ada misi?" tanya Arya dalam hati.
"Ada Tuan. Misi level A kali ini adalah mempertemukan kembali Angela dengan Lucas. Sebab hal itu akan semakin menurunkan ketertarikannya pada Anda, juga sekejap menimbulkan keinginan gadis itu untuk tetap bertahan menerima situasi perjodohan yang dialaminya sekarang," terang Gabriel panjang lebar.
Arya mendengus, juga pandangannya seketika menatap tajam. "Jadi maksud lu, Angela masih gak terima kenyataan kalau gua udah punya anak?" tanyanya.
"Betul Tuan. Tapi, biarkan saja. Itu sudah jadi keputusan pribadinya. Nanti setelah melihat Lucas, dia langsung beranggapan bahwa Anda masih belum bisa melupakan mendiang istri Anda, tentu dia akan menyingkir secara perlahan," jelas Gabriel.
Mendapati Arya termenung dengan tatapan serius, Winda justru membicarakan hal itu pada Angela.
"Dia lagi mikirin siapa lagi tuh? Apa jangan-jangan lagi banyak pikiran?" bisik Winda.
"Ssttt! Gara-gara kamu tuh! Dia jadi kepikiran tentang aku ka—"
"Angela," himbau Arya, spontan memotong bisikkan Angela pada Winda.
Angela lansung melirik fokus ke arah Arya. "Iyaaa?" sahutnya.
"Kamu masih sibuk gak abis ini?" tanya Arya serius.
"Ehmm ... enggak kok. Paling aku lansung pulang," jawab Angela curiga.
"Paling main ke rumah aku kok," sambung Winda, spontan membuat Angela menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Arya mendengus. "Kalau gak ada acara, mau gak ke rumah aku?" tanyanya.
Angela sempat tercengang mendengar permintaan itu, sebelum akhirnya ia saling berbalas tatapan dengan Winda, seolah-olah meminta bantuan pada saudari sepupunya tersebut.
Winda lansung mengangguk. "Iyain aja! Soalnya aku juga mau ikut!" ucapnya dalam hati, sekali memberikan kedipan mata.
"Oh, oke!" Tanpa memahami apa yang dipikirkan Winda, Angela lantas menoleh ke arah Arya. "Mau! Aku mau kok main ke rumah kamu," jawabnya tegas.
Arya pun tersenyum. "Oh yaudah, bagus deh kalau gitu," balasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu melenggang menuju sore yang hangat, Arya kini nampak fokus mengendarai mobil, diikuti oleh mobil dinas Angela yang turut melaju dari belakang.
Selama dalam perjalanan pulang, Arya seketika teringat pada Sarah. "Tumben dia gak nelpon. Chat gua yang terakhir juga belum di bales. Apa lagi sibuk?" pikirnya.
Lansung saja ponsel berdering, sosok yang sedang dipikirkan Arya itu rupanya tengah mencoba menghubunginya.
Selepas meraih ponsel dari atas dashboard, Arya berkata, "Iya Halo?"
"Kamu udah pulang?" tanya Sarah.
"Belum. Masih di jalan nih," jawab Arya.
"Hmm ... aku udah pulang loh."
"Syukurlah kalau gitu."
Seketika mereka sempat membisu beberapa saat, sebelum akhirnya Sarah memulai kembali percakapan. "Aku ke rumah kamu yah," ucapnya via panggilan ponsel.
Arya spontan terbelalak. "Mau ngapain?" tanyanya.
"Loh, kok pakai nanya ... yaa aku mau ketemu calon anakku lah," jawab Sarah tegas.
"Ish kok gituu ... aku kan cuma mau ketemu Lucas sebentar aja, masa gak boleh ih! Tega kamu," balas Sarah kecewa.
"Tuan, biarkan saja," sambung Gabriel via telepati.
Arya seketika termenung. "Yakin? Nanti kalau mereka berantem gimana? Apalagi Sarah orangnya judes," tanyanya.
"Tuan, Anda tenang saja. Hamba akan membantu mengatasi hal itu, meski sebenarnya kemungkinan mereka bertengkar sangatlah kecil," jawab Gabriel.
Merasa diabaikan, Sarah menjadi kesal. "Yaudahlah kalau emang gak dibole—"
"Iyaa iyaaa ... boleh kok. Berangkat sekarang yah," potong Arya, berusaha menarik kekesalan Sarah.
"Hmm."
Panggilan ponsel pun lansung terputus, sebab Sarah terlanjur kesal dibuatnya.
Arya kembali meletakkan ponsel. "Kalau Angela sih pasti udah tau siapa Sarah. Tapi Winda ... dia pasti bakal mikir yang enggak-enggak tentang gua dan Sarah," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Baru saja Arya menepikan kendaraan tepat di depan gerbang, ia lansung mendapati kehadiran mobil Sarah yang tengah melaju menghampirinya.
Arya segera turun untuk kemudian menanti kedatangan Sarah di depan gerbang, bersama Angela dan Winda yang turut serta menanti penuh curiga.
"Arya, siapa?" tanya Angela, menyaksikan sebuah mobil spontan berhenti di depan mobil Arya.
"Dia ... Sarah," jawab Arya.
