Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 16. Aku Berjanji Takkan Meninggalkan Bayiku Seorang Diri


__ADS_3

Langit disekitar ibukota nampak mendung, menimbulkan angin dingin yang berhembus kencang, serta pertanda bila hujan akan segera turun.


Ditengah gelapnya malam, juga gelapnya suasana dalam kamar apartemen nomor 102 itu, Arya berdiri sambil memegang remot pendingin ruangan. "Kayaknya mau hujan ... lebih baik AC-nya di matiin aja," batinnya, seraya menengok ke arah jendela yang tersingkap.


(*tit*)


Arya lansung meletakkan remot AC ke atas meja TV, lalu berjalan menuju kursi di dekat jendela.


...[Host. Pergunakan waktu malam untuk beristirahat. Segeralah tidur]...


Arya mendengus dalam. "Iyaaa ...." Ia pun termenung sesaat, sebelum akhirnya meraih sebuah ponsel yang terletak di atas meja. "Katanya Alexa mau dateng, makanya gua tahan dulu ngantuknya sebentar," ucapnya.


*Sistem mendengus*


...[Baiklah, sesukamu saja. Aku akan terus mengawasi]...


Arya seketika teringat akan suatu hal, yang membuatnya segera meraih dompet dari dalam saku celana.


Dilihatnya beberapa lembar uang dari dalam dompet tersebut. "Situ sempat bilang gua dapet uang dari reward misi yang udah selesai. Mana uangnya?" tanya Arya, melebarkan ruang dalam dompetnya.


...[Tidak semua aku masukkan kedalam dompetmu, host. Uang sebanyak itu takkan muat. Cobalah cek saldo rekeningmu di aplikasi perbankan]...


Arya spontan menoleh ke arah ponsel yang ia letakkan kembali ke atas meja. Ponsel tersebut segera diraihnya, untuk membuktikan perkataan sistem. "Perasaan gua gak pernah download aplikasi mbanking. Kok bisa ada disini?" tanyanya dengan heran, mendapati sebuah aplikasi perbankan telah terpasang dalam layar ponselnya.


...[Aku yang mengunduhnya, untuk menyimpan reward uangmu]...


"Hmm ... terus kodenya berapa?" tanya kembali Arya.


...[LHP1601. Kode pin-nya adalah angka tanggal lahirmu]...


"Tanggal lahir gua ...." Arya memasukkan kode pin sesuai tanggal lahir, dan berhasil masuk ke dalam akun perbankannya. "Ah bener. Berapa yah saldonya ...."


{Saldo anda: Rp.26.750.000}


...[Host, pergunakan uang itu dengan baik. Jangan berfoya-foya, kecuali digunakan untuk memenuhi kebutuhan bayimu nanti]...


"Hmm jumlahnya lumayan, gak sebanyak jumlah saldo gua du—"


Arya spontan terbelalak, mencengkeram ponsel yang ia genggam karena terlintas suatu hal dalam benaknya.


...[Host, ada apa?]...


"Kalau tidak salah, jumlah kekayaan gua dulu senilai miliaran rupiah. Dan ... semuanya dirampas sama bibi Aleanna," jawab Arya dengan serius.


*Sistem kembali mendengus*


...[Jangan dipikirkan. Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Orang yang kau maksudkan itu akan mendapatkan balasannya suatu saat nanti]...


"Ya." Arya sontak berdiri. "Gua juga mau mencoba ketemu sama orang-orang yang gua kenal dulu. Apa bisa?" pintanya.


...[Bisa saja, tapi percuma. Kehadiranmu hanya akan mengejutkan mereka. Sedangkan kau sendiri sudah lama mati lalu dihidupkan kembali, siapa yang akan mempercayai kenyataan itu dengan mudahnya?]...


"Iya juga." Arya akhirnya sependapat dengan masukan sistem. "Tapi gua cuma penasaran aja, seperti apa kehidupan mereka sekarang," ucapnya.


...[Aku bisa memberitahukannya]...


"Sorry. Maksudnya?" tanya Arya.


...[Siapa orang yang kau ingin aku ungkap kehidupannya sekarang?]...


"Situ peramal kah?" Arya bersedekap tangan, seketika memicingkan mata untuk memikirkan sosok seseorang. "Hmm ... mungkin yang pertama, Bibi Aleanna. Gimana kabar dan keberadaan bibi sialan itu sekarang?" tanyanya.


...[Aleanna Pamungkas, usia 45 tahun. Sekarang menetap di New Zealand dan menjadi warga negara disana]...


"N—New Zealand?!"


...[Ya. Bahkan beliau sudah menikah dengan orang lokal disana, dan dikaruniai satu orang anak. Lupakanlah saja, cukup maafkan kesalahannya]...

