
"Bapak bisa tunggu diruang imunisasi balita yah. Ruangannya ada disebelah pojok sana," ucap sang petugas administrasi, seusai mengisi formulir pendaftaran Arya dan Lucas.
Arya lantas menoleh kearah sudut lorong sebelah kanan. "Disana Bu?" tanyanya memastikan.
"Betul. Kalau Bapak kurang paham, bisa ditanyakan lansung oleh petugas kami yang ada dibelakang Bapak," jawab sang petugas.
"Haa?" Arya sontak menoleh kearah belakang, kehadiran Bella pun lantas membuatnya terkejut. "Loh, Bella? Kamu kerja disini?" tanyanya.
Bella melambungkan senyum. "Hehe ... iya Mas. Yuk, kita lansung imunisasi dede yaaang imut ini," jawab Bella, menoleh penuh gemas pada sang bayi.
Arya mendadak cemas, takut bila Lucas tiba-tiba menunjukkan kepiawaian dalam berbicara. "Kamu harus keep calm yah Lucas. Jangan buat Bella merasa curiga nantinya," harap Arya dalam hati.
Sementara Lucas nampak tersenyum riang, sedari tadi merasa senang bisa bertemu kembali dengan Bella.
...[Host. Apa kau sudah terbiasa dengan percepatan waktunya? Apa kau tidak merasakan hal yang janggal?]...
"Nggak ada." Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Arya lantas berjalan mendahului Bella. "Yaudah yuk," ajaknya pada Bella, bergegas menuju ruang imunisasi.
Setibanya diruangan itu, tak ada satupun orang yang dilihat Arya, kecuali hanya ia dan Bella saja. "Kok sepi? Pada kemana?" tanyanya, terlebih dahulu memasuki ruangan.
Bella segera menyusul selepas melewati pintu. "Memang sepi Mas. Jarang ada orang yang bawa bayinya imunisasi kesini. Biasanya pada ke posyandu, atau ke puskesmas," jawab Bella, menutup pintu ruangan rapat-rapat.
Arya lansung menduduki kursi dihadapan meja petugas, dimana meja tersebut memang dikhususkan untuk Bella.
Bella berjalan menghampiri Arya. "Mas. Bisa gendong sebentar, aku siapin peralatannya dulu," pintanya.
Dalam sekejap Arya berdiri meraih Lucas dari gendongan Bella. "Ambil diluar?" tanyanya.
"Iya Mas." Bella berjalan tergesa-gesa menuju pintu. "Tunggu disini yah. Aku sebentar doang kok," ucapnya, lalu beranjak keluar dari ruangan.
Arya kembali menduduki kursi, menatap penuh heran kearah pintu ruangan. "Tadi situ sempet nanya apa? Sorry, gua lupa lagi," tanyanya dalam hati.
*Sistem mendengus*
...[Aku tadi bertanya, apa kau tidak merasakan hal yang janggal setelah melewati percepatan waktu?]...
"Ohh itu ...." Arya sekejap memahami maksud pertanyaan sistem. "Ya jelas ada. Justru ada yang mau gua tanya," jawabnya.
...[Apa itu?]...
"Gimana keadaan Alexa, Clarissa, Sarah, Reina, sama Angela? Kalau Bella kan udah keliatan tadi baik-baik aja. Malah gua sempet kaget bisa ketemu dia disini," ucap Arya dalam hati, menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.
...[Hmm ... Beberapa diantara mereka ada yang sudah bertunangan, ada pula yang sudah menikah]...
"Haa?!" Arya sontak berdiri, mengejutkan Lucas yang berada dalam gendongan. "Serius nih?!" tanyanya penuh rasa ketidakpercayaan.
...[Ya. Mungkin itu yang mengganjal dalam hatimu. Tapi pada kenyataannya memang seperti itu]...
"Papaah?" Lucas menjadi bingung, menatap penuh heran pada wajah sang ayah.
"Siapa? Siapa yang udah tunangan, siapa yang udah nikah?" tanya Arya, didesak oleh rasa penasaran.
...[Yang telah menikah adalah Clarissa. Sedangkan Angela dan Sarah sudah bertunangan, atas dasar keinginan orangtua mereka. Dan kini yang tersisa hanyalah Alexa dan Reina. Kedua gadis itu sangat-sangat mencari keberadaanmu sekarang. Karena sudah bertemu Bella, mungkin Alexa akan segera mengetahuinya]...