__ADS_1
Dalam sekejap Angela menyorot tajam wajah Sarah yang telah beranjak turun dari mobil, perlahan menyaksikan gadis itu berjalan tergesa-gesa menghampiri Arya.
"Sayaaang!" himbau Sarah lantang, tiba-tiba memeluk Arya begitu saja di hadapan Angela dan Winda.
"Aduuhh ... gimana nih kelanjutannya? Mereka pasti bakal gondok ngelihat hal ini," batin Arya, mendapati Sarah mendekatkan wajah manja, seraya merangkul erat kedua pundaknya.
"Gimana kerjanya, lancar kan?" tanya Sarah.
Winda lansung membuang muka, bersiul-siul seakan ia melupakan kejadian mesra yang sangat membuat panas hati itu.
Sementara Angela justru terpaksa memantik sumbu api dalam hatinya, tak menyangka bila Sarah semena-mena bermesraan dengan Arya di hadapannya.
"Ehm," himbau Angela mendeham, pandangan matanya terus menatap tajam ke arah Sarah.
Yang menoleh justru Arya. "M—maaf Angela. Kamu tau sendiri kan kalau Sarah emang suka begini dari dulu?" tanyanya membela diri.
"Ohh iyaa!" Angela memahami perkataan Arya, hal itu justru dimanfaatkannya untuk segera mengintervensi Sarah. "Lo itu yah, emang bener-bener gak tau diri!" hardiknya.
Sarah pun pasang badan, bersiap menerima kedatangan serta perlakuan yang akan diberikan Angela padanya.
Namun, Arya dengan sigap meraih masing-masing kedua tangan gadis itu, memaksa mereka berjalan masuk ke dalam gerbang. "Udaah jangan bikin keributan disini. Gaenak sama tetangga," tegurnya.
"Selama datang Tuan," ucap Gabriel selepas membuka pintu gerbang.
"Ya. Gua pulang," balas Arya, berjalan tergesa-gesa menarik Sarah dan Angela menuju pintu rumah.
Sementara Winda yang tertinggal, justru melamun saat melihat kehadiran Gabriel. Sepertinya ketampanan wajah Gabriel yang rupawan, telah menawan hati dan pikiran gadis itu.
"Nona, silahkan masuk. Hari sudah mau gelap," ucap Gabriel.
Winda spontan berkedip. "Ehm ... permisi yaa kak," balasnya menunduk malu, lalu berjalan dengan sungkan melewati Gabriel.
Di ruang tamu, Arya telah memisahkan Sarah dan Angela dengan membuat mereka terduduk saling berseberangan.
Demi menenangkan Sarah, Arya lekas berjalan mendekat untuk mengatakan suatu hal penting padanya. "Kamu tenang aja, Angela udah dijodohin sama orangtuanya. Sekarang aku mau ke atas untuk jemput Lucas ... jangan pernah bales tatapan Angela, soalnya itu sama aja kamu ngeledek dia," bisiknya panjang lebar.
"Iyaaa ..." balas Sarah bernada pelan.
Arya lansung berjalan untuk berdiri ditengah-tengah meja yang memisahkan mereka. "Angela, tunggu yah. Aku mau ngambil Lucas dulu," pintanya.
Dengan nafas yang menggebu-gebu, serta lirikannya yang terus menatap tajam ke arah Sarah, sembari bersedekap tangan menahan kesal, Angela pun berkata, "Hmm."
Arya lansung beranjak menaiki anak tangga, tanpa sempat menyaksikan bahwa Winda sedang berjalan untuk segera terduduk di samping Angela.
Sementara Gabriel mau tidak mau berjalan dengan sedikit membungkuk sungkan melewati mereka, "Permisii ...." ucapnya.
Selepas membuka pintu kamar, Arya mendapati Lucas terduduk di atas ranjang besar. Bayi itu terlihat asik memainkan robot gandamnya.
"Lucaas ... papah pulang," himbau Arya yang masih berdiri di dekat pintu.
Lucas sontak menoleh ke arah Arya. "Papaaah!" himbaunya lalu tersenyum riang, juga seketika bergegas menuruni ranjang untuk menghampiri Arya.
Belum sempat kaki mungil Lucas menapaki lantai, Arya lansung meraih ketiaknya. "Maaf yah nak, papah kayaknya pulang terlambat," ungkap Arya, menggendong hangat tubuh sang bayi.
Tertawa cekikikan penuh kelucuan, Lucas sepertinya senang mendapati kehadiran sang Ayah.
"Yuk. Papah udah bawa dua orang temen lama kamu, juga satu orang baru yang mungkin bisa jadi temen main kamu," ucap Arya, lekas berjalan membawa Lucas keluar dari kamar.
"Tuan. Hamba ada ide," Gabriel yang masih berdiri di dekat anak tangga pun memulai telepati dengan Arya.
"Apa itu?" tanya Arya dalam hati, sebelum kakinya menapak pada anak tangga.
__ADS_1
Tiba-tiba Gabriel lansung berjalan menuju ruang dapur, juga seketika menyungging senyum selagi tak ada seorangpun yang dapat melihat senyuman itu. "Tuan cukup duduk, tenang, dan saksikan. Hamba pasti akan segera melakukan sesuatu," balasnya dalam hati.
~Tbc