__ADS_1


Arya mendengus dalam, mencoba mengiyakan perkataan sistem. "Sekarang ...."


...[Aulia Sofia?]...


"Ya! Kok situ tau?" tanya Arya dengan heran.


...[Kesampingkan soal itu. Aulia Sofia, kini berusia 25 tahun. Kariernya sebagai aktris sudah meredup, dan kini sedang tekun menjalani usaha restoran keluarganya]...


Mendengar pengakuan sistem, Arya sekejap termenung. "Dia udah nikah?" tanyanya penuh penasaran.


...[Sebelum ku beritahu, berjanjilah untuk tidak meninggalkan Lucas]...


"Ya."


Arya menanti jawaban dari pertanyaannya, sementara sosok wajah dari wanita itu semakin mengental dalam pikiran.


...[Aulia, belum menikah]...


"Yes!" Arya pun senang dengan jawaban sistem.


...[Hingga saat ini, dia masih mengalami depresi saat mencoba menyendiri, meratapi kesedihan setelah kehilangan sosok seorang pria yang sangat-sangat ia cintai]...


"Haa? Siapa?" tanya Arya penasaran.


...[Kau, Arya Pratama]...


Arya sontak terbelalak, terdiam dan terkejut saat mendengar pengakuan sistem.


...[Host?]...


"A—Aulia ...."


Air mata pun lantas meluncur dari kelopak mata Arya, terasa sakit dalam hatinya saat mengingat kembali kenangan indah bersama gadis itu.


...[Host!!!]...


...[Host ... tenanglah]...


"J—jauh sebelum gua mati ... gua sempat berharap Aulia bakal hidup bahagia sama orang lain ...." Air mata Arya terus menetes, membayangkan apa yang terjadi rupanya tak sesuai harapan. "Gua harus cari Aulia!" ucap Arya, sontak bergegas menghampiri pintu kamar.


...[Host!!]...


Sebelum Arya menyentuh gagang pintu, Lucas tiba-tiba menangis.


...[Host. Sekali kau melangkah keluar, nyawamu akan kucabut]...


Arya perlahan menoleh ke arah Lucas. Dilihatnya bayi kecil nan mungil itu menangis seraya berusaha merangkak menuju sisi ranjang. "Lucas!"


Dalam sekejap Arya berlari menuju sisi ranjang, lalu berhasil menangkap tubuh Lucas yang hampir tersungkur ke atas lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hujan pun akhirnya turun, semakin menambah suasana kesedihan yang terjadi diantara ayah dan anak itu.


"Maafin papah, Lucas."


Arya memohon, sambil mengelus-elus tubuh mungil Lucas yang berada dalam gendongannya. Bayi tersebut nampak merangkul erat leher Arya, sepertinya tak rela sang ayah pergi meninggalkannya.


...[Host, dengarkan aku. Jernihkan pikiranmu. Aulia nampaknya baik-baik saja, karena dia selalu mendapatkan dukungan dari keluarga. Tapi, lihatlah Lucas. Apa kau tega meninggalkan bayimu seorang diri? Cobalah renungkan, kau adalah satu-satunya anggota keluarga yang Lucas miliki. Bayi itu hanya bergantung padamu, bukan orang lain]...


Arya seketika melepaskan rangkulan Lucas, dilihatnya dengan serius wajah mungil sang bayi yang nampak bersedih itu. "Lucas. Papah janji gak akan ninggalin kamu. Jangan sedih yah." Air mata Arya kembali menetes, ditujukannya untuk Lucas. "Maafin papah nak," ungkapnya bersungguh-sungguh.


Lucas tiba-tiba tersenyum, sampai-sampai gigi mungilnya sedikit terlihat. "Pwapwaaa ...." himbau sang bayi.


Arya lansung memeluk tubuh Lucas. "Iyaa nak. Papah disini, papah akan selalu ada disini, nemenin kamu," ucapnya penuh sesal.


...[Bagus. Itulah yang kuharapkan dari hostku. Sekarang, apakah kau masih berkeinginan untuk mencari Aulia?]...

__ADS_1


"Enggak. Kalau sampai membuat gua jauh dari Lucas, gua bakal berhenti mencari Aulia," jawab Arya tegas.


...[Sebenarnya, kau bisa melakukannya. Tapi bawa Lucas bersamamu. Kenalkan bayimu pada Aulia. Aku akan membuat keajaiban di seluruh negeri ini, menghapus berita Kematianmu, dan membuat orang-orang menganggap karirmu sudah meredup]...