__ADS_1
Arya mendengus dalam. "Gak nyangka ... Padahal gua udah paham betul kalau Sarah dan Angela benar-benar terobsesi sama gua. Clarissa diem-diem boleh juga, kayaknya udah gak sabaran pengen punya anak bayi. Terus, Bella gimana?"
...[Bella juga sudah bertunangan, dengan salah seorang dokter dirumah sakit ini]...
"Waduuh ... untung gua gak terlalu berharap sama Bella. Ternyata dia cuma suka sama Lucas doang," batin Arya.
...[Ya. Bella sebentar lagi akan menyusul Clarissa]...
"Situ tau aja. Peramal bukan?" tanya Arya penuh heran.
...[Tidak. Aku hanya dapat menerka apa yang akan terjadi dengan orang-orang terdekatmu saja, tidak dengan orang asing]...
"Ohhh ...." Arya lansung memahami, sekejap termenung lalu terlintas dua sosok gadis dalam ingatannya. "Hmm ... Alexa sama Reina. Berarti mereka lagi cari keberadaan gua?" tanyanya memastikan.
...[Ya. Mungkin salah satu diantara mereka ada yang sangat-sangat merindukanmu. Atau bisa saja perasaan keduanya seimbang, menginginkanmu juga menginginkan Lucas]...
Arya kembali mendengus, ditatapnya wajah Lucas yang terus menerus menatap lugu pada wajahnya. "Kenapa Lucas? Kamu takut yah disuntik?" tanyanya pada sang bayi.
Lucas tiba-tiba meraba hidung Arya, seperti ingin menunjukkan perasaannya pada sang ayah. "Mamaa ...." ucap sang bayi.
Arya sedikit terkejut. "Hehe ... kamu kayaknya bisa baca pikiran papah yah." Ia lansung memeluk tubuh Lucas dalam gendongan, mengelus-elus penuh perasaan punggung sang bayi. "Jangan sedih yah Lucas. Papah gak kenapa-kenapa kok ...." hiburnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella melakukan tugasnya dengan baik, memberikan berbagai macam pelayanan imunisasi yang lengkap pada Lucas.
Arya sedari tadi termenung, menyaksikan betapa tenangnya sang bayi saat ditangani Bella.
Raut wajah Bella nampak bahagia, tak pernah lepas dari senyuman saat menatap Lucas.
"Padahal, Bella juga cocok untuk jadi ibunya Lucas. Apalagi dia perawat, jadi gak perlu khawatir lagi kalo Lucas sewaktu-waktu sakit," renung Arya.
...[Kalau bukan jodohmu, jangan disesali. Tak perlu mencari yang sempurna untuk Lucas]...
"Iyaa ... kan masih ada Alexa samaaa ...." Renungan Arya lantas terhenti, sekilas sosok wajah Reina melintas dalam benaknya. "Reina ... abis ini, gua harus ketemu dia," batin Arya.
"Mas Aryaaa?" Bella sedari tadi menghimbau Arya, mendapati pria itu termenung mematung, terduduk didekat pintu ruangan.
Arya spontan berdiri. "Maaf. Tadi saya lagi mikirin masa depan Lucas," sahutnya, lalu berjalan menghampiri Bella.
"Harus dong! Dipikirin dari sekarang masa depannya Lucas, kalau bisa Mas cepet-cepet cari calon mamah yang baik," sambung Bella.
"Loh, emang calon mamah yang baik tuh kayak gimana menurut kamu?" tanya Arya, selepas menduduki kursi didekat Bella.
Bella sempat terdiam, lansung dipikirkannya jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. "Harusnya, Mas Arya udah tau jawabannya dari dulu. Tapi Mas kurang tegas sih, makanya banyak cewek yang ngedeketin," jawab Bella penuh sindiran.
"Loh, gua nanya apa dia jawabnya apa. Tinggal jawab aja kriteria mamah yang baik kayak gimana." Arya merasa tersinggung dengan jawaban itu, lalu mencoba membalasnya dengan senyuman. "Kalo menurut saya, kamu termasuk kriteria calon mamah yang baik. Tapi mungkin saya yang bukan kriteria kamu," balasnya.
Bella lantas tersenyum-senyum. "Ahh Mas Arya bisa aja ...." Ia kemudian menunduk, termenung memikirkan suatu hal. "Kalau bukan demi Alexa, mungkin perkataan Mas Arya tadi bisa terwujud," batinnya.
...[Kalau bukan demi Alexa, mungkin dia bisa saja menjadi calon ibu Lucas. Itulah yang dipikirkannya barusan]...
