Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 32. Dunia Yang Aneh


__ADS_3

Arya menunda niatnya untuk pergi menemui Reina, sebab ia diharuskan bertamu kedalam rumah keluarga Aulia.


"Maafin anak saya yah dek, dia memang suka bertindak aneh kalau lepas dari perhatian saya," ungkap seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung dari Aulia.


Arya lantas tersenyum selagi terduduk diatas sofa, berseberangan dengan ibu Aulia. "Gapapa kok Tante, gapapa ... ehehe ...." balasnya penuh sungkan.


Sementara, Aulia nampak berlutut dihadapan Lucas yang berada disamping Arya. Ia terus menerus melampiaskan rasa gemasnya pada sang bayi.


"Ucuk ucuk ucuk ... baaaa!" hibur Aulia dengan wajah konyol.


Lucas spontan tertawa riang, begitu dirasakannya kenyamanan saat bercengkrama dengan Aulia.


"Heei ... jangan begitu Auliaaa. Jangan bikin malu mamah didepan tamu," tegur sang bunda, merasa Aulia tak memiliki sopan santun terhadap Arya.


"Udah gapapa kok Tante. Saya malah seneng Lucas bisa akrab sama Aulia," kata Arya.


Dengan polosnya Arya mengucapkan nama Aulia, sekejap hal itu membuat sang bunda menjadi curiga.


"Loh, kamu kenal anak saya? Kok bisa tau namanya?" tanya sang bunda penasaran.


Arya sontak terbelalak. "Mampus dah, gua keceplosan. Harus gimana nih jawabnya ... sistem malah belum balik-balik juga ...." pikirnya gelisah.


"Dek? Apa jangan-jangan kamu masih ngefans sama anak saya?" tanya kembali sang bunda.


Pertanyaan itu terucap lantas sang bunda mengetahui bahwa Aulia adalah mantan seorang aktris, tak menutup kemungkinan bila anaknya itu masih memiliki penggemar berat.


"Ahh iyaa Tante! Saya fans beratnya Aulia!" Arya segera memanfaatkan kesempatan itu, mencoba mengelabui kecurigaan ibu Aulia.


Sang bunda spontan menggeleng-geleng. "Owalaah ... padahal Aulia udah gak aktif lima tahun yang lalu loh." Senyuman lantas melebar dari bibir wanita paruh baya itu. "Terimakasih yah dek, udah setia ngikutin perjalanan karier Aulia," ungkapnya.


Arya tersenyum meringis, mengusap-usap rambut belakang. "Ehehe ... sama-sama Tante, sama-sama," balasnya.


Aulia tiba-tiba meraih ketiak Lucas, lalu mengangkat tubuh sang bayi tinggi-tinggi. "Wahai makhluk imut ... akulah fans beratmu," ucapnya.


"Heii jangan begitu Auliaa!" omel sang bunda, sekejap bangkit menghampiri Aulia.


Arya turut berdiri, menyaksikan bagaimana sang bunda sontak meraih pundak Aulia.


Beruntung Lucas kembali diturunkan serta diberikan kepada Arya, Aulia sepertinya merasa terganggu dengan omelan sang bunda.


"Mamah. Mulai hari ini aku bakal tinggal." Aulia spontan menunjuk pada Arya. "Sama dia," tegasnya.


"Ha?" Arya terkejut, sedikit melongo dengan perkataan gadis itu.


"Gak boleh!" Sang bunda lantas menarik tangan Aulia, mencoba memaksanya berjalan menuju tangga rumah. "Kamu dari tadi bikin malu mamah aja! Ayo cepet, masuk kedalam kamar!" perintahnya.


"Tan— Tante." Arya berusaha meyakinkan sang bunda, bila ia tak sedikitpun terganggu dengan kelakuan Aulia. "Jangan digituin Tante, kasian dia," mohon Arya.


Aulia mencoba melunak, selagi menapak pada anak tangga bersama sang bunda. "Babayyy ...." Ia lantas melambai-lambai kearah Lucas. "Sampai jumpa lagi," ucapnya dengan tatapan kosong.