...[Seluruh masyarakat akan berasumsi bila kau tengah bersembunyi. Jika tiba waktumu untuk memunculkan diri, perkenalkan Lucas sebagai anak kandungmu. Buat pernyataan kalau kau telah berhenti menjadi seorang aktor. Aulia, Alexa dan seluruh kerabat-kerabatmu, akan kemba—]...


"Gak ah. Ribet. Udah begini aja." Arya spontan menolak, seketika merebahkan diri ke atas ranjang sambil mendekap tubuh Lucas. "Gua lebih nyaman dan tenang hidup kayak gini. Gak dicari-cari wartawan dan para fans, gak dikejar-kejar jadwal syuting, bahkan gua terbebas dari kebiasaan buruk gua dulu," papar Arya.


...[Hmm ... baiklah. Tapi ingat, jika muncul niatmu untuk mencari Aulia, bawa Lucas bersamamu]...


"Iyaa iyaa. Udah diem dulu, gua mau tidurin Lucas." Arya menepuk-nepuk lembut b*kong sang bayi, membuat bayi tersebut akhirnya terlelap dalam dekapannya. "Selamat malam, sistem," ucap Arya, lalu perlahan memejamkan mata.


...[Ya. Selamat malam dan selamat tidur, host]...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam sebuah rumah besar bertingkat, Alexa terlihat jengkel selagi terbaring di atas ranjang kamarnya.


"Papah mamah begitu banget. Masa aku gak dibolehin ke apartemen lagi ... padahal besok kan libur syuting seminggu," Alexa menggumam dalam hati, seketika terlintas sosok Arya yang selalu muncul dalam benaknya. "Gimana nih ... mana aku udah janji sama Arya ...." batinnya penuh cemas, sambil memeluk erat sebuah boneka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bergeser menjauh menuju sebuah kamar yang terletak di dalam mess khusus karyawati mall, dimana mall tersebut menyatu dengan apartemen tempat tinggal Arya.


Melihat bagaimana Reina terbaring diatas kasur matras, dalam sebuah kamar sepetak yang menjadi tempat tinggalnya selama bekerja di perantauan.


Reina tak sendirian, ia terlihat sekamar dengan seorang gadis sesama pekerja mall.


"Besok jadi cuti Rein?" tanya seorang gadis rekan kerja Reina.


"Gak tau nih. Aku juga bingung mau pergi kemana besok," jawab Reina, kini nampak tidur terlentang sambil memainkan ponselnya.


"Loh, katanya mau ngajakin mas Duta jalan-jalan? Gak jadi?" tanya kembali sang rekan, juga nampak tidur terlentang sambil memainkan ponselnya disamping Reina.


"Duta? Duta siapa?" Reina menoleh penuh heran pada wajah rekannya itu.


Sang rekan spontan mendengus, lalu berkata, "Mas duda tampan yang sering kamu ceritain itu loh ...."


"Oohh Mas Aryaa ...." Reina akhirnya mengerti maksud perkataan sang rekan. "Kayaknya gak mungkin deh," balasnya.


"Loh ... kenapa?" tanya sang rekan.


"Gini loh. Gak mungkin juga kan aku tiba-tiba dateng pagi-pagi, terus ngajak dia jalan-jalan ... kalo dianya gak bisa gimana? Jadi malu sendiri kan aku," jawab Reina pesimis.


"Kan tinggal di chat aja orangnya Rein, kasih tau dari sekarang. Emang kamu gak punya kontaknya?" saran sang rekan.


"Astaga ... iya juga yah. Aku aja sampai lupa minta nomornya," balas Reina.


"Gimana sih kamu. Mau ngajak jalan-jalan tapi gak punya kontaknya," omel sang rekan.


"Hehe. Abis gimana yah, liat mukanya tuh aku jadi lupa segalanya." Reina tersenyum-senyum, membayangkan betapa tampannya wajah Arya.


Sang rekan kembali mendengus. "Yaudah, gini aja. Gak usah ajak jalan-jalan, mampir aja ke tempatnya," anjur sang rekan.


Reina pun spontan menjentikkan ibu jari, setelah menerima saran dari sang rekan. "Ide bagus! Tumben kamu pinter Wi!" balasnya.


"Gitu aja kok repot. Yaudah, aku mau tidur dulu. Besok shift pagi soalnya," ucap sang Rekan, meletakkan ponselnya lalu perlahan memejamkan mata.


"Makasih yah Dewi. Selamat tidur," ungkap Reina.


"Jangan lupa! Bawain sesuatu, biar imej kamu semakin bagus di mata mas Duta." Sang rekan tiba-tiba berkata, meski kedua matanya telah terpejam.


"Okee!"


Mereka pun akhirnya tertidur.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2