Arya memahami perkataan sistem, menjelaskan apa yang tengah direnungkan Bella dalam lamunan. "Rumit juga yah persahabatan antara cewek. Gua jadi kasian sama Bella," ungkapnya dalam hati.
__ADS_1
Lucas tiba-tiba menyentuh pipi Bella, mencoba menyadarkan gadis itu dari lamunan.
"Ehh maaf yah dede Lucas, tadi Tante gak sengaja melamun," ungkap Bella.
"Yaudah. Alexa masih nyimpen nomor aku kan? Bilang sama dia, nanti malem aku hubungi," ucap Arya, lalu meraih tubuh Lucas dari pangkuan Bella.
"Loh, kamu ganti nomor Mas? Kan nomor kamu yang lama udah gak aktif," kata Bella.
Arya spontan berkedip-kedip. "Emang iya? Perasaan saya gak pernah ganti nomor dah," balas Arya, berdiri sambil menggendong Lucas.
...[Nomor teleponmu memang sudah tidak aktif, karena masa aktifnya telah habis lima bulan yang lalu]...
"Lahh ... pantesan mereka jadi kehilangan kabar gua." Arya sedikit merasa kesal, selepas mendengar pengakuan sistem. "Lagian percepatan waktunya terlalu mendadak, seenggaknya kasih kesempatan buat persiapan," keluhnya dalam hati.
"Kita bahasnya diluar aja yuk Mas Arya. Aku sebentar lagi mau rehat," ajak Bella, berjalan menuju pintu ruangan.
...[Sudahlah host, tak perlu ada yang disesali. Setidaknya kau sudah mengetahui bagaimana keadaan mereka, setelah mengalami percepatan waktu]...
Arya kembali mendengus. "Yaudah iyaa." Ia akhirnya berjalan menyusul Bella menuju pintu ruangan. "Ngobrolnya lain kali aja yah Bella. Soalnya, saya ada janji sama mertua saya," ucapnya, mencoba mengelabui Bella.
Bella kemudian menutup dan mengunci pintu ruang rapat-rapat. "Bentar Mas. Aku boleh minta nomor telepon kamu yang baru?" pintanya, seraya merogoh ponsel dari dalam saku seragam perawat.
Arya turut meraih ponselnya dari dalam saku celana, meski tengah disibukkan menggendong Lucas. "Tolong aktifin lagi nomor gua yang lama. Soalnya gua gak terbiasa gonta ganti nomor dari dulu," pintanya pada sistem.
...[Baik. Cukup nyalakan ponselmu, masa aktif kartu sim-nya akan diperpanjang secara otomatis]...
Arya segera menyalakan ponsel, dan benar apa yang diinstruksikan oleh sistem, tiba-tiba muncul notifikasi pesan ysang menjelaskan masa aktif kartu sim telah diperpanjang.
"Nomor kamu masih yang lama kan?" tanya Arya pada Bella.
"Iya Mas. Aku gak pernah ganti nomor kok dari dulu," jawab Bella.
"Oke." Dengan segera Arya mencari nomor ponsel Bella dalam daftar kontak, lalu mencoba menghubunginya. "Tuh ... itu nomor aku," ucap Arya.
"Loh ...." Bella menjadi heran menatap layar ponselnya. "Ini nomornya aktif Mas ... bukannya udah gak aktif lagi?" katanya.
"Emang aktif kok. Mungkin sinyalnya aja yang jelek waktu tinggal disana," tegas Arya.
Bella spontan menoleh pada Arya. "Hah? Emangnya kamu udah pindah?" tanyanya curiga.
Arya tersenyum meringis. "Ehehe ... iyaa. Emang kamu belum tau?" jawabnya, lalu melemparkan pertanyaan.
"Belum!" Bella menjadi gemas dengan perkataan Arya, seolah-olah dibuat bingung olehnya. "Kenapa gak bilang-bilang kalau mau pindah?!" tanyanya penuh sebal.
"Waduh ... gimana nih?! Situ sih gara-garanya, jadi runyam kan urusannya," gumam Arya dalam hati.
...[Hahaha! Cepat lari host! Dalam waktu dekat dia pasti akan segera memakluminya]...
"Ada ada aja lu." Arya lantas berjalan tergesa-gesa, demi menghindari interogasi Bella. "Gua udah bayar yah Bella! Nanti kita ketemu lagi!"
"Maaass!"
~Tbc
__ADS_1