Lucas menjadi murung, seketika merengek menyaksikan keberadaan Aulia semakin jauh dari pandangannya. "Papaaah ...." himbaunya dengan sedih.


"Udaah udah. Cup,cup, cup ...." Arya merangkul Lucas dalam gendongan, mengelus-elus hangat punggung sang bayi. "Tante Aulia gak bakal kenapa-kenapa kok, papah jamin," bujuk Arya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Deek ... maaf yah."


Sang bunda kembali turun dari tangga, mendapati Arya terduduk santai memangku Lucas.


"Iya Tante. Tenang aja," balas Arya tersenyum.


"Diminum dulu airnya dek. Maaf yah Tante gak bisa ngasih apa-apa lagi," kata sang bunda, sebelum menduduki sofa diseberang Arya.


"Oh iya Tante." Arya segera meraih segelas minuman segar. "Saya minum yah," ucapnya, lalu menegak sedikit air dari minuman tersebut.


Sang bunda nampak tersenyum-senyum, seketika ia teringat akan sosok seseorang. "Dari tadi aku kayak merasa kenal sama ini anak. Siapa yaah ...." pikirnya.


Arya kembali meletakkan gelas minuman keatas meja. "Terimakasih Tante, saya jadi gak enak ngerepotin," ungkapnya dengan sungkan.


"Ahh gapapa kok dek." Demi menyudahi rasa penasaran, sang bunda segera berkata. "Kalau boleh tau, nama kamu siapa yah?"


"Saya Arya Pratama," jawab Arya spontan, penuh percaya diri.


"Ohh Aryaaa ...." Sang bunda kembali tersenyum, seraya mengangguk-angguk. "Pindah kesini dari kapan dek Arya? Kok gak ketahuan pindahnya?" tanya Kembali sang bunda.


"Baru aja pindah Tan semalem. Mungkin Tante lagi ketiduran waktu saya pindahan," jawab Arya menjelaskan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berlatarkan langit yang biru, disertai sekumpulan awan putih yang mencoba menghalangi sinar mentari, terjadilah percakapan antar wujud tak kasat mata yang memperdebatkan suatu hal.


...[Sistem Arya: T—Terima kasih Yang Mulia. Hamba berjanji takkan mengulangi kesalahan lagi]...


...[Sistem Y: Hamba keberatan Yang Mulia. Sekali melakukan kesalahan, akan mengulangi kesalahan yang lain. Lebih baik dia diberikan hukuman yang setimpal agar menyesali kesalahannya]...


...[Sistem Z: Benar Yang Mulia. Hamba juga sependapat]...


Terjadi keheningan dalam sesaat, pembicaraan itu memang benar-benar tak dapat didengar oleh manusia manapun dimuka bumi, tak terkecuali Arya.


...[Sistem X: Baiklah ... setelah saya pertimbangkan baik-baik, kau akan menerima hukuman. Selama seminggu kau diliburkan dari tugas mengawasi Arya Pamungkas, dimulai dari sekarang]...


...[Sistem Arya: T—tapi Yang Mulia. Siapa yang akan menggantikan hamba?]...


...[Sistem X: Tak usah khawatir, aku telah mempersiapkan pengganti sementara. Nikmati waktu liburmu dengan baik, pergunakan waktu itu untuk merenungi kesalahanmu]...


*Sistem Arya mendengus*


...[Sistem Arya: Baik ... Yang Mulia]...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Saya permisi dulu yah Tante," pamit Arya, nampak berdiri didepan gerbang rumah keluarga Aulia.


"Iya dek Arya, hati-hati yah," balas sang bunda.


Arya segera bergegas menyusul Lucas yang telah lebih dahulu masuk kedalam mobil, melanjutkan kembali niatnya untuk mencoba menemui Reina.

__ADS_1


Mesin mobil lantas menyala, dengan perlahan Arya menginjak pedal gas, sempat memberikan klakson pada ibu Aulia.


