
"Okeyy."
Salah seorang gadis berpakaian formal dan rapih, nampak serius melihat satu persatu berkas lamaran pekerjaan Arya. "Arya Pratama, yah?" tanya sang gadis, diketahui sebagai staf HRD perusahaan tersebut.
"Iya Bu," jawab Arya, sesekali mengatur ritme nafas agar tetap tenang.
Rupa wajah sang gadis nampak menawan, begitu anggun hingga terasa sedap dipandang mata. Arya justru tak menyadari hal itu, tetap memprioritaskan tujuan utamanya dalam menjalankan misi dari Gabriel.
"Umurnya sudah 25 Mas?" tanya sang gadis.
"Betul, Bu," jawab Arya singkat.
"Hmm ... okey." Sang gadis kembali memeriksa dengan teliti berkas-berkas lamaran Arya, melakukan hal itu dalam beberapa saat hingga menit demi menit pun terlewati.
"Ini cewek kayaknya masih muda. Apa gak tersinggung yah kalau gua panggil 'Bu'?" pikir Arya.
"Okey Mas Arya. Lamarannya sudah saya baca dan selamat, Mas Arya berhasil melewati tahap adminstrasi," terang sang gadis.
"Oh, oke Bu," balas Arya, tak mereaksikan apapun dalam raut wajahnya.
Sang gadis kembali memasukkan berkas-berkas lamaran Arya ke dalam map cokelat, meletakkan map tersebut ke atas meja lalu segera mengulurkan jabatan tangan. "Saya Citra, Staff HRD yang bertugas disini," katanya.
Arya lansung membalas jabatan tangan gadis itu. "Oke Bu, salam kenal," balasnya, spontan mendapati sang gadis mengayunkan jabatan tangan.
"Okey. Mas Arya boleh tunggu di tempat tadi, gabung sama pelamar lainnya. Nanti kami himbau kembali," jelas sang gadis, kemudian melepaskan jabatan tangan.
"Baik Bu." Arya spontan berdiri, bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. "Akhirnya lancar juga," batinnya.
Tak nampak keramaian di ruang tunggu khusus pelamar, kecuali hanya beberapa orang saja yang sama-sama memiliki satu tujuan, yaitu melamar pekerjaan sebagai calon karyawan.
__ADS_1
Terlihat beberapa pelamar wanita yang mendominasi jumlah pelamar, sedangkan jumlah pelamar pria hanya terdapat Arya dan seorang pria lainnya.
Selepas menutup pintu ruangan HRD, Arya lansung berbalik. Spontan wajahnya menjadi pusat perhatian para pelamar yang tengah menunggu, namun ia tetap berjalan melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi.
"Permisi yah," izin Arya, kepada seorang gadis pelamar yang tengah terduduk disampingnya.
"Ohh iyaa Mas. Silahkan," balas gadis tersebut, menoleh pada Arya penuh senyuman.
Arya tetap memfokuskan pandangan ke depan, sesekali mencoba mengatur tensi gugupnya.
"Darimana Mas?" tanya sang gadis, lansung membuat Arya melirik padanya.
"Dari Kapuk. Kamu?" jawab Arya, spontan melemparkan pertanyaan.
"Kapuk? Sebelah mananya Mas?" Sang gadis kembali melambungkan pertanyaannya.
Arya kembali meluruskan pandangan, dua bola matanya lantas melirik ke arah atas, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Hmm ... kalau gak salah, Pantai Indah Kapuk dua," jawabnya menerangkan.
"Emang kamu di Kapuk juga?" tanya Arya.
"Iya Mas." Sang gadis menjulurkan jabatan tangan, memanfaatkan kesempatan itu untuk berkenalan dengan Arya. "Aku Jessica. Semoga kita sama-sama diterima bekerja di sini," ucapnya.
Arya sempat terdiam, lalu akhirnya membalas jabatan tangan sang gadis. "Arya Pratama, 25 tahun. Duda, udah punya anak satu. Aamiin. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik," balasnya penuh percaya diri.
Mendengar status Arya, sang gadis spontan menarik tangan, dan berkata, "M—maaf. Aku kira kamu belum menikah."
Hal itu tak membuat Arya tersinggung, sebab dalam pikirannya hanya terfokus pada misi yang sedang ia jalani sekarang. "Iya gapapa. Santai aja," kata Arya, kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
Kini, tak ada lagi percakapan, gadis tadi hanya terdiam tanpa berani melirik ke arah Arya.
__ADS_1
Meski terduduk pada barisan kursi paling belakang, Arya selalu menyaksikan semakin banyaknya para pelamar yang keluar masuk ruangan HRD. Itu malah membuat kepercayaan dirinya perlahan menurun, sebab persaingan semakin banyak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menunggu beberapa saat, sesi penyerahan berkas lamaran pun ditutup. Arya tetap ekstra fokus menanti himbauan Staff HRD, sedangkan sang gadis yang mengajaknya berbicara barusan nampak tertidur memiringkan kepala.
Tiba-tiba kepala sang gadis perlahan mengayun, lalu mendarat tepat di sisi pundak Arya. Hal itu jelas membuat konsentrasinya sedikit terganggu.
"Antara lagi lapar atau kurang tidur. Kayaknya perjuangan dan semangat cewek ini bener-bener tinggi," batin Arya, tetap membiarkan kepala gadis itu bersandar pada pundaknya.
Arya menarik nafasnya dalam-dalam. Belum sempat nafas itu terhempaskan, seketika pintu HRD terbuka lebar.
Terlihat staf HRD keluar dari ruangan sambil menggenggam selembar kertas. "Oke semuanya, semoga masih semangat yah. Maaf yah kalau lama, kayaknya sampai ada yang ketiduran tuh," ucap salah seorang Staff HRD, selepas menyorot wajah sang gadis di sebelah Arya.
Semua kepala, semua mata, semua pandangan wajah lantas tertuju pada Arya.
Tak ingin menjadi pusat perhatian, Arya segera menepuk-nepuk pipi sang gadis. "Jess, bangun Jess. Tahap kedua mau dimulai," himbaunya.
Sang gadis pun sontak terbangun, lansung melotot mendapati seorang staf HRD telah berdiri di depan pintu ruangan.
Karena merasa malu, gadis tersebut spontan mencubit sisi lengan Arya. "Kenapa gak bangunin dari tadiii ...." bisiknya dengan wajah geram.
Arya terlanjur percaya diri, tak bergeming sedikitpun dengan tindakan gadis tersebut. "Emang udah bener gua harusnya diem aja tadi. Malah disalahin kan," pikirnya.
"Okey. Untuk nama pertama yang saya sebutkan, silahkan masuk ke dalam ruangan. Kali ini kita akan menjalani sesi interview, tahap kedua proses lamaran yang bersifat eliminasi. Siapa yang dinyatakan lolos akan memasuki tahap ketiga, sebelum jam istirahat nanti."
Staff HRD tersebut menjelaskan panjang lebar perihal proses lamaran, sekejap melirik pada selembar kertas yang digenggamnya. "Arya Pratama. Silahkan masuk," himbaunya.
Arya lansung berdiri. "Inget, jawab seadanya, jangan dilebih-lebihin. Jangan cari perhatian, bersikap bijaksana seperti kata Gabriel," batinnya, lalu berjalan menuju pintu ruangan.
__ADS_1
~Tbc