"Hati-hati yaaah!" balas sang bunda.


Sedangkan diatas balkon rumah, Aulia nampak melambai-lambai kearah mobil Arya. "Babaay ...." ucapnya dengan nada rendah.


Menjelang sore yang redup, Arya melajukan mobil searah menuju apartemen lamanya. Sesekali ia termenung, mengingat betapa anehnya perubahan yang terjadi pada Aulia, juga meresapi rasa iba pada gadis tersebut.


"Gua heran sama sistem. Dari tadi kemana yah, kok belum balik juga," batin Arya seraya mendecih.


Lucas nampak terduduk tenang, melihat dari kaca jendela mobil, betapa banyaknya kendaraan yang melaju cepat mendahului mobil sang ayah.


Arya kembali mendecih, benar-benar merasa geram atas kepergian sistem yang belum jua kembali. "Dia bilang lagi dipanggil sistem pusat. Apa jangan-jangan ada masalah disana?" pikirnya serius.


"Benar, Tuan. Sistem Anda telah melalui persidangan dari Dewan Sistem Pusat, juga menerima hukuman yang akan ia jalani selama seminggu."


Tiba-tiba, terdengar suara perkataan seseorang yang berasal dari arah kursi belakang.


"Ohhh begitu. Bilang dong dari ta—"


Arya sontak terkejut, sekilas terbelalak menyadari suara misterius tersebut. Tubuhnya seketika bergetar-getar, mencoba melirik siapa sosok orang tersebut dari cermin dashboard.


Mendapati sisi bahu kiri jalan nampak lengang, Arya spontan menepi. "Lucas. Tunggu disini sebentar, papah ada urusan," pintanya pada sang bayi, sebelum akhirnya beranjak turun dari mobil.


Arya telah menyadari, sosok misterius yang berbicara itu adalah wujud manusia biasa. Seorang pria berambut gondrong yang terikat kebelakang, berwajah cerah, juga ketampanannya dapat dikatakan setara dengan Arya.


Pria tersebutlah yang membuat Arya segera membuka pintu mobil bagian tengah, seketika menjadi was-was atas kehadirannya.


"Keluar. Jangan masuk mobil orang sembarangan," pinta Arya dengan tenang.


"Tuan. Aku adalah pengganti sem—"


Arya sontak menarik tangan sang pria, memaksanya keluar dari mobil karena sudah kehabisan kesabaran.


Dengan mengenakan setelan jas serba putih, sang pria sempat terdorong oleh tarikan Arya. Beruntung pria itu dapat menahan keseimbangan, sekejap menyibakkan jas putihnya, lalu berjalan menghampiri Arya.


"Tuan." Pria tersebut lansung bertekuk lutut dihadapan Arya. "Maafkan atas kelancangan hamba barusan. Tetapi, mendampingi Tuan adalah tugas utama hamba," ungkapnya.


"Siapa yang nyuruh lu?" tanya Arya, berdiri tegap berkacak pinggang dihadapan sang pria.


"Sistem Pusat, Tuan," jawab sang pria.


Arya lantas berkedip-kedip. "Wah ... kayaknya sistem bener-bener kena masalah disana," pikirnya.


"Betul Tuan. Seperti yang hamba katakan sebelumnya, sistem Anda tengah menjalani hukuman, dibebaskan dari tugasnya mengawasi Tuan selama seminggu," balas sang pria.


"Ohh, jadi lu bisa baca pikiran gua juga?" tanya kembali Arya.


"Tentu saja Tuan. Aku juga bagian dari sistem." Sang pria seketika bangkit, perlahan membungkuk dihadapan Arya. "Perkenalkan, hamba adalah Gabriel, sistem humanoid yang akan menggantikan posisi sistem Anda untuk sementara waktu," ucapnya.


Mendengar perkataan pria itu, Arya justru menyungging senyum. Lama kelamaan ia tak dapat mencegah dirinya untuk tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Dunia ini emang aneh. Aneeeehhhh!" soraknya sekuat tenaga, seraya mendongak kearah langit.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2